Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Wajah Nismara kalut, dia mengejar Tina yang melingkar mendekati treadmill. "Seriusan, Tin?"
Tina yang hendak memencet sebuah tombol menjadi urung, dia menoleh pada Nismara dan tercenung lama. "Kok kamu tahu namaku? Perasaan kita baru ketemu kan?"
Spontan wajah Nismara menegang, susah payah dia menyembunyikan kekalutannya itu dengan meringis lebar. "Lah ituuuu, ituuuu tadi Om Maryom Om Mario panggil kamu Tin kan?"
Tina melirik tajam. Dia tidak merespon, tangannya kembali bergerak memencet tombol-tombol yang ada. Treadmill mulai bergerak dan Tina pun ikut bergerak.
"Namaku Tina, kamu siapa?" tanya Tina tanpa menoleh pada Nismara.
" Aku Sofia, Kak. Maaf...."
"Panggil Tina aja, kita paling seumuran kan?"
"Aku sembilan belas sebentar lagi." jawab Nismara.
"Tuh kan malah tua kamu, aku delapan belas setengah."
"Ya sama aja, kurang enam bulan lagi sembilan belas tahun."
Nismara terkekeh. Tak disangka Tina pun ikut terkekeh geli.
" By the way Kamu sekolah di mana, Sof?" tanya Tina lagi. Kali ini dia menoleh Dan tersenyum.
Nismara meringis genit, tampak sudah mulai bisa menguasai keadaan. " Aku putus sekolah."
"Hah, yang bener?" Tina ikut meringis.
Nismara tertawa, tentu saja dibuat-buat. "Udah males mikir pelajaran, Tin. Aku kabur dari Denpasar ke sini."
"Oh iya?" pupil mata Tina membesar. "Sama dong, aku juga kabur, tapi aku dari Jakarta. Sempat lanjutin sekolah di sini sih, tapi bertahan 3 bulan doang hahaha."
"Hahaha bener kan sekolah itu membosankan? Kita ini harusnya senang-senang selagi muda. Betul nggak?"
"Cakep! Baru kali ini aku ketemu teman se- frekuensi hahaha." sahut Tina sambil mengacungkan jempol. "Hai Sofia apa kamu ke sini mau ngeliatin aku treadmill? Ayo olahraga bareng!"
Nismara terkekeh. Dia menurut, dan mulai naik treadmill di sebelah Tina persis.
Dan selama hampir 1 jam itu nismara menguntit Tina terus. Hatinya terasa berlompatan, perasaannya berkemah bahwa dari Tina inilah Dia akan bisa membuka satu persatu pintu misteri kematian Sherin.
Saat sedang istirahat dan duduk di bangku yang ada, seorang gadis berkulit gelap dengan badan yang sangat montok mendatangi Tina.
"Dapet prospek baru Tin?" sapanya dengan mata jenaka. Sedetik kemudian dia terbahak keras, hingga beberapa orang yang ada menoleh padanya. Namun dia tampak tak peduli.
"Kampret! Sembarangan ngatain prospek. Nih kenalin Sofia, dia Ella sefrekuensi dia sama kita." jawab Tina.
"Dih, kita. Elo aja kali, gue mah enggak hahaha." Ella yang benar-benar bertubuh aduhai itu maju selangkah dan menyelami Sofia. "Hallo, Sofia."
"Hai, Ella." Nismara menerima uluran tangan Ella.
Tina terkekeh. "Gaya kalian kenalan kayak anak TK."
"Yee, cara internasional nih!" tukas Ella sewot. Dia duduk di sebelah Nismara.
"Body kamu yahud amat, El. Bumper depan dan belakang mantap kali." cetus Nismara lirih. Gadis yang menjelma menjadi Sofia itu mulai melakukan jurus memancing. Dan kena, ketika mendengar respon Tina.
"Dia mah kesayangan Bos! Sekali goyang dolar-dolar melayang."
Mereka bertiga tertawa mendengar cicitan Tina.
Ella menatap Nismara dari atas sampai bawah. " Punya mu gede juga, padahal kamu pakai baju longgar begitu. Apalah Tina yang tepos itu hahaha."
Tina spontan memukul Nismara. Ya, karena yang di dekatnya Nismara bukan Ella. "Selera pasar masing-masing, girls. Nggak semua laki-laki suka yang bergundal gandul gitu. Yang penting aku bisa membawa laki-laki ke langit ketujuh lalu terjun bebas ke Samudra Hindia.
