Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Air matanya kembali menetes menyadari pengorbanan bodoh anaknya.
"Iya Dok, dia pakai uang obatnya untuk beli kue ulang tahun adiknya, saya tidak tahu Dok, saya pikir dia sudah minum," isak Santi menyesal.
"Itu pemicu utamanya Bu, jantungnya yang sudah lemah dipaksa bekerja keras tanpa bantuan obat, otot jantungnya mengalami kerusakan parah malam ini," terang dokter itu panjang lebar.
"Lalu saya harus bagaimana Dok? Tolong berikan obat yang paling bagus, saya akan kerja keras untuk bayar obatnya," potong Santi memohon.
Dokter itu menggelengkan kepalanya dengan tatapan kasihan.
"Obat sudah tidak mempan lagi untuk tahap kerusakan seperti ini Bu," jawab dokter itu berat.
"Rio harus segera melakukan operasi transplantasi jantung secepatnya jika ingin bertahan hidup lebih lama," lanjut dokter itu menjatuhkan vonisnya.
Bum!
Hati Santi seolah meledak mendengar kata operasi transplantasi jantung.
"Transplantasi? Ganti jantung maksud Dokter?" tanya Santi memastikan dengan suara bergetar.
"Benar Bu, jantung Rio sudah tidak bisa diselamatkan, kita harus mencari donor jantung yang cocok untuknya," angguk dokter itu serius.
"Berapa biayanya Dok? Berapa yang harus saya siapkan untuk operasi itu?" tanya Santi memberanikan diri.
Dokter itu terdiam sejenak seolah tidak tega menyebutkan nominalnya kepada wanita sederhana di depannya.
"Untuk biaya rumah sakit, tim bedah, dan prosedur pencarian donor, estimasi biayanya minimal sekitar lima ratus juta rupiah Bu," jawab dokter itu akhirnya.
Lima ratus juta rupiah.
Angka itu terngiang-ngiang di kepala Santi seperti kaset rusak yang diulang-ulang.
Uang tabungannya di bawah kasur bahkan tidak sampai seratus ribu rupiah.
Dari mana dia sebagai buruh cuci bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.
"Lima ratus juta Dok? Saya tidak punya uang sebanyak itu Dok," tangis Santi pecah sejadi-jadinya.
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang kasar dan keriput itu.
"Saya tahu ini sangat berat Bu, tapi itu adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa Rio," ucap dokter itu prihatin.
Santi tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya.
Dia berjalan memutar meja dan langsung berlutut di bawah kaki sang dokter.
"Dokter, saya mohon Dok! Ambil saja jantung saya! Pakai jantung saya buat Rio Dok!" teriak Santi histeris.
Dokter itu terkejut dan buru-buru menarik bahu Santi untuk berdiri kembali.
"Jangan begini Bu, tolong bangun dulu, prosedur medis tidak semudah itu," cegah dokter itu kesulitan.
"Saya ibunya Dok! Jantung saya pasti cocok buat dia! Saya rela mati asalkan anak saya hidup Dok!" bantah Santi tidak mau berdiri.
Air mata membasahi lantai ruangan itu menjadi saksi betapa besarnya cinta seorang ibu.
"Bu, transplantasi dari pendonor hidup itu tidak diizinkan dalam aturan hukum medis kita, apalagi untuk organ tunggal vital seperti jantung," jelas dokter itu berusaha memberikan pengertian.
Santi menggelengkan kepalanya dengan keras menolak menyerah pada keadaan.
"Kalau begitu ambil ginjal saya Dok! Ambil mata saya! Jual organ tubuh saya buat bayar biaya operasi Rio!" tawar Santi semakin menggila.
"Saya mohon Dok, jual ginjal saya buat biaya rumah sakit, sisanya pasti cukup buat bayar jantung baru Rio!" lanjut Santi meronta.
Dokter itu menarik nafas panjang menghadapi keputusasaan pasiennya.
"Bu Santi dengarkan saya baik-baik, rumah sakit ini bukan pasar gelap penjual organ, kami tidak melayani jual beli organ manusia," tegas dokter itu memperingatkan.
Santi langsung terdiam lemas mendengar penolakan tegas tersebut.
