Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Sebuah Kesempatan
Malam itu, setelah tiba di penthouse, Aira langsung masuk ke kamar. Ia melepas sepatu hak tinggi yang sejak tadi membuat kakinya terasa pegal, lalu duduk sejenak di tepi ranjang.
Jamuan Mahendra Group berjalan lebih lama dari yang ia bayangkan. Ia harus menghadapi banyak pertanyaan, tatapan penasaran, dan sindiran yang sesekali dilontarkan para tamu. Meski berusaha bersikap tenang, beberapa perkataan mereka masih teringat jelas di benaknya.
Aira menghela napas, kemudian bangkit untuk membersihkan diri.
Sementara itu, Devan masih berada di ruang tengah. Ia baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan Arga mengenai agenda perusahaan untuk keesokan harinya.
Setelah meletakkan ponsel di atas meja, pikirannya kembali tertuju pada kejadian di balkon tadi.
Ucapan Rian yang menganggap Aira sebagai perempuan yang bisa dibeli dengan uang masih mengusiknya. Devan tidak menyukai cara sahabatnya memperlakukan Aira, terlebih ketika pria itu berbicara seolah-olah dirinya memiliki hak untuk menentukan nasib perempuan tersebut.
Namun, semakin ia memikirkan kejadian itu, semakin sulit baginya mengabaikan satu hal.
Bukankah dirinya sendiri pernah memperlakukan Aira dengan cara yang hampir sama?
Devan terdiam sesaat. Ia teringat ketika menyebut uang yang diberikan kepada keluarga Aira seolah-olah cukup untuk membeli harga diri perempuan itu.
Rahangnya mengeras.
Ia tidak ingin memikirkan hal tersebut lebih jauh. Bagaimanapun, pernikahan mereka memang berawal dari kesepakatan. Ia membutuhkan seorang istri untuk memenuhi tuntutan dalam surat wasiat kakeknya, sementara Aira menerima tawaran itu demi keluarganya.
Tidak ada alasan baginya untuk mencampuradukkan kesepakatan tersebut dengan perasaan pribadi.
Devan berdiri, lalu berjalan menuju kamarnya.
Malam itu berakhir tanpa percakapan di antara mereka.
...____🍀🍀🍀🍀____...
Keesokan paginya, Aira sudah berada di meja makan ketika Devan keluar dari kamar. Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana dengan rambut yang diikat rapi. Di hadapannya terdapat secangkir teh hangat dan beberapa potong roti.
Devan menarik kursi di seberangnya, lalu mengambil secangkir kopi yang telah disiapkan.
Aira meliriknya sekilas. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan sejak tadi, tetapi ia masih ragu untuk memulai percakapan. Setelah beberapa saat, akhirnya ia memberanikan diri membuka suara.
"Mas Devan, aku boleh meminta sesuatu?"
Devan mengangkat pandangan. "Apa?"
"Aku ingin menghubungi adik-adikku di Bantul. Aku juga ingin menjenguk Ibu di rumah sakit. Apa aku boleh?"
Devan meletakkan cangkirnya.
"Kamu bisa menghubungi adik-adikmu. Untuk menjenguk ibumu, bicarakan dengan Arga. Dia akan membantu mengatur waktunya."
Aira sedikit terkejut mendengar ucapan itu. Ia memang tahu bahwa dalam kesepakatan mereka, dirinya diperbolehkan mengunjungi sang ibu. Namun, ia tidak menyangka Devan akan menyetujui dengan mudah.
"Baik, Mas Devan. Terima kasih."
Devan kembali mengambil cangkirnya.
"Jangan salah paham. Aku hanya memastikan kesepakatan kita tetap berjalan."
Senyum tipis yang sempat muncul di wajah Aira perlahan menghilang.
"Saya mengerti."
Jawaban itu membuat Devan meliriknya. Aira tidak menunjukkan kekecewaan ataupun berusaha memperpanjang percakapan. Ia kembali menyantap sarapannya seperti biasa.
Entah mengapa, sikap tersebut justru membuat Devan merasa sedikit tidak nyaman.
Namun, ia segera mengalihkan perhatiannya pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.
"Aku berangkat sekarang."
Aira mengangguk. "Hati-hati di jalan, Mas."
Devan tidak menjawab. Ia mengambil jasnya, kemudian meninggalkan penthouse.
Setelah mendengar pintu tertutup, Aira menghabiskan sarapannya sebelum mengambil ponsel untuk menghubungi Ratih. Sudah cukup lama ia tidak berbicara dengan adiknya itu, dan pagi ini ia ingin memastikan keadaan mereka di Bantul baik-baik saja.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,