NovelToon NovelToon
Aura Clarissa

Aura Clarissa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:682
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.

Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.

Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Ujung Belati

Matanya berkedut pelan. Saat kelopak matanya terbuka, kepala Aura terasa sangat berat dan pening luar biasa. Betapa terkejutnya ia saat menyadari dirinya berada di sebuah tempat asing yang kotor, berdebu, dan berbau lembab. Pandangannya lurus menatap seorang wanita yang duduk anggun di atas sofa beludru di tengah ruangan kumuh tersebut.

"Datang sendiri, atau kamu cuma bisa bertemu jasadnya!" ucap wanita itu dingin ke arah ponsel sebelum mengakhiri panggilan.

Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas mewah, lalu bersedekap santai. "Ah... sudah bangun rupanya, Tuan Putri?"

"Ibu... Sofie? Ada apa... kenapa saya ada di sini?" bisik Aura panik dengan suara bergetar. Sambil terus berusaha melepaskan ikatan tangannya yang terlalu kuat dibelakang.

Sofie mengerutkan alisnya, diam sejenak lalu terkekeh sinis. "Aura Clarissa... kamu bermimpi jadi aktris, ya? Kenapa hidupmu banyak sekali akting?"

Sofie melangkah mendekat ke arah tumpukan kardus tempat Aura terduduk. Kedua tangan Aura terikat erat di belakang tubuh oleh dua pengawal bertubuh tegap.

"Lepaskan saya bu.." pekik Aura yang langsung dihadang oleh jari telunjuk Sofie.

"Mundurlah dari pernikahanmu dengan Darrel. Pergi dari keluarga Gorge, dan jangan pernah mendekati suamiku lagi!" bisik Sofie tajam sembari mencengkeram rahang Aura kasar.

"Apa maksud Ibu...? Saya benar-benar tidak paham..."

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Aura hingga wajahnya tertolak ke samping.

"Sudah berapa lama kamu jadi simpanan suamiku, HAH?!" bentak Sofie murka.

Jemari Sofie mencengkeram rambut Aura, memutar dan menariknya ke belakang hingga Aura menjerit kesakitan. "Dia pria beristri, dan kamu menggodanya! Perempuan murahan, tidak tahu malu, gila!" teriakan Sofie makin nyaring menggelegar, mencengkeram makin kuat hingga air mata Aura menetes deras menahan nyeri.

Brak!

"SOFIE!" teriak sebuah suara dari arah pintu. Daffa menerobos masuk.

Sofie refleks menarik pisau lipat kecil dari tasnya, menempelkan mata pisau yang berkilat tepat di kulit leher Aura.

"Jangan mendekat!" ancam Sofie histeris.

Daffa mendadak menghentikan langkahnya. "Jangan nekat, Sofie... Kita bisa selesaikan baik-baik."

"S...saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Daffa..." isak Aura gemetar hebat. Ujung pisau yang dingin itu menempel terlampau dekat dengan lehernya.

"Dia sudah jelaskan, Sofie! Kami tidak ada hubungan apa pun!" tegas Daffa, kilat kepanikan di matanya tak lagi bisa disembunyikan.

"Tapi malam itu aku lihat kamu datang ke apartemennya tengah malam! Foto kalian di kelab malam sedang berciuman dan bersentuhan... itu membuatku jijik!" jerit Sofie penuh keputusasaan.

"Kamu salah paham, Sofie! Lepaskan dia!"

"TIDAK! Dia harus mati!"

Daffa merogoh saku celananya dengan cermat. Menyadari ia tak bisa mengatasi ini sendirian, dengan terpaksa ia mengirimkan titik lokasi terkini ke ponsel Darrel.

Setelah mengirim pesan darurat, Daffa kembali memasukkan ponselnya ke saku. "Tolonglah, Sofie... Aku masih sibuk. Ada rapat penting hari ini," bujuk Daffa pelan, melangkah maju sentimeter demi sentimeter.

Saat jarak mereka tersisa satu jangkauan, Daffa dengan cepat menarik tubuh Sofie ke dalam pelukannya. Pertahanan wanita itu runtuh seketika. Sofie terisak hebat di dada Daffa, dan pisau kecil di genggamannya terjatuh ke lantai.

Daffa memberi isyarat mata tegas kepada kedua pengawal Sofie untuk segera pergi. Tak berselang lama, derap langkah tergesa bergema di pintu masuk.

Darrel muncul dengan napas memburu.

"Clara...?" gumam Darrel spontan saat matanya menangkap sosok perempuan yang terikat itu.

Daffa melepaskan pelukannya perlahan saat mendengar nama Clara disebut dari bibir adiknya.

"Apa maksud Bapak...? Saya Aura. Siapa Clara?" bisik Aura saat Darrel berlutut dan melepaskan ikatan tali di pergelangan tangannya.

Daffa mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu kembali menatap Sofie yang masih terisak. "Ayo pulang, aku antar. Nanti sore sesuai permintaanmu, kita pergi ke restoran Rosè untuk dinner."

Ucapan lembut Daffa seketika meluluhkan kemarahan Sofie. Wanita itu mengangguk pasrah, memeluk lengan Daffa, lalu melangkah keluar meninggalkan tempat itu.

Keheningan melingkupi ruangan kotor tersebut.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu," ujar Darrel seusai melepaskan sisa tali di tangan Aura. "Namamu berubah? Apa kamu punya dua nama... atau kamu memang sedemikian pandai berakting?"

Aura menatap Darrel, namun ketika lelaki itu balik menatapnya, ia refleks mengalihkan pandangan karena canggung dan takut.

"Aku... Aku tidak paham dengan apa yang kamu katakan," bisik Aura gagu.

"Siapa Clara?" desak Darrel menuntut.

Kini, Aura kembali membalas tatapan Darrel. Mata mereka saling mengunci. Jelas Darrel bisa melihat perbedaan yang sangat kontras di antara keduanya melalui manik mata itu. Manik mata Clara jauh lebih tenang dan berani dibanding Aura yang terlihat begitu rapuh dan lelah.

"Diriku yang lain..." ucap Aura lirih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!