Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
"Kekasih...?"
Gumam Christie lirih, suaranya bergetar hebat di udara lift yang dingin.
Pengakuan santai dari mulut Hazel bagai hantaman palu raksasa yang meremukkan harga dirinya hingga berkeping-keping.
Christie berdiri kaku dengan mata membelalak lebar, mengamati Hazel dari ujung rambut hingga ujung kaki sekali lagi.
Inikah wanita itu? Inikah sosok misterius yang membuat Jameson menyerahkan kehormatannya di atas karpet foyer?!
Perasaan syok yang melumpuhkan Christie seketika berubah menjadi gelombang dengki dan amarah yang luar biasa pekat.
Di mata Christie yang dipenuhi oleh standar kebangsawanan palsu, Hazel sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya.
Wanita di hadapannya ini hanya mengenakan jaket kebesaran yang lusuh, celana tidur longgar, dan wajah polos tanpa sentuhan kosmetik sedikit pun.
Sangat jauh dari gambaran model internasional berkelas yang selama ini Christie bayangkan sebagai saingannya.
Ting!
Denting nyaring lift berbunyi, menandakan mereka telah sampai di lantai area penthouse eksklusif.
Pintu besi bergeser terbuka lebar.
Tanpa mempedulikan ekspresi syok dan tatapan membunuh dari Christie yang ia anggap sebagai wanita narsis yang tidak penting, Hazel melangkah keluar dari lift dengan santai.
Jemari tangannya meremas pelan area perutnya yang masih berdenyut nyeri.
Namun, baru dua langkah Hazel menapak di atas karpet lorong yang tebal...
Sret!
Sebuah cengkeraman kasar dan berani mendadak menyambar bahunya dari belakang.
Christie menarik tubuh Hazel dengan tenaga berlebihan, melemparkannya hingga punggung Hazel menghantam dinding marmer lorong dengan keras.
BRAK!
"Uhg..." Hazel meringis pelan, memejamkan matanya sejenak saat rasa sakit di punggungnya beradu dengan denyutan hebat di perut bawahnya.
"Beraninya kau merebut JB dariku, Bitch!" raung Christie dengan wajah yang memerah padam oleh amarah, mengepalkan kedua tangannya di samping kepala Hazel, mengunci wanita itu di tembok.
Hazel perlahan membuka matanya.
Tatapan matanya tetap tenang, datar, dan sangat dingin—sebuah ketenangan abnormal yang justru tampak mengerikan di tengah gertakan keras Christie.
"JB?" bisik Hazel pelan, memiringkan kepalanya sedikit.
"JB siapa?"
"Jangan berpura-pura bodoh di hadapanku!" desis Christie dengan gigi merapat kaku.
"Jameson Baxter Ashford adalah kekasihku! Pria yang kau goda dan kau jebak di penthouse-nya malam kemarin adalah milikku!"
"Ouhh..." sahut Hazel singkat, mengangguk-angguk pelan dengan ekspresi santai seolah baru saja mendengar informasi cuaca yang tidak menarik.
Sikap acuh tak acuh dan hening dari Hazel makin menyulut gila emosi Christie.
Pria yang selama ini ia agungkan dan takutkan, justru ditanggapi dengan helaan napas meremehkan oleh wanita berpakaian tidur ini.
"Oh?!" teriak Christie frustrasi, mencengkeram kerah jaket oversized Hazel.
"Jauhi dia atau aku akan mencabikmu hidup-hidup! Katakan padaku sekarang... di mana nomor unit apartemen JB?!"
Hazel menyunggingkan senyum tipis—sebuah kurva bibir yang amat sangat dingin dan bernada mencemooh.
Ia menatap lurus ke dalam pupil mata Christie yang membesar oleh amarah.
"Kau mengaku sebagai kekasihnya..." kata Hazel dengan nada suara yang sangat halus, hampir menyerupai bisikan lembut, "...lalu kenapa kau justru bertanya padaku di mana letak pintu rumah pria milikmu sendiri?"
"Kau...!"
Christie menggeram kencang, mengangkat tangannya seolah siap melayangkan tamparan keras ke wajah porselen Hazel.
"Tutup mulutmu! Kau hanyalah pemuas gairah sementara yang kebetulan lewat! Begitu JB bosan dengan tubuh murahanmu, dia akan mencampakkanmu ke tempat sampah!"
