Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Ujian Pertama di Meja Makan
Mobil sedan hitam bermerek Jerman itu meluncur mulus membelah kawasan elit Menteng, sebelum akhirnya berbelok memasuki sebuah gerbang besi ukir menjulang tinggi.
Pagar otomatis bergeser, menyajikan pemandangan halaman berumput hijau yang luas, lengkap dengan air mancur bergaya klasik dan jajaran mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di pelataran.
Naya menelan ludah. Jemarinya yang bertaut di atas pangkuan meremas kain gaun mewah bertema krem pastel, pilihan khusus dari desainer pribadi yang dikirim Doni ke apartemen tadi siang.
“Rileks,” suara Arka memecah keheningan di dalam mobil. Pria itu menyandarkan punggung, matanya yang tajam menatap lurus ke arah pintu utama mansion bergaya neoklasik di hadapan mereka.
“Genggam lenganku begitu kita keluar. Jangan menunduk, dan jangan ragu saat menjawab pertanyaan Oma.”
“Bagaimana kalau... kalau mereka menanyakan hal yang tidak ada di dalam berkas kesepakatan?” bisik Naya, berusaha meredam getar pada suaranya.
Arka berpaling, menatap Naya tepat di manik matanya. “Maka biarkan aku yang menjawabnya. Tugasmu hanya tersenyum dan berpura-pura sangat mencintaiku.”
Belum sempat Naya membalas, pintu mobil sudah dibukakan dari luar oleh seorang pelayan berseragam rapi. Arka keluar terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya pada Naya.
Dengan napas terengah pelan, Naya menyambut uluran tangan Arka, membiarkan jemari kokoh itu mengapit lengannya dengan posesif.
Begitu mereka melangkahkan kaki menaiki anak tangga marmer menuju pintu utama, pintu kayu jati berukir itu terbuka lebar.
Seorang wanita paruh baya bermuka tirus dengan perhiasan berlian yang mencolok di leher dan pergelangan tangannya menyambut mereka dengan senyum tipis. Di sampingnya, berdiri seorang pria muda bersetelan jas kasual dengan tatapan meremehkan.
“Wah, lihat siapa yang akhirnya datang,” sapa wanita itu dengan nada manis yang dibuat-buat. Tante Vina, ibu dari Rendy, sepupu Arka yang menjadi rival terberatnya di Dirgantara Group.
“Selamat datang di rumah utama, Naya. Kami semua sengaja mengosongkan jadwal hanya untuk menyambut pengantin baru pilihan Arka ini,” imbuh wanita itu.
Rendy melipat tangan di dada, matanya menatap Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki secara terang-terangan. “Pilihan yang sangat... mendadak, Ma. Bahkan kami di jajaran direksi sampai kaget. Rupanya seorang Arka tertarik pada perempuan.”
Naya merasakan ketegangan menjalar di otot-otot lengan Arka yang ia genggam, namun wajah pria itu tetap tenang tak tersentuh.
“Keluarga diprioritaskan di atas segalanya, Rendy. Bukankah itu ajaran Oma sejak dulu?” balas Arka tenang namun sarat intimidasinya. “Lagi pula, tidak ada alasan untuk menunda pernikahan jika memang sudah menemukan orang yang tepat.”
“Sudahlah, Vina, Rendy. Jangan membuat keributan di depan pintu.”
Sebuah suara berwibawa dan agak berat menginterupsi dari arah dalam. Seorang wanita lanjut usia dengan sanggul rapi dan tongkat berukir perak di tangannya berjalan perlahan mendekat. Tanpa kursi roda seperti yang dilihat Naya beberapa hari lalu. Meskipun usianya sudah berkepala tujuh, aura dominan dan ketegasan menguar kuat dari sosoknya.
Oma Soraya.
Seketika itu juga, Tante Vina dan Rendy mundur satu langkah, memberi jalan.
Oma Soraya menghentikan langkahnya tepat beberapa jengkal di depan Arka dan Naya. Pandangannya yang tajam bak elang menghujani Naya.
Naya mengingat pesan Arka, tetap tenang dan berdiri tegak. Ia memberanikan diri menatap balik mata sang petinggi keluarga Dirgantara, lalu menundukkan kepalanya sedikit dengan penuh hormat.
“Selamat sore, Oma,” sapa Naya lembut, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Oma Soraya tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan cara Naya berdiri, gestur tangannya yang menggenggam lengan Arka, hingga ekspresi wajah Naya. Detik-detik keheningan itu terasa bagai keabadian bagi Naya.
“Masuklah,” ujar Oma Soraya akhirnya, suaranya datar tanpa nada emosi. “Makan malam sudah disiapkan. Kita bicara di meja makan.”
Oma memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke dalam, diikuti oleh Vina dan Rendy yang melempar kerlingan sinis sebelum menyusul.
Arka menunduk sedikit ke telinga Naya, berbisik sangat pelan hingga napas hangatnya menyapu kulit leher Naya.
“Bagus. Gelombang pertama berhasil kamu lewati. Sekarang, bersiaplah untuk hidangan utamanya.”
Naya mengangguk pelan, menguatkan hatinya sembari melangkah masuk mengekor Arka menyusuri lorong megah sangkar emas yang sesungguhnya.
*
*
Suasana di ruang makan keluarga Dirgantara terasa bagai medan perang terselubung. Lampu gantung kristal yang megah memancarkan cahaya hangat, menyinari meja makan panjang berbahan kayu mahoni yang dipenuhi hidangan kelas atas.
