Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
new novel berganti melanjutkan cerita
Kepala gue berdenyut hebat, kayak habis dengerin live music yang bass-nya pecah semalaman suntuk. Aroma sandalwood dicampur vanilla yang mahal banget langsung nusuk indra penciuman gue detik pertama gue narik napas. Kelopak mata gue terasa seberat timah, tapi paksaan buat melek bikin gue ngerjap beberapa kali, nyesuaiin diri sama cahaya matahari yang nyusup lewat celah tirai velvet tebal setinggi langit-langit.
Wait.
Tirai velvet? Kamar segede lapangan golf? Kasur king-size dengan seprai silk dingin yang lagi melilit kaki gue ini... kamar siapa?
Gue buru-buru singkirin selimut, telapak kaki telanjang gue langsung disambut dinginnya lantai marmer. Napas gue agak memburu. Gue jalan setengah sempoyongan ke arah cermin full-body berbingkai emas ukir yang berdiri angkuh di sudut ruangan. Dan pas gue lihat pantulan di sana... jantung gue seakan berhenti berdetak satu sekon.
Rambut hitam legam bergelombang yang jatuh sempurna di bahu. Kulit seputih porselen. Tulang pipi tegas, bibir merah alami yang melengkung angkuh, dan sepasang mata hazel tajam yang ngasih vibes 'jangan macam-macam sama gue'.
Ini bukan muka gue. Literally, ini wajah Chloe Ezlen. Karakter antagonis paling toxic dari film rom-com thriller berkedok drama keluarga yang semalam baru aja gue tonton sambil makan seblak.
Oh, my god. Are you kidding me? Gue masuk ke dalam film? Dan sialnya, dari semua peran protagonis menye-menye di luar sana, semesta malah nge-cast gue jadi ibu tiri jahat?
Ingatan-ingatan asing tiba-tiba nabrak kepala gue kayak kaset rusak yang di-rewind paksa. Scene demi scene hidup Chloe berputar. Gue inget gimana tangan ini dengan kasarnya nyentak lengan kecil Miko, gimana bibir ini ngeluarin kalimat-kalimat sarkas yang bikin Mika nangis sampai sesenggukan. Dua anak kembar usia lima tahun yang harusnya disayang itu, malah jadi pelampiasan ego seorang Chloe.
Dan yang bikin gue makin mind-blowing, semua kelakuan sampah Chloe ini dipicu oleh satu nama: Aluna.
Tangan gue otomatis mengepal ngeremes ujung silk robe yang gue pakai. Aluna. Sahabat yang selalu act like an angel, sering bawain matcha latte kesukaan Chloe, ngasih bahu buat nyender, tapi di belakang... dia ular kobra. Hasutan-hasutannya yang smooth banget bikin Chloe paranoid dan ngerasa anak-anak kembar itu adalah ancaman. Padahal, truth to be told, Aluna nyimpen dendam kesumat. Dia obsessed parah sama March Ezlen—suami Chloe, alias suami gue sekarang. Aluna sakit hati karena March yang untouchable itu malah fall in love dan milih nikahin Chloe.
Brengsek. It’s giving pure manipulation.
Belum lagi kalau gue inget detail privilege yang dipunya karakter ini. March, si Alpha male protagonis yang super dingin ke orang lain, tapi kalau sama Chloe? Bucin tingkat dewa. Bare minimum cowok di luar sana bahkan nggak ada seujung kukunya March. Apapun yang Chloe mau, tinggal tunjuk. Bahkan pas Chloe ketahuan kasar ke Miko dan Mika, March cuma hela napas panjang, minta maaf atas nama anak-anaknya, dan meluk Chloe. Make it make sense! Dito dan Dea, mertua Chloe, juga tipe old money yang kelewat supportive dan nganggep Chloe menantu idaman.
Lalu ada Mexim. Adik ipar gue. Well, adik ipar Chloe. Tiap kali di acara keluarga, tatapan cowok itu ke Chloe tuh nggak kayak abang-adik in-law pada umumnya. Ada intensitas yang... dark, posesif, dan agak bahaya. Another red flag right there. Dan final boss-nya? Denada, mantan istri March yang bentar lagi bakal muncul bawa segudang drama psycho buat ngancurin keluarga ini.
Gue menatap mata hazel di cermin itu lekat-lekat. Dada gue naik turun, memompa adrenalin baru.
