NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Lokakarya

Langit Seoul belum sepenuhnya gelap, tetapi warna jingga telah menggantung rendah di antara gedung-gedung Sangam-dong, perlahan memudar ketika kendaraan mereka meninggalkan kawasan perkantoran.

Mereka menggunakan satu van perusahaan berkapasitas sedang—cukup untuk menjaga jarak tetap dekat tanpa membuat suasana terasa sesak. Kursi belakang dipenuhi tas ransel, tabung gambar, serta kotak-kotak berlabel peralatan kreatif yang belum tentu akan disentuh selama dua hari ke depan, tetapi selalu dibawa sebagai kemungkinan.

Dalam dunia kreatif, kemungkinan sekecil apa pun rupanya tetap membutuhkan tempat di dalam bagasi.

Suasana di dalam kendaraan segera mencair.

Yoo-gi membuka percakapan dengan komentar ringan mengenai cuaca yang menurutnya “terlalu dramatis untuk sekadar camping”. Ucapannya langsung disambut tawa Yu-ra, yang kemudian menimpali dengan daftar jadwal secara berurutan, seolah-olah mereka sedang bersiap menghadapi rapat direksi, bukan menghabiskan dua hari di tepi Sungai Han dengan api unggun.

Sumin, yang duduk setengah memutar di kursinya, sibuk merekam potongan-potongan percakapan dengan ponselnya. Katanya, untuk dokumentasi internal. Nnamun, senyum santai yang terus menghiasi wajahnya membuat alasan itu terdengar kurang meyakinkan.

“Kalau nanti ada yang ngomong aneh-aneh, saya hapus bagian itu,” katanya santai.

“Justru bagian aneh itu yang biasanya paling menarik,” sahut Yoo-gi.

“Tidak untuk laporan perusahaan.”

Tawa kembali memenuhi kabin.

Di tengah suasana tersebut, Jeongin duduk di sisi Nala tidak dengan sikap posesif, tidak pula mencolok. Ia hanya hadir namun cukup dekat untuk berbagi ruang, tetapi tetap menjaga jarak yang wajar agar tidak mengundang perhatian siapa pun.

Sesekali ia menyodorkan botol air ketika Nala berhenti berbicara terlalu lama, atau menggeser tasnya sendiri agar Nala memiliki ruang yang lebih nyaman ketika van sedikit berguncang melewati jalan yang tidak rata.

Hal-hal kecil yang nyaris tidak diperhatikan oleh orang lain.

Nala pun tidak terlalu memikirkannya, perhatiannya lebih banyak tertuju pada tablet di pangkuannya. Beberapa catatan telah terbuka sejak mereka meninggalkan agensi, lengkap dengan poin-poin yang ingin ia sampaikan selama lokakarya.

“Kalau sampai hujan, konsep diskusi malam kita pindah ke tenda utama,” ucap Jeongin ringan. Nada suaranya seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat sederhana.

Nala mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari catatan digital di tabletnya.

“Tak masalah. Diskusi tidak bergantung pada tempat,” jawab Nala, membuat Jeongin tersenyum kecil.

“Kau selalu bilang begitu,” katanya sembari tertawa.

“Aku benar, kan? Kita memang tidak perlu tempat khusus untuk berdiskusi. Di mana pun bisa,” jawab Nala lagi.

Percakapan mereka mengalir alami—tentang alur lokakarya, pembagian sesi, hingga kemungkinan munculnya perbedaan pendapat selama diskusi. Tidak ada nada personal, tidak ada batas yang dilanggar. Semuanya terdengar seperti percakapan biasa antara dua rekan kerja yang sudah terbiasa memahami cara berpikir satu sama lain.

Justru karena itulah semuanya terasa aman setidaknya bagi Nala karena bagi orang lain, kedekatan itu perlahan mulai terlihat.

Yu-ra sempat melirik ke belakang dari kursi depan melalui kaca spion kecil di atas pengemudi. Tatapannya tidak menunjukkan kecurigaan. Ia hanya mengamati sebentar, seperti kebiasaannya ketika memperhatikan dinamika kerja dalam sebuah tim.

