NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Sang Raja Mafia

Pernikahan Kontrak Sang Raja Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penikahan Kontrak / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Marines bacadare

Matteo Leone Messina—calon capo di tutti capi, raja dari kerajaan Cosa Nostra. Dingin, kejam, dan tak lagi percaya pada cinta sejak dikhianati wanita yang dulu dipujanya. Baginya, pernikahan ini hanya secarik kontrak: dua tahun, tanpa hati, tanpa aturan yang mengikatnya.

Angelina Rizzuto—putri satu-satunya pemimpin Camorra. Manis, sopan, berkacamata, dan pernah ditinggalkan di altar dalam gaun pengantinnya. Dunia mengenalnya sebagai gadis polos yang patah hati. Matteo mengira ia menikahi seorang perawan suci yang lemah dan penurut, yang bisa ia abaikan sesuka hati.

Ia salah besar.

Di balik senyum lembut dan busana sopan itu tersembunyi rahasia yang bahkan tak berani ia bayangkan—seorang wanita yang jauh lebih berbahaya, lebih tajam, dan lebih berkuasa daripada dirinya. Perjanjian yang ia buat untuk mempermainkan sang istri perlahan berbalik menjadi jerat bagi hatinya sendiri.

Dua keluarga mafia. Satu pernikahan paksa. Sederet dendam lama yang menunggu ditagih. Dan cinta yang tumbuh di antara dua orang yang bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi.

Ketika singa bertemu bayangannya sendiri, siapa yang akan memangsa siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marines bacadare, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Monsterku

Pasangan itu masih berpelukan, dua sosok yang sama-sama angkuh dan keras kepala, benar-benar sepadan. Si pirang menatap Matteo dan bertanya sambil membelai rambutnya.

"Ceritakan tentang satu-satunya cinta dalam hidupmu."

"Liliana Pascuali," ucap gadis itu, membuat si pria berambut cokelat tersentak kaget.

"Aku mengenalnya sejak SMA, lalu di universitas kami menjadi sepasang kekasih. Dia gadis tercantik di mataku, penuh percaya diri sekaligus sangat manis. Dia anak papa yang manja, dan aku dengan senang hati menuruti semua keinginannya," pria bermata biru itu mulai bercerita dengan wajah serius.

"Aku melamar Liliana, dan itu hari yang sangat istimewa bagiku. Meski aku pria yang kejam, dia adalah segalaku," lanjutnya sementara gadis itu mendengarkan dalam diam.

"Liliana punya kemampuan meyakinkan dan memanipulasi siapa pun. Dia merebut kepercayaanku dan cinta butaku. Aku memujanya," pria itu meneruskan.

"Kakekku selalu memperingatkanku soal dia, tapi aku tak pernah mendengarkan. Teman-temanku juga bilang dia bukan gadis baik, dan aku mengabaikan mereka, bahkan sampai memutus komunikasi dengan mereka. Karena itu…" pria itu terus bercerita di samping istrinya.

"Hari saat aku memergoki mereka berdua, rasanya aku ingin mati. Aku merasa tak ada lagi yang berharga. Aku sempat berpikir untuk membunuhnya lalu bunuh diri, tapi aku tak sanggup. Lauro selamat berkat Kakek, sebab Kakek tak akan memaafkanku." Dia menghela napas dalam-dalam, dan gadis itu memeluknya, membuatnya berbaring sementara ia membelai rambut pria itu.

"Sudah lama dia bersumpah bahwa itu semua rencana Lauro karena kebenciannya padaku, tapi aku sudah tak memercayainya. Tidak lagi. Aku berubah menjadi sampah seperti sekarang, dan mulai memakai wanita-wanita untuk memuaskan hasratku," ucap pria itu.

"Aku tahu itu tidak sehat, tapi tetap kulakukan. Mereka menerimanya, tapi aku tetap saja menyiksa mereka, sambil membayangkan Liliana. Suatu hari aku hampir kelewatan, aku kehilangan kendali ketika salah satu gadis memanggilku Bombón, sebab begitulah Liliana memanggilku. Aku tak tahan," ucapnya sambil memejamkan mata, malu atas perbuatannya, lalu melanjutkan.

