NovelToon NovelToon
Sang Dewi Putih dan Mafioso Jerman

Sang Dewi Putih dan Mafioso Jerman

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daniella cantillo

Mereka menjulukinya Sang Dewi Putih. Adelina Vannicelli, pewaris takhta mafia Italia, cantik, dingin, dan mematikan, terbiasa membuat seluruh dunia bertekuk lutut hanya dengan satu tatapan. Sampai satu pengkhianatan meruntuhkan segalanya, dan di malam paling gelap dalam hidupnya, ia menemukan seorang bayi terlantar yang mengembalikan alasannya untuk terus bernapas.

Namun bayi itu menyimpan rahasia berbahaya. Ia adalah putra Jakob Müller, sang pemimpin mafia Jerman yang ditakuti seantero benua, pria yang dijuluki Sang Iblis. Dan Jakob menginginkan pewarisnya kembali, apa pun harganya.

"Nikahi aku, atau kau tak akan pernah melihat anak itu lagi."

Terjebak dalam pernikahan paksa demi anak yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, Adelina bersumpah hatinya tak akan pernah tersentuh. Kesepakatan mereka jelas: pernikahan di atas kertas, kamar terpisah, dan dilarang jatuh cinta. Masalahnya, dua penguasa dunia gelap yang sama-sama keras kepala, sama-sama posesif, dan sama-sama tak terbiasa kalah, ternyata memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perang antar-organisasi mana pun.

Di antara peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai dari Rusia hingga Inggris, cinta yang tak diinginkan itu justru menyala paling terang, dan menjadi kelemahan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Seberapa jauh Sang Dewi Putih rela jatuh demi seorang pria yang seharusnya ia benci? Dan apa yang sanggup dilakukan Sang Iblis Jerman ketika akhirnya ia menemukan satu-satunya hal yang ia takut kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniella cantillo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Adelina

Aku bersandar di dadanya. Napasnya masih memburu, dadanya seolah hendak meledak akibat pergumulan kami beberapa detik lalu. Tanganku menyentuh dadanya sementara ia mencium keningku.

"Besok sore Black seharusnya tiba bersama Dante. Semoga semua berjalan lancar."

"Aku juga berharap begitu, Adelina. Kalau kedua organisasi mencapai kesepakatan, kita akan meraup banyak uang, kekuasaan kita akan makin besar."

"Semoga saja begitu. Terima kasih, Jakob, sudah membelaku dari ayahmu."

Ia menangkup wajahku agar aku menatapnya. Aku terpaku pada matanya yang keemasan.

"Tak ada yang perlu kau syukuri. Kau istriku, ibu dari anakku. Baik ayahku maupun siapa pun yang ada di hadapanku takkan merendahkanmu, dengan alasan sederhana bahwa kau wanitaku. Adelina, jangan pernah merasa rendah di dalam keluargaku. Kau punya hak penuh untuk berpendapat. Mansion ini milikmu. Kau Nyonya Müller. Beberapa hari lagi kau akan menjadi nyonya organisasi Jerman. Kata-katamu adalah kata-kataku. Setuju?"

"Ya, Jakob."

Mendengar ia mengatakan semua itu, tak bisa kutahan untuk tersenyum dan menciumnya di bibir. Tapi kali ini bukan ciuman liar penuh gairah, melainkan ciuman lembut bercampur kasih sayang. Kata-kata itu meresap ke hatiku yang berdebar sejuta kali lebih cepat.

"Adelina, tolong jangan tatap aku dengan mata seperti itu."

"Apa maksudmu?"

"Jangan tatap aku dengan mata penuh harap itu. Aku tak mau membuatmu menderita. Ingat, kita punya kesepakatan untuk tidak saling jatuh cinta."

Kutarik lenganku dari dadanya, kubangkit dari ranjang, kuraih sehelai handuk.

"Tenang, kau takkan membuatku menderita, karena aku tak merasakan apa pun terhadapmu. Entah apa yang kaupikir kaulihat di mataku, tapi itu bukan harapan padamu, melainkan rasa terima kasih. Jadi jangan salah paham."

