Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Waktu terus bergulir, tetapi tanda-tanda keberadaan Ethan sama sekali tidak terlihat. Bella melirik jam tangan peraknya—sudah hampir dua jam ia duduk terpaku di sofa lobi. Rasa jenuh dan gelisah mulai bercampur aduk, membuatnya tidak bisa lagi hanya tinggal diam menunggu.
Bella merogoh tasnya, mengambil ponsel, lalu mencari kontak nama Ethan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menekan tombol panggil. Ponselnya segera menempel di telinga.
Namun, bukan nada sambung yang terdengar, melainkan suara robot wanita yang datar dan dingin.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Bella menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap layar dengan kening berkerut. Ia mengembuskan napas panjang, lalu mencoba menelepon kembali. Satu kali, dua kali, tiga kali—Bella terus menekan tombol panggil tanpa menyerah. Tetap saja, hasilnya sama. Suara operator itu kembali menggema, menegaskan bahwa nomor Ethan benar-benar tidak bisa dihubungi.
Rasa kecewa yang amat sangat mulai merayap di dada Bella. Ia tahu Ethan sengaja. Rapat penting sekalipun biasanya tidak akan membuat seorang direktur mematikan total ponselnya, kecuali jika mereka memang sengaja ingin menutup diri dari dunia luar. Atau lebih tepatnya, sengaja menghindari Bella.
Bella menurunkan ponselnya perlahan, menggenggam benda pipih itu dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap nanar ke arah meja resepsionis. Harapan yang tadinya ia bawa dari rumah kini perlahan mengikis, digantikan oleh rasa sesak yang kian menghimpit hatinya.
Dari sudut lobi, seorang petugas sekuriti yang sejak tadi memperhatikan Bella berjalan mendekati meja resepsionis. Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke meja, lalu berbisik dengan nada mencemooh.
"Siapa sih wanita itu? Pakaiannya sederhana banget," tanya sekuriti itu kepada sang resepsionis. Ia melirik sinis ke arah sofa tempat Bella duduk. "Mana mungkin dia kenal sama Pak Ethan."
Resepsionis itu langsung melotot kecil, memberi isyarat agar rekan kerjanya menjaga ucapan. "Ssst, jangan keras-keras! Dia itu adik kandungnya Pak Ethan, loh," jawabnya setengah berbisik.
"Adik kandung?!" Sekuriti itu terbelalak kaget. Ia kembali menatap Bella, kali ini dengan tatapan tidak percaya. "Masa, sih? Aku pernah lihat adik Pak Ethan yang lain waktu menjemput di sekolah elit terkenal. Kelihatannya tidak sekucal ini. Modis dan kelihatan berkelas banget, beda jauh sama yang ini."
Kalau yang itu kan putri bungsu mereka. Nah, kalau yang ini putri sulung keluarga ningrat," balas resepsionis itu dengan nada suara yang sengaja diperkecil. "Kisah hidupnya sebenarnya cukup menyedihkan. Katanya, dulu orang tua mereka meninggal karena kecelakaan. Dia sangat terpukul sampai jatuh sakit parah. Sejak saat itu, dia selalu dirawat di rumah dan hampir tidak pernah keluar lagi."
Sekuriti itu mengangguk-angguk paham, tatapan sinisnya kini berubah menjadi iba. "Benar-benar gadis yang malang," gumam sang sekuriti sembari menatap sendu ke arah bella
"Kok masih tidak tersambung, sih?" keluh Bella pelan, mulai merasa frustrasi. Ia menurunkan ponselnya dari telinga dengan helaan napas berat. "Ya sudah, kirim pesan saja kalau begitu."
Jemari Bella mulai bergerak lincah di atas layar sentuh ponselnya. Dengan sisa-sisa harapan yang ia miliki, ia mengetikkan bait demi bait kalimat, menumpahkan permohonan yang paling ia inginkan hari ini.
Kak Ethan, ini Bella. Hari ini ulang tahun Bella. Bisakah Kakak pulang ke rumah hari ini saja? Ajak kakak-kakak yang lain dan juga Olivia. Bella sekarang mau pulang untuk memasak makanan kesukaan kalian. Bella tunggu kalian di rumah, ya.
Setelah menatap kalimat itu selama beberapa detik dengan dada yang bergemuruh, Bella akhirnya menekan tombol kirim. Ia menatap status pesan yang kini berubah menjadi terkirim, berharap di sela-sela rapat pentingnya, Ethan akan sempat membaca pesan itu dan melunakkan hatinya.
