'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Keluarga Nelson & Alena
...~•Happy Reading•~...
Ke esokan pagi ; Setelah sarapan, Pak Ridho ke kebun durian seperti biasanya. Kemudian disusul oleh Bu Ridho dan putra bungsu mereka, Zeth.
Setelah beberapa waktu mengumpulkan durian, dahi Bu Ridho berkerut melihat durian yang terkumpul. Bu Ridho mendekati suaminya yang sedang mengikat durian untuk dibawa pulang.
"Pa, apa ada yang ambil durian kita pagi ini? Kok, ini tidak sama kemarin."
"Tidak ada yang ambil. Mungkin cuma jatuh segitu. Tadi malam cuaca baik dan tidak ada angin." Pak Ridho memberikan alasan penyebab durian hanya sedikit yang jatuh.
"Masa sih? Ini kok berkurang banyak." Bu Ridho curiga dan tidak terima alasan suaminya. "Zeth, tendang pohon yang di sekitarmu." Perintah Bu Ridho, agar bisa menjatuhkan buah durian yang masih banyak di pohon tinggi.
"Berhentiii...!" Teriak Kakek Samy yang baru datang dan melihat Zeth sedang menendang pohon durian. "Kau bikin apa? Kau tidak tahu itu akan merusak pohon?" Kakek Sami membentak sambil membuang durian di tangannya ke tanah.
"Mama minta aku tendang, supaya jatuh, Kek." Zeth berkata sambil menunjuk Mamanya.
"Apa yang jatuh ini, tidak cukup? Apa kau tidak tahu, air laut ada pasang surutnya? Rejeki tidak sama setiap hari." Kakek Samy berkata kepada Bu Ridho.
"Ridho, kau tidak bisa kasih pengertian buat istri dan anakmu? Tindakan mereka bisa merusak pohon. Kalau pohon-pohon ini sakit, aku akan minta orang tebang semuanya."
"Kau walau disuruh, pergunakan akalmu. Pohon itu sudah memberi kehidupan buat kalian, perlakukan pake perasaan." Ucap Kakek Samy kepada Zeth. "Sana, pergi ambil durian di sana." Kakek Samy menunjuk tempat, lalu meninggalkan mereka.
Setelah Kakek Samy menjauh, Pak Ridho mendekati istrinya. "Tadi malam aku sudah bilang hati-hati dengan protesmu. Sekarang malah kau lakukan yang lebih fatal."
"Bukan jatah duriannya saja dikasih ke Nelson, tapi pohonnya akan ditebang." Ucap Pak Ridho lalu mengajak Zeth mengambil durian yang dimaksud Kakek Samy. Bu Ridho berdiri diam sambil melihat durian di dekat kakinya.
~•~
Nelson yang bangun kesiangan, terkejut melihat Kakeknya pulang dari hutan dan langsung masuk ke kamar. "Ada apa? Kakek gak jadi ke hutan?" Bisik Nelson sambil mengambil air mineral.
"Gak tahu, Kak. Sarapan dulu. Jangan sampai ada yang datang."
"Kakek sudah sarapan?"
"Sudah, tadi, sebelum ke hutan."
"Oh iya. Setiap hari kumpul durian, ya. Besok-besok bangunin aku, ya. Lupa kalau ada di sini."
"Lebih baik kakak siap-siap buat menjual saja lagi."
"Sudah jam berapa?" Tanya Nelson. Tine menunjuk jam dinding di dapur.
"Ok. Aku masih sempat belah kayu."
"Kak Nel serius mau belah kayu?"
"Serius." Ucap Nelson sambil mengangguk untuk meyakinkan. "Kau siapkan keperluan lain, ya." Ucap Nelson sambil menghabiskan sarapan.
"Kak, sepertinya gak usah belah kayu sekarang. Sore saja." Bisik Tine sebelum Nelson masuk ke kamar.
"Kenapa?" Nelson berhenti dan ikut berbisik.
"Itu suara di luar. Pasukan sudah pulang dari hutan." Bisik Tine.
"Ok." Ucap Nelson disertai mengangkat jari membentuk OK.
"Kau baru bangun lagi?" Tanya Mama Tine yang sudah meletakan durian di tanah sambil menatap tajam Tine.
"Mama apa, sih. Tanya Kakek tuh. Aku sudah bangun sebelum Kakek ke hutan."
Ketika Nelson mau ajak bicara Zeth, tiba-tiba dia ngeloyor pergi tanpa pamit. 'Zeth tidak suka aku di sini?' Nelson membatin. 'Biarkan saja dia. Kecil-kecil sudah ikut campur persoalan orang tua.' Bisik hati Nelson.