Tidak ada yang tampak janggal hanya saja, setelah beberapa saat, Yu-ra kembali menundukkan pandangan ke ponselnya sambil menyimpan satu pengamatan kecil dalam pikirannya: Jeongin selalu menjadi orang pertama yang menanggapi Nala, sekaligus orang terakhir yang mengakhiri percakapan dengannya.

Sementara itu, dari kursi belakang, Yoo-gi tiba-tiba bersuara dengan nada setengah bercanda.

“Ini pertama kalinya aku melihat retreat kantor yang penumpangnya lebih serius daripada dosen di kampusku,” ucapnya membuat Sumin langsung tertawa, sementara beberapa orang lainnya ikut tersenyum.

Bahkan Nala akhirnya mengangkat wajah dari tabletnya, menatap Yoo-gi sekilas sebelum menggeleng kecil.

Perjalanan yang semula dipenuhi catatan dan pembahasan pekerjaan itu pun kembali diwarnai tawa ringan tanpa seorang pun menyadari bahwa di antara percakapan yang terdengar begitu biasa, ada seseorang yang menyimpan perhatian jauh lebih dalam daripada yang seharusnya.

“Tunggu saja malam nanti. Biasanya orang-orang seperti ini baru bicara jujur setelah lelah,” balas nya, yang langsung membuat semua orang tertawa, kecuali Nala dan Jeongin.

Tawa memenuhi kabin beberapa saat sebelum perlahan mereda. Van terus melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota, berganti dengan jalan yang semakin lengang menuju Nanji. Lampu-lampu jalan berkelebat di balik jendela, memantul di kaca dan menciptakan bayangan yang bergerak di wajah Nala; lelah, fokus, tetapi tetap tenang.

Jeongin memperhatikan itu dalam diam dia tidak mencoba mendekat lebih jauh karena dia tahu itu tidak perlu, baginya kedekatan sering kali tidak tercipta melalui langkah-langkah besar, melainkan dari keberadaan yang konsisten. Dari seseorang yang selalu ada di sisi, tanpa pernah diminta.

Sementara itu, Nala tetap menganggap semuanya biasa dia tidak menyadari bahwa sepanjang perjalanan itu, setiap kali dirinya tertawa kecil, Jeongin akan berhenti berbicara sejenak, seolah ingin mendengarkan tawa itu lebih lama. Setiap kali Nala terdiam, ia memberinya ruang tanpa memaksa percakapan berlanjut.

Dan setiap kali van berguncang melewati jalan yang tidak rata, tangan Jeongin refleks menahan sandaran kursi tepat di belakang punggung Nala tidak menyentuhnya, hanya memastikan tubuh Nala tetap aman dari benturan.

Gerakan kecil yang nyaris tidak berarti bagi Nala. Ia kembali menundukkan wajah pada tablet, sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang di sampingnya telah menghafal begitu banyak hal kecil tentang dirinya tanpa pernah sekalipun memintanya untuk memperhatikan.

Setelah menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit, akhirnya gerbang Nanji Camp Ground menyambut mereka dengan pencahayaan hangat yang kontras dengan udara malam di tepi Sungai Han.

Angin berembus pelan, membawa aroma tanah lembap dan rumput basah. Suasananya tenang, tetapi tidak sepenuhnya bersahabat bagi tubuh yang telah melewati hari panjang.

Van berhenti di area drop-off. Satu per satu mereka turun dan meregangkan badan, menghela napas lega seolah baru saja dilepaskan dari kepungan kota yang sejak tadi memenuhi pandangan dengan gedung, kendaraan, dan lampu-lampu jalan.

Sumin langsung menghitung jumlah tas, memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Yu-ra memeriksa dokumen reservasi yang masih berada di tangannya, sementara Yoo-gi sibuk memotret papan nama camp dengan ponselnya.

“Ini terlalu rapi untuk disebut camping,” gumamnya membuat beberapa orang terkekeh mendengar komentarnya.

Nala turun paling akhir tapi begitu sepatunya menyentuh kerikil kecil yang tidak rata, langkahnya sempat goyah. Biasanya hal sederhana seperti itu tidak akan menjadi masalah namun kelelahan membuat refleksnya terlambat setengah detik.