"Kucengkeram leher gadis itu dan kucekik. Kutarik lebih kencang rantai yang mengikatnya ke ranjang, sampai hampir putus karena tekanannya." Mengenang itu menyakitkan bagi pria itu.

"Mata gadis itu hampir memutih, tapi aku sempat kembali sadar dan melepaskannya. Dia menatapku dengan ketakutan. Kulepaskan, kubayar, lalu dia kabur dariku seperti aku ini monster. Dan memang itulah aku sekarang. Begitulah mereka mengubahku," ucapnya mengakhiri cerita, dan gadis itu memposisikan diri di atasnya.

Angelina menyentuh dadanya dan menyingkap kemejanya. Matteo masih memejamkan mata dan tubuhnya tegang. Angelina menciuminya sebisa mungkin, lalu naik ke bibirnya dan mulai memberi ciuman-ciuman singkat, menyusuri seluruh wajah pria itu.

"Kau bilang kau monster…" ucapnya, terus menyusuri tubuh Matteo dengan ciuman.

"Kalau begitu, suamiku…" ia menciumnya lagi.

"Jadilah monsterku… Jadilah binatang buas seperti yang kaubilang, tapi bersamaku. Jadilah ganas pada istrimu." Ia terus menciumi Matteo, dan pria itu membuka mata birunya yang indah lalu mulai menggeleng.

"Aku tak mau menyakitimu. Tak akan pernah," ucapnya menatap mata Angelina dengan perasaan yang aneh.

"Kau tak merindukan itu? Kau tak ingin menampar bokongku sampai aku membayar perbuatanku? Kau tak ingin membungkam mulutku yang kurang ajar ini, sayang?" ucapnya menggoda di atas tubuh Matteo.

Dengan suara serak dan bergetar, Matteo berkata.

"Jangan menggodaku, kita baru memulai hubungan yang sungguhan, sayangku," ucapnya, dan Angelina mulai menggesekkan tubuhnya di atas tubuh sang suami.

"Aku istri yang sangat nakal, sayang," ucapnya sambil menggeliat di atas Matteo. Matteo menghentikannya dan menciumnya dengan lembut.

"Aku berjanji, begitu bahumu sembuh, akan kuberikan semua yang kauminta," ucapnya, dan Angelina merengut.

"Lengkap dengan hukuman… Dengan banyak tamparan di bokong, aku akan mendapatkan monsterku," ucapnya, dan Matteo membalikkan tubuh Angelina lalu mulai menanggalkan pakaiannya, sementara Angelina melakukan hal yang sama padanya.

"Kau membuatku gila, sayangku. Sialan, kenapa kau butuh tiga tahun untuk muncul?" Angelina tergelak lalu melahap bibir Matteo. Matteo tak berpikir dua kali dan masuk ke dalam istrinya dalam satu gerakan, dan desahan pun memenuhi seluruh kamar.

"Cantiknya sayangku," ucapnya dengan pandangan buram oleh hasrat.

"Ya, Mati-ku, ini istrimu." Pria itu menghentak tubuh Angelina dengan kuat, tapi berusaha tidak melukai bahunya. Angelina menginginkan Matteo melakukannya lebih keras, tapi pria itu menolak.

"Sayangku, bahumu, jangan terlalu banyak bergerak, ya," ucapnya, dan Angelina menurut. Memang bahunya sedikit sakit, tapi hasratnya jauh lebih besar.

"Mati, lebih keras, sayang." Matteo berusaha tidak mendengarkannya, atau semuanya akan berantakan.

"Apa gunanya iblis kalau bersamaku dia jadi malaikat?" ucap si pirang untuk memancingnya. Pria itu meletakkan kedua kaki Angelina di atas bahunya dan membuatnya menjerit nikmat, membenamkan seluruh miliknya ke dalam tubuh Angelina. Si pirang menjerit dan mendesahkan nama Matteo, dan bagi Matteo itu bagai alunan merdu.

"Sayangku, milikku," geram sang capo dalam pelukan istrinya.

"Matteo, aku sudah dekat sekali." Matteo menggeleng, matanya kini biru lebih gelap.

"Tahan sedikit lagi, sayangku, sedikit lagi saja," ucapnya, dan Angelina mengangguk.

