Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Merah Dan Saluran Terbuka
Faris tersentak bangun. Dada naik-turun memburu udara, paru-parunya menuntut pasokan oksigen seolah ia baru saja hampir tenggelam di kedalaman air keruh.
Cahaya matahari pagi menyusup memalu dari celah ventilasi di atas pintu kamar kosnya, menimpa lantai semen yang dingin dan berdebu. Suara bising knalpot sepeda motor dan deru lalu lintas dari arah Jalan Sisimangaraja samar-samar terdengar, bercampur dengan suara ibu kos—Kak Ros—yang sedang mengomeli kucing liar di gang luar.
Dunia nyata terasa begitu bising dan biasa.
Faris menyapu wajahnya yang basah oleh peluh dingin. Jarum jam dinding plastik murah di kamarnya menunjukkan pukul 07.20 WIB.
"Mimpi..." gumamnya dengan nada tidak yakin. Suaranya parau, menyengat tenggorokan. "Hanya mimpi buruk gila karena terlalu banyak mikir utang..."
Namun saat ia menggerakkan lehernya untuk menoleh ke kanan, rasa nyeri yang tajam menyerang persendian di pangkal tengkuknya. Bukan sekadar pegal akibat salah tidur. Itu adalah rasa sakit seperti kulit yang terbakar atau memar akibat hantaman benda tumpul.
Faris bergegas bangkit dari kasur busanya yang tipis. Langkah kakinya sedikit sempoyongan menuju cermin gantung berbingkai plastik hijau di sudut ruangan. Ia memiringkan kepala, menatap pantulan dirinya sendiri.
Di leher bagian kiri, persis di tempat rasa dingin membeku semalam, terjiplak bekas cengkeraman telapak tangan. Kulitnya berwarna kebiruan memar, bercampur ruam merah kehitaman yang tampak seperti bekas luka bakar akibat suhu dingin yang ekstrem. Lima pola melingkar berbentuk ujung jari yang memanjang sangat jelas membingkai lehernya.
Darah di dalam tubuh Faris seolah berhenti mengalir. Itu bukan mimpi.
Dengan tangan gemetar, Faris memalingkan pandangan ke arah lantai tempat ponselnya tergeletak. Ponsel pintar itu berada dalam posisi telungkup di atas sajadah usang. Faris mendekatinya perlahan, seakan benda elektronik berukuran enam inci itu adalah seekor ular berbisa yang siap mematuk kapan saja.
Ia memungut ponselnya. Layarnya gelap. Ia menekan tombol Power.
Layar menyala. Namun tampilan yang pertama kali muncul bukanlah kunci layar (lockscreen) atau wallpaper bawaannya.
Layar ponsel itu menampilkan antarmuka aplikasi telepon bawaan yang terus berjalan. Di bagian atas layar, status panggilan aktif masih berkedip-kedip tipis.
Panggilan Berlangsung: 0000
Durasi: 05:18:42
Lima jam lebih. Panggilan gila dari jam dua malam tadi tidak pernah terputus.
Faris panik luar biasa. Jarinya mengetuk tombol merah berpola telepon tutup berulang kali.
Tek! Tek! Tek!
Tidak ada reaksi. Aplikasi telepon itu membeku dalam status memanggil, mengunci seluruh fungsi navigasi ponsel. Faris menekan tombol Home, mencoba membuka menu pengaturan, bahkan menahan tombol Power selama sepuluh detik untuk mematikan paksa unit tersebut. Semuanya nihil. Ponsel itu menolak untuk mati, seolah-olah arus listrik di dalamnya kini tidak lagi bersumber dari baterai litium bawaannya, melainkan disokong oleh entitas lain.
Tiba-tiba, speaker bagian bawah ponsel berdesis pelan.
Sssshhhh...
Faris hampir saja melempar ponsel itu ke dinding jika tidak teringat bahwa benda itu adalah satu-satunya alat komunikasi dan harta berharga yang ia miliki untuk mencari pekerjaan. Dari speaker yang berdesis itu, tidak terdengar lagi suara napas berat atau garukan kuku. Hanya suara statis frekuensi rendah yang entah bagaimana membuat tatanan saraf di kepala Faris merasa tidak nyaman—seperti frekuensi gelombang yang sengaja dirancang untuk memicu kecemasan instan.
Ia harus keluar dari kamar ini. Dinding-dinding kos Teladan ini terasa makin menghimpitnya.
Faris mengenakan jaket parasut hitam untuk menutupi memar mengerikan di lehernya, lalu menyelipkan ponselnya yang terus menunjukkan panggilan aktif ke dalam saku celana jeans. Ia memutuskan untuk pergi ke area Pasar Teladan—sebuah kawasan ramai tempat para pedagang sarapan dan warung kopi berderet di sepanjang trotoar. Ia butuh keramaian. Ia butuh merasa bahwa ia masih berada di dunia nyata, di antara orang-orang yang sibuk dengan urusan hidup masing-masing.
Pagi di Medan selalu bising. Suara deru bentor (becak motor) yang memecah kesunyian, obrolan-obrolan hangat dalam logat Medan yang khas, serta aroma wangi lontong sayur dan kopi hitam yang menyengat udara pagi sedikit banyak menenangkan saraf Faris yang tegang.
Ia duduk di salah satu bangku kayu di Warung Kopi Bang Jaka, tak jauh dari persimpangan pasar.
"Kopi hitam satu, Bang. Agak manis," pesan Faris singkat saat Bang Jaka—pria berbadan gempal berusia empat puluhan—melintas di dekat mejanya.
"Loyo kali mukamu, Ris. Kayak tak makan tiga hari. Begadang lagi kau?" sahut Bang Jaka sembari menyengir, memperlihatkan deretan giginya yang agak kekuningan akibat rokok.