Aku berjalan ke kamar mandi, mengunci pintunya, lalu menuju cermin. Saat menatap diriku, kupukul meja wastafel. Betapa bodohnya aku, mengira ia mulai merasakan sesuatu padaku seperti yang kurasakan padanya... Sudah jelas hubungan kami hanya seks. Kalau begitu, kenapa ia memperlakukanku begitu manis, membelaku, membuatku percaya ia merasakan sesuatu padahal tidak? Mungkin akulah yang berkhayal, yang salah paham. Aku harus menetapkan batas. Kudengar ketukan di pintu.

"Adelina, buka pintunya, kita harus bicara."

"Jakob, tak ada yang perlu kita bicarakan."

Aku masuk ke pancuran. Beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Jakob duduk di ranjang dengan ponsel di tangan. Melihatku, ia menaruh ponselnya dan berjalan ke arahku.

"Adelina, kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya?"

"Karena kau terlihat aneh."

"Aku baik-baik saja, Jakob."

Aku mencari piyama, lalu berjalan lagi ke arah kamar mandi. Ia menahan tanganku.

"Aku tak mau ada yang berubah di antara kita. Kita bisa tetap seperti sekarang, tapi tanpa saling jatuh cinta, Adelina."

Aku tersenyum, lalu menarik lenganku agar ia melepasku.

"Jakob Müller, apa yang tak kau inginkan berubah? Aku terus memperlakukanmu dengan penuh kasih, memberimu senyumanku, menciummu di pagi hari, mencemaskanmu, sementara kau hanya menginginkan hubungan ini sebatas seks? Tidak, Jakob. Kalau kau cuma mau seks, maka seks yang akan kau dapat."

Aku masuk ke kamar mandi, berganti pakaian, menunggu beberapa menit, meraih sikat gigiku, keluar dari kamar mandi, dan menuju pintu. Saat berpaling, kulihat Jakob memandangiku, jadi aku keluar. Aku menuju ruang duduk, mendapati beberapa botol di sana. Kuambil dua botol vodka dan berjalan ke arah kamar lamaku. Begitu masuk, kukunci pintu dan mulai minum. Entah apa yang dirasakan hatiku. Aku bingung. Seharusnya ini hanya seks, lalu kenapa ia mengingatkanku, dan itu menyakitiku? Aku tak boleh lagi menderita karena pria mana pun. Demi kebaikanku sendiri, aku harus menjauh darinya. Kulempar gelas ke dinding, kutenggak langsung dari botol. Begitu botol pertama habis, kubuka botol kedua dan kutenggak juga. Entah kapan aku kehilangan kesadaran.

Jakob

Saat menatap matanya, kulihat harapan di sana, jadi kubilang padanya ia tak boleh menatapku begitu. Kesepakatan kami adalah tidak saling jatuh cinta. Aku tak ingin menyakitinya, aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri. Ia bangkit dari ranjang dan berkata ia tak merasakan apa pun terhadapku, mengatakannya dengan sedingin itu, dan itu membuatku sedih. Ia mengurung diri di kamar mandi. Kucoba masuk, tapi terkunci. Sekeras apa pun aku memintanya membukakan, ia tak mau. Kutunggu ia keluar lebih dari empat puluh menit sampai akhirnya ia keluar dan mencari piyama. Kudekati untuk menanyakan sikapnya. Aku tak ingin ada yang berubah, aku suka keadaan kami sekarang. Ia hanya berkata bahwa yang akan kami punya hanyalah seks. Segalanya akan berubah di antara kami, dan aku tak menginginkan itu. Kenapa jadi begitu sulit baginya untuk memberiku kasih sayangnya, untuk bersikap manis padaku seperti yang ia lakukan selama berbulan-bulan ini, tanpa jatuh cinta padaku? Kulihat ia berjalan ke arah pintu. Ia menyadari aku memandanginya, ia balas menatapku, matanya sedih, lalu ia meninggalkan kamar. Setelah mandi, aku keluar mencarinya ke kamar lamanya yang terkunci. Aku sempat berniat mengetuk, tapi kuputuskan memberinya ruang. Besok aku akan bicara dengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!