NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

***

Satu bulan di Departemen Bedah Saraf terasa bagai melewati badai tanpa henti bagi Aini. Di bawah pengawasan dr. Ivandra Arya Wigunadi yang sedingin es dan tak kenal ampun, setiap hari adalah ujian ketahanan fisik serta mental. Namun, Aini belajar dengan cepat. Gadis itu memilih strategi terbaik untuk bertahan hidup: bersikap profesional secara mutlak, menjaga jarak aman, dan hanya berinteraksi bila ada urusan pekerjaan medis yang mendesak.

Malam itu, jam dinding di stasiun perawat lantai empat menunjukkan pukul dua dini hari. Koridor rumah sakit yang sunyi mendadak pecah oleh derap langkah kaki tergesa-gesa dan sirine lampu darurat yang menyala merah di depan pintu ruang operasi utama.

Seorang pasien korban kecelakaan lalu lintas baru saja dirujuk dengan diagnosis pendarahan epidural masif. Kondisinya sangat kritis, dan operasi dekompresi harus dilakukan detik itu juga sebelum pendarahan menekan batang otak.

"Aini, ikut saya ke Ruang Operasi Tiga sekarang," perintah Ivandra pendek saat melintas cepat di depan meja stasiun perawat. Tanpa menunggu jawaban, pria itu melangkah lebar menuju area sterilisasi.

Aini yang saat itu sedang merapikan lembar observasi langsung berdiri tegak. "Baik, Dokter Ivandra."

Di dalam ruang operasi bernuansa dingin bercahaya lampu bedah yang terang benderang, ketegangan terasa begitu pekat. Suara berirama dari monitor tanda vital berpacu dengan napas teratur tim medis. Ivandra berdiri tegak di sisi ranjang pasien, telah terbalut gaun operasi hijau steril, sarung tangan latex, serta masker medis yang menutup separuh wajah tampannya. Manik matanya yang tajam berfokus penuh pada area kepala pasien.

"Klem," pinta Ivandra singkat dengan suara rendah namun mutlak di balik maskernya.

Sebelum perawat instrumen sempat bergerak, Aini yang berdiri tepat di samping tempat instrumen sudah lebih dulu menyodorkan klem yang dibutuhkan dengan posisi gagang yang sempurna tepat ke telapak tangan Ivandra.

Ivandra sempat mengerutkan keningnya tipis di balik kacamata pembesar medis, terkejut dengan kecepatan reaksi Aini. Selama dua jam proses pembedahan yang mendebarkan itu berjalan, Aini bergerak luar biasa sigap. Gadis itu seolah sanggup membaca setiap gerak-gerik dan alur berpikir Ivandra tanpa perlu diminta berulang kali. Saat Ivandra membutuhkan kassa steril, suction untuk menyedot darah, hingga penjahitan lapisan dura mater, Aini selalu selangkah lebih cepat menyediakannya dengan keheningan yang presisi.

Klik.

Tindakan penjahitan terakhir selesai. Monitor menunjukkan tanda-tanda vital pasien perlahan stabil. Pendarahan berhasil dihentikan total, dan nyawa pasien itu terselamatkan.

"Operasi selesai. Rapikan," ujar Ivandra seraya melepaskan sarung tangan latex-nya yang ternoda darah.

Aini menghembuskan napas lega yang panjang di balik maskernya. Ia berjalan menuju ruang cuci tangan steril di luar ruang operasi, membilas jemarinya di bawah pancuran air mengalir otomatis. Peluh dingin membasahi dahinya di balik penutup kepala medis.

Saat Aini sedang mengeringkan tangannya menggunakan tisu steril, langkah kaki tegas mendekat. Ivandra berdiri di ambang pintu ruang steril, telah melepas penutup kepalanya sehingga tatanan rambut hitamnya sedikit acak-acakan namun justru menambah kesan karismatik.

Ivandra melipat kedua tangannya di dada, menyandarkan bahunya pada bingkai pintu. Manik matanya menatap Aini yang sedang merapikan ujung hijab segiempatnya.

"Satu bulan di stase saya..." suara Ivandra mengalun berat di dalam ruangan yang sunyi itu. "Kamu koas paling tidak berisik dan paling cekatan yang pernah saya pegang."

Aini tertegun sejenak. Mendengar pujian langsung dari bibir seorang 'Dokter Iblis' yang terkenal irit kata-kata manis adalah hal yang sangat langka. Namun, Aini mengingat prinsipnya untuk tidak terbawa perasaan. Wajah cantiknya tetap tenang, dan ia hanya menyunggingkan senyum tipis yang sangat bersahaja.

"Terima kasih atas penilaiannya, Dokter Ivandra. Saya hanya berusaha menjalankan tugas saya," jawab Aini santun, menyatukan kedua tangannya di depan dada sembari mengambil satu langkah mundur untuk menjaga jarak.

Raut wajah Aini yang sangat datar dan jarak fisik yang sengaja dibuat gadis itu mendadak membuat ada sesuatu yang terasa janggal di dada Ivandra. Ada rasa tidak puas yang aneh saat melihat Aini sama sekali tidak menyambut pujiannya dengan binar kagum seperti orang lain.

