NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Don Mafia

Istri Kontrak Sang Don Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Duda / Penikahan Kontrak / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Silvia

Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Vivian Ward terpaksa menerima lamaran pria paling berbahaya di Los Angeles: pemilik kasino yang haus kuasa dan tak pernah mendengar kata "tidak".

Di hari pernikahan yang seharusnya menjadi akhir hidupnya, seorang pria berjas putih menerobos masuk dengan pistol berlapis emas. Dominic Blackwood, Don mafia Jerman yang namanya saja cukup membuat para bajingan berlutut. Tawarannya sederhana: menikah dengannya selama setahun. Tanpa sentuhan, kecuali Vivian sendiri yang menginginkannya.

Tapi sang Don punya rahasianya sendiri: seorang keponakan mungil yang tak pernah bicara, nenek cerewet yang suka ikut campur, keluarga mafia yang penuh bayang-bayang, dan musuh lama yang mengincar segala yang ia lindungi.

Kontrak setahun. Pernikahan tanpa cinta. Namun semakin lama Vivian tinggal di mansion itu, semakin sulit ia menyangkal bahwa pria yang ditakuti seluruh dunia hanya bisa selembut itu padanya.

Akankah kesepakatan di atas kertas berubah menjadi cinta sungguhan, atau justru menjadi kelemahan paling mematikan sang Don?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyakit

Sebelum berangkat kerja, Vivian mampir menemui ibunya. Semalaman ia tak bisa tidur memikirkan bagaimana mengumpulkan uang sebanyak itu, jadi ia tak menyangka ibunya sudah bangun.

Begitu melihatnya, Zola melemparkan senyum. Sejak merasakan sakit di perutnya, ia sudah punya diagnosis sendiri. Ibunya dulu menderita kanker lambung dan ia mendampinginya sepanjang waktu, jadi ia langsung bisa menebak.

"Vivian, Nak, meski kamu tidak mau bilang apa kata dokter, Mama bisa membayangkan penyakit Mama," katanya dengan tatapan sedih. "Kamu tidak perlu berbohong."

Pertahanan Vivian akhirnya jebol oleh rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Ia memeluk tubuh ibunya erat-erat dan terisak di pelukannya.

"Mama, aku janji akan membuat Mama sembuh. Mama cukup tenang saja," katanya dengan senyum sebaik yang bisa ia paksakan. Ia tak mungkin mengaku bahwa dirinya nyaris gila memikirkan dari mana uang itu akan datang.

"Kamu sudah berkorban begitu banyak untuk kami, Nak. Mama takut, suatu hari kamu tak sanggup lagi dan ikut jatuh sakit."

"Mama, jangan bilang begitu. Mama yang berkorban untukku, untuk Theo," Vivian mendesah saat menyebut nama saudara kembarnya.

"Itu yang Mama takutkan, Vivian."

Ia ingin terus bicara, meminta ibunya mengawasi dan waspada pada apa yang dilakukan Theo. Ia sama sekali tak mempercayainya dan tahu Theo kembali terjerumus ke jalan yang salah. Tetapi sebelum sempat mengatakannya, seorang perawat datang menjemput ibunya.

"Saya harus membawa Ibu ke laboratorium," ujar perawat itu sambil mendorong kursi roda.

Vivian memanfaatkan kesempatan itu untuk berangkat sebelum terlambat. Ia hanya memberi isyarat kepada ibunya, yang langsung mengerti.

APOTEK

Sesampainya di apotek tempatnya bekerja sebagai asisten apoteker, Vivian heran melihat Theo lagi-lagi menunggunya di depan.

"Kamu ngapain di sini? Harusnya kamu menjenguk Mama, bukan keluyuran tanpa guna."

"Tenang, Adik Manis. Aku datang karena punya jalan keluar."

Vivian memutar bola matanya.

"Sungguh," kata Theo begitu melihat ketidakpercayaannya.

"Theo, nggak lihat aku mau masuk? Jangan buang-buang waktuku." Ia melangkah menuju pintu apotek.

"Elliott Foster bersedia membayar pengobatan Mama dan seluruh masa pemulihannya di rumah sakit terbaik di Los Angeles," ucap Theo mendadak.

Vivian berbalik dengan kening berkerut.

"Tidak!!" jawabnya tegas, gigi terkatup rapat.

"Jangan cari masalah dengan orang itu, Theo. Kamu tahu maksudku." Ia melirik saudara kembarnya, mencoba menangkap sesuatu yang lain di wajah Theo.

