NovelToon NovelToon
Mafioso Tercinta

Mafioso Tercinta

Status: tamat
Genre:Mafia / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: jojo0609

Satu malam. Satu keputusan nekat. Dan hidup Samara berubah selamanya.

Samara Navira hanyalah resepsionis hotel biasa—yatim piatu yang bertahan hidup dengan tenang, menjauh dari masalah. Sampai suatu malam seorang pria asing berlumur darah menggedor jendela mobilnya dan memaksanya menyetir menembus gelap. Pria itu adalah Adam Darmawan: dingin, mematikan, dan ditakuti seluruh dunia hitam. Seorang bos mafia yang baru saja dikhianati kekasihnya sendiri.

Seharusnya Samara pergi begitu saja. Tapi begitu ia menyelamatkan nyawa Adam, ia ikut terseret ke dunianya—dunia penuh senjata, dendam, pengkhianatan, dan kekuasaan yang tak mengenal ampun. Dunia tempat musuh-musuh Adam kini juga memburunya.

Adam tak pernah membiarkan siapa pun mendekat. Tapi perempuan keras kepala yang menolak tunduk padanya ini membangkitkan sesuatu yang ia kira sudah mati: keinginan untuk melindungi, untuk memiliki, untuk mencintai. Dan begitu sang mafioso menjatuhkan hatinya, ia takkan pernah melepaskannya.

Di antara peluru dan gairah, antara bahaya dan hasrat—apakah cinta bisa bertahan di dunia yang dibangun di atas darah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jojo0609, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bermain Dokter-Dokteran

Samara mengambil semua yang diperlukan lalu kembali ke kamar mandi. Kotak P3K sudah ada di sana, di dalam lemari wastafel. Ia hanya berharap semua yang dibutuhkan lelaki itu untuk prosedurnya tersedia di dalam sana.

Ketika ia masuk, Adam sudah mulai membuka kancing kemejanya. Samara cuma mengangkat pandangan sebentar, lalu mengarahkan matanya ke lemari untuk mengambil sisa perlengkapan.

Adam meletakkan pistol di dalam bak mandi, di tempat yang mudah dijangkau, kalau-kalau ia perlu menariknya dengan cepat. Dengan susah payah ia melepas kemejanya sampai habis, menatap lukanya yang dikelilingi banyak darah, lalu meminta minumannya.

Kalau ia sendirian, ia pasti sudah melepas celananya juga. Tapi karena ada perempuan itu di sana, ia tak melakukannya. Ia tak mau membuat perempuan yang tengah menolongnya itu merasa canggung.

Adam menarik napas dalam-dalam, meneguk sedikit tequila, lalu meminta alkohol. Setelah itu ia menuangkan cairan itu ke atas lukanya.

Adam mengerang keras, sementara Samara berdiri mematung, tak tahu harus berbuat apa, membayangkan betapa sakitnya, apalagi kalau semua itu dilakukan tanpa bius.

"Aku butuh bantuanmu," ucapnya.

"Apa yang harus kulakukan?" Samara sudah takut mendengar jawabannya.

"Kamu yang harus mengeluarkan pelurunya. Dari yang kurasakan, letaknya tak terlalu dalam."

"Aku? Tunggu, bagaimana aku bisa melakukannya? Aku belum pernah melakukan hal seperti ini," ia mencoba membantah.

"Dengan posisiku sekarang, sulit bagiku melakukannya sendiri, mensterilkan pisau lalu mencari dan mengeluarkan peluru itu," Adam menjelaskan.

Kalau tadi Samara sudah gugup dengan keadaannya, maka setelah lelaki itu bilang ia yang harus mengeluarkan peluru, kegugupannya berlipat ganda.

"Kamu yakin? Aku bahkan belum menyelesaikan kuliah keperawatanku," ia mencoba meyakinkan lelaki itu sekali lagi.

Samara memang pernah kuliah keperawatan, tapi terpaksa berhenti karena masalah biaya. Jadi ia belum sampai pada tahap pembelajaran yang tinggi, dan apakah ia sanggup melakukannya, ia sendiri tak tahu.

"Ya, aku percaya padamu," lelaki itu berusaha menenangkannya.

Taktik yang dipakai Adam tampaknya berhasil. Setelah paham bahwa lelaki itu memercayai dan mengandalkannya untuk melakukan prosedur ini, Samara merasa sedikit lebih yakin untuk mengerjakan apa yang diminta.

Ia mengikat rambutnya erat-erat, lalu melepas jaketnya, tinggal mengenakan blus bertali dan celana jins. Setelah jaket itu lepas, dadanya yang penuh jadi makin terlihat jelas, dan itu tak luput dari pandangan Adam, meski lelaki itu masih menahan nyeri.

