Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Dinner
Matahari sore mulai bergeser ke barat, memancarkan pendar oranye keemasan yang menembus jendela kamar Valen. Setelah panggilan video dari Kevin terputus, keheningan kembali menyelimuti ruang pribadi itu, namun kali ini atmosfer di sekitarnya terasa jauh lebih hangat dan hidup.
Valen bangkit dari meja belajarnya, merapikan beberapa kertas sisa pembungkus kado yang masih berserakan. Perasaannya melayang, teringat bagaimana tatapan mata Kevin saat mengucapkan kalimat hangatnya beberapa menit lalu. Namun, kehangatan itu mendadak terinterupsi saat ketukan di pintu kamarnya terdengar dua kali.
"Kak Len, ini Wisnu," panggil suara dari luar.
"Masuk aja, Wis, nggak dikunci kok," sahut Valen seraya memasukkan vas bunga mawar merah ke sudut meja yang lebih aman.
Pintu terbuka dan Wisnu melangkah masuk seraya membawa nampan berisi dua gelas es sirup markisa serta sepiring camilan pastel hangat buatan Bunda. Adik laki-lakinya itu meletakkan nampan di meja kecil dekat sofa kamar Valen, lalu mendudukkan diri dengan santai seraya menyilangkan kaki.
"Bunda suruh nganterin ini. Katanya Kakak pasti lapar abis beres-beres," ujar Wisnu, lalu matanya melirik ke arah vas bunga mawar yang baru saja ditata Valen. Ia bersiul pelan. " Suiitt... Suiittt...Bunganya beneran niat banget ya. Dokter Kevin belinya di mana tuh? Bunga impor pasti."
Valen menyunggingkan senyum tipis, mengambil satu gelas sirup dan menyesapnya pelan. "Nggak tahu beli di mana, yang penting niat dan tulusnya."
Wisnu terdiam sejenak, mengamati wajah kakaknya yang sejak semalam tak berhenti memancarkan binar bahagia. Raut jenakanya pelan-pelan berganti menjadi lebih tenang dan dewasa.
"Kak..." panggil Wisnu dengan nada suara yang tak biasa.
Valen menoleh, sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi adiknya. "Kenapa, Wis? Kok mendadak serius gitu?"
Wisnu memperbaiki posisi duduknya. "Nggak papa. Cuma mau ngomong... aku seneng banget lihat Kakak kayak gini." Wisnu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, merasa sedikit canggung. "Sejak Ayah meninggal enam tahun lalu, Kakak tuh selalu berusaha kelihatan kuat di depan aku sama Bunda. Kuliah sambil mikirin biaya, belajar sampai larut malam, terus selalu nahan diri buat nggak merepotkan siapapun. Aku tahu Kakak capek."
Dada Valen mendadak berdesir mendengarnya. Ia tidak menyangka adiknya yang biasa bersikap jahil ternyata memperhatikan perjuangannya sejauh itu.
"Tapi pas lihat Dokter Kevin nemenin Kakak kemarin, pas dia megang tangan Kakak dan ngobrol sama Bunda dengan penuh sopan santun... aku merasa lega," lanjut Wisnu jujur. "Dokter Kevin itu kelihatan banget bisa menjagamu, Kak. Dia tipe laki-laki yang nggak cuma obral janji, tapi terbukti dari tindakannya. Aku rasa, Ayah di atas sana juga senang banget melihat ada pria bertanggung jawab yang menjaga Kakak sekarang."
Mata Valen mulai berkaca-kaca. Kata-kata Wisnu menyentuh sudut terdalam hatinya. Ia meletakkan gelasnya, melangkah mendekat, lalu merangkul bahu adik laki-lakinya itu dengan erat.
"Makasih ya, Wis," bisik Valen pelan. "Kamu udah makin dewasa sekarang. Ayah pasti bangga juga sama kamu."
Wisnu menepuk-nepuk punggung kakaknya pelan, menyembunyikan rasa harunya dengan terkekeh ringan. "Udah ah, Kak! Nanti air matanya netes ke pastel buatan Bunda, malah jadi asin!"
Valen tertawa kecil seraya melepas pelukannya dan menepok lengan Wisnu gemas. "Kamu tuh ya, rusak momen haru aja!"
Malam harinya, sesuai janjinya, jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit ketika ponsel Valen yang tergeletak di atas kasur berdering nyaring. Nama "Kevin" menyala terang di layar.
Valen menghentikan aktivitas membaca bukunya, lalu meraih ponsel tersebut dan mengangkat panggilan itu dengan senyum melebar.
"Halo, Kevin?"
"Halo, Valen," suara di ujung telepon terdengar sedikit berat namun begitu menenangkan. Di latar belakang, terdengar samar suara gesekan lembaran kertas dan keheningan khas ruang kerja. "Sudah makan malam?"
