NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Kembali ke Masa Lockdown

Aku tidak tahu kapan tepatnya semuanya mulai terasa salah. Yang jelas, malam ini kami terjebak di lantai tujuh karena lift yang mendadak error.

“Kok begini ya, Bang?” tanyaku masih merasa heran dengan kondisi apartemen jauh berbeda.

Lampu-lampu menyala terang, putih bersih, sampai lantai keramiknya berkilau. Cat dinding masih rapi, tidak ada retakan, tanpa noda lembab. Bahkan aroma wangi penyegar ruangan samar-samar tercium.

Padahal yang kami tahu, lorong ini harusnya kusam, lampu redup tidak merata bahkan beberapa mati.

“Firasat gua nggak enak nih?” bisik Shinta, suara bergetar.

Aku menelan ludah. “Iya. Harusnya nggak gini.”

Hendra berjalan pelan, menempelkan tangan ke dinding. “Gas, ini licin. Kayak baru dicat. Gila, gua inget banget yang sebelumnya retak-retak.”

Kami berjalan menyusuri lorong. Di dalam kamar, terdengar gelak tawa. Suara manusia, riuh terasa hangat.

Mendengarnya, kami saling pandang.

“Lo denger, Bang?” bisikku.

“Denger,” jawab Hendra. “Ada penghuninya ya?”

Benar saja, ketika kami melewati tikungan, pemandangan tidak masuk akal terbentang di depan mata.

Banyak orang lalu lalang. Ada yang ngobrol sambil jalan di koridor. Anak kecil berlari sambil tertawa, seperti mengejar kakaknya. Ibu-ibu membawa kantong belanja. Seorang bapak berbicara di telepon, membahas bisnis penting.

Semua terlihat hidup.

“Permisi!” panggilku spontan.

Tak ada yang menoleh.

Aku melambaikan tangan. “Halo! Boleh minta waktunya sebentar, nggak?”

Tidak ada satupun menggubrisku.

Shinta merinding. “Mas Bagas, kayaknya mereka nggak bisa lihat kita.”

Aku mencoba menahan panik. “Berarti ini apa?”

“Ini bukan sekarang,” jawab Hendra pelan. “Tapi masa lalu.”

Tak berapa lama, tiba-tiba suasana berubah. Mereka berlarian. Panik seperti ada sesuatu.

Setelah salah satu dari mereka yang keluar dengan panik, lupa tidak menutup pintu, kami masuk ke dalam kamarnya.

Televisi menyala sambil menayangkan berita darurat. Kata yang terus muncul adalah “Lockdown”.

Wabah covid-19 telah menyerang dunia.

Kami kompak meyakini bahwa ini merupakan kondisi apartemen saat wabah datang.

Aku melihat penghuni mulai panik. Ada yang menutup pintu, menangis di lorong. Banyak dari mereka mulai batuk, terdengar dari berbagai unit. Wajah-wajah ceria sebelumnya kini tampak cemas.

Hendra berdiri di sampingku, matanya menyorot tajam, “Lihat tuh.”

Seorang ibu menghampiri petugas mengenakan pakaian APD lengkap.

“Pak, tolong kakak saya! Dia sesak nafas! Tolong segera panggil ambulans!”

Dengan jawaban dingin, petugas itu tak menggubrisnya, “Iya, nanti ya. Yang sakit bukan cuma kakak Anda!”

Ibu itu menangis, memeluk kakaknya, terlihat sulit bernafas. Tak ada yang membantu.

Aku mengepal tangan, “Kok tega banget sih.”

Shinta menutup mulutnya. “Mereka bener-bener dibiarin.”

Hari-hari berlalu dengan cepat. Entah kenapa kami bisa menyaksikan ini begitu saja.

Para petugas yang datang semakin sedikit. Bau tidak sedap mulai tercium. Rupanya sudah ada beberapa dari mereka meninggal dunia, dibiarkan begitu saja, hanya ditutup plastik transparan apa adanya.

Lorong mulai dipenuhi suara batuk berat, tangis, dan doa yang lirih. Mereka sakit dan kelaparan. Tapi petugas justru seperti menghilang. Hanya sesekali terlihat lewat melangkah cepat, tidak berbuat apa-apa, seperti hanya memantau apakah masih ada yang hidup atau tidak.

“Jahat banget!” gumamku kesal.

Aku melihat dua orang pria berbicara di ruang kantor, suaranya jelas di telingaku meski kami tak mungkin ada di sana.

“Sudahlah,” kata salah satunya. “Ini perintah. Jangan lagi ada keluar masuk. Perintah eksekusi massal udah turun. Jadi, tidak boleh ada data yang bocor.”

Waktu berlalu, para petugas datang dari lift sambil membawa alat pengangkut. Mereka mengangkat jenazah-jenazah penghuni apartemen untuk dimusnahkan.

Aku masih berdiri di koridor apartemen. Sekarang kondisinya sudah dipenuhi dengan mayat-mayat bergelimpangan yang dikumpulkan oleh para petugas.

Shinta terlihat sudah tidak kuat. Ia menangis tersedu. Air mata banjir membasahi pipinya.

Sedangkan aku dan Hendra hanya bisa diam menahan perasaan yang begitu menyayat hati.

Tapi kemudian, aku menyadari sesuatu di pergelangan tanganku berdenyut kencang.

Gelang serabut yang selalu ku pakai. Barang pemberian Delia sebelum aku berangkat ke Bandung. Tiba-tiba mengencang dengan sangat erat.