Sambil mengantongi kembali ponselnya, Bella bangkit dari sofa lobi kantor yang dingin itu dengan tekad baru. Wajah pucatnya akibat menahan lapar mendadak sirna, digantikan binar penuh harap. Ia harus segera pulang dan menyiapkan makan malam terbaik untuk menyambut kedatangan kakak-kakaknya.
"Kok masih di sini?" tanya sekuriti itu ramah saat melihat Bella masih berdiri di dekat area lobi. Karena merasa iba dengan kondisi Bella, ia tersenyum tulus. "Ayo pulang, sudah mau larut. Nanti tidak kebagian angkutan."
Namun, Bella hanya diam. Ia memberikan senyum tipis yang sarat akan kepedihan, sebuah senyuman yang menyembunyikan rahasia besar di dalam hidupnya.
"Sebenarnya, aku juga tidak harus bertemu dengan Kak Ethan," ucap Bella lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada sang sekuriti. Ia menjeda kalimatnya, menatap hampa ke arah lantai marmer. "Hanya saja... karena ajalku sudah dekat, aku masih merasa sedikit tidak rela. Aku cuma punya sedikit harapan kosong."
Setelah mengucapkan kalimat misterius yang membuat sekuriti itu terpaku bingung, Bella membalikkan badan. Ia melangkah keluar meninggalkan gedung kantor Ethan yang megah. Hari ini ia gagal menemui kakaknya, tetapi di dalam hatinya, harapan kecil yang ia sebut kosong itu masih berdenyut lirih sewaktu ia berjalan pulang.
Langkah kaki Bella terasa semakin berat begitu ia melewati pintu kaca gedung kantor Ethan. Udara malam yang berembus di jalanan ibu kota langsung menyergap tubuhnya yang rapuh. Kehangatan semu dari binar harapan di lobi tadi kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Baru beberapa puluh meter ia berjalan menyusuri trotoar, tiba-tiba rasa nyeri yang amat dahsyat menghantam bagian dadanya.
Bella tersentak. Langkahnya terhenti seketika. Ia refleks mencengkeram sweter rajut di bagian dadanya dengan amat kuat, seolah-olah dengan cara itu ia bisa meredam rasa sakit yang seperti meremukkan tulang rusuknya. Napasnya mendadak tercekat di tenggorokan. Setiap kali ia mencoba menarik oksigen, dadanya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum tak kasatmata.
Jangan sekarang... kumohon, jangan sekarang, batin Bella menjerit panik.
Tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis dan membasahi punggungnya, meskipun angin malam berembus kencang. Sudut matanya memanas, dan detik berikutnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh berkejaran di pipinya yang kian memucat. Pandangannya perlahan mulai mengabur, sementara kepalanya terasa berdenyut-denyut kencang, berputar menahan pening yang luar biasa.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Bella menyeret langkahnya mendekati sebuah halte bus yang tampak sepi tidak jauh di depannya. Ia menyandarkan tubuhnya yang lunglai pada tiang besi di sana, lalu perlahan merosot hingga terduduk di atas bangku panjang halte. Tangannya yang gemetar meraba-raba ke dalam tas, mencari botol obat kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Namun, genggaman jemarinya begitu lemah. Botol obat itu justru tergelincir dari tangannya dan jatuh mencium lantai semen halte, menggelinding menjauh ke tempat yang gelap. Bella menatap botol itu dengan pandangan sayu dan napas yang terengah-engah. Di tengah rasa sakit yang kian menggerogoti kesadarannya, wajah Olivia yang sedang tersenyum menantinya di rumah kembali terlintas. Bella memejamkan mata erat-erat, menggigit bibir bawahnya demi menghalau rasa sakit, bertekad bahwa ia tidak boleh tumbang di tempat ini sebelum bisa memasak untuk keluarganya.
Bella mencengkeram pinggiran bangku halte, jari-jarinya memutih menahan rasa sakit yang kian mengganas di dalam dadanya. Dengan pandangan yang semakin kabur dan berbayang, ia memaksakan matanya tetap terbuka, menatap botol obat yang tergeletak beberapa meter di depannya.