"Sudah, tadi makan sama Bunda dan Wisnu. Kamu sendiri gimana? Udah selesai praktiknya?" tanya Valen lembut seraya merebahkan badan dan memeluk bantal gulingnya.
"Baru saja pasien terakhir selesai lima menit lalu," jawab Kevin. Terdengar hembusan napas panjang bukan hembusan napas lelah yang frustrasi, melainkan kelegaan karena tugas hari ini telah usai. "Aku sedang merapikan beberapa berkas rekam medis sebentar sebelum pulang."
"Jangan kemalaman pulangnya, Kevin. Nanti stamina kamu drop kalau kurang istirahat. Ingat, kamu itu dokter, tapi bukan manusia super," tegur Valen penuh perhatian.
Di ujung telepon, Kevin terkekeh halus. "Iya, Dokter Valen. Perintah dimengerti. Ngomong-ngomong, besok jadwal kamu apa?"
Valen berpikir sejenak. "Besok pagi mau bantu Bunda belanja bulanan, terus siang rencananya mau mulai merapikan berkas-berkas lamaran untuk program internship rumah sakit."
Terdengar jeda beberapa detik di seberang sana sebelum Kevin kembali bersuara, nadanya kini terdengar sedikit ragu namun sarat akan harapan.
"Valen..."
"Iya?"
"Besok malam... ada waktu kosong?" tanya Kevin pelan. "Maksudku, kalau kamu tidak lelah dan tidak ada acara keluarga, aku ingin mengajak kamu makan malam di luar. Bukan di restoran mewah yang formal, cuma tempat makan santai. Aku mau merayakan kelulusan kamu secara resmi cuma kita berdua."
Jantung Valen berdegup lebih kencang dari biasanya. Ajakan sederhana itu terasa sangat spesial karena ini akan menjadi kencan pertama resmi mereka setelah Kevin mengutarakan perasaannya semalam.
"Makan malam berdua?" ulang Valen memastikan dengan nada menggoda.
"Iya, kalau kamu berkenan," jawab Kevin jujur, terdengar sedikit gugup yang justru terasa sangat manis dari sosok dokter bedah yang biasanya dikenal dingin dan tegas itu. "Aku akan jemput jam tujuh malam."
Valen menyunggingkan senyum hangat, tangannya mengelus liontin mawar di gelang emas putih yang melingkar cantik di pergelangan tangannya.
"Boleh, Kevin. Aku mau," jawab Valen mantap. "Aku tunggu besok malam, ya."
"Terima kasih, Valen," sahut Kevin dengan nada lega dan kehangatan yang tak tersamarkan. "Tidurlah sekarang. Selamat malam, mimpi indah."
"Selamat malam juga, Kevin. Hati-hati di jalan pas pulang nanti."
Setelah sambungan telepon terputus, Valen menatap langit-langit kamarnya dengan senyuman yang tak kunjung pudar. Perjalanan baru dalam hidupnya kini benar-benar terbentang di hadapan. Ada harapan, cinta, dan keyakinan bahwa bersama Kevin, setiap langkah ke depan akan terasa jauh lebih bermakna.
Matahari yang tenggelam di ufuk barat tadi sore telah sepenuhnya berganti menjadi malam yang tenang. Di dalam kamar yang beraroma samar bunga mawar impor dan pastel hangat buatan Bunda, Valen masih mendekap gulingnya erat. Senyum di bibirnya tak kunjung luntur meski sambungan telepon dari Kevin sudah terputus beberapa menit lalu.
Sentuhan jemarinya lembut mengelus liontin mawar di pergelangan tangannya. Ada desir bahagia yang membuncah bukan hanya karena janji makan malam besok, tetapi karena rasanya seluruh kepingan hidupnya yang sempat berat, perlahan-lahan kembali tertata dengan indah.
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka sedikit. Kepala Wisnu menyelinap masuk dari balik celah pintu dengan cengiran khasnya.
"Belum tidur, Kak? Senyam-senyum sendiri natap langit-langit, kayak orang dapet undian jalan-jalan ke luar negeri," ledek Wisnu seraya melangkah masuk dan membawa kembali nampan bekas sirup serta piring pastel yang sudah bersih tanpa sisa.
Valen dengan cepat duduk dan melemparkan bantal kecil ke arah adiknya, yang dengan sigap ditangkap oleh Wisnu. "Kamu tuh ya! Kebiasaan banget main masuk nggak ketuk pintu dulu."
"Udah ketuk tiga kali, Kak Len-nya aja yang keasyikan melamun membayangkan Dokter Kevin," seloroh Wisnu sembari terkekeh pelan. Ia lalu menatap Valen dengan raut yang kembali melunak. "Tapi beneran deh, Kak. Seneng banget liat Kakak senyum lepas gitu lagi. Oh iya, Bunda titip pesan, besok pagi jam delapan jangan lupa siap-siap, mau berangkat ke pasar swalayan buat belanja bulanan."
