Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALING GIGIT
Kedua mata Rofik dan Diana sangat lelah dengan kantong hitam yang menghiasi mata keduanya akibat tak tidur semalam karena permasalahan yang dibuat Liana.
Akibat ucapan Liana mengenai kasus korupsi dana bantuan dari pemerintahan yang mencatut namanya dan juga kepala desa Sukolilo, yang kini tengah viral di dunia Maya menyebabkan ia dan istrinya harus menenangkan orang-orang yang masih bisa dimanfaatkan oleh mereka agar mendukung aksi tutup mulut dan segera menghancurkan barang bukti yang ada sebab Rofik sangat tahu jika tak lama lagi para petugas pengawas yang bertugas mengawasi jalannya dana bantuan akan datang untuk menyelidiki nya karena sebelumnya, kecamatan Tentrem sudah masuk menjadi daftar target sasaran dan begitu berita ini terdengar, mereka pasti tak akan menahan diri dan langsung datang dan melakukan penyelidikan secara menyeluruh.
Kekacauan yang terjadi di rumah Rofik juga dialami keluarga besar Wandi didesa Sukolilo.
Semua orang berkumpul untuk mengadakan rapat darurat guna mengatasi masalah besar ini.
“Kamu itu Tut, sudah ayah bilang berapa kali, jauhi gadis jalang itu, tapi kamu masih saja bandel”, ucap Wandi denah raut wajah frustasi.
“Aku juga pengennya ngehindarin Liana, yah. Tapi ia selalu menggunakan bukti korupsi yang ayah lakukan untuk mengancamku”, ujar Tuti ketakutan.
Ia sendiri tak menyangka jika masalah skema keji yang Liana buat akan menyeret keluarganya sedalam ini, jika tahu akan terjadi begini, ia tak seharusnya menuruti keinginan Liana dan menghindar seperti apa yang pernah ia lakukan sebelumnya ketika ia masih bisa mengelabui Liana dan kabur ke rumah neneknya dari pihak ibu yang ada di kota kabupaten.
Janu, sepupu Titik yang juga merupakan salah satu pentolan preman yang paling meresahkan di kecamatan Tentrem, sama seperti ayahnya yang sayangnya lagi berada di luar kota, menatap tajam Tutik.
“Emang bukti apa yang ia miliki hingga kamu ketakutan setengah mati seperti itu”, tanya Janu dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
Dengan takut-takut, Tutik pun segera membuka ponselnya dan mencari beberapa foto yang sempat Liana berikan kepadanya sebagai ancaman dan memperlihatkannya kepada sepupunya itu.
Brakkk!
Janu mengebrak meja dengan kasar karena tak menyangka jika putri sulung pak camat itu ternyata begitu licik, sama seperti ayahnya, membuat darah dalam diri pria dengan tubuh penuh tato itu meledak karena amarah.
“Dasar jalang! Ia dan ayahnya sama saja, sama-sama licik!", Janu berkata dengan dada naik turun menahan amarah.
Melihat semua bukti yang Tutik tunjukkan, seketika firasat buruk menyergap benak Wandi.
Ia sangat tahu betapa licin dan liciknya camat kecamatan Tentrem tersebut. Rofik pasti akan melakukan segala macam cara untuk bisa lepas dari kasus korupsi ini, dan untuk membuatnya terbebas dari segala macam tuntutan, tentunya pria nomor satu di kecamatan Tentrem tersebut pasti akan mencari kambing hitam dan iapun sudah bisa menduga jika Rofik pasti akan mentargetkan dirinya.
Tidak, ia tak boleh menyerah sekarang. Kejayaan nama baik keluarga tak bisa ia pertaruhkan!
Untungnya Wandi tak bodoh-bodoh amat. Setiap kali ia memberi sebagian dana pencairan, ia tak lupa menyuruh sekretaris kecamatan yang sudah ia suap untuk memberi teken sehingga dengan adanya bukti tersebut, Rofik tak akan mampu menjebaknya.