"O-olivia... Kak Ethan... kak aaron... Kak Charles" bisik Bella parau. Suaranya tenggelam oleh deru angin malam dan klakson kendaraan yang melintas di kejauhan.
Setiap embusan napas kini terasa seperti racun yang membakar paru-parunya. Tangan kirinya yang disembunyikan di dalam saku jaket terasa kaku dan mati rasa. Ketika Bella dengan gemetar menarik tangan itu keluar untuk bertumpu, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di bawah temaram lampu halte yang berkedip-kedip redup, garis hitam pekat di telapak tangannya telah merambat naik drastis—kini menjalar melewati pangkal jemari dan mulai mengular ke arah pergelangan tangannya.
Waktunya tidak lagi dihitung dalam hari atau jam, melainkan detik.
Ketakutan akan kematian yang begitu dekat memaksa tubuh Bella bergerak di luar batas kemampuannya. Sambil terus meremas dadanya yang berdenyut menyakitkan, ia merosot dari bangku. Dengan lutut yang gemetar hebat, Bella merangkak di atas lantai semen halte yang dingin dan kotor, mengabaikan tatapan heran satu-dua pejalan kaki yang melintas terburu-buru.
Jemari Bella yang dingin akhirnya berhasil menyentuh botol obat itu. Namun, tepat saat ia hendak menggenggamnya, sebuah bayangan tinggi besar tiba-tiba berdiri di depannya, menghalangi pendar lampu jalan.
Sepasang sepatu kulit hitam yang mengilat dan bersih berhenti tepat di depan botol obat Bella.
Bella mendongak dengan sisa kesadarannya yang kian menipis. Melalui pandangannya yang buram oleh air mata dan pening, ia melihat seorang pria bertubuh jangkung berdiri tegak dengan setelan jas rapi. Wajah pria itu perlahan menjadi jelas.
Jantung Bella mencelos. Itu bukan Ethan.
Pria itu berjongkok perlahan, lalu memungut botol obat Bella. Alih-alih langsung memberikannya, pria itu justru membalikkan telapak tangan kanannya sendiri di hadapan Bella. Di atas kulitnya yang bersih, sebuah gurat hitam yang identik tampak terukir samar, berdenyut pelan seolah merespons garis kematian di tangan Bella.
Pria itu menatap mata Bella dengan pandangan yang dipenuhi rasa terkejut dan pengertian yang mendalam.
"Kau tidak sendirian, Bella," bisik pria itu dengan suara bariton yang rendah dan hangat. "Nama saya Julian. Dan kurasa... kita memikul kutukan yang sama."
Julian langsung bergerak cepat. Tanpa membuang waktu, ia membuka tutup botol obat tersebut, menuangkan sebutir pil ke telapak tangannya, dan perlahan membantu Bella yang sudah sangat lemas untuk menelannya.
"Tenang, Bella. Tarik napas perlahan," ucap Julian dengan nada suara yang tenang namun tegas, mencoba menstabilkan kepanikan gadis itu.
Ajaibnya, hanya beberapa saat setelah obat itu masuk, rasa sakit yang seperti menusuk ribuan jarum di dada Bella perlahan mereda. Napasnya yang tadinya memburu pendek kini mulai teratur, meskipun tubuhnya masih bergetar hebat dan wajahnya tetap sepucat kertas. Garis hitam di pergelangan tangannya pun berhenti merambat, kembali statis seolah mendadak lumpuh.
Melihat kondisi Bella yang masih terlalu rapuh untuk berdiri sendiri, Julian langsung menyelipkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Bella. Dengan satu gerakan mantap, Julian mengangkat tubuh Bella ke dalam dekapannya.
"Kita tidak bisa tetap di sini. Udara malam ini terlalu berbahaya untuk kondisimu," kata Julian serius.
Ia membawa Bella pergi dari halte yang dingin itu menuju sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir darurat di pinggir jalan dengan lampu hazard yang menyala. Supir pribadi Julian dengan sigap langsung membukakan pintu belakang. Julian merebahkan Bella di kursi penumpang yang hangat dan empuk, lalu ia sendiri ikut duduk di sampingnya.
Saat mobil mulai melaju membelah jalanan kota yang basah, Bella menyandarkan kepalanya yang masih pening pada jok mobil. Harapan kosongnya untuk pulang dan memasak malam ini mendadak buyar, digantikan oleh sejuta pertanyaan tentang pria asing di sebelahnya.
Tiba-tiba
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~