Theo menelan ludah. Sekarang bagaimana ia membayar utang sebesar itu? Bahkan kalau bekerja seumur hidup pun ia tak akan melunasinya.

"Pikirkan baik-baik, Vivian. Kalau kamu menikah dengannya, semuanya beres." Ia menghindari tatapan adiknya. Tapi Vivian sudah cukup mengenalnya untuk mengerti.

"Apa yang sudah kamu perbuat, Theo?" tanya Vivian sambil melirik jam di ponselnya. Kenapa ia begitu ngotot soal ini?

"Tidak ada. Aku cuma memikirkan Mama yang kasihan, dan betapa menderitanya dia."

Vivian mengabaikan kata-kata terakhir itu. Ia harus absen tepat waktu dan tak mau cari masalah di tempat kerjanya.

Theo mengirim pesan kepada Elliott berisi jawaban adiknya. Pria itu mengepalkan tinju.

"Kalau kau tidak mau jadi milikku dengan cara baik-baik, kau akan jadi milikku dengan cara kasar," bisiknya, wajahnya mengeras oleh amarah.

Elliott tak habis pikir kenapa perempuan itu menolak tawarannya. Ia pria yang sangat tampan, tubuhnya sempurna, kaya. Satu-satunya cacatnya adalah ia terlalu menyukai perempuan, dan tentu saja uang. Ia pemilik tiga kasino terbesar dan paling menguntungkan di Los Angeles, juga hotel-hotel mewah, dan perempuan itu satu-satunya yang pernah ia lamar, lalu dengan angkuhnya menolaknya.

"Jalankan rencananya," perintahnya kepada Martin, tangan kanannya.

"Siap, Bos," jawab Martin, mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu.

SEMENTARA ITU

Vivian sibuk bekerja di gudang, menata produk berdasarkan tanggal kedaluwarsa dan urutan masuknya.

"Vivian, ada telepon untukmu dari rumah sakit," kata seorang rekan kerja. Gadis itu langsung meninggalkan pekerjaannya. Ia memang meninggalkan nomor apotek di rumah sakit sebagai salah satu kontak darurat, karena ponselnya selalu ia matikan selama jam kerja.

Ia bergegas menuju telepon.

"Saya Vivian," ucapnya di gagang telepon.

"Nona Ward, ibu Anda mengalami kekambuhan dan kami menelepon untuk mempercepat urusan administrasi. Tolong kumpulkan seluruh dana yang diperlukan paling lambat dalam seminggu."

"Kekambuhan bagaimana? Tadi pagi dia baik-baik saja," ucapnya, merasakan jantungnya berdentum di dada.

"Sebenarnya kondisinya tidak baik sama sekali, Nona. Dalam pemeriksaan terakhir pagi ini, daya tahan tubuhnya rendah, dan jantungnya bermasalah. Itu harus kami tangani."

Vivian terduduk lemas di samping etalase rak.

"Satu hal lagi, Nona Ward. Ada seseorang yang bersedia menanggung semua biayanya."

Vivian berdiri dibantu temannya begitu mendengar kalimat terakhir dokter itu.

"Siapa?" tanyanya, walau entah kenapa ia sudah menduga siapa orangnya.

"Biar saya lihat berkasnya," kata petugas keuangan rumah sakit. "Ini dia. Tuan Elliott Foster."

Mendengar nama itu, Vivian mengatupkan mulut menahan geram, keningnya berkerut.

Orang itu harus berurusan denganku.

Vivian meminta izin untuk sisa hari itu, padahal jam kerjanya tinggal kurang dari satu jam. Ia harus ke rumah sakit dan mencari Theo untuk tahu apa yang sudah dilakukannya, serta apa lagi yang disembunyikannya.

Ketika tiba di rumah sakit dan melihat ibunya memakai alat bantu oksigen, semangatnya jatuh ke dasar. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan.

"Mama, kenapa bisa kambuh begini?" Ia tak sanggup menahan air matanya. "Kenapa Mama tidak pernah cerita soal jantung Mama?" Ia menggenggam tangan ibunya. "Mama, aku harus meninggalkan Mama sendirian beberapa jam. Ada yang harus kudatangi," bisiknya.

KASINO

"Tuan... ada seorang perempuan yang ingin bicara dengan Anda," lapor asistennya sambil melirik gadis yang baru saja bangkit dari lantai. Senyum muncul di wajah Elliott.

"Pergi!" serunya, memerintah gadis yang menatapnya tak percaya.

"Tidak, Elliott!" Gadis itu menolak pergi.

"Lizette! Aku sudah bilang, keluar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!