NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:50.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​

​Sinar matahari pagi mulai menembus sela-sela pintu kaca swalayan yang masih tertutup rapat, memantulkan bayangan debu-debu tipis yang melayang di udara. Di dalam ruangan, hawa dingin dari pendingin udara yang menyala penuh seharian berembus menusuk tulang, membuat udara terasa seperti di dalam ruang pendingin daging. Di atas lantai keramik yang keras, kaku, dan dingin, Bian menggeliat kesakitan dengan leher yang kaku dan punggung serasa mau patah. Di lorong belakang, Salma tertidur terbaring di atas tumpukan kardus bekas yang ia ratakan seadanya, dikelilingi bungkus keripik kentang dan kaleng soda kosong yang berserakan di sekitar tubuhnya.

​BZZZZ... BZZZZ...

​Ponsel Bian yang tergeletak di atas lantai keramik mendadak bergetar hebat, diiringi nada dering panggilan masuk yang memecah keheningan pagi. Bian tersentak bangun, memegangi pinggangnya yang encok seraya meraba-raba lantai untuk mencari ponselnya dengan mata setengah terpejam.

​Melihat nama kontak yang tertera di layar panggil Sekretaris Perusahaan Pusat kesadaran Bian langsung terlempar pulih sepenuhnya. Jantungnya mendadak berdegup kencang tanpa ritme. Dengan tangan dingin yang bergetar hebat, ia menggeser tombol hijau pada layar.

​"S-selamat pagi, Pak..." panggil Bian, berusaha keras menetralkan suaranya yang parau dan serak.

​"Pak Bian! Anda di mana sekarang?!" suara sekretaris direksi terdengar melengking dari seberang telepon, nada bicaranya terburu-buru dan sarat akan ketegangan yang amat menekan. "Direksi dan seluruh dewan komisaris memanggil Anda untuk hadir dalam rapat darurat di kantor pusat pagi ini juga. Jam delapan tepat Anda dan Bu Salma harus sudah berada di ruang rapat utama."

​"R-rapat darurat? Pagi ini, Pak? Kenapa mendadak sekali?" tanya Bian dengan raut wajah yang mendadak pucat pasi bagaikan kertas. Firasat buruk langsung menghantam dadanya bagaikan hantaman godam yang menghancurkan sisa-sisa ketenangannya.

​"Tidak ada waktu untuk bertanya, Pak Bian! Ini perintah langsung dari dewan komisaris setelah melihat berita skandal dan utang yang beredar sejak kemarin! Jangan terlambat satu detik pun kalau Anda masih menghargai posisi Anda."

​Panggilan terputus sepihak. Suara tut-tut-tut dingin memenuhi ruangan. Bian terpaku kaku di atas lantai keramik, memegang ponselnya dengan tatapan kosong yang dipenuhi ketakutan mendalam. Desakan kecemasan luar biasa seketika merayap menutupi pikirannya. Rapat darurat jajaran komisaris secara mendadak bukanlah tanda-tanda yang baik dalam struktur perbankan atau distributor besar. Mengingat ucapan Devan kemarin dan kehancuran bisnis swalayannya yang sudah viral di media sosial, tenggorokan Bian mendadak terasa sangat kering.

​"Salma! Salma, bangun!" jerit Bian dengan nada panik seraya setengah berlari menuju lorong belakang. Ia mengguncang bahu Salma dengan kasar.

​"Aduh, Mas! Apa-apaan sih?! Masih pagi juga, aku masih ngantuk!" sungut Salma sengit. Matanya sembap, rambutnya acak-acakan bagaikan sarang burung, dan tubuhnya pegal-pegal akibat semalaman tidur di atas kardus tipis di bawah embusan AC full.

​"Ganti baju dan mandi sekarang! Kantor pusat panggil kita berdua untuk rapat darurat jam delapan pagi ini!" bentak Bian dengan urat leher menegang merah padam. "Cepat, Salma! Kita cuma punya waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap!"

​Berbeda dengan Bian yang dipenuhi rasa cemas dan ketakutan yang menggerogoti jiwanya, Salma justru tersenyum lebar mendengar kabar panggilan dari kantor pusat. Tidak ada sedikit pun firasat buruk di dalam kepala wanita muda itu. Di dalam benak Salma yang dangkal dan terbiasa dimanjakan kemewahan, panggilan mendadak dari dewan komisaris pagi ini pastilah berita sangat bagus. Ia mengira pihak perusahaan pusat akhirnya turun tangan setelah mendengar masalah swalayan mereka, dan hendak menyuntikkan dana segar ratusan juta untuk menutupi kerugian atau memberikan kenaikan tunjangan untuk Bian sebagai manajer senior.

​"Tuh kan, Mas! Apa aku bilang!" ujar Salma gembira seraya bangkit dari kardusnya dengan penuh semangat. "Pasti kantor pusat mau kasih kamu dana talangan atau mau ngurusin masalah toko ini! Kamu sih kemarin panik duluan! Udah yuk, kita dandan yang rapi dan elegan. Biar para direksi itu tahu kalau istri manajer senior mereka tetap kelihatan berkelas walau lagi ada masalah kecil!"

