Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertukaran yang ingkar
Ruang mediasi di gedung kepolisian pusat itu terasa sangat dingin, sedingin es yang membekukan aliran darah Juwita. Ruangan ber-AC dengan perabotan kayu jati mewah ini sengaja dipinjamkan secara khusus oleh kepala kepolisian untuk tamu VIP mereka. Di balik meja panjang, Riko Aditama duduk bersandar dengan angkuh. Kemeja mahalnya tampak rapi tanpa cela, dan perban putih yang menyembul di balik kerah bajunya adalah satu-satunya pengingat akan insiden berdarah tiga hari lalu.
Di seberang meja, Juwita duduk dengan tubuh gemetar. Lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan malam-malam tanpa tidur dan air mata yang tak kunjung kering. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja memohon kepada sipir penjara untuk memberikan obat asma ibunya, namun permohonan itu ditolak mentah-mentah dengan alasan birokrasi. Ia melihat ibunya batuk mengeluarkan darah di balik jeruji besi, menua sepuluh tahun hanya dalam waktu tiga hari.
"Waktuku tidak banyak, Juwita," suara bariton Riko memecah keheningan yang mencekik. Pria paruh baya itu menyesap kopi hitamnya dengan tenang, matanya menatap tajam gadis remaja di hadapannya layaknya seekor elang yang sedang mempermainkan mangsanya yang terperangkap. "Pengacaraku sudah menyusun berkas tuntutan. Percobaan pembunuhan berencana, penyerangan, dan perampokan. Dengan kondisinya yang penyakitan, ibumu tidak akan bertahan hidup lebih dari enam bulan di dalam sel tahanan basah itu."
Juwita mengepalkan tangannya di atas paha hingga kuku-kukunya memutih. Hatinya menjerit, namun suaranya keluar begitu parau. "Ibu tidak melakukan apa-apa. Anda yang menembak Kevin."
Riko tersenyum sinis. "Kebenaran adalah apa yang dipercayai oleh dunia, Anak Manis. Dan saat ini, dunia percaya bahwa ibumu adalah monster. Hakim mempercayaiku. Media mempercayaiku. Polisi ini... mereka bekerja untukku."
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menopang dagunya dengan kedua tangan yang dihiasi cincin berlian. "Tapi, aku bukan pria yang tidak punya belas kasihan. Aku tahu apa yang kau curi dari laptop Kevin malam itu. Kau memegang salinan data keuanganku, bukan? Bukti transfer, dokumen pajak ganda, dan segala hal kotor yang kau pikir bisa kau gunakan untuk menjatuhkanku."
Napas Juwita tertahan. Riko tahu. Pria itu menyadari bahwa sistemnya telah diretas dan seluruh data perusahaannya telah disedot habis ke dalam sebuah flashdisk kecil yang kini berada di dalam saku jaket Juwita. Itulah satu-satunya senjata yang dimiliki Juwita, satu-satunya daya tawar yang bisa meruntuhkan kerajaan bisnis Aditama.
"Serahkan flashdisk itu padaku sekarang, dan serahkan password dekripsinya," Riko memberikan penawaran dengan nada suara yang nyaris terdengar seperti bisikan iblis. "Jika kau menyerahkannya, aku akan mencabut semua tuntutan. Aku akan bersaksi bahwa ibumu hanya panik dan pistol itu meletus tanpa sengaja saat kami berebut. Pengacaraku akan memastikan ibumu bebas malam ini juga, dan kalian bisa pergi dari kota ini, memulai hidup baru jauh dari keluargaku. Tapi jika kau menolak... aku akan memastikan ibumu membusuk di penjara, dan aku akan menghancurkan masa depanmu hingga kau tidak punya alasan lagi untuk bernapas."
Juwita terdiam kaku. Di dalam otaknya yang jenius, puluhan skenario berputar. Ia tahu memercayai Riko Aditama sama dengan memercayai seekor ular berbisa. Namun, bayangan wajah Dara yang pucat pasi, suara batuk darahnya yang menyayat hati, dan dinginnya lantai penjara melumpuhkan seluruh logika rasional Juwita. Keadilan, balas dendam, kehancuran Riko—semua itu tidak ada harganya dibandingkan nyawa sang ibu.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Juwita merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam—senjata pamungkas yang telah ia susun dengan susah payah, kunci untuk menghancurkan pria yang telah menyiksa hidup mereka. Perlahan, ia meletakkan benda kecil itu di atas meja kayu yang mengilap, lalu mendorongnya ke hadapan Riko.
"Ini," bisik Juwita, air matanya akhirnya lolos, menetes jatuh ke atas meja. "Semua data dari server Anda ada di situ. Password-nya adalah tanggal kelahiran Kevin yang dibalik. Tolong... saya mohon, bebaskan ibu saya. Lakukan apa pun yang Anda mau pada saya, ambil semua hasil karya saya, tapi biarkan ibu saya hidup."
Riko menatap flashdisk itu sejenak. Senyuman tipis dan mematikan mengembang di bibirnya. Ia mengambil flashdisk hitam tersebut, memutarnya di sela-sela jarinya, lalu memasukkannya ke dalam saku dalam jasnya.
