Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — SAJEN KENDIT DAN PUNCAK PERJANJIAN
Malam Jumat Kliwon akhirnya tiba menyergap perkampungan kami dengan pendar kegelapan pekat.
Hujan deras disertai angin kencang bertiup menggoyangkan pelepah pohon pisang dan atap seng dapur.
Aku berdiri di ruang tengah, merapikan tujuh botol kaca berisi air mawar segar di dalam goni.
“Mas... kamu benar-benar harus pergi menyembelih kambing hitam itu malam ini?” tanya Ningsih berbisik gemetar.
“Iya, Ningsih, puncaknya malam Jumat Kliwon adalah batas penetapan sajen,” jawabku pelan.
“Apakah kamu tidak bisa meminta Ujang atau Simbah menemani langkahmu ke bukit sana, Mas?” tanyanya cemas.
“Simbah menegaskan kalau ritual penyembelihan ini wajib kujalankan sendirian tanpa pendamping, Ningsih,” tegasku.
“Aku takut sekali kalau kamu tidak bisa pulang kembali ke rumah ini, Mas,” rintih Ningsih menangis terisak.
“Jangan biarkan rasa cemas merusak pikiranmu malam ini, Ningsih,” bujukku pelan memegang bahunya.
“Aku pasti akan pulang kembali membawa keselamatan buat keluarga kita,” janji serakku menenangkan.
“Tolong jaga Dedek baik-baik di dalam kamar tidur selama aku pergi ke puncak bukit,” pesanku mengarahkan.
“Iya, Mas, aku akan memeluk Dedek di kamar dan berdoa terus sampai kamu kembali,” sahut Ningsih terisak.
“Jangan pernah membuka pintu dapur buat siapa pun sebelum mendengar ketukan tiga kali dariku,” pesanku lagi.
“Baik, Mas, aku mengerti pesanmu, aku pasti akan menunggu ketukan tiga kali darimu,” janji Ningsih.
Aku mengangguk pelan, lalu menyelipkan sebilah pisau dapur tajam yang sudah diasah di saku kemeja.
Kantong goni berisi tujuh botol air mawar segar kuselempangkan rapat di atas pundak kiriku.
Aku melangkah keluar lewat pintu dapur belakang, menuju pondok bambu kurungan kambing kendit.
Srik!
Suara selot pintu bambu pondok kurungan kutarik perlahan di tengah lelehan air hujan dingin.
Sabuk bulu putih mulus di perut kambing itu memancarkan pendar pendar redup di dalam kegelapan.
Kambing kendit itu membisu kaku tanpa mengembik sedikit pun, menuruti tarikan tali tambang di tanganku.
“Ingat pesan Pak Wiryo, jangan pernah biarkan kambing ini bersuara di jalanan hutan!” bisikku mengingatkan diri.
Aku menuntun kambing kendit hitam itu melangkah meninggalkan halaman rumah panggung kami.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku yang bertelanjang menapak cepat di atas permukaan jalanan tanah setapak yang basah.
Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja busuk tercium sangat pekat menyertai setiap langkah kami.
“Aku harus bertahan demi keselamatan Ningsih dan Dedek,” bisikku pelan menguatkan tekad dada.
“Ritual puncak penyembelihan malam ini harus tuntas tanpa ada cela sedikit pun!” desisku bertekad.
“Tolong berikan hamba keberanian dan perlindungan ya Allah buat melewati ujian gaib ini!” mohonku gemetar.
Jalanan tanah setapak menuju puncak bukit terasa kian menanjak licin dan sangat gelap.
Kambing kendit di belakangku melangkah kaku bagaikan patung kayu, menuruti tarikan tali tambang.
Srik!
Suara gersak dedaunan kering di balik rumpun bambu membuat langkah kakiku mendadak terhenti kaku.
Bayangan hitam tinggi besar berdiri membungkuk di balik rimbunan pohon pisang liar.
Dua titik mata merah menyala menatapku lurus-lurus dari balik kegelapan semak-semak hutan.
