NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pertama di Pengadilan

Malam itu, hembusan angin dari celah-celah dinding kontrakan yang retak terasa menusuk kulit. Laras tidak tahu betapa menderitanya Bagas dan keluarganya di sana, dan sejujurnya, ia pun sudah tidak peduli. Di apartemen barunya yang tenang, Laras duduk di sofa beludru berwarna abu-abu, menatap layar laptopnya dengan pandangan yang tajam dan terukur. Rina, asisten setianya, datang membawakan secangkir teh hangat yang mengepulkan uap tipis di udara.

"Apakah semua sudah beres, Rina?" tanya Laras tanpa mengalihkan pandangannya dari angka-angka di layar monitor.

Rina mengangguk mantap sambil meletakkan cangkir itu di meja marmer yang bersih. "Semua sudah sesuai rencana, Mbak Laras. Pak Hendra baru saja memberikan laporan bahwa eksekusi aset tahap akhir telah selesai dilakukan sore tadi."

Laras menghela napas panjang, sebuah kelegaan yang sudah lama ia nantikan akhirnya menyelimuti hatinya. Ia ingat betul bagaimana dulu ia seringkali harus menahan lapar demi menyisihkan uang untuk membayar cicilan barang-barang mewah yang justru dipakai oleh Siska untuk pamer di media sosial. Kini, semua kepalsuan itu telah disita oleh hukum, dan ia bisa menata hidupnya dengan lebih tenang.

Sementara itu, di kontrakan Gang Melati yang lembap, suasana justru sangat berlawanan. Siska menatap lantai semen yang dingin dengan tatapan kosong, sementara Ibu Melati terus meracau tanpa henti di sudut ruangan. Bagas hanya bisa duduk bersandar di dinding, menatap tangannya sendiri yang gemetar hebat karena rasa lapar dan amarah yang membuncah. Mereka benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan untuk sekadar alas tidur pun harus menggunakan kardus bekas yang mereka pungut dari tumpukan sampah di luar.

"Ini semua karena kamu, Bagas!" teriak Ibu Melati tiba-tiba, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan. "Seharusnya kamu tidak membiarkan Laras pergi begitu saja saat itu! Sekarang lihat, kita tinggal di kandang tikus ini sementara dia hidup enak dengan uang hasil keringat kita!"

Bagas menoleh perlahan ke arah ibunya dengan sorot mata yang dipenuhi kebencian. Ia merasa seolah harga dirinya telah diinjak-injak oleh takdir dan oleh wanita yang dulu ia anggap tidak berdaya.

"Ibu diamlah!" bentak Bagas dengan suara yang serak dan kasar. "Apa gunanya menyalahkanku sekarang? Kalau Ibu memang merasa pintar, kenapa Ibu tidak menghentikan Laras saat dia masih ada di sini dulu?"

Siska mendengus sinis dari tempatnya duduk di sudut ruangan. Ia mengabaikan ibunya dan menatap kakaknya dengan pandangan yang merendahkan.

"Sudah terlambat, Kak Bagas," ujar Siska dengan nada getir. "Laras sudah jauh meninggalkan kita. Dia sudah punya kehidupan baru, sementara kita bahkan tidak punya cukup uang untuk membeli makan malam hari ini."

Bagas terdiam sejenak, memikirkan betapa ironisnya keadaan ini. Dulu, ia adalah seorang manajer yang disegani, namun kini ia hanyalah seorang pengangguran yang dikejar-kejar oleh penagih utang. Ia teringat akan wajah Pak Hendra yang begitu dingin tadi siang, sosok yang mewakili Laras dalam menghancurkan sisa-sisa kejayaannya.

"Aku tidak akan membiarkan ini berakhir seperti ini," gumam Bagas pada dirinya sendiri, suaranya hampir tak terdengar namun sarat akan dendam. "Aku akan mencari cara untuk mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."

Ibu Melati mendekat ke arah Bagas, matanya yang sembap menatap putranya dengan penuh harap. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kejayaan mereka telah hilang sepenuhnya.

"Apa maksudmu, Bagas? Apakah kamu punya rencana lain?" tanya Ibu Melati dengan suara yang penuh rasa penasaran yang gelap.