"Iya, Wis. Nanti Kakak bantu," jawab Valen lembut, raut wajahnya melembut menatap adik laki-lakinya itu. "Makasih ya, udah nganterin camilan tadi. Nanti nampannya ditaruh di dapur aja, biar Kakak yang cuci piringnya sekalian."
"Sip! Selamat bermimpi indah, Calon Ibu Dokter!" goda Wisnu lagi sebelum cepat-cepat kabur keluar dan menutup pintu kamar rapat-rapat sebelum terkena lemparan bantal kedua.
Valen menggeleng-gelengkan kepala seraya tertawa kecil. Namun, perkataan Wisnu justru menyisakan kehangatan tersendiri di dadanya.
Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang segar menyapu bersih sisa-sisa embun. Hari berjalan begitu cepat dan produktif bagi Valen. Pagi hingga siang hari ia habiskan untuk mendampingi Bunda belanja kebutuhan rumah tangga, lalu sore harinya ia sibuk merapikan berkas-berkas persyaratannya untuk melamar program internship rumah sakit—langkah besar berikutnya dalam karier kedokterannya.
Ketika jam dinding di kamar menunjukkan pukul 18.00 WIB, Valen mulai mempersiapkan diri. Ia memilih gaun kasual berwarna krem lembut dengan potongan sederhana namun elegan, dipadukan dengan cardigan berbahan rajut halus berwarna merah muda pudar. Rambut panjangnya ditata bergelombang alami di bagian bawah, dan riasan tipis menyempurnakan wajah ayunya yang memancarkan binar kebahagiaan.
Tepat pukul 18.55 WIB, klakson mobil yang sangat dihafalnya terdengar dari depan pagar rumah.
Jantung Valen berdetak sedikit lebih cepat. Setelah berpamitan dan mencium tangan Bunda yang memberikan senyuman penuh arti serta godaan jahil dari Wisnu yang mengacungkan dua jempol dari ambang pintu Valen melangkah keluar rumah.
Di samping sedan hitamnya yang terparkir rapi, berdiri sosok Kevin. Laki-laki itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang dilipat rapi hingga siku, dipadu celana kain santai. Penampilannya malam ini terasa jauh lebih hangat dan lepas dibandingkan sosok dokter bedah berjas putih yang tegas di rumah sakit.
Begitu melihat Valen melangkah mendekat, pandangan Kevin terkunci pada gadis di hadapannya. Senyum tulus dan hangat langsung terukir di wajahnya yang tampan.
"Malam, Valen," sapa Kevin, suaranya terdengar lembut menembus udara malam yang sejuk.
"Malam, Kevin," balas Valen seraya tersenyum manis. "Sudah lama nunggunya?"
"Baru dua menit," jawab Kevin halus. Ia melangkah maju satu tapak, lalu mem bukakan pintu mobil untuk Valen dengan sikap penuh hormat dan ketulusan yang selalu berhasil melelehkan hati gadis itu. "Kamu cantik sekali malam ini."
Pipi Valen mendadak bersemu merah mendengarnya. Ia mengangguk pelan seraya masuk ke dalam mobil. "Terima kasih, Kevin."
Setelah Kevin mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi, ia menatap Valen sejenak, memastikan gadis itu sudah memasang sabuk pengaman dengan nyaman. Engine mobil dinyalakan, dan kendaraan ramping itu melaju perlahan menyusuri jalanan kota yang dihiasi lampu-lampu malam.
"Kita mau ke mana malam ini?" tanya Valen penasaran, menatap profil samping Kevin yang fokus mengemudi.
Kevin melirik sekilas ke arah Valen dengan binar mata yang hangat. "Ada satu tempat makan santai di area perbukitan kota. Tempatnya tidak ramai, udaranya segar, dan dari sana kita bisa melihat pemandangan lampu-lampu kota. Aku pikir kamu butuh tempat yang tenang setelah lelah berhari-hari menyiapkan ujian dan wisuda."
Valen menatap Kevin dengan tatapan takjub. Perhatian detail yang ditunjukkan laki-laki itu selalu berhasil menyentuh bagian terdalam hatinya. Tak ada kata-kata manis yang berlebihan, hanya tindakan nyata dan pemahaman mendalam tentang apa yang ia butuhkan.
"Terima kasih ya, Kevin... buat semuanya," bisik Valen tulus.
Kevin mengulurkan tangan kirinya sejenak, menggenggam jemari Valen dengan hangat dan erat sebelum kembali memegang kemudi. "Terima kasih kembali, Valen. Karena sudah memberi aku kesempatan untuk ada di sisimu."
Di balik jendela mobil, lampu-lampu kota berpendar indah menyambut malam mereka—sebuah awal baru bagi perjalanan cinta dua insan yang saling melengkapi dan menguatkan.