"Kalau kau tunjukkan monster itu padaku," Angelina tertawa. Itulah satu-satunya cara agar dirinya tak larut dalam klimaks yang mengancam akan menenggelamkannya.

"Kau memancingnya keluar dengan sikap kurang ajarmu," ucapnya sambil terus menghentak istri mungilnya.

"Lakukan, panggil dia, aku ingin melihatnya." Angelina adalah wanita paling menyebalkan dan paling keras kepala yang pernah dikenal Matteo. Dia terluka, dan Matteo tahu bahunya sakit—memangnya bahu itu terbuat dari logam?—tapi Angelina tetap saja memancing Matteo.

Matteo keluar dari tubuh istrinya. Dia harus memberikan sesuatu, atau Angelina tak akan membiarkannya tenang. Wanita itu keras kepala luar biasa.

"Berdiri sekarang," ucapnya, dan Angelina menurut. Dia tak sabar. Pria itu membawanya ke sofa melengkung yang ada di kamarnya, sebuah sofa tantra dari kulit berwarna hitam. Ia menuntun Angelina ke sana, memintanya menaruh lutut di bagian bawah dan membiarkan bobot tubuhnya jatuh ke bagian atas sofa. Angelina melakukannya hingga berada dalam posisi merangkak seperti anak anjing, dan ini mencegahnya terlalu banyak membebani bahunya. Ia menghela napas dan berkata pada dirinya sendiri bahwa dia pernah menahan rasa sakit yang jauh lebih parah.

Matteo memposisikan diri di belakangnya dan membelai bokongnya yang sempurna, yang membuatnya gila. Ia melayangkan satu tamparan, lalu satu lagi, mengusap bagian yang memerah, lalu menamparnya lagi. Ia meraih rambut Angelina dan menghentak masuk, memancing sebuah jeritan yang bagi telinganya terdengar luar biasa. Ia terus menghentak dengan keras sambil menampar bokong Angelina.

"Ini yang kaumau, sayangku, ini yang kaucari," ucap Matteo, membiarkan dirinya larut dalam sensasi yang dirasakannya. Ya, dia pernah bersama beberapa wanita, tapi bersama Angelina segalanya terasa sempurna. Untuk pertama kalinya dia tak melihat Liliana, bahkan bayangannya tak terlintas sedikit pun. Di sana dia melihat dan merasakan istrinya, dan dia membenci dirinya karena telah menampar dan melihat bokong Angelina memerah, tapi yang lebih membuatnya geram adalah kata-kata yang keluar dari mulut wanita mungil itu, Robocop.

"Masih ada lagi, kan, Mati-ku, kau bisa memberiku lebih." Wanita ini sungguh luar biasa, atau memang mereka tak hanya membunuh perasaannya tapi juga kepekaannya terhadap rasa sakit.

Pria itu terus menghentak dengan kuat, tapi tak lebih dari itu karena takut pada luka di lengannya, yang sungguh ajaib jika belum terbuka kembali. Ia memberi Angelina sebisanya sampai keduanya jatuh dalam kenikmatan klimaks, jeritan mereka berdua bagai alunan merdu satu sama lain.

"Sial, Matteo, bilang padaku masih ada lagi," ucap Angelina sambil berbalik dan duduk, kakinya terbuka ke samping. Matteo memeluknya, meniru posisinya, lalu berbisik di telinganya.

"Bukankah kau tadi berkenalan dengan seekor monster, sayangku?" Angelina menggeleng sambil tertawa.

"Sama sekali tidak. Berhentilah menahan diri denganku, aku ingin melihat seberapa mampu kau menakutiku," ucapnya sambil menciumnya.

"Dan kalau kau terlalu takut lalu pergi?" tanya Matteo, memperhatikan reaksinya.

"Lupakan soal itu, aku sudah tak mau pergi lagi selamanya. Cukup pastikan aku tak membunuh jalang mana pun," Matteo tersenyum sambil menggeleng lalu membawa Angelina ke ranjangnya.

"Kau membuatku gila, kau tahu itu," Angelina mengangguk dan menciumnya.

"Selamat malam, suamiku," ucapnya sambil menyandarkan kepala di dada Matteo.

"Selamat malam, sayangku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!