“Siapa yang berdiri di balik pohon pisang itu?” tanyaku berbisik dengan nada suara bergetar hebat.
“Apakah kamu utusan gaib dari Makam Keramat Panjang yang sengaja mengawasi langkahku?” tanyaku tegang.
“Jawab pertanyaan saya sekarang kalau kamu memang penunggu hutan ini!” seruku berusaha tegar.
Tidak ada jawaban suara kata manusia yang membalas bisikan ketakutanku di tengah hutan sepi.
Namun desah napas dingin berbau bangkai busuk terasa menyapu lembut tengkuk leher kiriku.
Suara tawa serak seorang wanita tua mendadak bergema sangat dekat di samping daun telinga.
“Surya... bawa kambing kendit hitam itu ke batu nisan tempat rumahku...” bisik suara gaib itu.
“Sembelih lehernya dan siramkan tujuh liter air mawar di atas gundukan tanahku...” tambah suara mendesis.
“Anakmu di rumah sedang menunggu kepulanganmu membawa kepastian keselamatan...” lanjut suara dingin itu.
Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak bagaikan ditusuk ribuan jarum es membekukan.
“Ingat kata Pak Wiryo, jangan pernah menoleh ke belakang sedikit pun!” bisikku mengingatkan diri.
“Fokuskan pikiran cuma buat sampai ke puncak bukit makam keramat!” tegasku menguatkan hati.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, lalu melangkah berlari sekuat tenaga menaiki tanjakan bukit.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak keras di atas bebatuan licin dan perakaran pohon jati tua yang melilit.
Di ujung tanjakan bukit, dua tiang batu hitam berlumut berdiri menatap anggun dan angker.
Makam Keramat Panjang terhampar membisu di bawah naungan pohon kamboja raksasa yang rindang.
Gundukan tanah makam sepanjang lima meter itu membentang kaku di atas tanah pelataran bukit.
Cklek!
Suara dentang jam dinding dari balai desa di kejauhan terdengar berbunyi dua belas kali berturut-turut.
Tepat pukul dua belas malam, puncaknya malam Jumat Kliwon yang paling sakral dan mengerikan.
Aku menuntun kambing kendit hitam itu mendekati batu nisan tua di ujung gundukan makam.
“Permisi, Mbah... saya Surya datang membawa sajen kambing kendit Jumat Kliwon,” bisikku gemetar.
“Saya datang buat menepati janji puncak penetapan sajen keselamatan keluarga saya,” tambahku serak.
“Saya mohon dengan sangat, lindungilah anak dan istri saya dari bahaya gaib,” pintaku memohon ampun.
Grombol!
Tanah merah di atas gundukan makam sepanjang lima meter itu mendadak berguncang sangat hebat.
Retakan-retakan tanah terbuka lebar, mengeluarkan asap hitam tebal yang berbau bangkai menyengat.
Dua lengan hitam raksasa berdaging busuk menerobos keluar dari dalam gundukan tanah makam.
Jemari berkerut dengan kuku-kuku hitam panjang mencengkeram erat pinggiran batu nisan tua.
Sosok mahluk raksasa tinggi besar membungkuk berdiri perlahan di atas gundukan tanah makam.
Wajahnya yang hancur membusuk tidak memiliki hidung, dan dua titik matanya menyala merah terang.
“Surya... kamu datang membawa kambing kendit hitam dan tujuh liter air mawar...” gemuruh suara gaib.
“Apakah kamu benar-benar membawa kambing kendit dengan sabuk putih di perutnya malam ini?” tanyanya.
Aku terpaku kaku berlutut di atas tanah basah, dadaku bergemuruh dihantam rasa takut luar biasa.
“Saya datang membawa kambing kendit hitam dengan sabuk putih mulus di perutnya, Mbah,” sahutku.
“Saya juga membawa tujuh botol air mawar segar di dalam kantong goni ini,” tambahku menjelaskan.
“Siramkan seluruh air mawar itu ke atas batu nisanku dari ujung ke ujung!” perintah mahluk itu.