Samara mensterilkan pisau dengan menuangkan alkohol, berlutut di samping Adam, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu memberi peringatan sebelum mulai.

"Kalau terlalu sakit, beri tahu aku. Atau kalau aku melakukan sesuatu yang salah, pastikan kamu memberitahuku."

Adam hanya mengangguk, dan Samara mulai bekerja. Lelaki itu mencoba menahan erangan saat mata pisau menembus kulitnya, tapi itu sulit, rasa sakitnya terlalu hebat.

Adam sudah bercucuran keringat karena nyeri yang dirasakannya, dan Samara pun berkeringat karena gugup serta takut berbuat salah.

Setelah beberapa saat berusaha, akhirnya Samara berhasil mengeluarkan peluru itu. Ia senang telah berhasil dan tersenyum pada Adam, yang balas tersenyum padanya.

Samara bangkit, meletakkan peluru itu di atas wastafel, mencuci tangannya yang berlumuran darah, mengambil sehelai lap kecil, membasahinya, lalu kembali mendekati Adam.

Ia berniat membersihkan sekeliling luka untuk kemudian membalutnya. Karena tak punya bahan untuk menjahit luka di rumahnya, ia bertanya dengan sedikit canggung apakah boleh melakukannya.

"Boleh kubersihkan lukanya?"

Adam menatapnya, dan kali ini Samara balas menahan tatapannya. Lelaki itu mengiyakan dengan anggukan, dan Samara kembali berjongkok, mulai membersihkan lukanya.

Adam memperhatikan Samara membersihkan lukanya, sambil merenungi ironi takdir. Di dini hari yang sama, pacarnya ikut merencanakan pembunuhan atas dirinya, sementara perempuan lain justru membantu menyelamatkannya.

Bahkan dalam posisi seperti itu, ia bisa mengamati garis-garis wajah perempuan itu. Kulitnya kecokelatan, bibirnya penuh dan berlekuk indah. Bagi Adam, tak diragukan lagi, ini perempuan yang memancarkan kecantikan dan daya pikat, tanpa terkesan murahan.

Samara selesai membersihkan luka lalu mengangkat pandangan, dan ia mendapati mata Adam menatapnya lekat. Kali ini ia tak bisa mencegah rasa malu yang muncul karena tatapan setajam itu.

Samara berdiri dan berjalan kembali ke wastafel, membersihkan sisa darah dari lap. Ia bisa merasakan jantungnya berpacu, mengingat tatapan lelaki itu padanya barusan.

Cara lelaki itu memandangnya membuat Samara merasa telanjang, seolah lelaki itu menelanjanginya lewat tatapan. Ia tak bisa memungkiri, lelaki itu sungguh rupawan dan menggairahkan, dan itu menggetarkan hatinya.

"Kendalikan dirimu, Samara, jangan biarkan hatimu yang lama tertutup ini bicara terlalu keras," ia menegur dirinya sendiri dalam hati.

Ia tersadar saat mendengar suara berat lelaki itu di belakangnya.

"Boleh aku berbaring sebentar? Kepalaku agak pusing."

"Tentu," jawabnya, sambil membantu lelaki itu bangkit.

Seperti biasa, pistol sudah ada di tangannya, meski perempuan itu baru saja menolongnya. Ia tak tahu apa-apa tentang perempuan itu, dan sampai ia yakin bahwa Samara bisa dipercaya, ia tak akan mempermudah keadaan.

Samara akhirnya menuju kamarnya untuk membaringkan lelaki itu di ranjangnya. Adam menyadari ke mana perempuan itu membawanya, lalu meminta dibaringkan di tempat lain.

"Baringkan saja aku di sofa. Aku tak mau mengganggu ruang pribadimu lebih dari yang sudah kulakukan," katanya sambil kembali menatap Samara.

Samara hanya mengangguk dan membantu lelaki itu berbaring di sofa. Meski masih tak tahu siapa dia, bagi Samara, lelaki itu tampaknya tak sepenuhnya jahat.

Adam agak lemah dan mengantuk, tapi masih punya tenaga untuk memintanya memeriksa daya ponselnya, sebab ia perlu mengabari Kaio tentang apa yang terjadi.

Ketika Samara kembali, Adam tampaknya sudah tertidur. Kini ia ragu harus berbuat apa, membangunkan lelaki itu, atau menelepon sendiri orang yang tadi disebutnya. Ia ingat namanya Kaio.

Ia menyalakan ponsel itu. Layarnya terkunci, dan hanya bisa dibuka dengan sidik jari lelaki itu. Karena tak mau membangunkannya, ia nekat dan dengan hati-hati menempelkan jari Adam, hingga berhasil membuka kunci layar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!