Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab35
Atmosfer di ruang tamu rumah keluarga Prasetya terasa menusuk tulang.
Maya berdiri mematung di dekat pintu masuk, menatap dua sosok yang duduk berdampingan di sofa utama—Rania dengan senyum tipis pamer kemenangannya, dan Ibu Rahmi, ibu mertua Maya, yang menggenggam jemari Rania penuh kehangatan.
Pemandangan itu seperti sembilu yang menyayat hati Maya. Selama lima tahun menjadi menantu, Ibu Rahmi selalu bersikap dingin dan tak peduli padanya.
Jangankan digenggam tangannya, disapa dengan ramah pun hampir tak pernah. Namun hari ini, wanita tua yang dulu selalu bersikap cuek itu justru secara terbuka pasang badan untuk Rania.
"Bagus kalau kamu sudah pulang, Maya," suara Ibu Rahmi memecah keheningan, dingin tanpa sedikit pun kehangatan ibu. "Duduklah. Ada hal penting yang perlu kita luruskan."
Maya melangkah maju, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya meskipun dadanya bergemuruh hebat.
"Ada apa ini, Bu? Dan kenapa Rania bisa ada di sini?"
Ibu Rahmi terkehil terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Kenapa Rania di sini? Harusnya Ibu yang bertanya padamu, Maya.
Kenapa kamu tega menuduh Rania yang bukan-bukan? Dia sedang hamil muda, dan kamu malah membuat mentalnya tertekan dengan tuduhan selingkuh yang tak masuk akal!"
Maya tersentak. Rasa tidak percaya membakar dadanya. "Tuduhan tak masuk akal? Bu, saya punya bukti! Mas Aris dan Rania sudah—"
"Cukup, Maya!" bentak Ibu Rahmi keras, memotong kalimat Maya tanpa ragu. "Jangan makin mempermalukan dirimu sendiri dengan bukti-bukti palsu. Rania sudah menceritakan semuanya. Dia anak baik-baik dari keluarga terpandang. Tidak mungkin dia merendahkan dirinya seperti yang kamu tuduhkan."
Rania menundukkan kepala, memegang perutnya seolah-olah menjadi korban yang sangat teraniaya. "Ibu... tidak apa-apa," bisik Rania dengan suara bergetar yang dibuat-buat. "Mungkin Mbak Maya cuma cemburu karena Aris lebih sering memperhatikan kondisi saya belakangan ini..."
"Kamu dengar itu, Maya?" Ibu Rahmi menatap Maya dengan tatapan penuh penghinaan.
"Rania begitu lembut dan mengalah, sementara kamu hanya bisa menyalahkan orang lain atas ketidakmampuanmu sendiri menjaga suami! Lima tahun kamu menikah dengan Aris,
tapi apa yang kamu berikan pada keluarga ini? Keturunan pun kamu gagal memberi!"
Kalimat terakhir itu menghantam Maya tepat di ulu hati. Senjata lama yang selalu dipakai untuk memojokkannya, kini dilontarkan kembali di depan wanita yang telah merusak rumah tangganya.
Maya menatap ibu mertuanya dengan mata berkaca-kaca, namun tatapannya tak lagi selemah dulu.
"Jadi karena Rania hamil anak Mas Aris, Ibu membenarkan perselingkuhan mereka? Ibu yang dulu mengaku menjunjung tinggi norma agama dan kehormatan keluarga, sekarang justru mendukung wanita simpanan?"
"Jaga mulutmu, Maya!" pekik Ibu Rahmi seraya berdiri.
"Rania calon ibu dari cucu kandungku! Dialah yang pantas mendampingi Aris dan berada di rumah ini, bukan wanita mandul dan tidak tahu untung seperti kamu!"
Rania melirik Maya dari balik bahu Ibu Rahmi, menyunggingkan senyum kemenangan yang amat tipis—senyuman yang menegaskan bahwa kini Maya sendirian, dan kekuasaan di rumah itu telah sepenuhnya berpindah tangan.
Maya mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.
Dikhianati suami adalah satu hal, tetapi dipojokkan dan dibuang oleh keluarga yang selama ini berusaha ia layani dengan tulus adalah pukulan fatal yang akhirnya memadamkan sisa-sisa cintanya.