NovelToon NovelToon
Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.

Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Aroma itu memiliki perpaduan wangi daging panggang yang gurih, kesegaran herbal yang menenangkan, dan wangi jahe yang menghangatkan tubuh.

Hanya dengan menghirup aromanya saja, rasa lelah di pikiran Chu Mengqi terasa menguap begitu saja.

Gadis itu tanpa sadar menelan ludahnya sendiri dengan suara tegukan yang cukup keras.

Glek.

Mi instan yang baru saja dia makan beberapa menit yang lalu kini terasa seperti tumpukan kardus basah yang tidak berguna di perutnya.

Perut Mengqi secara otomatis bereaksi terhadap aroma masakan ajaib itu.

Krucuk.

Suara perut gadis itu terdengar pelan, tapi di ruangan yang sunyi ini, suara itu terdengar seperti petir di siang bolong.

Jiang Chen yang sedang membalik daging di wajan langsung menyeringai lebar tanpa menoleh ke belakang.

"Apakah ada kucing kelaparan yang menyusup ke apartemen ini?" goda Jiang Chen dengan suara keras yang disengaja.

"Suara perutnya sangat mengganggu konsentrasiku memasak."

Wajah Chu Mengqi seketika berubah menjadi semerah tomat yang baru dipanen.

Dia langsung memeluk perutnya sendiri dengan kedua tangan untuk meredam suara memalukan tersebut.

"Siapa yang kelaparan?! Aku hanya masuk angin karena cuaca di luar sedang mendung!" bantah Mengqi mati-matian menjaga harga dirinya.

"Lagi pula masakanmu itu baunya seperti ramuan obat tradisional yang sangat pahit."

"Bahkan anjing jalanan pun tidak akan sudi memakan masakan anehmu itu!"

Jiang Chen hanya tertawa pelan mendengar kebohongan wanita yang terlalu menjunjung tinggi gengsinya ini.

"Syukurlah kalau begitu, karena aku memang tidak berniat membaginya dengan anjing mana pun," balas Jiang Chen santai.

Beberapa menit kemudian, Jiang Chen mematikan kompor dan menuangkan hasil masakannya ke atas dua piring putih.

Nasi putih hangat yang mengepul disiram dengan tumisan daging sapi lada hitam bercampur rempah herbal pilihan.

Kuah kentalnya terlihat sangat menggoda, berkilau di bawah pantulan lampu dapur.

Jiang Chen membawa salah satu piring itu dan berjalan menuju meja makan yang berada tepat di perbatasan garis merah.

Dia duduk di kursinya dan mulai menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya.

Nyam nyam.

Jiang Chen mengunyah makanannya dengan ekspresi wajah yang sangat berlebihan seolah dia sedang memakan makanan dari surga.

"Wah, ini benar-benar luar biasa nikmat," puji Jiang Chen pada dirinya sendiri dengan suara keras.

"Dagingnya langsung meleleh di mulut, dan rempahnya membuat tubuhku terasa sangat hangat dan berenergi."

Chu Mengqi yang masih berdiri bersandar di dinding hanya bisa menatap pemuda itu dengan tatapan penuh penderitaan.

Air liurnya tanpa sadar menggenang di dalam mulutnya, memaksanya untuk terus menelan ludah berkali-kali.

Aroma masakan itu benar-benar menyiksa pertahanan mentalnya sebagai seorang gadis yang menyukai makanan enak.

Melihat ekspresi Mengqi yang sudah hampir menangis menahan selera, Jiang Chen memutuskan untuk melancarkan serangan terakhirnya.

Dia mengambil piring kedua yang masih utuh dari meja dapur dan meletakkannya di seberang mejanya.

Asap panas yang membawa aroma rempah itu langsung menguar terbang tepat ke arah wajah Chu Mengqi.

"Hei Nona, perutku ternyata tidak muat untuk memakan dua porsi sekaligus," ucap Jiang Chen sambil menghela napas palsu.

"Bagaimana kalau kau bantu aku menghabiskan piring yang ini?"

Mata Mengqi langsung berbinar terang mendengar tawaran emas tersebut.

Langkah kakinya secara otomatis bergerak maju mendekati perbatasan garis merah yang dia buat sendiri.

'Pria ini pasti sengaja membuat masakan enak untuk menarik perhatianku,' batin Mengqi menganalisis situasi dengan sangat percaya diri.

'Dia menggunakan trik murahan untuk merayuku dengan cara memanjakan perutku terlebih dahulu.'

'Dasar pria mesum, cara menggodanya benar-benar sangat kampungan dan gampang ditebak.'

Meskipun dalam hatinya dia mencibir taktik Jiang Chen, tangan gadis itu tetap bergerak meraih kursi di seberang meja.

"Karena kau sangat memohon padaku untuk menghabiskannya, aku akan dengan berbaik hati menolongmu kali ini," ucap Mengqi dengan nada angkuh yang dipaksakan.

Dia baru saja akan menarik kursi itu dan duduk untuk segera menyantap hidangan lezat tersebut.

Namun tiba-tiba, Jiang Chen menutupi piring berisi makanan itu dengan telapak tangannya yang lebar.

"Tunggu dulu, siapa yang bilang kau boleh memakannya secara gratis?" cegah Jiang Chen dengan senyuman licik di sudut bibirnya.

Chu Mengqi langsung menghentikan gerakannya dan menatap pemuda itu dengan dahi berkerut tajam.

"Apa maksudmu tidak gratis? Kau sendiri yang bilang perutmu tidak muat lagi!" protes gadis itu kesal.

