Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 : Akhirnya Bebas
"Cepat, Yao! Simpan pedangmu dan jangan membuat keributan di sini! Kehadiranmu hanya akan menjadi beban!" bentak Raja Tianyi dengan suara berbisik namun tajam bagai sembilu, matanya mengawasi lorong atas gua yang mulai bergemuruh.
Selir Yao mendengus pelan, menaikkan sebelah alisnya dengan anggun. "Beban? Wah, Yang Mulia meremehkan kemampuan Pendekar Teratai Berdarah ini. Hamba bisa melindungi diri sendiri, bahkan mungkin menyelamatkan Anda jika pedang emas Anda tumpul."
"Jangan membantah! Tetaplah di belakangku!" desis Tianyi tajam. Ia mengalirkan Qi emas ke telapak kakinya, bersiap melesat menuju ruang bawah tanah tempat kedua putranya disekap.
Sementara di dalam penjara bawah tanah, suasana tegang berubah menjadi ajang debat kusir yang luar biasa.
"Kak Yuan! Kenapa lama sekali?! Kau tahu kan aku hampir dijadikan sate bumbu kecap sama kakek jelek itu?!" protes Yui lewat celah jeruji besi, melipat kedua tangannya di dada dengan wajah cemberut.
"Kau masih bisa mengeluh setelah membuatku hampir mati berdarah-darah di luar?!" desis Yuan tertahan, mencengkeram besi sangkar dengan penuh emosi. "Aku bahkan sempat menangis mengira kau sudah jadi sup serigala!"
"Hahaha! Dengar itu, Shen Rui! Kakakmu saja ingin mencekikmu!" ledek Li Mo dari sel sebelah, meskipun wajahnya masih cemong arang. "Bahkan di ambang kematian, keluargamu tetap memalukan!"
"Diam kau, siluman cuka basi! Urus saja drum asam lamamu!" balas Yui sengit, menjulurkan lidahnya.
"Sudah, hentikan pertengkaran tidak penting ini!" bisik Lin Yue panik, meraba-raba sela-sela gembok besi. "Yui, mundur sedikit. Aku akan mencoba mencairkan sihir rune di gembok ini menggunakan tusuk rambut spiritualku."
"Cepatlah, Lin Yue! Sebelum siluman bertanduk tiga itu kembali dan merendam kita semua ke dalam drum cuka!" seru Yui, melangkah mundur tiga langkah.
Kring... zzzzt!
Tusuk rambut Lin Yue memercikkan cahaya biru saat beradu dengan sihir darah di gembok itu. Namun, pertahanan rune Raja Iblis Rawa ternyata sangat kokoh. Gembok itu hanya bergetar pelan tanpa mau terbuka.
"Sial, sihirnya terlalu kuat! Aku butuh bantuan aliran anginmu, Kak Yuan!" panik Lin Yue.
"Geser," perintah Yuan dingin. Ia menempelkan telapak tangannya ke jeruji besi, memusatkan Qi elemen angin bertekanan tinggi. "Rui, bersiaplah untuk lari begitu besi ini terbuka."
"Siap, Komandan!" jawab Yui nyengir lebar.
BARRR!
Hantaman angin tajam Yuan berhasil menjebol gembok utama. Pintu besi sel Yui berderit terbuka lebar.
"Yaaaay! Bebas!" pekik Yui girang, langsung melompat keluar dari sel dan menepuk-nepuk pantat jubahnya.
Melihat pintu sel sebelah terbuka, Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi langsung menempelkan wajah mereka di jeruji dengan mata berkaca-kaca penuh harap.
"Hoi! Shen Yuan! Tolong buka sel kami juga!" jerit Wang Jian memohon, hilangkan seluruh sifat arogan dan sok kuasanya. "Kami tidak mau direndam cuka selama tiga minggu! Tolong lepaskan kami!"
Yui berjalan mendekati sel mereka, melipat tangan sambil tersenyum miring mengejek.
"Hmm... lepaskan kalian? Coba kulihat... apa keuntungan yang kudapat kalau membebaskan tiga ekor babi hutan bau kotoran kuda ini?"
"Kami akan membelikanmu seribu mangkuk bakpao dan seratus paha kalkun panggang setibanya di sekte!" janji Zhao Qi histeris, nyaris bersujud di lantai jerami.
"Hmm, tawaran yang menarik..." Yui mengetuk-ngetuk dagunya pura-pura berpikir. "Tapi aku lebih suka melihat kalian berendam di drum cuka. Pasti baunya sangat harum!"
"Shen Rui, kumohon! Jangan biarkan kami jadi ikan asin!" rintih Li Mo hampir menangis.
Yuan menghela napas panjang, menepuk bahu adiknya. "Rui, jangan kejam. Buka saja sel mereka. Kita butuh pengalih perhatian jika ketahuan siluman."
Dengan mendengus malas, Yui menembakkan angin kecil untuk membuka gembok sel Wang Jian. "Sana, cepat keluar sebelum aku berubah pikiran!"
Tanpa membuang waktu, Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi langsung melompat keluar, berlari terbirit-birit di belakang rombongan Yuan sambil menutup hidung karena bau badan mereka sendiri.
Namun, baru saja mereka melangkah keluar dari koridor penjara, suara tawa menggelegar yang sangat mengerikan menghentikan langkah mereka.
"Mau lari ke mana, Tuan Muda Manusia?!"
Ba Mofeng, Raja Iblis Rawa, bersama Iblis Serigala Primordial dan puluhan pasukan siluman mendadak muncul di ujung aula utama, memblokir seluruh jalan keluar. Tiga mata merah Ba Mofeng memelotot tajam penuh amarah.
"Kalian benar-benar tamu yang paling tidak tahu sopan santun! Mencuri tahanan di istanaku?!" teriak Ba Mofeng murka, mengangkat tangan kanannya. "Bunuh mereka semua!"
"Lawan!" seru Yuan tegas, menarik Lin Yue ke belakang punggungnya dan bersiap memasang kuda-kuda pertempuran.
Sebelum bentrokan darah terjadi, sebuah kilatan cahaya emas yang sangat menyilaukan tiba-tiba menerobos atap gua, menghancurkan batu-batu besar hingga berhamburan.
BARRR! DHUARRR!
Sesosok pria berwibawa dengan jubah tempur hitam turun melayang di tengah-tengah aula, pedang emasnya berdengung nyaring memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat seluruh siluman berlutut ketakutan seketika.
"Ayah?!" pekik Yuan dan Yui bersamaan, membelalakkan mata lebar-lebar tak percaya menatap sosok Raja Shen Tianyi yang berdiri gagah di hadapan mereka.