Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Rio duduk di dalam mobil sambil terus memutar-mutar cincin perak di jari manisnya dengan raut wajah keras.
"Jika dia benar-benar adik kandungku, aku sendiri yang akan menghajarnya sampai dia sujud minta maaf pada Ibu," batin Rio menahan amarahnya.
Kembali ke area dapur hotel yang mulai terasa seperti neraka bocor.
Hawa panas dari kompor gas raksasa membuat ruangan itu terasa pengap dan menyesakkan dada.
Byur.
Santi membilas tumpukan piring berlemak itu dengan air mengalir tanpa henti sedikitpun.
Keringat membasahi dahi dan punggungnya hingga baju tipis yang dia pakai menjadi lepek.
Kaki kirinya mulai berdenyut nyeri yang luar biasa karena sudah berdiri mematung lebih dari lima jam tanpa istirahat.
"Aduh, kakiku rasanya mau copot," batin Santi meringis menahan sakit sambil memukul pelan pahanya.
"Bu Santi, kalau capek Ibu duduk dulu saja sebentar di kursi plastik itu," tegur Bu Yanti merasa kasihan melihat wajah pucat Santi.
"Tidak apa-apa Bu Yanti, kalau saya duduk nanti Mandor bisa marah dan gaji saya dipotong," tolak Santi memaksakan senyum ramahnya.
"Anak saya Rizky juga sedang kerja keras di luar kota sana, masa saya ibunya mau bermalas-malasan di sini," tambah Santi menyebut nama anaknya dengan bangga.
"Ibu memang luar biasa, Rizky pasti sangat beruntung punya ibu sekuat Ibu," puji Bu Yanti kembali fokus menyabuni piring.
Tiba-tiba Mandor berkumis tebal itu datang menghampiri tempat cuci piring mereka dengan langkah lebar.
"Heh Ibu yang pakai tongkat! Tinggalkan piring kotor itu sebentar!" panggil Mandor itu dengan nada suaranya yang selalu tinggi.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Santi gugup sambil buru-buru mengelap tangannya yang basah ke celemek.
"Bawa troli besi berisi balok es ini ke area depan lobi utama sekarang juga!"
"Pihak dekorasi butuh es itu untuk pendingin minuman tamu VIP di meja prasmanan!" perintah Mandor itu menunjuk sebuah troli besi besar.
"Tolong yang cepat jalannya, tamunya sudah mulai berdatangan!" bentaknya lagi.
"Biar saya saja Pak yang dorong ke depan, kaki Bu Santi sedang sakit kalau dipakai jalan jauh," tawar Bu Yanti mencoba membela temannya.
"Tidak usah membantah perintahku! Kamu tetap cuci piring di sini! Biar dia yang dorong!" bentak Mandor itu melotot marah.
Santi buru-buru mengangguk karena tidak ingin Bu Yanti terkena masalah gara-gara dirinya.
"Tidak apa-apa Bu Yanti, cuma dorong ke depan sebentar saja kok, saya masih kuat," kata Santi menenangkan temannya.
Santi berjalan pincang lalu mengambil alih gagang troli besi yang terasa sangat dingin itu.
Dia mendorong troli berat itu perlahan-lahan keluar dari area dapur menuju lorong panjang.
Lorong itu menghubungkan bagian belakang hotel dengan lobi utama yang sangat megah.
Kriet kriet kriet.
Suara roda troli berdecit berisik di atas karpet tebal hotel yang sangat empuk.
Begitu pintu pembatas lorong terbuka, udara dingin dari AC sentral langsung menyambut tubuh Santi yang berkeringat.
Mata tua Santi membelalak takjub melihat dekorasi lobi hotel yang disulap seperti istana dalam cerita negeri dongeng.
Ribuan bunga mawar putih segar menghiasi setiap sudut ruangan dipadukan dengan lampu kristal yang menyilaukan mata.
Para tamu undangan yang memakai jas mahal dan gaun berkilauan tampak berlalu lalang sambil tertawa elegan.
"Ya Tuhan, indah sekali tempat ini, pasti yang menikah orang yang sangat kaya raya," gumam Santi takjub melihat sekelilingnya.
"Kalau Rizky yang sedang dinas ke luar kota bisa melihat tempat sebagus ini pasti dia senang sekali," batin Santi dengan polosnya.
Santi menundukkan kepalanya karena merasa minder dengan pakaian kumalnya saat melewati para tamu kaya tersebut.
Dia terus mendorong trolinya menuju meja minuman di sudut lobi sesuai dengan perintah Mandor katering.
Namun langkah Santi tiba-tiba terhenti saat dia tidak sengaja melewati pintu masuk utama ballroom.
Di depan pintu kembar raksasa itu berdiri sebuah papan bunga ucapan selamat yang sangat banyak.
Tapi yang membuat mata Santi terpaku adalah sebuah bingkai foto pre-wedding berukuran tiga meter yang dipajang di tengah-tengah.
Foto itu menampilkan sepasang kekasih yang tersenyum sangat bahagia dengan pakaian pengantin mewah.
Santi menyipitkan matanya yang mulai sedikit rabun untuk melihat wajah mempelai pria di foto raksasa tersebut lebih jelas.
Deg.
Jantung Santi mendadak berdegup sangat kencang hingga napasnya terasa tertahan di ujung tenggorokan.
Gagang troli besi di tangannya terlepas begitu saja membuat troli itu meluncur pelan menabrak tembok.
Wajah pemuda tampan berjas putih di foto raksasa itu sangat dia kenali dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Senyum kebanggaan pemuda itu adalah senyum yang sama yang selalu dia lihat setiap hari di rumah petaknya.
Bahkan tahi lalat kecil di bawah telinga pemuda itu sama persis dengan anak yang dia lahirkan dua puluh dua tahun lalu.
"Rizky?" panggil Santi dengan suara bergetar nyaris tak terdengar oleh siapapun.
Santi mematung di tempatnya dengan mulut sedikit terbuka dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Otaknya yang lelah berusaha memproses apa yang sedang dia lihat saat ini.
"Tidak mungkin, Rizky bilang dia sedang dinas ke luar kota sebulan," gumam Santi berusaha menyangkal penglihatannya.
Santi melangkah maju beberapa tindak dengan kaki pincangnya mendekati foto raksasa tersebut.
Tangannya yang keriput dan pucat terulur perlahan menyentuh permukaan foto wajah anaknya.
"Ini benar-benar kamu nak, tapi kenapa kamu ada di foto pernikahan ini?" bisik Santi mulai gemetar hebat.
Kebingungan, rasa sakit, dan firasat buruk mulai bercampur aduk menjadi satu di dalam dada wanita tua itu.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang sangat familiar dari arah lorong sebelah kiri lobi.
Santi menoleh dan matanya langsung menangkap sosok yang sangat nyata sedang berjalan ke arah ballroom.
Itu adalah Rizky dalam balutan jas putih yang sama persis dengan yang ada di foto.
Rizky berjalan dengan dada membusung bangga sambil menggandeng mesra tangan Cynthia yang memakai gaun pengantin mewah.
Di belakang mereka mengekor keluarga Wijaya dan tamu VIP lainnya yang tersenyum bahagia.
Dunia Santi seolah runtuh seketika melihat pemandangan kebohongan yang ada di depan matanya.
Anak bungsunya yang dia pikir sedang bekerja keras untuk keluarga ternyata sedang melangsungkan pernikahan mewah tanpa mengundangnya.
"Rizky!" panggil Santi tanpa sadar berteriak di tengah lobi hotel yang ramai itu.