Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki Jarot terdengar menggema di area parkir bawah tanah pusat perbelanjaan.
Pria itu masih membawa puluhan kantong belanjaan dan kardus di kedua tangannya dengan sangat santai.
Di belakangnya, Lyly, Tata, dan Melly berjalan mengekor dengan kepala tertunduk dalam diam.
Tidak ada lagi obrolan sombong atau rencana jahat yang keluar dari mulut ketiga gadis cantik tersebut.
Terutama Tata, gadis tomboy itu bahkan tidak berani menatap punggung Jarot sama sekali sejak kejadian di restoran tadi.
Bip. Bip.
Jarot menekan remot mobil SUV mewah milik keluarga Nisa dan pintu bagasinya terbuka secara otomatis.
Bruk.
Jarot meletakkan semua barang belanjaan itu ke dalam bagasi dengan sangat hati-hati dan rapi.
"Ayo naik, kita pulang sekarang sebelum teman-teman mereka datang mencari keberadaan kita," ajak Jarot sambil membuka pintu kemudi.
Ketiga gadis itu mengangguk kaku dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa banyak protes.
Brummm.
Mesin mobil menyala dan Jarot langsung mengemudikan kendaraan besar itu membelah jalanan ibu kota menuju rumah.
Suasana di dalam mobil terasa sangat canggung dan sunyi selama lima belas menit pertama perjalanan.
Melly yang duduk di kursi belakang akhirnya tidak tahan lagi dengan keheningan yang mencekik tersebut.
"Tata, tadi di dalam restoran itu sebenarnya terjadi apa?" tanya Melly dengan suara pelan dan bergetar.
Tata menelan ludahnya dengan susah payah sebelum menjawab pertanyaan adik bungsunya.
"Pria berjas itu menodongkan pistol tepat ke arah perutku dari balik meja," jawab Tata jujur dengan tatapan kosong ke depan.
Lyly yang duduk di sebelah Tata langsung menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut mendengarnya.
"Astaga, dia sungguh-sungguh mau membunuhmu di tempat ramai seperti itu?" tanya Lyly tidak habis pikir.
Tata mengangguk pelan membenarkan ucapan kakak tertuanya itu.
"Kalau Jarot tidak tiba-tiba muncul dari belakang dan melumpuhkan pria itu, aku pasti sudah mati sekarang," aku Tata menundukkan kepalanya.
Mata Lyly dan Melly langsung tertuju pada sosok Jarot yang sedang mengemudi dengan santai di depan.
"Bagaimana kamu bisa melumpuhkan orang bersenjata api tanpa membuat keributan sama sekali?" tanya Lyly memberanikan diri.
Jarot melirik dari kaca spion tengah lalu kembali menatap jalan raya.
"Itu cuma trik kecepatan tangan biasa, Mbak Lyly," jawab Jarot merendah seperti kebiasaannya.
"Kecepatan tangan bagaimana maksudnya? Pria itu memegang senjata sungguhan," cecar Lyly yang tidak puas dengan jawaban tidak masuk akal itu.
"Aku cuma memelintir tangannya sedikit sampai senjatanya jatuh, lalu memukul kepalanya biar dia pingsan," jelas Jarot dengan nada seolah ia baru saja memukul nyamuk.
Lyly mendecih pelan karena merasa Jarot sengaja menyembunyikan kemampuan aslinya dari mereka.
"Lalu pria satu lagi yang mengikutimu ke lorong toilet tadi bagaimana nasibnya?" tanya Melly menyela obrolan.
"Oh, dia lagi tidur nyenyak di lantai toilet. Mungkin sebentar lagi dibangunkan oleh petugas kebersihan mall," jawab Jarot asal-asalan.
Tata menatap punggung Jarot dari belakang dengan perasaan campur aduk antara kagum dan malu.
"Jarot, aku sungguh minta maaf atas semua kelakuanku yang kasar padamu sejak kemarin," ucap Tata tiba-tiba memecah kecanggungan.
Lyly dan Melly membelalakkan mata mereka karena ini adalah pertama kalinya mereka mendengar Tata meminta maaf kepada seorang pria.
"Aku sudah melupakan hal itu, jadi kamu tidak perlu memikirkannya lagi," balas Jarot tanpa menoleh.
"Tapi aku sudah merendahkanmu dan bahkan mencoba memukulmu tadi pagi," lanjut Tata merasa sangat bersalah.
"Itu namanya pemanasan pagi, bukan pukulan. Pukulan sungguhan itu tujuannya untuk membunuh, bukan untuk pamer," kata Jarot memberikan nasihat tipis.
Tata langsung terdiam dan meresapi kata-kata tajam namun sangat benar dari pengawalnya itu.
Cittt.
Mobil SUV itu akhirnya berhenti dengan mulus di teras rumah mewah keluarga Nisa.
Mereka berempat turun dari mobil dan Jarot kembali mengangkat semua barang belanjaan itu sendirian.
Kriet.
Pintu utama terbuka dan mereka langsung melangkah masuk menuju ruang keluarga yang luas.
Jarot meletakkan semua tumpukan kardus dan kantong belanjaan itu di atas karpet berbulu tebal.
Bruk.
Ia kemudian berdiri tegak dan menatap ketiga gadis yang masih berdiri kaku di depannya.
"Mulai sekarang, kita lupakan semua permainan konyol dan jebakan anak kecil yang kalian buat," buka Jarot dengan suara tegas.
Aura santai Jarot mendadak berubah menjadi sangat serius dan mendominasi seluruh ruangan.
Lyly, Tata, dan Melly otomatis berdiri merapat satu sama lain karena merasakan tekanan tidak kasat mata dari pria itu.
"Musuh Mama kalian bukan saingan bisnis biasa yang cuma bisa main sabotase dokumen," lanjut Jarot menatap mereka satu per satu.
"Mereka mengirim pembunuh bayaran untuk menculik atau bahkan melenyapkan kalian bertiga hari ini," tambah Jarot membeberkan fakta pahit.
Melly memeluk lengan Tata dengan erat karena merasa sangat ketakutan mendengar kata pembunuh bayaran.
"Jadi, aku akan membuat aturan baru di rumah ini dan kalian bertiga wajib mematuhinya tanpa bantahan," putus Jarot mengambil alih kekuasaan.
Lyly yang selalu merasa sebagai penguasa rumah itu mencoba mengumpulkan sisa harga dirinya untuk protes.
"Kamu cuma pengawal kami, kamu tidak berhak mengatur hidup kami di rumah ini," bantah Lyly meski suaranya sedikit bergetar.
Jarot menatap lurus ke dalam mata Lyly dengan sorot mata sedingin es di kutub utara.
"Mbak Lyly, uang satu miliar yang kamu tawarkan padaku tidak akan bisa membeli nyawa adikmu kalau pelatuk pistol tadi sempat ditarik," balas Jarot sangat menohok.
Lyly langsung menutup mulutnya rapat-rapat karena fakta itu benar-benar memukul telak logikanya.