Kali ini hanya Ella dan Nismara yang terbahak. Sedang Tina sudah berdiri lagi. "Ayo kita mulai lagi, Sof! Resiko punya dua gunung gede gitu harus menjaga mereka tetap kencang sepanjang masa kan? Kalau kempes apa yang mau kamu banggakan juga?"
Ella terbahak. "Tenang, Sof, kan ada dokter plastik yang ilmunya harus dipraktekkan ke kita iya nggak?"
Nismara tertawa lagi, tetapi dia pun mengikuti Tina berdiri, dan Ella mengekor juga.
Tiga perempuan itu berganti-gantian menaklukkan alat fitnes yang mereka pilih. Sambil bercanda dan membuat keributan. Namun kelompok lain pun ada yang sama ributnya dengan mereka. Dan semua tampak tidak terganggu dengan hal itu, mungkin juga sudah menjadi halumlah di situ.
"Kita nongkrong dulu yuk!" kata Ella setelah mereka selesai.
"Gassss kan. Sekalian aku nunggu jam foto juga." sahut Tina seraya melihat jam tangannya. "Pas lah, satu jam lagi."
"Foto? Maksud mu kayak pemotretan gitu Tin? Kamu model? Pantes badanmu kerempeng gitu." sahut Nismara enteng.
Tina dan Ella berpandangan serempak lalu terbahak-bahak.
"Eh, apa? Kok ketawa?" Nismara bingung. beneran bingung bukan yang dibuat-buat.
" Junior dia, El, tapi nggak lama lagi jadi pro." Tina mengerling.
Ella merespon dengan menganggukkan kepala, tertawa lepas selalu menatap Nismara. "Eh, jangan bilang juga kamu belum pernah ke atas."
Nismara mengambil nafas dan menghela kasar dengan sengaja. "Ya kaaaan aku Junior, puh sepuh!"
"Beneran belum pernah ke atas?"
Nismara menggeleng.
Lagi-lagi Tina dan Ella tertawa. Ah, terlalu banyak tawa sore ini.
Tanpa merespon ucapan Nismara, Ella dan Tina menggandeng tangan Nismara bersama-sama. Tina di sebelah kiri sedang Ella di sebelah kanan.
Ternyata di sebelah ruang resepsionis katy, ada sebuah lift. Selama ini mata Nismara tidak melihat, karena memang letaknya yang tersembunyi. Atau sengaja dirancang khusus bagi member tertentu? Entah lah yang pasti sekarang Nismara sedang berada di dalam lift. Tangan Tina menekan angka 3.
Dalam beberapa detik, pintu lift terbuka.
Mata Nismara langsung melihat sebuah ruangan luas dengan kursi-kursi dan ornamen modern.
"Kamu minum alkohol nggak? Nanti baru setetes udah mabok." Ella menoleh pada Nismara.
"Aku membatasi minum alkohol karena alasan kecantikan, El." Nismara menjawab sambil terkikik. "Tapi kalau masih satu dua gelas, amaaan."
Ella dan Tina mencebik bersamaan. Nismara tertawa sendirian. Beruntung, saat di Swiss dan Denpasar kemarin, Nismara sengaja berakar pria dengan beberapa jenis alkohol berbagai jenis. Sebab dia sudah tahu dunia yang ditujunya sebagai Sofia Elena pasti sedikit banyak akan bersentuhan dengan minuman haram itu. Dan ternyata instingnya benar.
Namun di luar dugaan, Ella dan Tina malah memesan jeruk peras tanpa gula. Dengan senang hati Nismara ikut saja memesan minuman itu.
"Aku baru tahu kalau jeruk mengandung alkohol." kata Nismara sambil melirik Ella.
"Hahaha, tadi aku kan cuma tanya, emang bilang kalau kita mau minum gituan?" Ella membalas melirik.
"Si4lan." rutuk Nismara.
"Di sini kalau nggak ada yang bayarin jangan pesen minuman beralkohol, boncos kita!" Tina menyambung.
Sedang enak-enak berbincang, Maryono alias Mario muncul. Tatapan nya langsung menghujam tajam pada Nismara.
teka teki nya dapat. suka banget.