Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Sel Purba
Fajar menyingsing di atas kanopi Alas Purba, tetapi kehangatan matahari pagi sama sekali tidak mampu mencairkan kebekuan di dalam gubuk bambu hitam.
Hera Grahansa duduk di tepi ranjang tanaman merambat, merapatkan jaket lapangannya dengan jemari yang masih sedikit kaku. Kepalanya pening. Bukan karena udara malam, melainkan karena ingatan tentang ciuman memburu Sulung yang nyaris meruntuhkan seluruh harga dirinya semalam.
Di sudut ruangan, dekat tungku abu yang sudah padam, Sulung berdiri diam. Pria itu sedang membersihkan bilah Khanjar purbanya dengan selembar daun kering. Gerakannya tenang, namun otot-otot lengannya yang tegap tampak tegang.
Hera berdeham pelan, mencoba memecah keheningan.
"Kau_, tidak tidur semalam?"
Sulung tidak langsung menjawab. Dia memasukkan Khanjar ke dalam sarung kulit di pinggangnya, lalu berbalik menatap Hera.
Sepasang mata elangnya langsung tertuju pada bagian samping leher Hera.
"Kancingkan jaketmu lebih tinggi," kata Sulung. Suaranya terdengar dingin, datar, dan tanpa ekspresi.
Hera mengernyitkan alis.
"Apa?"
"Ada tanda di lehermu," jawab Sulung, melangkah mendekat dengan ritme yang konsisten.
"Tanda kepemilikan. Di rimba ini, itu berarti kau adalah milikku. Tapi aku tahu kau bukan wanita Alas Purba." Pria itu berhenti tepat dua langkah di depan Hera. Matanya melembut sesaat, kontras dengan wajahnya yang kaku.
"Aku minta maaf. Semalam, aku kehilangan kendali."
Darah langsung berdesir naik ke wajah Hera. Dia refleks menyentuh leher kirinya. Benar saja, ada rasa perih halus di sana. Kulitnya yang putih pasti sudah memerah akibat ciuman menuntut Sulung semalam. Rasa malu dan canggung mendadak mencekik tenggorokan sang profesor.
"Aku- aku tidak apa-apa," dusta Hera cepat-cepat, memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. "Mari lupakan saja apa yang terjadi semalam. Kita punya urusan yang lebih penting."
"Aku tidak bisa melupakannya begitu saja," potong Sulung, suaranya kini terdengar lebih berat. "Dan mulai hari ini, aku tidak akan membiarkanmu jauh dari pandanganku. Bukan hanya karena bahaya hutan, tapi karena_"
Sulung menggantung kalimatnya, menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan nada tegas. "Aku akan menemanimu di sini. Lakukan apa yang harus kau lakukan pada bunga itu."
Hera tertegun. Gaya dingin Sulung yang mendadak protektif membuatnya serba salah. Namun, alih-alih berdebat, Hera memilih mengalihkan seluruh energinya pada satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan, sains.
Hera menarik tas lapangan militernya yang berat. Dari dalamnya, ia mengeluarkan kotak pelindung berbahan polimer kedap udara. Di dalam kotak itu, terbaring seuntai Dream Flower—bunga misterius Alas Purba yang kelopaknya berwarna ungu keperakan, tampak berkilau layaknya kristal organik.
Dengan cekatan, Hera merakit peralatan laboratorium mininya di atas meja kayu gelondongan yang kasar. Ia mengeluarkan mikroskop digital portabel yang terhubung ke layar tab, beberapa cawan petri steril, pipet ukur, dan beberapa botol kecil berisi cairan reagen kimia analitis.
Sulung bergerak mundur, lalu duduk bersandar pada tiang gubuk bambu. Tangannya bersendekap di dada, matanya tidak berkedip memperhatikan setiap gerak-gerik Hera. Kehadiran pria bertubuh kekar itu menciptakan atmosfer pekat yang membuat Hera beberapa kali salah tingkah saat menggenggam pinsetnya.
"Apa yang akan kau lakukan pada bunga suci itu?" tanya Sulung memecah kesunyian.
"Aku perlu menguji tingkat reaktivitas kimianya," jawab Hera tanpa menoleh, fokus meletakkan selembar kecil potongan kelopak bunga di bawah lensa mikroskop.
"Ibuku menderita Kanker kronis. Dream Flower memiliki reputasi mitos yang luar biasa untuk menyembuhkan luka fisik. Secara ilmiah, aku curiga tanaman ini memproduksi senyawa aktif pembentuk neurogenesis—pertumbuhan sel saraf baru."
Hera mengambil sebuah botol kecil berisi cairan asam reagen tingkat tinggi. "Aku akan meneteskan zat asam ini untuk melihat bagaimana dinding selnya merespons senyawa asing."
Tepat saat ujung pipet Hera berada di atas cawan petri, sebuah tangan besar yang hangat dan kokoh tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. Kuat, namun tidak menyakiti.
Hera tersentak dan menatap Sulung dengan kilatan marah. "Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh peralatanku!"
"Jangan gunakan racun kota itu pada bunga ini," kata Sulung, matanya menatap tajam ke arah botol kimia di tangan Hera. "Kau akan membunuhnya."
"Ini bukan racun! Ini asam sulfat encer untuk pengujian laboratorium!" protes Hera, watak keras kepalanya sebagai seorang Grahansa mulai bangkit. "Kau tidak mengerti sains, Sulung! Ini cara kami di dunia modern untuk mengetahui struktur pertahanan sebuah zat!"