"Iya, Bang. Tak bisa tidur dari semalam," jawab Faris seadanya. Ia tidak mungkin menceritakan bahwa lehernya habis dicengkeram hantu yang muncul dari panggilan nomor 0000. Bang Jaka pasti akan menganggapnya gila atau berhalusinasi akibat stres menganggur.
Bang Jaka berlalu menyiapkan pesanan. Faris menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mencoba menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Namun, rasa aman itu hanya bertahan tak lebih dari tiga menit.
Di dalam saku celananya, ponsel Faris bergetar.
Bukan getaran notifikasi biasa. Getarannya sangat panjang, ritmis, dan terasa begitu dingin hingga menembus kain celana jeans tebal yang dikenakannya.
Faris merengkuh ponsel itu dari sakunya. Layar yang semula terkunci pada tampilan durasi panggilan kini berubah warna menjadi merah menyala total. Angka timer panggilan mendadak berhenti di angka 05:30:00, lalu berganti menjadi deretan teks hitam yang mengetik dirinya sendiri secara otomatis di layar:
0000: Di sekitarmu banyak sinyal. Saluran mana yang mau kau bagi denganku hari ini?
Jantung Faris berdegup kencang. "Apa-apaan lagi ini..." gumamnya ketakutan.
Sebelum ia sempat bereaksi, speaker ponselnya meletupkan suara dengkuran melengking berfrekuensi tinggi—suara yang mirip dengan feedback pengeras suara yang rusak, namun bercampur dengan jeritan melengking seorang wanita yang memilukan.
Suara melengking itu tidak hanya terdengar dari ponsel Faris.
Secara bersamaan, seluruh perangkat elektronik di sekitar warung kopi Bang Jaka mendadak bertingkah aneh.
Radio swasta yang sedang memutar lagu pop di warung Bang Jaka mendadak mati, berganti menjadi suara ketukan kuku tek... tek... tek... yang amat nyaring melalui speaker gantungnya. Televisi tabung 14 inci yang menempel di dinding atas warung berkilat-kilat liar, menampilkan garis-garis statis hitam-putih sebelum memproyeksikan gambaran samar: bayangan sesosok tubuh bungkuk berleher patah yang berdiri tepat di belakang Bang Jaka.
Bahkan ponsel milik para pembeli lain di warung itu—yang tergeletak di atas meja atau di genggaman tangan—semuanya menyala secara serentak. Layar ponsel orang-orang itu berubah menjadi merah darah.
"Eh, kenapa HP-ku ini?" seru seorang bapak-bapak penjual sayur yang duduk dua meja dari Faris.
"Sinyal macet ini! Kok berisik kali suaranya!" keluh pembeli lain sambil menutup telinganya.
Faris membeku. Teror ini mulai menyebar. Benda ini menggunakan frekuensi ponselnya untuk meretas perangkat di sekitarnya.
"Bang Jaka, matikan radionya!" teriak Faris panik, berdiri dari kursinya.
Bang Jaka yang sedang memegang teko stenlis berisi air panas tampak bingung. "Ha? Kenapa rupanya, Ris? Ini radio kenapa tiba-tiba begini—"
Suara Bang Jaka terputus.
Di layar televisi gantung warung, bayangan hantu berleher patah itu membuka mulutnya yang lebar. Tepat saat itu juga, ponsel milik Bang Jaka yang berada di saku bajunya berdering sangat keras dengan nada panggil bawaan yang melengking.
Secara refleks dan tanpa rasa curiga, Bang Jaka meraih ponsel jadul tipe tombol milik-nya lalu menempelkannya ke telinga kanan. "Halo? Siapa ini?"
"BANG JAKA, JANGAN ANGKAT!" jerit Faris histeris.
Terlambat.
Tepat saat ponsel itu menyentuh telinga Bang Jaka, arus listrik statis berwarna kebiruan tampak memercik keluar dari speaker ponsel jadul tersebut. Mata Bang Jaka mendadak mendelik lebar ke atas hingga hanya memperlihatkan bagian putih matanya. Seluruh otot tubuhnya mengeras kaku seolah dihantam sengatan listrik bertegangan puluhan ribu volt.
"Arrrrghhh!" Bang Jaka mengerang tanpa bisa mengeluarkan suara penuh.
Teko berisi air panas mendidih di tangan kirinya terlepas, jatuh menghantam lantai semen dan menyiram kakinya sendiri, namun Bang Jaka bahkan tidak meringis akibat luka bakar itu. Tubuhnya terus bergetar hebat. Dari lubang telinga kanannya yang menempel pada ponsel, darah segar berwarna merah pekat mulai meleleh keluar, mengalir deras membasahi kerah kemejanya.
Orang-orang di warung kopi berteriak histeris. Suasana pasar mendadak kacau balau.
"Tolong! Bang Jaka kena setrum! Panggil ambulans!" jerit seorang warga.
Faris hanya bisa berdiri terpaku dalam horor yang nyata. Di layar ponsel di tangannya sendiri, sebuah pesan baru meluncur cepat:
0000: Satu saluran baru telah dibuka. Jika kau mematikan ponselmu atau melarikan diri, frekuensi berikutnya adalah orang di sebelahmu.
Bang Jaka ambruk ke lantai pasar, tak berkutik lagi dengan darah yang terus mengalir dari telinga dan hidungnya. Sementara di dalam layar ponsel Faris, timer panggilan kembali berjalan... kini memperlihatkan nama korban baru yang terdaftar di bawah kolom 0000.
Faris sadar, ia tidak lagi sekadar diteror. Ia telah menjadi pembawa wabah saluran terkutuk ini.