NovelToon NovelToon
The Ghost Agent: Red Revenge

The Ghost Agent: Red Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / CEO
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Mati adalah akhir yang terlalu mudah bagi seorang pengkhianat. Aku akan memastikan kalian memohon kematian sebelum napas terakhir kalian kuhentikan."

Elikai Wijaya adalah agen elit legendaris berkode nama "Shadow" di organisasi intelijen Phantom. Tapi, kesetiaannya dibayar darah. Demi kekuasaan, paman kandungnya sendiri. seorang gembong mafia bernama Gaizka Wijaya bekerja sama dengan mentor Elikai, Jenderal Jendra, untuk membantai seluruh keluarga Elikai dan menembaknya hingga sekarat.

Dikira telah tewas, Elikai bangkit dari neraka berkat bantuan Belladona, sang hacker jenius. Dengan wajah baru hasil operasi rekonstruksi, ia menyamar menjadi Liam Jeren, seorang CEO muda yang kaya raya dan arogan.

Misi balas dendam pun dimulai. Liam sengaja mendekati Bellatrix, sepupu kandungnya sendiri yang polos, untuk dijadikan pion penghancur dinasti kriminal pamannya. Dari balik meja kerja CEO dan senapan runduknya, sang Agen Bayangan siap memburu para pengkhianat satu per satu tanpa ampun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sergapan Tengah Malam

Pemandangan dari lantai tiga puluh lima griya tawang mewah di kawasan Sudirman menyajikan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang perlahan meredup pasca tengah malam. Di dalam ruangan bernuansa minimalis monokrom itu, keheningan hanya dipecah oleh suara halus pendingin ruangan dan denting es batu yang mencair di dalam gelas wiski Liam Jeren.

Liam duduk di sofa kulit hitamnya dengan mengenakan jubah mandi sutra longgar berwarna gelap. Kacamata titaniumnya diletakkan di atas meja marmer. Sepasang mata elangnya menatap kosong ke luar jendela kaca raksasa yang menampilkan menara-menara beton ibu kota. Di bawah pendar cahaya kota yang temaram, wajah pualamnya tampak menyimpan kedalaman dendam yang baru saja menuntut korban pertamanya.

Tiba-tiba, insting yang tertanam jauh di dalam sarafnya bergejolak hebat.

Bukan karena suara derit pintu, melainkan karena hilangnya pendar lampu indikator wifi pada gawai di atas meja. Koneksi internet terputus seketika. Bersamaan dengan itu, suara pendingin ruangan mendadak mati, menyisakan keheningan yang terlampau pekat dan tidak wajar untuk sebuah gedung apartemen kelas atas.

Otot-otot tubuh tegapnya langsung menegang dalam hitungan milidetik.

Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk mengambil kacamata, Liam meluncurkan tubuhnya ke samping, berguling di balik struktur meja marmer yang tebal tepat saat jendela kaca raksasa di depannya meledak hancur berantakan.

PRANGGG!!!

Ratusan serpihan kaca tajam berhamburan bagai hujan kristal di dalam ruangan. Bersamaan dengan itu, brondongan peluru dari senapan serbu berperedam suara merobek malam.

Pfft-pfft-pfft

Suara-suara yang cepat itu bersahut-sautan, disusul suara hantaman proyektil kaliber 5.56 yang mencabik-cabik sofa kulit, menghancurkan dinding gipsum, dan meremukkan botol-botol minuman mahal di rak kaca hingga cairannya tumpah membasahi lantai.

Dari balik kegelapan balkon luar, empat siluet bertubuh tegap melompat masuk dengan kecepatan pasukan elit. Mereka mengenakan pakaian taktis kelabu tanpa lambang kesatuan, dengan kacamata night-vision berlensa ganda yang memancarkan pendar hijau redup di balik topeng mereka.

Mereka adalah Unit Viper.

"Target bergerak ke arah kiri! Eliminasi!" sebuah suara perempuan memberi komando melalui interkom internal mereka, suaranya mengalun tajam menembus kekacauan ruangan.

Liam meraba bagian bawah permukaan meja marmer, menarik sebuah pistol SIG Sauer tersembunyi yang selalu ia rekatkan di sana menggunakan dudukan magnetis. Begitu jemarinya mencengkeram gagang senjata, ia langsung berputar keluar dari balik pelindung.