Hazel tidak berkedip sedikit pun saat telapak tangan Christie melayang beberapa sentimeter dari wajahnya.
Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat pekat, hampa, dan menyiratkan kegelapan psikopat yang mengerikan—sebuah aura mematikan milik seorang eksekutor rahasia yang biasa mencabut nyawa tanpa penyesalan.
"Mencabikku hidup-hidup, hm?" bisik Hazel, suaranya turun hingga ke frekuensi terendah yang sanggup mendinginkan darah siapa pun yang mendengarnya.
"Kau tahu... orang-orang yang pernah melontarkan ancaman seperti itu padaku di masa lalu... biasanya berakhir dengan pita suara yang terputus di dalam gelap. Tanpa ada satu orang pun yang mendengar jeritan mereka."
Christie tersentak kaku.
Aura membunuh yang memancar kuat dari tubuh Hazel membuat jemari Christie yang semula mencengkeram kerah jaket Hazel mendadak gemetar hebat.
Rasa takut yang tak masuk akal merayap tajam ke tengkuknya.
Namun, rasa gengsi dan amarah melumpuhkan akal sehat Christie. Ia memaksakan tawanya pecah secara histeris di lorong yang sunyi.
"Ha! Kau mengancamku?!" cetus Christie dengan nada gemetar, menunjuk ke sudut atas dinding lorong.
"Kau pikir aku takut?! Di sini ada banyak kamera CCTV! Sekali saja kau menyentuhku, aku pastikan kau membusuk di penjara atas tuduhan penganiayaan dan ancaman pembunuhan! Jangan macam-macam padaku, Bitch!"
Hazel menyunggingkan senyum miring yang teramat sangat mengerikan.
Sebelum Christie sempat menyadari apa yang terjadi, gerakan Hazel bergerak secepat kilat.
Dengan satu sapuan kaki yang presisi menghantam bagian belakang lutut Christie, Hazel melumpuhkan keseimbangan wanita itu.
Christie membelalak kaget saat tubuhnya ambruk ke atas karpet tebal, dan dalam hitungan detik berikutnya, Hazel sudah berada di atas tubuhnya—menduduki perut Christie dengan tumpuan lutut yang mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya.
"Ugh! Lepaskan aku!" jerit Christie histeris, berusaha memukul dan mencakar, namun Hazel dengan mudah mencengkeram kedua pergelangan tangan Christie dan menancapkannya kencang ke atas karpet di samping kepalanya.
Hazel menundukkan fisiknya, menempelkan wajahnya hanya berjarak satu sentimeter dari hidung Christie.
Matanya yang dingin menatap Christie bagai seekor pemangsa yang siap menguliti korbannya tanpa ampun.
"Kamera CCTV?" bisik Hazel dengan kekehan rendah yang terdengar amat sangat gila dan memikat.
"Kau pikir benda mati di sudut sana bisa menyelamatkanmu jika dalam tiga detik aku memutuskan untuk mematahkan leher indahmu ini?"
Christie menganga kaku, seluruh keberaniannya menguap tanpa sisa.
Keringat dingin menetes tajam di pelipisnya saat merasakan cengkeraman jemari Hazel di tangannya terasa bagai cengkeraman besi yang siap meremukkan tulang.
Sementara itu, di dalam unit penthouse utama...
Jameson yang sudah tidak sabar menunggu kehadiran Hazel sejak sore tadi, memutuskan untuk keluar.
Pria itu baru saja mengenakan kaus hitam santai dan celana kain, berniat turun ke area bawah hanya untuk menghirup udara segar dan memeriksa apakah Hazel tertahan di pos penjagaan bawah.
Klek.
Jameson membuka pintu utama penthouse-nya dan melangkah keluar menuju lorong.
Namun, baru dua langkah pria Ashford itu berjalan...
Deg.
Langkah kaki Jameson membeku seketika di atas karpet.
Sepasang mata hazel-nya membelalak lebar dalam kejutan luar biasa saat menyaksikan pemandangan yang terhampar beberapa meter di hadapannya.
Di sana, di tengah lorong yang sunyi, Hazel yang mengenakan celana tidur abu-abu dan jaket oversized tampak sedang menduduki tubuh Christie di atas lantai, mengunci kedua tangan mantan kekasihnya itu dengan aura mematikan yang teramat sangat pekat.
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