​"Salma, kamu tidak usah banyak beralasan yang tidak-tidak! Cepat mandi!" potong Bian kasar, tak sanggup meladeni kepolosan dan ilusi istrinya yang terlampau percaya diri.

​Dalam suasana penuh ketegangan, keduanya bergegas menuju kamar mandi kecil karyawan di sudut swalayan. Salma mandi tergesa-gesa dengan air dingin yang menusuk kulit, lalu memoleskan riasan tebal di wajahnya di depan kaca buram untuk menutup garis lelah dan lingkaran hitam di bawah matanya.

​Untuk mempertegas posisinya sebagai istri manajer senior yang kaya raya, Salma sengaja membongkar koper besarnya. Ia memilih koleksi pakaian kantor paling mahal miliknya: sebuah setelan blazer blazer desainer berwarna krem dipadu dengan rok pensil senada berpotongan elegan, lengkap dengan kemeja sutra halus di bagian dalam. Pakaian kerja bernilai puluhan juta rupiah itu dulu ia beli menggunakan uang talangan kas toko swalayan. Ia memoleskan lipstik merah menyala, mengenakan sepatu hak tinggi designer brand, serta menyampirkan tas kulit impor di lengannya. Salma berdiri tegak di depan cermin, merasa penampilannya sudah sangat sempurna untuk menghadiri rapat penting para petinggi perusahaan.

​Sementara itu, Bian mengenakan kemeja dan jas terbaiknya dengan tangan yang tak berhenti bergetar. Saat merapikan dasinya di depan cermin buram, Bian menatap bayangan wajahnya sendiri yang terlihat makin menua, pucat, dan layu. Kerutan di dahi dan matanya yang memerah memperlihatkan betapa hancurnya batin pria itu. Kecemasan di dadanya kian menjadi-jadi, kontras dengan Salma yang mematut diri penuh kebanggaan.

​"Ayo, Mas! Nanti kita terlambat, nanti dana bantuan kita malah dipotong lagi kalau direksi nunggu lama!" seru Salma dengan nada riang, melangkah anggun dengan sepatu hak tingginya yang berdetak nyaring di atas lantai keramik, tanpa sedikit pun menyadari bahwa badai besar sudah bersiap menghancurkan kehidupan mereka sepenuhnya di kantor pusat nanti.

1
Naufal hanifah
bagus ceritanya
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍
susi ana
aku geli sama istilah "niat jantan" dr Rafli..... lucu banget 😂
falea sezi
wahh uda end ternyata si bapak durjana
Noey Aprilia
Akhir tragis buat sng pngkhianat....
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
blcak areng: terima kasih Kak
total 1 replies
Muft Smoker
ceritanya seperti biasa ,,
bagus dan banyak pelajaran ny
Muft Smoker
waaah udh tamat kak ,,

yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,

terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,,
karya terbaru ny udh msuk list aq ,,
total 2 replies
Muft Smoker
kn emnk udh jdi ibu ny kak 🤭🤭😁😁🫰
T🥀007
lanjut
Nieta Poedjo
kartu hitam = black card
bukan
kartu hitam black card
Nieta Poedjo
katanya berhijab, kok ada kalimat anak rambut?
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
Muft Smoker: 👌👌👌👌😁😁😁😁
total 3 replies
Noey Aprilia
Buah ksbaran husna d msa lalu,akhrnya ktmu jg dgn kbhgiaan...
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
Noey Aprilia
Mkin meranalh nnti sng mntan...
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
Muft Smoker
semangat truuus kak ,,

lanjuut kak ,,

akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
Muft Smoker
kak sbnrnya yg kk sypa ,, Dita tita atau Devan deka ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,
Rahmawati Amma
awalnya ceritanya menarik tapi setelah aku baca sengaja loncat di bagian bab 38an aku udah malas bacanya pada hal aku ingin melihat bian menderita dan husna walaupun janda tapi berkelas dan tambah sukses tak taunya kawin lagi jadi malas baca soalnya bosan yg cerita cerai tapi kawin lagi😔😮‍💨
Rahmawati Amma
maaf thor saya ke luar dari novelmu paling malas klu ceritanya gini awalnya saya emang suka ceritanya tapi melihat babnya saya langsung berhenti ku kira ngak bakalan kawin lagi soalnya anaknya udah pada remaja tak tahunya malahan kawin lagi sama aja mantan suaminya gila s***n## kukira habis cerai dia akan menjadi lebih sukses dan menjadi janda elegan tak taunya gini ceritanya maaf thor aku keluar maaf tidak beri bintang full😔😢🙏
Muft Smoker
laki2 kayak pak Rafli 1 banding 100000000 ,, bnr2 langka ,,
Rahmawati Amma
pembalasan berkelas🤣🤣🤣
Noey Aprilia
D saat yg lain lbh suka pmer hrta dmi pujian,tp mas rafli lbih mmilih k tnah suci dmi niat yg suci jg....salut plus mkin mnghormati dia krna skapnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!