"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 | KETENANGAN DI TENGAH BADAI
Austin menepikan mobil mewahnya di sebuah pelataran privat yang menghadap langsung ke hamparan laut Mediterania yang luas. Tempat itu begitu sunyi, tenang, dan dikelilingi oleh pilar-pilar batu marmer putih bergaya klasik.
Aleeza Wira duduk terpaku di kursi penumpang. Air matanya memang sudah berhenti mengalir setelah tangisannya pecah di jalanan Madrid tadi, namun luka akibat pengkhianatan Julian masih menganga lebar di dalam dadanya.
Pintu mobil terbuka. Austin melangkah masuk ke sisi Aleeza, lalu dengan gerakan lembut yang tak biasa, pria itu melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuh gadis itu.
"Keluar sebentar, Mi Amor," bisik Austin pelan, nyaris tanpa nada arogan yang biasa ia tunjukkan. "Udara di sini akan membuat kepalamu jauh lebih baik.
Aleeza tidak melawan. Dengan langkah lemas, ia mengikuti Austin turun dari mobil dan berjalan menuju beranda marmer yang langsung menghadap ke arah laut lepas. Desir angin malam berhembus tenang, membawa aroma garam laut yang menyegarkan.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" suara Aleeza terdengar parau, menatap kosong ke arah ombak yang bergulung dalam gelap.
Austin berdiri tepat di sampingnya. Pria itu melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Aleeza, menarik tubuh gadis itu rapat ke sisi tubuhnya tanpa perlawanan.
"Karena aku tahu tempat ini bisa meredam amuk badai di dalam kepalamu," jawab Austin tenang. "Dan karena aku tidak suka melihat Mawar Berduri miliknya layu hanya karena bajingan tak berguna seperti Julian."
Deg
Aleeza menoleh cepat, menatap Austin dengan mata membelalak tak percaya.
"K-Kau tahu soal Julian?!"
"Aku tahu segalanya tentangmu, Aleeza," balas Austin dengan tatapan mata biru yang menghujam lurus ke dalam jiwa Aleeza. "Aku tahu bagaimana kebodohannya menyakitimu, bagaimana pengorbanan sia-siamu selama berbulan-bulan, dan bagaimana dia mempermainkan rasa bersalahmu di balik topeng kebutaan palsu itu."
Air mata yang tadinya mengering kembali mendesak keluar dari sudut mata Aleeza. Suaranya bergetar hebat saat ia mencengkeram kerah jas Austin.
"Lantas kenapa?! Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal?!" jerit Aleeza frustrasi, memukul dada bidang Austin dengan sisa tenaganya. "Kau sengaja membiarkanku terlihat bodoh! Kau membiarkanku terikat dalam sangkar emasmu dengan alasan ancaman itu, padahal kaulah yang paling tahu kebenarannya!"
Austin membiarkan Aleeza memukulnya. Pria itu sama sekali tidak bergeming, hingga akhirnya ia menangkap kedua pergelangan tangan Aleeza, menguncinya perlahan, lalu mendekatkan wajahnya.
"Karena jika aku memberitahumu lebih awal kau akan langsung pergi meninggalkanku, Aleeza," bisik Austin jujur, suaranya sarat akan ketulusan yang amat pekat. "Dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi."
Pernyataan telak itu menghantam pertahanan Aleeza seketika.
"Kau egois," cicit Aleeza lemah, napasnya tersengal. "Kau pria paling egois dan menyebalkan yang pernah kutemui di dunia ini, El Oso!"
"Ya, aku egois," aku Austin tanpa ragu. "Aku menginginkanmu, Aleeza. Bukan karena sandiwara balas dendam pada Angeline lagi tapi karena sejak hari pertama kau menampar pipiku di kantor redaksi, hatiku sudah sepenuhnya tertinggal padamu."
Sebelum Aleeza sempat mencerna kata-kata manis yang meluncur dari bibir sang billionaire, Austin merengkuh tengkuk Aleeza, lalu mendaratkan ciuman yang dalam, penuh gairah, dan menuntut di bibirnya.
Ciuman itu tidak lagi liar atau memaksa seperti sebelumnya. Ciuman kali ini terasa begitu hangat, menghapus seluruh rasa sakit, pengkhianatan, dan kepedihan yang dirasakan Aleeza selama berbulan-bulan. Seolah-olah Austin sedang menyerap seluruh luka di hati Aleeza dan menggantinya dengan debaran cinta yang membara.
Aleeza terbuai. Tanpa sadar, jemarinya meremas jas Austin, membalas ciuman itu dengan segenap perasaan yang selama ini ia tepis rapat-rapat. Di bawah langit malam Mediterania, di pelukan pria yang paling ia benci sekaligus ia damba, Aleeza akhirnya menyerahkan benteng pertahanan terakhir di hatinya.
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!