"Tanggal kelahiran anakku yang dibalik," gumam Riko pelan, matanya berkilat penuh kemenangan. "Cerdas. Kau benar-benar anak yang cerdas."
Juwita menelan ludahnya, menatap Riko dengan penuh harap. "Sekarang... panggil pengacara Anda. Cabut tuntutannya sekarang juga. Anda sudah berjanji."
Riko Aditama perlahan bangkit dari kursi mewahnya. Ia mengancingkan jasnya dengan gerakan lambat dan elegan. Ia menatap Juwita dari atas ke bawah, pandangan yang sama seperti saat seseorang menatap kotoran di sol sepatu mereka.
Lalu, pria itu mulai tertawa. Tawanya rendah, dingin, dan menggema di dinding-dinding ruang mediasi yang sunyi.
Juwita merasakan darah di tubuhnya mendadak surut. "K-kenapa Anda tertawa? Lakukan janji Anda!"
"Janji?" Riko menghentikan tawanya, menatap Juwita dengan sorot mata yang menggelapkan dunia gadis itu. "Aku adalah pengusaha, Juwita. Dalam bisnis, sebuah kesepakatan hanya berlaku jika kedua belah pihak memiliki kekuatan yang setara. Kau? Kau hanya gadis miskin dari bantaran rel yang kebetulan memiliki otak sedikit lebih pintar dari yang lain. Dan sekarang... kau tidak punya apa-apa lagi."
Mata Juwita membelalak lebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat realitas dari kata-kata Riko menghantamnya bagaikan godam besi. "T-tidak... Anda bilang... Anda berjanji akan membebaskannya!"
"Aku berbohong, Anak Bodoh!" bentak Riko tiba-tiba, mengebrak meja hingga cangkir kopinya berdenting keras. "Kau pikir aku akan membiarkan wanita yang tahu rahasiaku berkeliaran bebas di luar sana? Kau pikir aku akan menanggung malu publik jika ketahuan mencabut tuntutan pada wanita yang nyaris membuat anakku mati? Ibumu akan tetap di penjara. Besok pagi, pengadilannya akan dimulai, dan aku akan memastikan hakim menjatuhkan vonis dua puluh tahun kurungan padanya!"
Juwita terkesiap. Napasnya tersengal seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya. Ia mencoba berdiri, namun lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk kembali. "Brengsek! Kembalikan flashdisk itu! Kembalikan!" jeritnya histeris, berusaha menggapai jas Riko di seberang meja.
Riko dengan mudah menepis tangan Juwita, membuat gadis itu terhuyung mundur. Pria itu mencondongkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Juwita yang dipenuhi lautan air mata dan keputusasaan yang absolut.
"Ini adalah pelajaran terakhir yang kuberikan padamu sebagai pria yang menyumbangkan darahnya untukmu," desis Riko kejam. "Di dunia ini, kecerdasan tidak ada artinya tanpa kekuasaan. Kau kalah, Juwita. Terimalah takdirmu, dan belajarlah hidup sebagai pecundang."
Riko berbalik, berjalan menuju pintu keluar. Dua orang polisi yang berjaga di luar segera membukakan pintu untuknya, menunduk hormat kepada sang konglomerat, sama sekali mengabaikan jeritan tangis seorang gadis remaja di dalam ruangan.
Pintu kayu jati itu tertutup rapat dengan suara debuman keras, meninggalkan Juwita sendirian di dalam ruangan es tersebut.
Juwita jatuh berlutut di atas lantai yang dingin. Ia memeluk dirinya sendiri, menangis meraung-raung hingga suaranya serak. Ia telah menyerahkan satu-satunya senjatanya. Ia telah mengorbankan kerja kerasnya demi nyawa sang ibu, namun iblis itu tetap menelannya hidup-hidup. Keputusasaan yang begitu pekat dan hitam menelan sisa-sisa kewarasannya, menyisakan sebuah lubang besar yang menganga di dalam dadanya.
Namun, di tengah isak tangisnya yang menyayat hati, perlahan-lahan air mata di wajah Juwita berhenti mengalir.
Bahu gadis itu tidak lagi bergetar. Tangisannya mereda, berganti dengan keheningan yang jauh lebih menakutkan dari jeritan mana pun. Juwita mengangkat wajahnya. Matanya yang merah menatap kosong ke arah pintu tempat Riko baru saja keluar. Keputusasaan dan kelemahan di dalam dirinya telah mati hari itu, terbakar habis oleh pengkhianatan paling keji yang bisa dilakukan seorang manusia.
Riko benar. Di dunia ini, kecerdasan tidak ada artinya tanpa kekuasaan. Pria itu menyuruhnya belajar hidup sebagai pecundang. Namun Riko tidak tahu, di dasar jurang yang paling gelap, monster yang sebenarnya baru saja terbangun. Riko telah mengambil senjatanya, namun pria itu lupa bahwa senjata paling mematikan bukanlah data di dalam flashdisk itu—melainkan otak yang menciptakannya.