Wandi sendiri bukanlah orang baik. Keluarganya sudah turun temurun menjadi kepala desa Sukolilo, seolah jabatan kepala desa tersenyum sudah menjadi warisan yang akan diberikan kepada anak cucu mereka kelak, tentunya dalam mempertahankan posisi tersebut banyak hal buruk dan tercela yang sudah mereka lakukan demi bisa mempertahankan posisi basah dan sangat menguntungkan tersebut.
Ia yang tak ingin menjadi target Rofik untuk menjadi kambing hitam pun berusaha untuk membebankan semuanya kepada pak camat kecamatan Tentrem tersebut.
"Bagaimana, apa kamu bisa memalsukan tandatangan dan juga stempel kecamatan ini?", tanya Wandi denah ekspresi serius.
"Tenang saja paman, ini sangat mudah", jawab Janu santai.
"Bagus. Selain masalah stempel dan tanda tangan ini, kita bagi tugas untuk membuat semua kepala desa yang ikut dalam penggelapan dana bantuan ini menjadi sekutu kita", Wandi berkata sambil menuliskan beberapa nama kepala desa untuk keponakannya itu urus, sementara sisanya akan ia urus sendiri.
"Baik, paman. Besok pagi aku akan segera membereskan semuanya dan aku pastikan camat busuk itu tak akan lagi bisa berkutik dan menganggu keluarga kita lagi", setelah mengatakan hal tersebut, Janu segera bangkit dan pulang lebih dulu untuk menyusun rencana yang akan ia lakukan esok hari.
Sementara Wandi, ia menatap putri bungsunya itu dengan tajam. "Besok pagi-pagi buta, pergilah kerumah nenekmu di kota kabupaten dan jangan kembali sampai masalah ini bentar beres. Mengerti!".
Tutik yang ditatap tajam tak lagi memiliki pilihan dan hanya bisa mengangguk patuh. "Baik ayah, aku akan pergi besok pagi-pagi sekali".
Mendengar jawaban putrinya, Wandi pun merasa tenang dan membiarkan putrinya kembali ke kamar untuk beristirahat sementara dirinya dan seberapa anggota keluarga yang lain masih akan merundingkan banyak hal yang harus segera mereka lakukan sebelum badan pengawas datang untuk menyelidikinya.
Titin sungguh beruntung, meski dimarahi habis-habisan setidaknya tak ada yang main tangan dan menyakitinya karena keluarganya cukup menyayanginya, hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan Liana yang saat ini tengah meringkuk di atas lantai yang dingin dengan tubuh lebam dan wajah kusut setelah ia mendapatkan pukulan dan tendangan dari ayahnya yang marah akibat perbuatan bodohnya dalam penjebakan terhadap Dirga yang berakhir gagal total itu.
Dalam kondisi seperti itu, bukannya menyesal, Liana malah terus menyalahkan Tutik akibat kegagalannya.
"Sialan si Tutik itu, jika saja tadi ia tak coba memberontak, tak mungkin aku mengungkit kasus korupsi ayahnya dan aku juga tak mungkin berakhir menyedihkan seperti ini", batin Liana penuh dendam.
Liana hanya bisa mengertakkan giginya menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di perutnya.
Ia menahan diri untuk tak berteriak kesakitan dan hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk meredakan rasa sakit yang mendera. Jika tidak, ibu tirinya itu pasti akan masuk dan kembali menyiksanya, bahkan lebih kejam daripada yang ayahnya lakukan karena Liana susah sering mendapatkan perlakuan buruk seperti itu dari ibu tirinya sehingga ia memilih untuk menahan semua rasa sakit dengan berderai air mata tanpa ia sadari, ada darah segar merembes di kakinya akibat tendangan bertubi-tubi yang Rofik layangkan tadi kearah perut Liana dengan harapan anak haram putri sulungnya itu lenyap sehingga satu beban berat dipundaknya hilang.
Anak yang tak berdosa pada akhirnya harus mati ditangan orang-orang keji tak bertanggung jawab!
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA