NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:30
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Di Antara Pohon dan Hujan

Langit sore itu abu-abu banget. Awan menumpuk tebal di atas sana, bikin cahaya matahari jadi remang-remang, seolah dunia lagi nahan napas. Udara terasa lembab, baju yang kupakai terasa agak lengket di kulit. Aku duduk sendirian di bangku kayu tua di pojok taman, tempat yang hampir nggak ada orang yang lewat. Bangkunya udah agak lapuk, ada goresan-goresan kecil di permukaannya, seolah banyak orang yang pernah ninggalin cerita di sini sebelum aku datang. Di sekitar cuma ada beberapa pohon rindang yang daunnya mulai bergoyang kena angin sore yang pelan tapi pasti makin kencang. Aku suka di sini, soalnya di tempat ini rasanya dunia nggak terlalu berisik. Nggak ada klakson yang nyaring, nggak ada orang terburu-buru lari ke mana-mana, nggak ada tatapan aneh yang bikin nggak nyaman. Cuma aku, angin yang bau tanah basah, dan suara jantungku sendiri yang kadang terasa terlalu keras di telingaku.

Aku Aurora, cewek yang baru aja masuk usia dua puluh tahun. Hidupku sebenarnya biasa aja — bangun pagi, kuliah, pulang, bantu ibu di rumah, kadang keluar sebentar terus pulang lagi. Nggak punya banyak teman, lebih suka ngobrol sama buku atau sekadar duduk diam melihat orang lewat dari kejauhan. Bukan karena aku nggak mau berteman, cuma rasanya... susah banget nemu orang yang bikin aku merasa cukup aman buat cerita apa aja. Biasanya orang cuma dengar dengan telinga, tapi nggak pakai hati. Mereka dengar kata-katanya, tapi nggak paham rasanya. Makanya aku lebih memilih diam. Hening itu lebih aman daripada cerita yang lalu nggak dipahami, malah dijadikan bahan omongan. Setidaknya begitu yang aku pikirin selama ini.

Hari itu aku bawa buku cerita yang udah kubaca tiga kali. Sampulnya udah agak kusam, sudut-sudut halamannya udah terlipat di sana-sini tanda sering kubuka. Tapi hari ini halaman yang sama udah kulihat dari tadi, nggak maju-maju. Mataku membaca tulisannya: "Kadang takdir membawa kita bertemu dengan seseorang yang kita tak pernah cari, tapi ternyata dia yang paling kita butuhkan." Kalimat itu terasa aneh banget dibaca hari ini. Pikiran melayang ke mana-mana. Mungkin soal tugas kuliah yang numpuk kayak gunung, atau soal masa depan yang rasanya kayak kabut pagi ada di depan mata tapi nggak kelihatan jelas bentuknya. Semua orang tanya mau jadi apa nanti, mau ke mana, punya rencana apa. Sementara aku cuma bisa senyum dan bilang "belum tahu". Rasanya kayak berdiri di persimpangan jalan yang semuanya gelap, nggak ada lampu yang menunjuk ke arah mana aku harus melangkah.

Aku menghela napas panjang, lalu menutup buku pelan-pelan. Suara dedaunan bergoyang terdengar makin jelas. Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang mendekat. Bukan langkah terburu-buru, bukan juga langkah yang ragu-ragu. Langkahnya tenang, berat, dan terdengar pasti, kayak orang yang tahu persis ke mana dia mau pergi. Aku nggak langsung menoleh, ada sesuatu yang bikin aku diam saja, menunggu. Rasanya aneh — biasanya aku bakal langsung waspada kalau ada orang asing mendekat sendirian di tempat sepi kayak gini. Tapi kali ini, nggak ada rasa takut. Cuma rasa penasaran yang tiba-tiba bangkit dari dada.

Aku mendongak pelan.

Di depannya berdiri seorang cowok. Tinggi badannya cukup, bahunya agak tegas, rambutnya agak berantakan kena angin sore, dan dia memakai jaket cokelat tua yang kelihatan udah lama dipakai — ada sedikit noda pudar di saku kiri, ujung lengan bajunya agak terlipat dua. Dia nggak pakai sepatu mahal, cuma sepatu kets yang warnanya udah pudar. Yang paling bikin aku berhenti bernapas sebentar bukan karena dia ganteng — walau emang dia punya senyum yang terasa hangat, kayak matahari yang baru muncul pagi hari — tapi karena matanya. Matanya menatapku seolah-olah dia sudah kenal aku sejak lama. Bukan tatapan orang asing yang baru pertama kali ketemu, bukan juga tatapan yang naksir atau cuma iseng. Tatapannya kayak... seseorang yang sedang menemukan apa yang lama hilang. Kayak orang yang nyari jalan pulang, dan akhirnya nemu rumahnya.

Dia berhenti beberapa langkah di depanku, seolah ragu buat melangkah lebih dekat, takut kalau tiba-tiba aku lari atau marah. Lalu dia tersenyum, dan senyum itu bikin suasana mendung sore itu terasa sedikit lebih terang, sedikit lebih hangat.

"Maaf kalau aku ganggu ketenanganmu ya," katanya, suaranya rendah tapi jelas, nggak berisik, nggak juga berbisik. "Kamu Aurora kan?"

Aku tertegun. Hatiku berdebar kencang tiba-tiba, jantungku berdetak begitu keras sampai aku takut dia bisa dengar suaranya. Tanganku mencengkeram sampul buku erat-erat.

"Kamu... siapa? Kok tahu namaku? Kita pernah ketemu sebelumnya di mana?" tanyaku, suaraku terdengar tenang padahal di dalam sana aku lagi campur aduk banget.

Dia tertawa pelan, suara tawanya renyah, nggak dibuat-buat. Lalu dia menunjuk bangku kosong di sebelahku, matanya menatapku meminta izin.

"Boleh aku duduk sebentar aja? Aku nggak akan lama. Janji, sepuluh menit paling lama. Terus aku pergi kok."

Aku diam sebentar, lalu mengangguk pelan, masih bingung banget dengan apa yang baru saja terjadi. Dia duduk di ujung bangku, menjaga jarak yang cukup — nggak terlalu dekat sampai bikin nggak nyaman, tapi cukup dekat supaya aku bisa mencium aroma sabun yang lembut dan segar, dicampur dengan sedikit bau hujan dan tanah basah. Dia menatap ke depan, ke arah pohon-pohon tinggi yang berdiri tegak, lalu memecah keheningan dengan suaranya yang tenang.

"Aku Bima. Dan... percaya atau nggak, sebenarnya aku udah lama banget pengen ketemu kamu. Bukan dalam artian yang aneh ya," dia cepat-cepat menambahkan sambil menoleh padaku, senyum miring di bibirnya seolah tahu kalau aku mulai curiga. "Bukan aku ngikutin kamu atau apa, tenang aja. Cuma... ada hal yang bikin aku selalu ingat nama kamu. Hari ini kebetulan banget aku lewat sini, dan waktu lihat kamu duduk sendirian di sini, buku tertutup di pangkuanmu, mukamu kelihatan lagi mikirin sesuatu yang berat... aku pikir, mungkin ini waktunya buat nyapa. Maaf kalau tiba-tiba dan bikin kamu nggak nyaman ya."

Aku menatapnya lama, mencoba cari jejak kebohongan di wajahnya. Tapi nggak ada. Matanya jujur, terbuka, nggak ada yang disembunyikan kecuali satu hal — dari mana dia tahu namaku.

"Kamu belum jawab pertanyaanku, Bima. Dari mana kamu tahu namaku? Aku nggak pernah cerita ke siapa-siapa kalau aku suka duduk di taman ini. Bahkan teman-temanku nggak tahu tempat ini."

Dia terdiam sejenak, tangannya menyentuh ujung bangku kayu di sampingnya, jari-jarinya bergerak pelan seolah sedang mencari kata-kata yang tepat. Ada kilatan sedih yang lewat cepat banget di matanya, sampai aku nggak yakin apakah aku benar-benar melihatnya atau cuma bayangan awan gelap yang lewat di atas sana.

"Nanti aku cerita semuanya. Aku janji aku bakal cerita. Tapi bukan sekarang. Kalau aku cerita hari ini, kamu pasti bakal pergi dan nggak mau ketemu aku lagi. Dan aku... aku belum siap kehilangan kesempatan ini. Kesempatan buat kenal kamu, walau cuma sebentar."

Kata-katanya terdengar aneh, bahkan mungkin agak berlebihan buat orang yang baru pertama kali ketemu. Tapi entah kenapa, aku nggak merasa takut. Justru sebaliknya, ada kejujuran yang menyakitkan di suaranya, seolah dia lagi menahan sesuatu yang berat banget sendirian. Rasanya aku ingin tahu lebih banyak, walau aku tahu itu mungkin bukan keputusan yang bijak.

"Kamu aneh deh, Bima. Serius, kamu orang paling aneh yang pernah aku ketemu," kataku akhirnya, sambil mencoba tersenyum walau masih ada rasa bingung yang menyelimuti pikiranku. "Tapi... nggak apa-apa. Aku dengerin. Tapi kalau kamu mulai bikin aku takut atau nggak nyaman, aku langsung pulang ya. Nggak peduli kamu mau cerita apa atau enggak."

Bima tersenyum lega, senyum yang terasa tulus banget. "Siap, Aurora. Aku janji aku cuma orang biasa yang kebetulan beruntung banget bisa duduk di sebelah kamu sore ini. Itu aja. Nggak ada niat buruk, percaya deh."