Bukannya melanjutkan kata-kata manisnya, gengsi Ivandra yang setinggi langit mendadak mengambil alih. Alis tebalnya bertaut dingin.

"Tapi jangan terlalu puas dulu," potong Ivandra cepat dengan nada suara yang seketika berubah tajam dan penuh kritik. "Gerakanmu tadi di awal operasi masih terlalu kaku. Kecepatan bisamu membaca gestur instrumen masih standar dasar. Masih banyak hal yang perlu kamu lalui dan pelajari sebelum kamu merasa pantas untuk memimpin di dalam ruang operasi!"

Aini mengedipkan matanya polos. Ck, tadi muji, sekarang malah mencaci. Maunya apa sih dokter Ivan ini? Dasar menyebalkan! batin Aini merintih kesal. Kendati di dalam hatinya menjerit gemas akibat perubahan sifat dokter seniornya yang secepat kilat itu, raut muka Aini tetap terpasang sendu dan patuh.

"Baik, Dokter Ivandra. Terima kasih atas kritiknya. Saya akan belajar lebih keras lagi," tutur Aini lembut namun berjarak. "Jika tidak ada instruksi lain, saya permisi kembali ke stasiun perawat."

Aini menundukkan kepalanya sedikit lalu melangkah melewati Ivandra tanpa menatap mata pria itu lagi.

Ivandra berdiri mematung di tempatnya. Tangannya meremas saku jas klinisnya saat memperhatikan punggung Aini yang menjauh. Ada perasaan asing seperti ada sesuatu yang mendadak hilang dan hampa ketika gadis itu berjalan menjauhinya tanpa menoleh sedikit pun.

"Dokter Ivandra?"

Sebuah suara ramah memecah keheningan di ruang steril. Dr. Farhan, seorang dokter spesialis anestesi muda bernuansa hangat yang bertugas pada operasi tadi, melangkah keluar sembari memegang cangkir kertas berisi teh hangat.

Farhan menatap koridor tempat Aini baru saja menghilang, lalu mengalihkan pandangannya pada Ivandra dengan senyum gemas yang menghiasi bibirnya.

"Dokter muda yang tadi itu... Dokter Aini, kan?" tanya Farhan santai sembari terkekeh pelan. "Luar biasa ya. Baru pertama kali ini saya lihat ada koas yang tetap tenang dan tersenyum sopan walau baru saja dicaci-maki sama kamu, Van."

Ivandra melirik Farhan dengan tatapan dinginnya yang khas. "Dia hanya menjalankan tugasnya, Farhan."

"Tapi dia beda," timpal Farhan sembari menyeruput tehnya. Matanya memancarkan rasa tertarik yang terang-terangan. "Cerdas, tenang, wajahnya manis banget walau kelihatan sendu. Sikapnya yang sopan dan santun itu bikin siapa saja yang lihat jadi gemas. Kalau stasenya di Bedah Saraf sudah selesai minggu ini, boleh juga tuh saya ajak dia ngopi bareng."

Deg.

Kalimat santai yang keluar dari mulut Farhan seketika menghantam dada Ivandra seperti pukulan telak. Manik mata hitam Ivandra mengeras tajam, memancar aura intimidasi yang mendadak sangat pekat di dalam ruangan tersebut.

"Dia di sini untuk belajar menjadi dokter, Farhan. Bukan untuk kamu ajak main-main," sahut Ivandra dengan nada rendah yang sangat dingin, terlampau protektif untuk ukuran seorang dokter penanggung jawab stase.

Farhan mengangkat kedua alisnya terkejut melihat reaksi spontan Ivandra yang di luar dugaan. "Woah, santai, Dokter Ivandra. Saya cuma bercanda... atau mungkin sedikit serius." Farhan tertawa kecil melihat ekspresi wajah Ivandra yang makin menyelimuti kegelapan.

Ivandra tidak membalas lagi. Ia memutar tubuhnya kasar, melangkah pergi meninggalkan ruang steril dengan pikiran yang mendadak kalut. Benih-benih rasa cemburu dan tidak rela yang tidak ia pahami sendiri mulai membakar dinding es di hatinya.

Sementara itu di lorong lain, Aini berjalan pelan sembari menghembuskan napas panjang. Hari-hari terakhirnya di stase Bedah Saraf akhirnya hampir usai. Namun, Aini sama sekali tidak menyadari bahwa di luar dinding rumah sakit yang dingin ini, sebuah panggilan telepon dari Bundanya pagi nanti akan membawa kabar lamaran resmi dari keluarga Wigunadi—memaksa Aini bersatu dalam ikatan pernikahan dengan pria yang baru saja dicapnya paling menyebalkan itu.

Bersambung....

1
Anonim
kocak
Yensi Juniarti
lah kelanjutannya kepiye Bu ibuuuuuu 😭😭😭
jangan gantung rasa penasaran saya... saya masih ngebayangin gimana cerita si Aini sama dokter 2 pintu itu di rumah sakit selama masa kehamilannya Aini 🥺🥺🥺
Shuttttttttttt
fackyuuuu TAMAT?
zamiyatin nafifah
looo kak kok uda tamat aja pdhaal suka dengan crtnya
imel
apa sih jangan touch.. memang artinya sentuh tapi kurang enak bacanya. maaf
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!