NovelToon NovelToon
Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Aku Pergi Setelah Kau Mendua

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:433.4k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.

Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.

Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Naya meringkuk di atas sofa ruang tamu dengan posisi yang sudah tidak nyaman lagi. Kakinya sedikit kaku, lengan kanannya tertindih tubuhnya sendiri, dan rambutnya berantakan menutupi separuh wajah. Lampu ruang tamu masih menyala redup. 

Di atas meja makan, dua piring masih tertata rapi. Sup ayam yang tadinya masih mengepul kini sudah dingin sepenuhnya, bahkan mulai mengental di pinggir mangkuk. Nasi di dalam rice cooker sudah lama otomatis mati. Sendok dan garpu masih terbungkus tisu, seolah menunggu seseorang yang tidak pernah datang tepat waktu.

Jam dinding menunjukkan pukul dua belas lebih. Naya sudah menunggu sejak pukul tujuh. Awalnya ia sempat duduk tegak di kursi makan, sesekali mengecek ponsel, lalu berdiri untuk menghangatkan lagi sup yang mulai dingin. Setelah itu ia pindah ke sofa, menyalakan televisi dengan volume sangat pelan, hanya agar rumah tidak terasa terlalu sepi. 

Perlahan kelopak matanya semakin berat. Ia memaksakan diri tetap terjaga, tapi kelelahan akhirnya menang. Tubuhnya melorot ke samping, kepala bersandar di bantal sofa, dan ia tertidur dalam posisi yang tidak semestinya.

Dalam tidurnya, Naya masih sempat bermimpi samar. Mimpi tentang meja makan yang hangat, tentang Aslan yang tersenyum sambil menyuapkan makanan kepadanya, tentang tawa kecil yang sudah lama tidak ia dengar di rumah ini. Mimpi itu pecah begitu saja ketika suara kunci berputar di pintu terdengar.

Pukul dua dini hari.

Ceklek....

Bunyi pintu terbuka pelan, lalu tertutup lagi dengan hati-hati. Langkah kaki yang familiar menyusuri lantai. Membuat Naya tersentak bangun. Matanya masih kabur, otaknya butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa ia tertidur di sofa, bukan di kamar. Ia mengucek matanya pelan, lalu menegakkan badan.

“Mas… kamu sudah pulang,” ucapnya dengan suara serak, masih setengah mengantuk.

Aslan yang baru saja melepas sepatu di dekat pintu hanya melirik sekilas ke arah sofa. Tatapannya datar, hampir tidak ada ekspresi. Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk sangat tipis, lalu langsung melanjutkan langkahnya menuju tangga. Tas kerjanya masih digenggam di tangan kiri, jasnya sedikit kusut, dan bau parfum mahal yang bukan miliknya sempat tercium samar ketika ia lewat di depan sofa.

Naya bangkit berdiri dengan cepat. Kakinya kesemutan, tapi ia mengabaikannya. Ia menyusul suaminya ke arah tangga.

“Mas, kamu sudah makan belum?” tanyanya sambil meraih tas kerja Aslan, bermaksud membantunya. “Aku hangatkan supnya ya. Sudah dingin… tadi aku masak dari sore.”

Aslan berhenti sejenak di anak tangga pertama. Bahunya sedikit menegang. Ia menarik tasnya pelan dari genggaman Naya tanpa menatap wajah istrinya.

“Tidak usah. Aku sudah makan,” jawabnya singkat, suaranya datar dan sedikit ketus.

Naya terdiam. Jari-jarinya yang masih menggantung di udara perlahan turun. Ia menghela napas panjang, menelan rasa kecewa yang sudah terlalu sering ia rasakan. Padahal tadi sore ia sengaja tidak makan. Ia menahan lapar hanya agar bisa duduk bersama suaminya, berbicara sedikit, setidaknya menanyakan bagaimana harinya. Tapi suaminya sudah makan di luar. 

“Kalau begitu… aku siapkan air hangat ya,” ucap Naya lagi, suaranya lebih pelan. Ia masih berusaha menjadi istri yang baik. “Mas pasti mau mandi kan? Badanmu pasti lengket setelah seharian.”

Aslan tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh. Langkahnya terus naik ke lantai dua, meninggalkan Naya di kaki tangga dengan tangan kosong dan dada yang terasa sedikit sesak. Bunyi pintu kamar utama yang ditutup pelan terdengar beberapa detik kemudian. 

Tidak ada terima kasih, tidak ada pertanyaan, tidak ada ucapan apapun. Hanya keheningan yang familiar, keheningan yang sudah menjadi bagian dari rumah mereka sejak berbulan-bulan terakhir.

Naya berdiri diam di situ cukup lama. Matanya menatap tangga kosong. Lalu ia menunduk, memandang jari-jarinya sendiri yang tadi sempat memegang tas Aslan. Perlahan ia berjalan kembali ke ruang makan. Ia memandang dua piring yang masih utuh, sup yang sudah dingin, dan nasi yang mengeras di pinggirnya. 

Dengan gerakan otomatis, ia mulai membereskan semuanya. Sup dituang ke dalam wadah, lalu dimasukkan ke kulkas. Piring dicuci. Meja dibersihkan. Lampu dimatikan satu per satu.