Dua tembakan beruntun dilepaskannya tanpa membidik lama. Peluru kaliber 9mm miliknya menghantam tepat di pelat baja rompi antipeluru pengawal pertama, membuatnya terdorong mundur. Tapi, pengawal kedua dengan cepat membalas tembakan itu, melepaskan rentetan tembakan dari senapan serbu laras pendeknya.

DOR! DOR! DOR!

Liam merasakan sengatan panas yang luar biasa hebat mendadak merobek otot bahu kanannya. Hantaman peluru itu memaksanya mendengus, melempar tubuhnya kembali ke balik pilar beton ruang tengah. Darah segar yang hangat langsung merembes cepat, membasahi jubah mandi sutranya dan mengalir turun di sela-sela jemarinya. Bahu kanannya lumpuh sebagian, membatasi ruang geraknya.

"Dia terluka! Kepung dari dua arah!" komando sang kapten wanita terdengar lagi, disusul derap langkah sepatu bot yang mendekat dengan taktik menjepit.

Liam menarik napas pendek melalui hidung, memaksa otaknya mengabaikan rasa sakit yang membakar di bahunya. Di bawah runtutan peluru yang terus mengikis sudut-sudut pilar beton pelindungnya, sang Shadow kembali bangkit sepenuhnya dari balik topeng CEO. Pertarungan jarak dekat di dalam ruang sempit adalah keahlian utamanya.

Pria pertama dari Unit Viper muncul dari balik bayangan pilar dengan moncong senapan yang siap tembak. Liam tidak menggunakan pistolnya, dengan tangan kirinya yang bebas, ia mencengkeram laras senapan pria itu, memutarnya ke atas hingga rentetan peluru menghantam langit-langit plafon.

Bersamaan dengan itu, Liam menghantamkan sikunya keras-keras ke arah rahang pria itu hingga terdengar bunyi retakan tulang yang renyah. Ia merenggut pisau komando yang terselip di rompi taktis musuhnya, lalu memutarnya ke belakang, menembuskannya tepat di celah sambungan leher di bawah helm taktis pria tersebut. Pria pertama tumbang, menumpahkan darahnya di atas karpet monokrom yang kini telah hancur berantakan.

Dua anggota Viper lainnya langsung menerjang maju dari koridor dapur. Salah satu dari mereka melepaskan tembakan yang menyerempet pinggang Liam, sementara yang lain mencoba melakukan kuncian fisik.

Liam berguling di atas lantai yang dipenuhi serpihan kaca, mengabaikan rasa perih saat pecahan kaca itu merobek kulit kaki dan punggungnya. Dari posisi tiarap, ia menembakkan tiga peluru berturut-turut ke arah kaki kedua penyerang. Jerit kesakitan parau menggema saat mereka ambruk dengan lutut hancur. Tanpa belas kasihan, Liam bangkit dengan gerakan menyerupai hantu, melepaskan dua tembakan terakhir tepat di dahi mereka sebelum mereka sempat menarik pelatuk kembali.

Tiga orang telah terhampar tak bernyawa di atas lantai apartemennya yang kini telah berubah menjadi ladang pembantaian berbau darah segar.

Namun, sisa hawa membunuh yang pekat masih tertinggal di dalam ruangan. Dari balik kepulan asap mesiu tipis dan debu gipsum yang beterbangan, siluet sang kapten wanita Unit Viper berdiri tegak di ambang pintu koridor kamar utama. Di tangannya, sebuah pisau kerambit kembar berkilau keperakan, memantulkan pendar lampu kota dari luar jendela yang hancur.

Liam menempelkan punggungnya pada dinding yang retak, tangan kirinya menekan luka tembak di bahu kanannya yang terus mengalirkan darah kental. Napasnya memburu teratur, sepasang mata elangnya menyipit tajam di balik kegelapan ruangan, mengunci sosok musuh terakhirnya dengan kilatan haus darah yang begitu dingin dan mematikan. Pertempuran jarak dekat baru saja dimulai, dan griya tawang mewah ini akan menjadi saksi dari akhir riwayat unit elit kebanggaan Jenderal Jendra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!