NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOPI DINGIN DAN KERETA MALAM

Suara pengumuman dari pengeras suara stasiun bergema samar di atas peron yang dingin, beradu dengan desir angin malam yang membawa aroma besi terbakar dan debu rel kereta. Enzo berdiri kaku di tepi garis kuning peron bersama puluhan pekerja malam lainnya, menunggu kedatangan Kereta Rel Listrik jadwal terakhir menuju perbatasan kota.

Punggung dan kedua lengannya terasa kebas. Delapan jam penuh ia menghabiskan tenaga di gudang distributor, mengangkat ratusan kardus barang elektronik yang beratnya tak jarang mencapai dua puluh kilogram per kotak. Kemeja lusuhnya yang pagi tadi agak pudar kini bernoda minyak hitam di bagian lengan dan berbau keringat tajam. Upah harian sebesar seratus dua puluh ribu rupiah yang baru saja diserahkan mandor terasa sangat setimpal dengan rasa pegal yang menjalar di seluruh buku-buku jarinya.

"Lanjut lagi besok, Zo!" seru Mandor Broto saat membagikan amplop tadi sore seraya menepuk bahu Enzo kasar.

Enzo melangkah mendekati sebuah kios kecil di sudut peron yang hampir tutup. Dari dalam kulkas pamer yang kacanya berembun, ia mengambil sekaleng kopi hitam murah seharga delapan ribu rupiah. Dinginnya kaleng seng itu menusuk telapak tangannya yang kapalan dan kotor oleh debu gudang.

Garis-garis lampu kuning dari moncong kereta malam perlahan muncul dari kegelapan rel, diiringi decit gesekan besi roda yang memekakkan telinga. Pintu gerbong terbuka otomatis dengan hembusan angin beraroma pendingin udara yang khas. Enzo melangkah masuk, menyelinap di antara celah para penumpang yang berdiri lelah memegangi gantungan tangan.

Ia beruntung menemukan satu celah kosong di sudut bangku panjang berbahan busa keras. Enzo langsung mendaratkan tubuhnya, menyandarkan kepala pada dinding gerbong yang bergetar seiring laju kereta yang mulai merayap meninggalkan stasiun.

Enzo menarik kait kaleng kopinya hingga berbunyi klak nyaring. Ia menyesap cairan hitam dingin itu pelan-pelan. Rasa pahit dan manis buatan yang menyengat dingin menyentuh tenggorokannya yang kering, memberikan sedikit kesegaran di tengah rasa lelah yang menghimpit tubuhnya.

Sambil memegangi kaleng kopi yang berembun, tangan kirinya yang bebas merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel tua berlayar retak. Layar itu masih menampilkan antarmuka hitam sederhana milik aplikasi Sistem Penakluk Dewi.

Enzo menatap tajam ikon bundar berwarna hitam itu. Di dalam gerbong kereta yang melaju kencang di tengah kegelapan malam, pikirannya mulai berputar liar menembus rasa lelahnya.

Apakah benda ini benar-benar sistem supernatural? Atau cuma program peretas yang sangat canggih? batin Enzo seraya memiringkan kepalanya.

Sebagai pemuda yang tumbuh di era digital, rasanya sangat sulit bagi otak logis Enzo untuk percaya pada hal-hal magis atau keajaiban mendadak. Jika ini adalah peretasan canggih, siapa yang melakukannya? Siapa yang sudi membuang waktu dan biaya mahal untuk meretas ponsel tua berlayar retak milik seorang pekerja lepas yang tak punya simpanan uang? Bagaimana cara peretas itu mengetahui secara tepat bahwa sewa kontrakannya menunggak? Lebih gila lagi, bagaimana aplikasi ini bisa memprediksi lokasi Toko Kelontong Berkah dan menganalisis kondisi emosional Nadira hingga ke tingkat persentase?

Enzo menyandarkan punggungnya lebih dalam, menyesap kembali kopi dinginnya hingga tersisa separuh.

Atau... ini semacam eksperimen psikologis berbasis kecerdasan buatan? pikir Enzo lagi dengan kening berkerut tebal.