Kakinya tergelincir tubuhnya spontan condong ke depan, dan semuanya terjadi begitu cepat.

“Na—” Jeongin sudah lebih dahulu bergerak satu tangannya menangkap lengan Nala, sementara tangan lainnya menahan punggungnya. Ia menarik tubuh Nala kembali ke posisi seimbang sebelum perempuan itu benar-benar kehilangan pijakan.

Gerakannya refleks, mantap, seolah tubuhnya telah bergerak lebih dahulu daripada pikirannya. Nala terdiam sesaat bukan semata karena terkejut melainkan karena jarak di antara mereka mendadak menghilang.

Ia bisa merasakan tangan Jeongin masih berada di lengannya, sementara napasnya sendiri tertahan sesaat akibat kaget.

“Aku dapat,” ucap Jeongin rendah.

Nada suaranya terdengar tenang, seolah ia sedang menenangkan Nala, bukan sekadar memastikan perempuan itu tidak jatuh. Nala mengangguk cepat, ia menarik napas pendek sebelum perlahan melepaskan diri dari pegangan Jeongin dan kembali berdiri tegak.

“Terima kasih. Aku tidak fokus,” katanya buru-buru, berusaha mengabaikan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.

Jeongin hanya mengangguk kecil namun pandangannya sempat turun pada kaki Nala sebelum kembali menatap wajah perempuan itu.

“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya, yang langsung membuat Nala menggeleng.

“Tidak apa-apa. Hanya terpeleset sedikit,” balasnya.

“Kau terlalu lelah... hati-hati,” ujar Jeongin tanpa menegurnya.

Tangannya belum segera terlepas dari punggung Nala. Bukan untuk menahan, melainkan sekadar memastikan perempuan itu benar-benar sudah kembali seimbang. Setelah yakin Nala dapat berdiri dengan mantap, barulah ia menarik tangannya dan mundur setengah langkah.

“Iya...” Nala segera bergeser sedikit agar lengannya tidak lagi bersentuhan dengan Jeongin.

Di depan, Yu-ra sempat melirik sekilas ke arah mereka sebelum kembali memperhatikan petugas yang sedang menyiapkan proses check-in.

Proses check-in berjalan lancar karena nama perusahaan tertera jelas di layar petugas, sementara area tenda mereka telah disiapkan sesuai reservasi. Terdapat satu tenda utama untuk diskusi dan dua tenda kecil tambahan untuk kebutuhan lainnya.

Saat petugas menjelaskan jalur menuju area perkemahan serta fasilitas yang tersedia, Jeongin berdiri di sisi Nala. Tubuhnya sedikit condong ke arahnya, posisi alami seseorang yang masih berjaga-jaga jika Nala kembali kehilangan keseimbangan.

“Aku ambil tenda yang paling dekat dengan area diskusi untuk memudahkan koordinasi,” kata Jeongin kepada petugas.

Nala hanya mengangguk setuju tanpa banyak bertanya, ketika mereka mulai berjalan menuju area tenda, Jeongin tiba-tiba mengambil alih salah satu tas milik Nala tanpa bertanya.

“Kau bawa yang ringan saja,” ucapnya sambil dengan cepat menyambar tas Nala.

“Aku bisa—”

“Aku tahu... tapi biar aku,” potongnya halus.

Nala terdiam sejenak, lalu membiarkannya membawa tas tersebut.

Langkah mereka menyusuri jalur kayu yang membelah area perkemahan. Lampu-lampu kecil menggantung rendah di sepanjang jalan, cahayanya yang hangat jatuh di antara pepohonan dan memantulkan bayangan panjang di atas tanah.

Udara malam terasa semakin dingin, angin dari arah Sungai Han sesekali berembus melewati sela-sela pepohonan, membuat ujung rambut Nala bergerak pelan.

Setiap kali langkah Nala melambat, Jeongin tanpa sadar menyesuaikan langkahnya. Setiap kali Nala berhenti untuk mendengarkan penjelasan Yu-ra atau Sumin, ia pun berhenti bersamanya.