"Aku tidak tahu apa itu sains," balas Sulung dingin, suaranya tetap tenang namun sarat akan otoritas yang mutlak. "Tapi aku tahu bahasa Alas Purba. Bunga itu hidup karena kesucian hutan. Jika kau meneteskan air kerasmu, energinya akan mati, dan kau hanya akan mendapatkan daun kering yang tidak berguna."
Hera menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kembali berpacu karena jarak mereka yang terlalu dekat. "Lalu apa maumu? Aku tidak bisa menelitinya jika hanya ditatap!"
Sulung melepaskan cengkeraman tangannya. Dia meraba pinggangnya, mengambil sebuah bumbung bambu kecil yang tersumbat kain tenun. Dia meletakkannya di atas meja kayu, tepat di samping mikroskop Hera.
"Gunakan ini. Air murni dari mata air jantung Alas Purba. Hidup harus diberi makan dengan kehidupan, bukan dengan kematian," kata Sulung datar.
Hera menatap bumbung bambu itu, lalu beralih menatap mata Sulung yang hitam pekat. Ada keyakinan yang begitu absolut di dalam sorot mata sang Panglima rimba. Logika modern Hera berteriak bahwa ini tidak ilmiah, namun intuisi wanitanya membisikkan hal lain.
"Baik," keluh Hera akhirnya, mengalah. Dia menaruh kembali botol kimianya dan mengambil pipet baru yang bersih. Dia membuka sumbat bambu dan menyedot beberapa tetes air bening dari dalamnya.
"Jika ini gagal dan sampel bungaku rusak, kau harus mencarikanku yang baru."
Sulung hanya mengangguk pelan, kembali bersandar pada tiang gubuk.
Hera mendekatkan pipetnya ke atas kelopak Dream Flower di cawan petri. Dengan perlahan, dia menekan ujung pipet, membiarkan satu tetes air murni dari mata air purba itu jatuh tepat di atas permukaan kelopak ungu keperakan tersebut.
Wusss.
Hera terkesiap, melangkah mundur satu pijakan.
Begitu tetesan air itu menyentuh permukaan kelopak, terjadi reaksi yang sama sekali tidak masuk akal dalam buku teks biologi mana pun yang pernah Hera baca. Kelopak Dream Flower yang semula diam mendadak berpendar terang.
Cahaya biru elektrik yang magis dan lembut memancar dari serat-serat tanaman, menerangi seluruh sudut gubuk bambu yang remang. bersama dengan pendaran cahaya itu, sebuah aroma wangi yang sangat menenangkan menyeruak ke udara—perpaduan antara wangi embun pagi, madu hutan, dan kesegaran yang membuat rongga dada Hera mendadak terasa sangat plong dan damai.
"Luar biasa..."
bisik Hera, matanya terbelalak tak percaya.
Dia langsung mendekatkan wajahnya ke layar tab yang terhubung dengan mikroskop digital. Apa yang terpapar di layar membuat napas sang profesor tercekat.
Di bawah perbesaran seribu kali, sel-sel Dream Flower tidak hancur atau mengkerut. Sebaliknya, sel-sel itu tampak berdenyut aktif. Molekul air purba diserap dengan kecepatan yang menakjubkan, memicu pembelahan sel yang sangat rapi dan masif.
Yang paling membuat Hera merinding sebagai seorang ilmuwan adalah struktur rantai peptidanya yang bergerak dinamis, seolah-olah memiliki kesadaran sendiri untuk memperbaiki jaringan yang rusak.
"Ini, ini tidak mungkin," gumam Hera, jemarinya menari-nari di atas layar untuk mengambil sampel data visual. "Reaksi regenerasi selnya berada di level yang belum pernah tercatat dalam sejarah medis. Ini bukan sekadar obat herbal, Sulung. Ini adalah kunci untuk membalikkan kerusakan sel saraf manusia yang mati!"
Hera menatap Sulung dengan mata yang berbinar penuh euforia, melupakan sepenuhnya kecanggungan yang sempat mendominasi mereka sejak pagi tadi.
"Sulung! Ucapan mu benar! Air ini_air ini memicu katalisator alami yang tidak akan bisa ditiru oleh zat kimia buatan manusia!"
Sulung yang sejak tadi mengawasi, hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang sangat samar. Dia berdiri, melangkah perlahan mendekati meja lab mini Hera, lalu menatap layar tab yang menampilkan aktivitas seluler yang bergerak liar.
"Aku sudah katakan padamu, Profesor," ucap Sulung, suaranya kini terdengar lebih lembut, kehilangan sebagian besar nada dinginnya.
"Hutan ini memiliki hukumnya sendiri. Jika kau mendekatinya dengan niat baik dan cara yang selaras dengan alam, dia akan memberikan rahasia terbaiknya kepadamu."
Hera menengadah, menatap rahang tegas Sulung yang kini berada sangat dekat di sampingnya. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ego ilmiah Hera melunak sepenuhnya di hadapan kearifan lokal sang penjaga rimba.
Di lehernya, tanda kepemilikan itu masih terasa hangat, seolah menjadi pengingat bahwa di tempat magis bernama Alas Purba ini, ikatan di antara mereka berdua kini telah bergeser ke tingkat yang jauh lebih mendalam daripada sekadar tawanan dan penculik.
Jangan lupa komennya ya, Like dan hadiah nya.