“Sembelih leher kambing kendit itu dan tumpahkan darahnya tepat di atas nisanku sekarang!” serunya.
Grojok!
Dengan jemari gemetar hebat, aku melepaskan sumpul tujuh botol kaca air mawar dari tas goni.
Cairan air mawar harum menyiram permukaan batu nisan, menyebarkan aroma wangi gaib yang pekat.
Aroma wangi mawar bercampur dengan asap hitam makam, menciptakan pusing hebat di dalam kepalaku.
Setelah itu, aku menekan tubuh kambing kendit hitam itu bersujud di atas batu nisan tua.
Kambing kendit itu tetap membisu kaku tanpa mengembik sedikit pun, menempelkan lehernya di batu nisan.
Aku merogoh pisau dapur berbilah tajam dari saku kemeja dengan jemari tangan kanan yang gemetar.
Sret!
Bilah pisau dapur tajam kugoreskan keras menembus urat leher kambing kendit hitam tersebut.
Darah segar berwarna merah gelap memancar keras menyembur membasahi permukaan batu nisan tua.
Aroma wangi amis darah menyengat pekat membumbung tinggi bercampur dengan asap hitam makam.
Kambing kendit itu berguncang kejang sebentar di atas nisan sebelum akhirnya terkulai mati kaku.
Begitu darah kambing kendit terserap tanah, mahluk raksasa itu mengaum keras mengerikan.
Auman gaib itu bergemuruh hebat mengguncang seluruh pepohonan hutan dan tanah pelataran bukit.
“Darah manis kambing kendit ini sangat nikmat membakar dahagaku yang menanti!” seru mahluk itu.
“Wangi air mawar dan darah segar ini menyempurnakan penetapan perjanjian gaib kita!” tambahnya.
Mahluk raksasa itu membungkukkan wajah hancurnya tepat di atas batu nisan yang berlumur darah.
Mulut besarnya yang bertaring tajam mengisap lelehan darah segar kambing kendit dari batu nisan.
Pendar cahaya merah menyala dari matanya makin berkilau terang di dalam kegelapan malam.
“Sajen darah kambing kendit Jumat Kliwon sudah kuterima utuh dan sempurna, Surya!” gemuruh suara gaib.
“Anak dan istri mu sekarang sudah lepas total dari ancaman pencabutan nyawa gaibku!” tegas mahluk itu.
“Rumah dan tokomu akan selalu dilindungi oleh pendar tuah keberkahan gaibku!” lanjutnya memberitahu.
Jantungku melonjak keharuan luar biasa mendengar kepastian keselamatan anak dan istri kandungku.
“Terima kasih banyak, Mbah! Terima kasih atas keselamatan keluarga saya!” jeritku menangis lega.
“Saya bersujud syukur yang sebesar-besarnya karena anak saya sudah selamat utuh malam ini!” tambahku.
“Ingat baik-baik, ikatan perjanjian modal gaib ini tetap berlaku abadi seumur hidupmu!” ancam mahluk itu.
“Setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon kamu wajib datang menjalankan kewajiban sajen!” tegasnya.
“Tanda batu nisan di kuku jempolmu adalah bukti sah kepemilikan jiwamu di rumahku!” lanjut mahluk itu.
“Kalau kamu alpa satu kali saja... raga dan jiwamu yang langsung kucabut masuk ke tanah!” gertaknya.
“Saya janji tidak akan pernah alpa, Mbah! Saya akan selalu datang mematuhi perintah!” sahutku.
“Saya akan rajin membawa sajen dan membersihkan batu nisanmu setiap jadwal ritual!” janjiku.
“Pulanglah sekarang sebelum kegelapan malam menelan raga dan jiwamu!” perintah mahluk raksasa itu.
“Pergilah sekarang menemui istri dan anakmu yang sedang menunggu di rumah!” serunya bergemuruh.
Aku berlari menuruni bukit tanpa berani menoleh ke belakang sedikit pun jua di jalanan setapak.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak deras menembus kegelapan jalanan tanah setapak yang licin berembun.