“Ssh.. Aduh!” desisku tertahan.

Rasanya seperti ada kekuatan menariknya kuat-kuat. Serat kasar itu menekan kulitku sampai terasa perih. Aku mencoba melepasnya, tapi tidak bisa. Justru makin kencang hingga nafasku tercekat.

Dunia di sekelilingku mulai bergetar pelan. Cahaya lampu yang tadinya terang berubah seperti air yang diaduk. Pandanganku berubah menjadi kabur.

Sebenarnya aku ingin berteriak, tapi suara tidak keluar. Hingga pada akhirnya, semua gelap.

Aku tersentak. Mataku terbuka lebar, nafasku masih terengah.

Yang kulihat pertama kali adalah kegelapan.

Bukan lorong terang, lain dari apartemen yang tadi. Kami berada di lantai tangga darurat lantai tujuh.

“Aku sudah kembali,” pikirku.

Bau lembab dan besi berkarat menusuk hidungku. Aku duduk bersandar di dinding, tepat di depan pintu terbuka. Aku berdiri lalu menutup pintu itu. Engselnya berdecit panjang, suaranya memantul ke seluruh lorong tangga seperti jeritan ditarik paksa.

Gelang di tanganku sudah longgar. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tanganku segera mengambil handphone yang tergeletak di lantai. Cahaya langsung ku arahkan ke bagian kanan.

Hendra tertidur duduk, kepala menunduk, napasnya berat. Ke kiri, Shinta tidur meringkuk, wajahnya pucat dan berkeringat.

“Bang.”

Ku tepuk bahunya pelan. “Bang Hendra, sadar bang.”

Dia mengerang kecil. “Hmm, Gas?”

“Shinta,” panggilku pelan. “Bangun.”

Shinta membuka mata perlahan. Matanya kosong beberapa detik, lalu tiba-tiba membesar.

“Mas Bagas, tadi kita?”

Aku menyadari bahwa apa yang terjadi, juga dialami oleh mereka berdua.

“Iya,” potongku cepat. “Tapi sekarang kita balik lagi ke sini.”

Kami saling menatap dalam gelap. Tidak ada yang bicara beberapa saat, karena otak kami rasanya belum bisa mengejar kenyataan.

“Berarti?” Hendra menelan ludah. “Semua itu cuma mimpi? Atau beneran?”

Aku menggeleng lemah. “Kalau itu mimpi, kenapa rasanya nyata banget?”

Shinta langsung menoleh ke arah tangga, “Bang Jef. Kita harus cari dia dulu.”

Aku hampir lupa, Jefry belum ketemu sejak tadi. Shinta berdiri pelan, lututnya gemetar lemas.

Hendra memijat pelipisnya. “Kalo kita naik ini, sudah lantai delapan kan ya?”

Tak menjawab, aku hanya mengangguk.

Kami mulai naik satu lantai. Tangga darurat terasa lebih sempit dari biasanya. Setiap langkah menimbulkan gema yang panjang, tak! tak! tak!, seakan ada yang memperhatikan.

Begitu hampir sampai di lantai delapan, Shinta tercekat.

“Bang Jef?”

Di lantai, tepat di depan pintu, Jefry tergeletak.

Tubuhnya miring. Satu tangannya terjulur. Wajahnya pucat, mata tertutup. Seakan baru saja jatuh atau sengaja dijatuhkan.

Hendra berlari mendekat, mengguncang bahunya. “Bang?! Bangun, Bang!”

Tidak ada respons.

Shinta sudah hampir menangis. “Gimana ini, Bang?”

“Masih napas,” jawab Hendra, menempelkan telunjuk tangan ke lubang hidungnya. “Tapi lemah banget.”

Hendra berdiri dan membuka pintu, untungnya bisa terbuka.

“Yes,” gumamnya lega. “Shinta, tahan pintunya. Jangan sampai ketutup.”

Shinta mengangguk, memegang pegangan pintu dengan kedua tangan sambil menahan pakai tubuhnya.

Aku dan Hendra kemudian mengangkat tubuh Jefry dari lantai. Beratnya jauh lebih terasa karena dia benar-benar tidak sadar.

“Pelan, Gas,” kata Hendra terengah. “Pinggang gua udah tua.”

“Memang berat sih, Bang,” jawabku masih berusaha menenangkan diri sendiri.

Kami mulai berjalan menyusuri koridor. Saat itulah sesuatu terjadi. Kami melewati area lift.

Dan tiba-tiba ada suara, “Ding!”

Bunyi khas lift menembus keheningan.

Aku dan Hendra spontan berhenti. Pintu lift, terbuka perlahan.

Padahal kami yakin, lift itu rusak. Makanya tadi kami pakai tangga.

“Apa mungkin Kang Dayat sudah membenarkannya?” pikirku.

Lampu di dalam lift menyala terang, tidak seperti lorong yang redup. Tapi yang membuat bulu kuduk merinding adalah tidak ada siapa-siapa di dalamnya.

Hanya ruang kosong.

Namun rasanya seperti ada yang menyindir di baliknya. Kami bersusah payah naik tangga, tapi lift sudah tidak rusak.

Aku mengalihkan pandangan dari lift itu.

“Jalan terus aja,” kataku pelan. “Yang penting kita udah mau sampe, nggak usah digubris.”

Hendra mengangguk. “Bener, gua mau cepet-cepet istirahat.”

Kami melangkah lagi, tapi lift masih terbuka.

Seakan menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!