Tidak pernah mendahului atau meminta Nala mempercepat langkahnya dia hanya berjalan di sisi Nala, seolah menyesuaikan ritmenya adalah hal yang paling wajar untuk dilakukan.

Di area tenda, Yoo-gi bercanda soal pembagian kasur lipat, sementara Sumin tertawa keras menanggapi setiap komentarnya. Yu-ra sibuk membagikan jadwal singkat agar semua orang mengetahui kegiatan yang akan dilakukan malam itu.

Di tengah kesibukan tersebut, Jeongin kembali berada di sisi Nala. Ia membantu membuka ritsleting tenda, menyalakan lampu kecil di dalamnya, lalu mengatur kursi-kursi lipat agar menghadap ke arah sungai.

“Kau bisa duduk dulu. Aku bereskan sisanya,” katanya.

Nala hanya mengangguk lalu duduk di salah satu kursi sambil mengembuskan napas perlahan, membiarkan tubuhnya beristirahat setelah perjalanan dan aktivitas sejak pagi. Oh Yu-ra akhirnya mendekat sambil menyerahkan sebotol air kepada Nala.

“Minum dulu. Wajahmu pucat,” katanya.

Nala menerima botol tersebut dan tersenyum kecil.

“Terima kasih, Eonni.”

Yu-ra memperhatikan wajah Nala beberapa detik, seolah memastikan kondisinya benar-benar baik.

“Kenapa? Apa ada masalah?” tanyanya penasaran.

“Tidak ada... Aku hanya rindu pada putraku,” jawab Nala pelan.

Senyum tipis muncul di wajah Yu-ra.

“Kenapa tidak kamu hubungi saja? Kabari kalau kamu sudah sampai,” katanya. Nala terdiam sesaat, lalu menoleh ke arahnya. Senyum kecil kembali menghiasi wajahnya.

“Nanti aku hubungi,” ucapnya tanpa sadar tangannya menggenggam botol air lebih erat.

Entah karena mendengar saran sederhana dari Yu-ra atau karena baru menyadari bahwa sejak meninggalkan rumah, pikirannya memang terus kembali kepada satu anak kecil yang mungkin saat ini sedang menunggunya pulang.

Suasana hening sejenak hingga akhirnya Yu-ra ikut duduk di samping Nala. Ia menatap aliran sungai yang tampak samar di balik cahaya lampu perkemahan sebelum akhirnya membuka percakapan.

“Berapa usia putramu, Nala?” tanyanya.

Nala menoleh kepadanya, lalu tersenyum kecil.

“Sepuluh tahun,” jawabnya.

“Ahh... sudah besar.” Yu-ra mengembuskan napas pelan. “Aku sudah bertahun-tahun menikah, tetapi belum bisa hamil juga. Entah apa yang salah. Padahal aku dan suamiku sama sekali tidak memiliki masalah apa pun.”

Nada suaranya merendah pada kalimat terakhir, da kesedihan yang tidak berusaha ia sembunyikan, meskipun wajahnya tetap tersenyum tipis.

Nala menatapnya beberapa saat sebelum memberikan jawaban.

“Mungkin belum waktunya. Terkadang, apa yang kita impikan memang datang terlambat.”

Yu-ra mengangguk pelan sampai tatapannya kembali mengarah ke depan, mengikuti cahaya lampu yang berpendar di permukaan sungai.

“Apa kau hanya punya satu anak?” tanya nya yang berhasil membuat Nala kembali terdiam senyumnya perlahan menghilang.

Bayangan masa lalu kembali berputar di kepalanya. Ia kembali mengingat saat berlari dari kejaran Min-seo dan anak buahnya, napasnya tersengal, tubuhnya dipenuhi rasa takut. Namun, pada akhirnya, ia memilih berbalik untuk mempertaruhkan dirinya demi menyelamatkan mertua nya.

Kenangan tersebut datang begitu jelas hingga dadanya terasa sesak. Nala memejamkan mata beberapa saat, ketika kembali membukanya, pandangannya terasa sedikit kabur. Ia menggeleng pelan, seolah berusaha menyingkirkan bayangan yang kembali muncul tanpa diundang.