Ketika semuanya sudah rapi, Naya berdiri di tengah ruang tamu yang gelap. Hanya lampu kecil di dekat tangga yang masih menyala. Dari lantai atas, tidak terdengar suara apa pun. Aslan mungkin sudah mandi, atau mungkin langsung tidur. Naya tidak tahu. Ia sudah lama berhenti mengetuk pintu kamar untuk menanyakan.

Ia kembali duduk di sofa. Kali ini tidak meringkuk. Hanya duduk tegak, memandang ke arah pintu yang beberapa menit lalu dilewati suaminya. Dalam hati, pertanyaan yang sama terus berputar.

Sejak kapan rumah ini terasa sebesar ini?

Sejak kapan suara Aslan menjadi begitu asing?

Dan sejak kapan ia sendiri mulai terbiasa dengan rasa ditinggalkan di tengah malam seperti ini?

Naya menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan. Ia tahu, besok pagi semuanya akan berulang lagi. Aslan akan bangun lebih dulu, berpakaian rapi, dan pergi tanpa banyak bicara. Naya akan menyiapkan sarapan yang mungkin tidak akan dimakan, lalu menghabiskan hari dengan menunggu pesan yang jarang datang.

Tapi malam in, dia merasa ada sesuatu yang berbeda di dadanya. Bukan marah yang meledak, bukan sedih yang membuatnya menangis. Hanya rasa lelah yang sangat dalam.

Rasa lelah karena terus berusaha menjadi tempat pulang bagi seseorang yang sepertinya sudah tidak menganggap rumah ini sebagai rumah.

Naya menyandarkan kepala ke sandaran sofa lagi. Matanya terpejam, tapi ia tidak langsung tertidur. Di lantai atas, di balik pintu kamar yang tertutup, Aslan duduk di tepi ranjang dengan wajah yang sama datarnya. Ponselnya menyala di tangan. Ada pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan dengan nama. Ia membalasnya singkat, lalu mengunci layar.

Di luar kamar, di sofa ruang tamu yang sudah dingin, istrinya masih terjaga dalam diam.

Dan jarak di antara mereka malam itu terasa jauh lebih lebar daripada sekadar dua lantai rumah.

1
Rini Maryani
lanjut thoor semangat
Cicih Sophiana
semoga bahagia Naya lupakan masa lalu mu bersama si Aslan... sosong masa depan mu bersama Erlan..
Cicih Sophiana
masih kurang tuh penderitaan Aslan dan si Liza seharus nya anak nya tdk selamat... kan kasian sama anak nya krn dia jd anak haram...
Cicih Sophiana
hak kamu apa Liza? nikah pun nikah siri yg gak punya hak... anak nya pun gak ada hak krn tdk terdaftar di negara... kamu mau nuntut siapa ? gak akan bisa biar kepengadilan pun
Cicih Sophiana
semoga yg jahat mendapat balasan yg setimpal... yg baik kedepan nya bahagia
Cicih Sophiana
yah awasin aja terus....
Cicih Sophiana
nih Aslan Liza..🤛🤛
Sholawat Nariyah
AUTHOR GUOBLOK membiarkan tokohu utamanya tdk tegas, dan tenggelam dlm kebodohan yg berlarut 👎
Cicih Sophiana
knp selamat... dulu Naya di larang punya anak... seharus nya keguguran dong si pelakor nya jgn di kasih bahagia mereka
Cicih Sophiana
terus lah begitu semakin hancur, rumah tdk terbayar, si Liza keguguran 😂 si Aslan bangkrut
Cicih Sophiana
sukur lah akhir nya rumah itu terjual... wah si Liza klo tau langsung stres dan langsung keguguran
Cicih Sophiana
untuk si Aslan cobalah sadar diri... itu emang sdh hak nya Naya... dia bukan merehut tp menganmbi hak nya Aslan..
Cicih Sophiana
hancur kan mereka... mereka yg serakah dan mereka yg zolim sama istri sah tapi mereka sll menyalah kan Naya...
Cicih Sophiana
perempuan yg aneh dia yg merebut kok di tuduhkan Naya yg merebut 😂😂😂😂😂
pake so kuasa pula... Naya bertahun tahun pernikahan nya yg hanya di jadikan pembantu gratisan... dia yg tinggal enak nya doang menikmati... nikah pun hanya nikah siri sekarang so kuasa
Cicih Sophiana
eh pelakor kamu tuh cuma nikah sirih jd gak ada tuh undang undang nya mendapat kan harta gono gini... anak kamu pun gak akan bisa mendapat kan apa apa... sekarang gigit jari aja yah sampe putus 😂😂😂
Cicih Sophiana
wah ternyata aset nya si Aslan banyak... pantesan dia ngamuk gak rela Naya ngambil...
Cicih Sophiana
ayo bahagialah kalian... karena kalian pantas untuk mendapat kan nya...
Cicih Sophiana
susah Nay cari mertua yg langsung baik seperti mama Erlan... mulai sekarang jgn menyia nyiakan nya...
Cicih Sophiana
wah ini sih langsung di terima jadi menantu kesayangan mama...😊😍😍
Cicih Sophiana
aneh banget si pelakor... ya wajar lah Naya dapat 50 % wong yg mendampingi si Arlan selama ini kan Naya... klo kamu siapa? kamu cuma pelakor yg di pungut setelah si Arlan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!