Mungkin saja sebuah perusahaan teknologi besar atau kelompok peneliti rahasia sedang menguji coba perangkat lunak pemantau emosi manusia. Mereka bisa saja memasang kamera tersembunyi atau mikrofon jarak jauh di sudut-sudut kota, menggunakan algoritma rumit untuk membaca ekspresi wajah dan bahasa tubuh orang-orang seperti Nadira, lalu mengirimkan data itu ke ponsel orang terdekat.

Namun, teori itu langsung goyah saat Enzo mengingat peringatan dan kuesioner brutal tadi pagi. Jika ini hanya eksperimen teknologi, untuk apa aplikasi ini peduli pada integritas moralnya? Untuk apa sistem ini melarangnya menawarkan janji manis atau memintanya bersikap tegas tanpa manipulasi?

"Permisi, Mas," bisik seorang pria paruh baya berseragam buruh pabrik yang berdiri di hadapannya seraya menggeser tas punggungnya yang agak tebal.

"Oh, iya, Pak," sahut Enzo seraya menggeser duduknya sedikit ke kanan agar pria itu bisa berdiri lebih leluasa.

Kereta malam terus melaju, berguncang pelan melintasi rute pemukiman padat penduduk yang tampak remang dari balik kaca jendela. Enzo kembali memandangi layar ponselnya. Apapun jawaban ilmiah atau gaib di balik keberadaan aplikasi ini, ada satu hal yang kini disadari Enzo dengan sangat jelas: aplikasi ini sama sekali tidak memberinya keajaiban instan.

Sistem ini tidak secara ajaib melunasi sewa kontrakannya. Sistem ini tidak tiba-tiba mengubah kemeja lusuhnya menjadi setelan jas mahal, juga tidak memberi jurus bertarung sakti saat ia berhadapan dengan pria gempal di toko kelontong tadi pagi. Pagi tadi, ia tetaplah Enzo yang penakut, yang lututnya lemas dan jantungnya berdegup kencang karena cemas.

Satu-satunya hal yang benar-benar diubah oleh sistem adalah keberaniannya untuk tidak melarikan diri.

Sistem ini cuma ngasih dorongan... sisa keputusannya tetap ada di tangan gue, renung Enzo seraya menatap pantulan wajah kusamnya di kaca jendela gerbong yang gelap.

Seandainya tadi pagi ia memilih mengabaikan notifikasi misi dan terus berjalan menuju pangkalan angkot, tidak akan ada hal ajaib yang menghukumnya secara fisik. Tetapi Nadira mungkin akan terus ketakutan, kehilangan uang gajinya, dan merasa makin terasing di dunia ini. Dan Enzo sendiri akan tetap menjadi pemuda pengeluh yang bersembunyi di balik rasa kasihan pada diri sendiri.

Kaleng kopi di tangannya kini sudah kosong. Rasa dinginnya perlahan berganti hangat oleh suhu telapak tangannya. Enzo meremas kaleng seng itu hingga agak gepeng, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana jinsnya.

"Stasiun persinggahan berikutnya... Stasiun Kota," suara wanita dari pengeras suara gerbong mengalihkan perhatian para penumpang.

Kereta perlahan melambat, meluncur masuk ke peron stasiun yang temaram oleh lampu jalan. Enzo bangkit dari duduknya, merapikan kemeja kusamnya, lalu melangkah keluar bersama gelombang penumpang malam yang berdesakan menuju pintu keluar.

Udara malam perkotaan menyambutnya dengan dingin yang menusuk tulang. Enzo berjalan menyusuri trotoar sepi menuju arah kontrakannya, membuang kaleng kopi kosongnya ke dalam tempat sampah di tepi jalan. Langkah kakinya terasa lebih mantap dibanding pagi tadi. Rasa lelah di badannya masih ada, tetapi beban kebencian pada diri sendiri yang biasa mengendap di dalam dada kini terasa jauh lebih ringan.

Ia tidak tahu tantangan gila apa lagi yang akan diberikan oleh aplikasi itu besok pagi. Namun, sambil menatap deretan lampu jalan yang membias samar di atas jalanan basah, Enzo tahu satu hal: ia tidak lagi berniat untuk lari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!