Obrolan kita berlanjut, perlahan-lahan rasa canggungnya mulai hilang. Kita nggak ngobrol soal hal-hal besar atau mendalam di awal. Kita ngobrol soal hujan yang kayaknya sebentar lagi turun dia bilang dia suka hujan karena saat hujan turun, semua orang seolah berhenti berlari dan diam sebentar mendengarkan suaranya. Kita ngobrol soal pohon mangga di sudut taman yang buahnya selalu diperebutkan anak-anak setiap musim panen, dan Bima cerita kalau dia pernah jatuh dari pohon yang mirip waktu kecil, sampai kakinya dibalut perban seminggu penuh. Kita ngobrol soal betapa melelahkannya naik kendaraan umum di jam pulang kerja — berdesak-desakan, panas, bising, tapi di saat yang sama melihat begitu banyak orang dengan cerita masing-masing yang sedang berjuang pulang ke rumahnya.

Bima cerita dengan cara yang bikin hal-hal kecil itu terdengar menarik banget. Dia nggak sombong, nggak sok tahu, dan dia benar-benar mendengar. Saat aku cerita soal kebiasaan membaca buku sampai lupa waktu, dia tertawa dan bilang dia juga begitu, cuma bedanya dia lebih suka menulis daripada membaca. Saat aku diam karena nggak tahu mau bilang apa lagi, dia nggak memaksa aku bicara. Dia cuma diam di sebelahku, ikut melihat ke arah pohon-pohon, dan keheningan di antara kita nggak terasa canggung sama sekali. Rasanya nyaman, damai, seperti ada seseorang yang akhirnya mengerti kalau kadang kita cuma butuh didampingi, bukan terus ditanya-tanya.

Matahari mulai terbenam di balik gedung-gedung di kejauhan, langit berubah jadi warna oranye pudar bercampur ungu lembut yang cantik banget. Beberapa tetes air hujan mulai jatuh perlahan, satu dua tiga, lalu makin banyak. Bima berdiri pelan-pelan, menatap langit sebentar lalu menatapku.

"Aku harus pulang sekarang ya. Udah hampir hujan deras, nanti kamu juga basah kalau nggak cepat pulang."

Aku juga berdiri, merapikan bukuku ke dalam tas. Rasanya berat banget bilang selamat tinggal, padahal kita baru kenal kurang dari satu jam.

"Iya, hati-hati ya, Bima. Makasih udah nemenin aku sore ini. Lumayan, nggak sepi lagi duduk sendirian."

Dia menatapku lama banget, matanya menyapu wajahku pelan-pelan seolah sedang mencatat setiap detailnya ke dalam ingatannya, takut kalau suatu hari nanti dia lupa bagaimana aku terlihat. Lalu dia tersenyum lembut, senyum yang kali ini terasa sedikit lebih sedih dari sebelumnya.

"Besok aku lewat sini lagi ya. Jam yang sama. Boleh aku nyapa kamu lagi? Kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa kok, aku ngerti banget."

"Iya boleh," jawabku tanpa ragu sedikit pun, walau di kepalaku ribuan pertanyaan masih berputar. "Aku biasanya ada di sini jam segini. Kalau nggak ada hujan deras, aku bakal ada di sini."

"Janji ya?" tanyanya, tangannya terangkat sedikit seolah mau menyentuh lenganku, tapi dia menahan diri dan cuma tersenyum lagi.

"Janji."

Bima berjalan mundur beberapa langkah, masih menatapku, lalu dia membalikkan badan dan pergi. Aku memperhatikan punggungnya yang menjauh, melangkah di antara rintik hujan yang makin banyak, sampai akhirnya menghilang di balik pepohonan yang rimbun. Aku berdiri di sana cukup lama, memegang tas erat-erat di dadaku, napasku teratur tapi hatiku masih berdebar aneh.

Hujan mulai turun lebih deras, membasahi tanah di sekitarku, membuat aroma tanah basah makin kuat. Aku berjalan pulang perlahan, langkahku ringan padahal pikiranku penuh. Siapa sebenarnya Bima? Dari mana dia tahu namaku? Kenapa dia terasa begitu dekat padahal baru pertama kali kita ketemu? Dan kenapa dia bilang kalau cerita hari ini bakal bikin aku pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku sepanjang jalan pulang, nggak ada jawabannya. Tapi satu hal yang aku tahu pertemuan ini bukan sekadar kebetulan biasa. Ada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang sedang dimulai, dan aku entah kenapa... aku ingin tahu ke mana semua ini akan membawaku.

Sampai di rumah, aku menutup pintu dan bersandar di belakangnya, menahan senyum yang tiba-tiba muncul di bibirku. Besok. Jam yang sama. Di taman itu. Aku nunggu kamu, Bima. Siap atau tidak, aku rasa langkah pertama udah dimulai sore ini. Entah ke arah mana kita melangkah, tapi ada satu hal yang sudah kuputuskan yaitu aku mau tahu siapa kamu sebenarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!