Bagas tidak menjawab, ia hanya bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu yang sedikit terbuka. Di luar, suara hiruk pikuk gang sempit masih terdengar, orang-orang lalu lalang dengan kehidupan mereka sendiri tanpa memedulikan penderitaan keluarga Pratama. Ia menatap lampu-lampu kota yang bersinar terang dari kejauhan, sebuah pengingat akan dunia yang telah mengusir mereka.

"Aku akan menemui seseorang besok," jawab Bagas singkat tanpa menoleh ke belakang. "Seseorang yang bisa membantuku untuk kembali naik ke atas."

Siska tertawa sinis mendengar ucapan kakaknya itu. Baginya, itu hanyalah sebuah delusi dari seseorang yang sudah kehilangan akal sehat karena terlalu banyak menelan pil pahit kehidupan.

"Jangan bermimpi, Kak," sahut Siska dengan nada mengejek. "Kita ini sudah menjadi sampah di mata orang-orang elit itu. Tidak ada yang akan membantu kita lagi."

Ibu Melati kembali memukul lantai dengan tangannya, merasa frustrasi dengan sikap putrinya yang semakin tidak sopan. Ia merasa bahwa dunia ini tidak adil bagi keluarga mereka, padahal sebenarnya merekalah yang telah membangun skenario kehancuran itu sendiri dengan kesombongan.

"Siska! Jaga bicaramu!" bentak Ibu Melati dengan suara yang melengking. "Kakakmu sedang berusaha keras, bukannya malah kamu hina seperti itu!"

Di sudut lain, jauh dari kontrakan sempit itu, Laras sedang merencanakan ekspansi bisnis kosmetiknya yang baru. Ia ditemani oleh Rina, membahas mengenai strategi pasar yang akan mereka luncurkan bulan depan. Laras merasa sangat bebas, lepas dari belenggu keluarga Bagas yang selalu menuntut dan merendahkan martabatnya.

"Mbak, apakah kita akan tetap memantau kondisi mereka?" tanya Rina dengan nada hati-hati, seolah takut menyinggung perasaan majikannya.

Laras menghentikan ketukannya pada papan tik, menatap ke arah jendela besar apartemennya yang memperlihatkan pemandangan kota di malam hari. Ia memikirkan segala penderitaan yang pernah ia alami selama tiga tahun pernikahan yang penuh dengan tekanan.

"Tidak, Rina," jawab Laras dengan nada tegas namun tenang. "Mereka bukan lagi urusanku. Tugasku hanyalah memastikan hidupku sendiri berjalan dengan baik, dan mereka harus menanggung konsekuensi atas semua perbuatan yang telah mereka lakukan selama ini."

Rina mengangguk mengerti dan memilih untuk tidak lagi membahas keluarga mantan suami majikannya tersebut. Ia tahu betul bahwa Laras telah melalui banyak hal dan kini saatnya bagi wanita hebat itu untuk merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Malam semakin larut, keheningan menyelimuti apartemen mewah itu, memberikan kedamaian yang sudah lama dirindukan oleh Laras. Ia merebahkan dirinya di tempat tidur yang empuk, menutup mata dengan perasaan lega karena tidak ada lagi suara teriakan Ibu Melati atau tuntutan tidak masuk akal dari Bagas.

Sementara itu, di kontrakan yang semakin dingin, Bagas, Siska, dan Ibu Melati terpaksa meringkuk di lantai tanpa selimut. Mereka tidur dengan perut yang lapar dan hati yang dipenuhi rasa benci yang mendalam. Mereka menunggu pagi dengan penuh ketidakpastian, tidak menyadari bahwa hidup yang mereka sia-siakan dulu tidak akan pernah bisa kembali lagi.

Bagas memejamkan mata, membiarkan kegelapan merayap ke dalam pikirannya, membayangkan balas dendam yang akan ia lancarkan kelak. Ia tidak peduli seberapa kotor caranya, ia hanya ingin kembali ke atas, meskipun itu berarti ia harus mengorbankan segalanya, termasuk sisa-sisa nurani yang ia miliki.

Namun, di balik semua dendam itu, ia tetaplah seorang pria yang sudah kehilangan arah. Di sebuah tempat yang jauh, Laras pun mulai terlelap dengan senyum tipis di bibirnya, sudah siap untuk menyambut hari baru sebagai wanita yang mandiri dan merdeka. Malam itu benar-benar menjadi saksi bisu dari dua kehidupan yang berbanding terbalik, sebuah garis pemisah yang tidak akan pernah bisa disatukan kembali oleh waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!