Harapan terakhirnya untuk menyelamatkan nyawa Rio hancur tak bersisa.
"Lalu saya harus bagaimana Dok? Saya cuma janda buruh cuci yang miskin, anak saya bisa mati kalau tidak dioperasi," ratap Santi kembali duduk di lantai.
"Ibu tenang dulu, pihak rumah sakit memiliki program bantuan sosial untuk pasien kurang mampu, saya akan coba bantu ajukan besok pagi," bujuk dokter itu menenangkan.
"Benarkah Dok? Anak saya bisa dioperasi gratis?" tanya Santi dengan secercah harapan kecil.
"Saya tidak bisa janji bisa gratis seratus persen, tapi setidaknya bisa meringankan bebannya, sekarang Ibu urus administrasinya dulu dan berdoa yang terbaik," jawab dokter itu bijak.
Santi mengangguk dan mengusap sisa air matanya lalu keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai.
Sementara itu di ruang perawatan darurat yang sepi dan dingin.
Tit... tit... tit...
Suara mesin pendeteksi jantung berbunyi berirama memecah kesunyian ruangan.
Tubuh Rio terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai selang menancap di dadanya.
Sebuah masker oksigen menutupi hidung dan mulutnya yang masih pucat.
Perlahan-lahan kelopak mata bocah sepuluh tahun itu bergerak sedikit.
Rio membuka matanya perlahan merasakan pandangannya yang kabur perlahan menjadi jelas.
Hal pertama yang dia rasakan adalah rasa sakit di dada kirinya sudah jauh berkurang dibanding sebelumnya.
Namun kepalanya terasa sangat pusing seperti berputar-putar.
Sayup-sayup telinga Rio menangkap suara percakapan dari balik tirai ruangannya yang setengah terbuka.
Rupanya letak ruang perawatan Rio bersebelahan dengan ruang kerja dokter tersebut dan jendelanya sedikit terbuka.
"Saya mohon Dok! Ambil saja jantung saya! Pakai jantung saya buat Rio Dok!"
Suara jeritan ibunya terdengar sangat jelas masuk ke telinga Rio.
Mata Rio langsung terbelalak lebar mengenali suara ibunya yang sedang menangis histeris.
"Lima ratus juta Dok? Saya tidak punya uang sebanyak itu Dok."
"Kalau begitu ambil ginjal saya Dok! Ambil mata saya! Jual organ tubuh saya buat bayar biaya operasi Rio!"
Setiap kalimat yang diucapkan ibunya menusuk tepat di ulu hati Rio melebihi rasa sakit penyakitnya.
Air mata Rio menetes dari sudut matanya membasahi bantal rumah sakit yang putih bersih.
"Ibu mau jual organ buat aku?" batin Rio dengan bibir bergetar di balik masker oksigen.
"Biaya operasiku lima ratus juta? Ibu pasti harus kerja sampai mati buat bayar itu," lanjutnya dalam hati.
Rio memejamkan matanya rapat-rapat menahan rasa perih yang luar biasa di dadanya.
Bukan karena penyakit jantungnya tapi karena rasa bersalah yang teramat sangat kepada ibunya.
Dia sadar bahwa kehadirannya di dunia ini hanya menyusahkan ibunya yang sudah menderita.
Jika ibunya nekat menjual organ atau memberikan jantungnya maka ibunya akan mati meninggalkannya dan adiknya.
"Aku tidak mau Ibu mati gara-gara aku," putus Rio dalam diamnya yang panjang.
Sebuah tekad yang bulat dan tragis muncul di benak anak sepuluh tahun yang terlalu cepat dewasa itu.
"Aku yang sakit maka aku yang harus pergi, Ibu dan Rizky bisa hidup bahagia tanpa beban orang sakit sepertiku," gumam Rio di dalam kepalanya.
Rio menoleh ke arah meja kecil di samping ranjangnya.
Di sana tergeletak sebuah buku catatan perawat dan sebuah pulpen hitam.
Rio mencabut selang infus di tangannya dengan paksa hingga darah segar menetes.
Dia mengabaikan rasa perih di tangannya dan meraih buku catatan itu dengan tangan gemetar.
Sebuah rencana perpisahan mulai tersusun di kepalanya saat malam semakin larut.