“Ada dua...” suaranya terdengar lirih. “Hanya saja, yang satu sudah pergi bahkan sebelum dia sempat melihat dunia ini.”

Yu-ra langsung membeku seolah baru menyadari bahwa pertanyaannya mungkin telah menyentuh luka lama yang selama ini disimpan Nala dengan begitu rapi.

“Maaf... Aku tidak tahu,” ucapnya pelan.

Nala segera menggeleng.

“Tidak masalah. Itu sudah berlalu lama sekali dan sekarang aku sudah berdamai,” ucapnya membuat Yu-ra tersenyum tipis, meskipun tatapannya masih menyimpan rasa bersalah.

Mereka kembali terdiam untuk beberapa saat hanya suara angin yang menyentuh pepohonan dan gemericik air sungai menjadi satu-satunya suara yang terdengar di antara mereka. Namun, ketika Yu-ra mengajukan pertanyaan berikutnya, Nala kembali terdiam dan kali ini lebih lama, seolah pertanyaan sederhana itu membawa Nala ke tempat yang selama ini berusaha ia tinggalkan.

“Nala... siapa suamimu? Aku tidak pernah melihat kau membicarakannya. Di kantor juga tidak ada yang tahu. Dia orang Korea juga, atau kau tinggal di sini karena bekerja saja, atau bagaimana?” tanya Yu-ra penasaran.

Bagaimanapun, semua orang di ORIONA sudah mengetahui bahwa Nala sudah menikah. Namun, tidak ada yang tahu siapa suaminya karena Nala benar-benar tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Barangkali hanya Jeongin yang mengetahui sedikit tentang hal tersebut karena pria itu dahulu sempat bekerja di LYNX Entertainment.

“Hanya orang biasa. Aku memang menikah dengan orang sini.” Ia tidak mungkin menyebut nama Junho—nama yang, meskipun hanya terdiri dari satu kata, sudah cukup untuk mengundang ribuan tafsir.

Nama yang, jika disebut, akan langsung menghapus kesederhanaan hidup yang ia bangun dengan susah payah.

“Oh... suamimu beruntung punya kamu. Kau wanita hebat dan pekerja keras.” Yu-ra tersenyum tulus.

Nala membalasnya dengan senyum tipis tanpa siapapun tahu, di dalam dadanya, ada keinginan yang tidak pernah benar-benar padam: menyebut nama pria itu dengan bebas. Mengatakannya tanpa harus menimbang setiap risiko. Tanpa perlu menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang istri—bukan sekadar bayangan yang harus terus berada di balik kehidupan orang lain.

Ia menerima alasan Junho dan ia juga mengerti tentang perlindungan, tentang privasi, tentang kebencian yang dapat datang tanpa peringatan. Ia tahu semua keputusan itu tidak dibuat tanpa alasan.

Namun, penerimaan tidak selalu berjalan seiring dengan keikhlasan. Dan hatinya meski tetap setia tapi tidak menutup kemungkinan bahwa dirinya tetaplah manusia.

“Nanti malam kita diskusi singkat saja. Besok pagi kita lanjutkan. Jangan dipaksakan.” Suara Jeongin membuyarkan lamunan Nala, dia mengangkat wajah, baru menyadari bahwa pembicaraan di sekitar mereka telah beralih pada persiapan kegiatan malam itu.

Tidak ada yang membantah bahkan Nala yang biasanya menjadi orang pertama yang menentang pembatasan waktu ketika pekerjaan belum selesai, kali ini hanya mengangguk pelan.

Pertanyaan Yu-ra masih tertinggal di dalam pikirannya.

Sederhana, tetapi entah mengapa cukup untuk membuat dadanya terasa penuh. Di kejauhan, suara Sungai Han terus mengalir di balik pepohonan. Lampu-lampu kecil di sekitar perkemahan bergoyang tertiup angin malam, sementara langit semakin gelap di atas mereka.

Untuk dua hari ke depan, Nala datang ke tempat ini untuk berbicara tentang pekerjaan, gagasan, dan masa depan ORIONA. Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, satu pertanyaan sederhana membuatnya kembali memikirkan sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

Tentang suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!