Aroma wangi bunga kantil busuk dan bau bangkai perlahan-lahan memudar hilang ditiup angin.
Sesampainya di halaman rumah panggung, aku segera mendorong pintu dapur belakang dan menguncinya.
Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk pintu dapur tiga kali sesuai dengan kode janji yang kubuat bersama Ningsih.
Ningsih bergegas membuka selot kayu pintu dapur dari dalam dengan raut wajah lega luar biasa.
“Alhamdulillah ya Allah... kamu sudah pulang kembali dengan selamat, Mas!” jerit Ningsih memelukku.
“Aku sudah menuntaskan seluruh ritual sajen kambing kendit di atas bukit, Ningsih,” jawabku.
Aku meletakkan pisau dapur dan botol kaca kosong di atas meja kayu dapur.
Dedek sedang tertidur pulas di atas ranjang bambu dengan nafas yang sangat halus dan teratur.
Wajah anak kami terlihat sangat bersih, hangat, dan bebas dari bekas pendar memar hitam gaib.
“Bagaimana kondisi tempat makam keramat itu saat kamu menyembelih kambing tadi, Mas?” tanya Ningsih.
“Suasana di makam itu sangat mencekam dan menakutkan, Ningsih,” jawabku berbisik jujur.
“Apakah mahluk gaib penunggu makam itu benar-benar menerima sajen kambing kenditmu, Mas?” tanya Ningsih.
“Mahluk itu menerima seluruh sajen kambing kendit dan tujuh liter air mawar, Ningsih,” tuturnya.
“Penunggu makam sudah berjanji melepaskan anak dan istri kita dari ancaman kematian,” tambahku.
“Beliau bilang rumah dan toko kita aman selama aku mematuhi jadwal ritual,” tuturku menghibur.
“Alhamdulillah ya Allah... terima kasih banyak sudah menyelamatkan keluarga kami malam ini,” rintih Ningsih.
“Tapi tolong perlihatkan jempol tangan kananmu sekarang, Mas,” minta Ningsih berbisik cemas.
Aku perlahan menyodorkan ibu jari tangan kananku di bawah pendar redup lampu minyak tanah.
Di bawah kuku ibu jari tangan kananku, noda hitam berbentuk batu nisan tidak menghilang.
Noda batu nisan gaib itu kini memancarkan pendar cahaya kebiruan redup yang sangat pekat dan abadi.
Garis-garis hitam kebiruan menyerupai akar pohon tua telah merambat melingkari seluruh kuku dan daging jempolku.
“Tanda nisan di kukumu ini benar-benar terpatri abadi di dalam dagingmu ya, Mas?” tanya Ningsih.
“Tanda hitam ini adalah segel perjanjian seumur hidup yang wajib kutanggung, Ningsih,” jawabku.
“Selama aku mematuhi jadwal ritual, tanda ini tidak akan membahayakan nyawa kalian,” jelasku.
“Apakah tanda hitam ini terasa sangat dingin menyengat saat kamu menyentuh barang, Mas?” tanya Ningsih.
“Rasa nyerinya seperti tusukan es batu yang membeku, tapi aku bisa menahannya demi kalian,” jawabku.
Ningsih memeluk erat tubuhku, menangis terisak di atas dadaku dengan kepasrahan yang dalam.
“Aku akan selalu menemanimu menghadapi ujian berat perjanjian ini, Mas,” bisik Ningsih penuh haru.
“Kita tanggung beban gaib ini bersama-sama demi masa depan dan keselamatan Dedek,” sambungnya.
Aku membalas pelukan Ningsih dengan derai air mata keharuan dan tekad yang makin terpatri bulat.
Dedek menggeliat pelan di atas ranjang bambu, tersenum manis di dalam tidurnya yang tenang.
Wajah anak kami terlihat sangat polos, dilindungi oleh pengorbanan jiwa ayahnya sendiri.
Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah resmi menjadi garis takdir hidupku.
Noda batu nisan di bawah kuku ibu jariku akan menjadi saksi abadi pengorbananku demi keluarga.
--