"Tentu saja aku menawarkannya padamu, tapi sebagai transaksi bisnis yang sah," jawab Jiang Chen dengan wajah serius.

"Porsi daging sapi herbal ini mengandung resep rahasia yang bisa memperlancar peredaran darah dan menyembuhkan nyeri haidmu."

Jiang Chen menyodorkan tangan kirinya ke depan wajah Mengqi dengan posisi menengadah.

"Harganya adalah lima ratus Yuan per piring."

"Bayar tunai sekarang, atau aku akan membuang piring ini ke tempat sampah di depan matamu."

Bum.

Harga diri Chu Mengqi yang tadi sempat terbang melayang karena merasa sedang digoda kini hancur berkeping-keping menghantam tanah.

Pria di depannya ini sama sekali tidak sedang berusaha merayunya atau mencari perhatian darinya.

Pria ini murni hanya ingin memeras uangnya dengan cara yang paling kejam dan tidak berperasaan.

"Lima ratus Yuan untuk sepiring nasi daging?! Kau ini perampok berkedok koki ya?!" teriak Mengqi meledak marah.

"Bahkan restoran bintang lima di pusat kota tidak mematok harga segila itu untuk tumis daging biasa!"

Jiang Chen mengangkat bahunya dengan santai dan mengambil piring itu.

"Baiklah kalau kau tidak punya uang, biar aku buang saja ke tempat sampah," ancam Jiang Chen sambil berdiri dan pura-pura berjalan ke arah tong sampah.

"Tunggu!" teriak Mengqi panik.

Gadis itu tidak rela membiarkan makanan beraroma surga itu berakhir menyedihkan di antara sampah plastik bekas.

Tubuhnya juga entah kenapa merasa sangat mendambakan makanan itu, seolah instingnya tahu bahwa makanan itu adalah obat yang dia butuhkan.

Mengqi merogoh saku piyamanya dengan tangan bergetar karena menahan amarah yang luar biasa.

Dia mengeluarkan lima lembar uang seratus Yuan yang dia dapatkan dari sisa uang jajan bulanannya.

Srak.

Kelima lembar uang itu dilemparkan dengan sangat kasar ke atas meja hingga berhamburan.

"Ambil uang perampokanmu ini dan berikan piringnya padaku sekarang juga!" desis Mengqi dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena kesal.

Jiang Chen tersenyum sangat lebar dan menyapu kelima lembar uang itu ke dalam sakunya dengan cepat.

"Terima kasih atas transaksinya, Pelanggan Chu," ucap Jiang Chen sambil meletakkan kembali piring itu di depan gadis tersebut.

"Selamat menikmati hidangan obat penyembuh luka hatimu."

Mengqi tidak mempedulikan ocehan menyebalkan pemuda itu lagi.

Dia langsung meraih sendok dan menyuapkan potongan daging sapi yang bercampur nasi hangat itu ke dalam mulutnya.

Begitu makanan itu menyentuh lidahnya, mata Chu Mengqi langsung terpejam dengan sendirinya.

Ledakan rasa gurih dari kaldu daging berpadu sempurna dengan kehangatan rempah jahe dan herbal yang sangat menyegarkan.

Tekstur dagingnya sangat lembut, hancur tanpa perlu dikunyah dengan keras.

Namun yang paling menakjubkan adalah sensasi setelah dia menelan makanan tersebut.

Sebuah aliran hawa hangat yang sangat nyaman perlahan menjalar turun dari tenggorokannya menuju ke arah perut bagian bawahnya.

Rasa kram samar-samar yang selalu menghantuinya menjelang siklus bulanannya tiba-tiba menghilang tanpa bekas.

Tubuhnya yang tadi terasa pegal kini menjadi sangat ringan dan dipenuhi oleh energi baru yang menyegarkan.

'Ini tidak masuk akal, masakan apa ini sebenarnya?' batin Mengqi dengan perasaan takjub yang luar biasa.

Gadis itu tanpa sadar terus menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya dengan kecepatan yang sangat rakus.

Dia bahkan mengabaikan citranya sebagai seorang mahasiswi anggun, makan dengan belepotan seperti anak kecil yang kelaparan.

Jiang Chen menopang dagunya dengan sebelah tangan sambil memperhatikan gadis itu makan dengan sangat lahap.

"Pelan-pelan makannya, Nona, tidak akan ada anjing jalanan yang merebut makanan mahalmu itu," goda Jiang Chen santai.

Mengqi menghentikan suapannya sejenak dan menatap Jiang Chen dengan mulut penuh makanan.

Meskipun hatinya masih sangat jengkel karena diperas lima ratus Yuan, dia tidak bisa membohongi lidah dan tubuhnya sendiri.

Pria aneh bermulut tajam dan gila uang ini ternyata benar-benar memiliki kemampuan dewa di balik penampilannya yang gembel.

"Jangan berpikir aku akan memujimu hanya karena masakanmu sedikit enak," ucap Mengqi dengan mulut yang masih mengunyah.

"Uang lima ratus Yuanku harus kau kembalikan suatu hari nanti!"

Jiang Chen hanya tertawa keras mendengar ancaman kosong dari gadis yang sudah masuk ke dalam jebakan kulinernya itu.

Dia tahu persis bahwa besok pagi, gadis ini pasti akan kembali memohon kepadanya untuk memasakkan sarapan dengan harga yang jauh lebih mahal.

1
Abady Ehm
cerita sampah juga nih,.....
ARay
ini cowok mulutnya lemez banget, pake rok aja sekalian
syarif ibrahim
orang lugu cuman ada di komik dan novel saja🤭😄tidak ada di dunia ini🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!