Kalau di film aslinya Chloe berakhir tragis, diceraikan, dijauhi semua orang, dan masuk rumah sakit jiwa gara-gara dijebak Aluna dan Denada... sorry to say, gue nggak akan biarin itu terjadi. Nggak di timeline gue. Gue bakal flip the script. Gue bakal jadi ibu peri berhati malaikat yang bikin Miko, Mika, dan March nggak bisa hidup tanpa gue. Aluna? Denada? Watch me destroy them with kindness and brain.
Klotak.
Suara pelan dari balik pintu kamar bikin lamunan gue buyar. Gue jalan perlahan, narik kenop pintu emas itu ke dalam.
Di ambang pintu, dua malaikat kecil berdiri mematung. Miko dan Mika. Mereka pakai piyama bermotif dinosaurus dan stroberi yang kebesaran. Miko berdiri agak di depan, tangan kecilnya ngerentang, berusaha ngelindungin Mika yang sembunyi di belakang tubuh abangnya. Jari-jari mungil Mika ngeremes piyama Miko kuat-kuat. Mata bulat mereka yang identik membesar, penuh ketakutan. Napas mereka seolah tertahan ngelihat gue.
Di bawah kaki mereka, ada serpihan vas porselen—yang gue tebak harganya ratusan juta—hancur berantakan.
"M-maaf, Mama Chloe... Miko nggak sengaja nyenggol," suara Miko gemetar parah. Anak cowok lima tahun itu nunduk dalem, siap nerima amukan. Mika di belakangnya udah mulai sesenggukan, air matanya ngalir di pipi gembilnya tanpa suara.
Hati gue... rasanya kayak diremas tangan tak kasat mata. Anjir, Chloe yang asli sejahat apa sih sampai anak sekecil ini trauma berat sama ibunya sendiri?
Tanpa ngomong sepatah kata pun, gue nerobos serpihan porselen itu—nggak peduli ujung tajamnya sedikit ngegores kulit kaki gue—dan langsung berlutut di depan mereka. Aroma wangi bedak bayi dan susu menguar dari tubuh kecil mereka.
Miko otomatis merem sambil mundurin langkah, literally nunggu tamparan atau cubitan gue.
Tapi alih-alih marah, gue ngerentangin kedua tangan dan menarik mereka berdua ke dalam pelukan. Erat, tapi penuh kehati-hatian. Gue bisa ngerasain tubuh kecil mereka kaku sekeras batu. Detak jantung Miko di balik dadanya berdegup kencang banget.
"Mama nggak apa-apa sayang... Miko nggak apa-apa? Mika nggak kena pecahannya, kan?" suara gue keluar sedikit serak, bergetar nahan emosi. Gue mengelus rambut kecokelatan Miko yang lembut, lalu nyium puncak kepala Mika berkali-kali.
Hening.
Satu detik. Dua detik.
Gue ngelepas pelukan perlahan, menatap dua pasang mata yang sekarang natap gue dengan tatapan blank luar biasa bingung. Mulut kecil Mika sedikit terbuka. Miko mengerjap, nyari kebohongan di mata gue, tapi yang dia temuin cuma tatapan hangat seorang ibu.
"T-tapi vasnya pecah... Mama Chloe biasanya marah kalau barang Mama rusak," cicit Miko pelan, ragu-ragu.
Gue tersenyum tipis, merapikan poni Miko yang agak berantakan. "Vasnya bisa dibeli lagi, sayang. Tapi kalau kaki Miko atau Mika yang luka kena kaca, Mama yang bakal nangis. Maafin Mama ya, selama ini Mama sering marah-marah nggak jelas. From now on, I promise, Mama will protect both of you."
Mata Mika berkaca-kaca lebih hebat, tapi kali ini bukan karena takut. Balita perempuan itu tiba-tiba maju satu langkah, menubruk dada gue dan memeluk leher gue erat. "Mama wangi... Mika sayang Mama."
Tenggorokan gue tercekat. God, they are so precious. Tangan gue membalas pelukan Mika, sementara tangan gue yang lain narik Miko yang akhirnya ikut menghambur sambil nangis di bahu gue.
Di tengah scene emosional di lorong rumah mewah ini, gue bikin sumpah dalam hati. Buat Aluna yang lagi nyiapin rencana busuknya, buat Denada yang mungkin lagi on the way ngancurin keluarga ini, dan buat Mexim dengan obsesi anehnya. The game has just changed. Welcome to my era.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