"Kakakku yang tampan, mari kita pisahkan body durian ini." Tine mengajak Nelson yang sedang melihat kepergian Zeth. Kakek Samy yang baru keluar, mengamati sikap Zeth dan arah tatapan Nelson.
"Durian cuma segitu. Jangan kalian ikut makan juga." Mama Tine mengingatkan sambil melihat Tine dan Nelson yang sedang memisahkan durian.
Mendengar ucapan Mamanya, Tine menegakan punggung. "Mama, perut kami juga tahu." Tine mengutarakan rasa kesalnya. "Durian yang Kakek angkat kemarin saja belum abis kami makan kulitnya." Tine jadi ikut berbicara seperti Nelson, membuat Mamanya emosi.
"Inasor, apa kau tidak bisa bicara baik dengan anakmu?" Bentak Kakek Samy. Pak Ridho jadi khawatir melihat Papanya menyebut nama istrinya. Biasanya Mama Tine.
"Aku memang berbicara begini. Mengapa Papa tiba-tiba heran dengan cara bicaraku?" Mama Tine protes.
"Bagaimana tidak heran? Kau bicara sesuka lidahmu tanpa berpikir bisa sakiti anakmu. Dia anak perempuan dalam masa pertumbuhan."
"Setiap kali bertemu, kau bertanya, menuduh, meminta sesuatu yang dia tahu dan mengerti, dengan suara seperti di barak militer."
"Kau tidak lihat itu di tempat penampungan kayu masih ada banyak durian? Mereka makan sesuai dengan kemampuan perut, tidak serakah seperti orang yang gila durian."
"Kalau kau tidak suka mereka urus durianmu jadi uang, urus sendiri durianmu." Kakek Samy melepaskan emosi yang sudah ditahan.
"Nelson, fokus pada tujuanmu ke sini. Tine masuk, kerjakan pekerjaan kalian. Kau sebentar lagi masuk sekolah." Kakek Samy mendorong Nelson dan Tine masuk ke dalam rumah. Papa Mama Tine saling pandang dengan wajah tegang.
~•~
Di tempat lain ; Alena sedang kesal pada Papanya yang tidak bisa memberikan uang tepat waktu. Sehingga dia tidak bisa ganti uang Arni seperti janjinya dan tidak bisa ke kampus.
Pembicaraan dengan Papanya di telpon bikin emosinya luber. "Apa Papa gak bisa bilang Tante transfer? Aku lagi persiapan mau penelitian." Alena coba menawar saat dia disuruh ke tempat adik Papanya untuk mengambil uang tunai.
"Tante ingin bertemu. Kau sudah lama tidak ke rumahnya..." Papanya menjelaskan panjang dan lebar, tujuan Tantenya tidak bisa transfer uang padanya. Sehingga dengan berat hati dan terpaksa dia harus menemui Tantenya. Bayangan akan dinyanyiin membuat telinganya gatal.
Ketika tiba dan membunyikan bel, Tantenya sendiri yang membuka pintu. "Akhirnya kau datang juga." Sambut Tantenya yang sudah menunggu.
"Kau perlu uang untuk apa lagi? Bukannya kalian sudah ambil gaji kakakku?"
"Aku mau penelitian, Tan. Jadi ada biaya tambahan."
"Kalau sudah tahu mau begitu, hemat, hemat. Bukan menghambur hamburkan uang dengan beli segala benda bermerek dan mahal. Coba lihat tas yang kau pakai. Berapa harganya?" Tante Alena berkata seperti peluru yang ditembakan dari senapan mesin.
"Ini hadiah ulang tahun dari teman, Tan." Alena berkata pelan.
"Tidak usah berbohong. Kau kira aku tidak tahu gaya hidupmu di kampus? Pas-pasan, tapi mau tinggal di tempat kost mahal." Tantenya sudah lama menyimpan dendam melihat perilaku ponakannya yang angkuh dan tidak menggubris keluarga Papanya. Jadi mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku tinggal dengan teman, jadi bayar murah Tante. Kalau dihitung, malah lebih murah dari pada ongkos bolak-balik, kalau tinggal di sini." Alena mulai tidak sabar.
"Kau berani menjawab Tantemu?"
"Aku cuma jelaskan alasan dan pertimbanganku untuk tinggal di kost, Tante."
"Ambil uangnya dan pergi dari sini." Bentak Tantenya.
Walau tersinggung dan sakit hati, Alena mengambil amplop yang diletakan begitu saja di atas meja sambil merapatkan gigi, karena butuh.
...~•••~...
...~•○♡○•~...