Di ujung meja, Oma Soraya duduk memimpin. Di sisi kanannya duduk Irwan dan Marisa, orang tua Arka. Sementara di sisi kirinya duduk Hendra dan Vina bersama Rendy.
Arka dan Naya mengambil tempat tepat berhadapan dengan keluarga Hendra.
Marisa menatap Naya dengan binar hangat yang menenangkan, mencoba menyalurkan rasa aman di tengah tatapan-tatapan tajam yang menguliti menantu barunya.
“Makanlah yang banyak, Naya,” ujar Marisa lembut, memecah keheningan sembari tersenyum penuh penerimaan. “Kamu terlihat agak kurus. Kalau Arka terlalu sibuk bekerja sampai lupa memperhatikanmu, bilang pada Mama, ya?”
“Terima kasih, Tante... eh, Mama,” jawab Naya agak canggung, membiasakan diri dengan panggilan barunya. Ia menyunggingkan senyum setenang mungkin.
“Senang melihatmu cepat beradaptasi, Naya,” sahut Hendra, paman Arka seraya memotong daging steak di piringnya dengan denting pisau yang sengaja ditekan.
Hendra kemudian meletakkan pisau dan garpunya itu ke atas piring. Bunyi denting porselen yang beradu menggema nyaring di seluruh ruangan, memutus percakapan hangat yang baru saja dibangun Marisa.
“Tapi sejujurnya, Naya... saya dan seluruh jajaran direksi masih agak menyangsikan keputusan ini,” lanjut Hendra seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Matanya menatap tajam ke arah Arka dan Naya bergantian.
“Arka ini terkenal sebagai pria yang sangat rasional. Segala sesuatunya terukur. Lalu tiba-tiba, tanpa ada rumor atau perkenalan resmi, dia mengumumkan pernikahan hanya dalam hitungan hari. Bukankah ini terlalu mendadak untuk seseorang yang sangat berhati-hati seperti Arka?”
Vina menyunggingkan senyum tipis yang sarat cemoohan, lalu menimpali, “Benar kata Mas Hendra. Kami bahagia jika Arka akhirnya menemukan pendamping. Tapi di dunia bisnis, momen seperti ini sering kali bertepatan dengan momen krusial, seperti pemilihan CEO baru bulan depan, misalnya. Jangan sampai pernikahan sakral ini hanya dijadikan alat rekayasa demi mengamankan takhta.”
Mendengar tuduhan terselubung itu, raut wajah Irwan berubah keruh. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan pelan namun tegas.
“Jaga ucapanmu, Vina,” potong Irwan dingin. “Arka sudah cukup dewasa untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Keputusannya untuk menikah adalah wilayah pribadinya, bukan strategi bisnis yang harus dipertanyakan kejujurannya.”
“Kami sebagai orang tua tentu tahu mana keputusan yang didasari komitmen dan mana yang bukan,” Marisa menambahkan dengan suara lembut namun sarat penekanan. Matanya menatap Vina tanpa gentar.
“Arka memilih Naya karena dia memang ingin. Tidak ada alasan bagi kalian untuk menyudutkan menantu saya di pertemuan keluarga pertama ini,” tambahnya.
“Kami hanya bertanya, Mbak Marisa. Lagi pula, bukan hal aneh kalau kami merasa ada yang ganjil, bukan?” desis Vina tak mau kalah.
Di tengah ketegangan yang kian memuncak, Arka tiba-tiba meraih jemari Naya di atas meja. Ia menggenggam tangan wanita itu dengan erat, mengusapkan ibu jarinya lembut di punggung tangan Naya secara perlahan, sebuah gestur yang terkesan intim bagi siapa pun yang melihatnya.
Naya tertegun, menoleh kaget ke arah
Arka. Namun Arka hanya membalasnya dengan tatapan mata yang hangat, menghilangkan kesan dingin dan kaku yang biasanya melekat padanya.
“Paman Hendra, Tante Vina,” ujar Arka, suaranya tenang namun bergema mantap menembus kesunyian ruang makan.
“Saya mengerti kekhawatiran kalian. Logika memang selalu menjadi dasar saya dalam memimpin Dirgantara Group. Tapi untuk Naya... logika itu tidak berlaku.”
Arka memutar tubuhnya sedikit menghadap Naya, menatap dalam-dalam mata wanita di sampingnya seolah dunia di sekitar mereka telah lenyap.
“Saya bertemu Naya, dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya tidak butuh kalkulasi untuk tahu bahwa dia adalah wanita yang saya inginkan,” lanjut Arka dengan nada suara yang begitu lembut.
“Pernikahan ini tidak ada hubungannya jabatan CEO. Saya memajukan jadwal pernikahan ini sederhana saja, karena saya tidak ingin kehilangan dia, dan saya tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk menjadikannya milik saya.”
Naya merasakan desir aneh menjalar di dadanya. Meski ia tahu betul ini semua hanyalah sandiwara bagian dari kesepakatan tertulis mereka, cara Arka menatapnya dan nada bicara pria itu terasa sangat nyata hingga membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Rendy mendecih pelan, wajahnya tampak menyipit tidak percaya, sementara Hendra dan Vina bungkam, tak menyangka Arka akan memberikan jawaban seromantis dan setegas itu di depan keluarga.
Tiba-tiba, suara ketukan tongkat perak menghantam lantai marmer.
TAK!
Seluruh pandangan seketika tertuju ke ujung meja. Oma Soraya menyapu bersih piringnya dengan serbet kain, lalu menatap Arka dan Naya dengan mata elangnya yang tak terbaca. Keheningan mencengkeram ruang makan dalam sekejap.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak