Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
"Iya, Pak. Dari tempat kerja pertama langsung ke sini," ujar Maya sembari langsung meraih sapu dan kemoceng di sudut ruangan. "Hari ini ada barang masuk yang harus dicatat, Pak?"
"Ada beberapa dus minyak goreng sama mi instan di truk belakang. Tapi kamu duduk dulu, May. Ini ada air minum," Pak Kusno menyodorkan segelas air mineral.
Maya menerima gelas itu dan meminumnya hingga kandas. "Terima kasih banyak, Pak. Tapi saya langsung kerja saja ya, Pak, biar semuanya cepat selesai."
Selama enam jam berikutnya, Maya bekerja tanpa henti di toko kelontong. Ia mengangkat dus-dus berat berisi barang sembako, melayani pembeli yang lalu lalang, hingga membersihkan debu di rak-rak paling atas. Punggungnya terasa pegal luar biasa, dan otot kakinya menjerit minta diistirahatkan. Namun setiap kali rasa lelah itu datang membendung, bayangan Bagas yang terbaring kaku dengan selang pernapasan selalu hadir menguatkannya.
Pukul empat sore, shift kerja Maya di toko kelontong berakhir. Pak Kusno menyerahkan amplop berisi upah harian sebesar seratus ribu rupiah.
"Ini upahmu hari ini, May. Ditambah bonus kecil karena kamu kerja rajin sekali," kata Pak Kusno ramah.
"Terima kasih banyak, Pak Kusno. Ini sangat membantu saya," sahut Maya tulus sembari menunduk hormat.
Perjuangan Maya hari itu belum usai. Dari toko kelontong, ia bergegas menuju Kompleks Perumahan Asri yang berjarak dua kilometer. Di sana, Maya bekerja di tempat ketiganya: menjadi buruh cuci dan setrika panggilan di rumah Bu Sandra, seorang wanita karir yang cukup berada.
"Maya, ini pakaian kotor dua keranjang di belakang ya. Semuanya harus selesai dicuci dan disetrika rapi malam ini sebelum jam delapan. Soalnya besok pagi suami saya mau pakai kemejanya untuk dinas luar kota," ujar Bu Sandra saat membukakan pintu belakang.
"Baik, Bu Sandra. Nanti saya selesaikan semuanya dengan bersih dan rapi," jawab Maya cepat.
Di ruang cuci yang sempit dan pengap, Maya memulainya kembali. Ia merendam puluhan pakaian tebal, menguceknya satu per satu, menyikat bagian kerah yang kotor, hingga membilas dan memerasnya menggunakan tenaga tangannya sendiri.
Saat proses menyetrika dimulai, uap panas dari setrika listrik menusuk kulit wajahnya. Jam terus berputar, dan rasa kantuk yang berat mulai menyerang matanya. Beberapa kali kepala Maya terkulai lemas karena kelelahan ekstrim, namun ia memaksakan diri untuk tetap terjaga dengan cara menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Pukul setengah delapan malam, tumpukan pakaian terakhir berhasil disetrika dan dilipat rapi. Bu Sandra yang memeriksa hasil kerja Maya tampak puas.
"Bagus sekali kerjamu, May. Rapi dan harum," puji Bu Sandra seraya mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. "Ini seratus lima puluh ribu untuk hari ini."
"Terima kasih banyak, Bu," jawab Maya menampung uang tersebut dengan kedua tangannya.
Malam harinya, pukul delapan lewat empat puluh lima menit, Maya berdiri di depan kasir Apotek Sehat yang berada tepat di samping rumah sakit. Dari tiga pekerjaan yang ia jalani sejak subuh tadi—ditambah tabungan sisa kemarin—Maya berhasil mengumpulkan uang sejumlah dua juta lima ratus ribu rupiah.
Ia menyerahkan gulungan lembaran uang kertas yang agak lecek dan basah oleh keringat itu kepada petugas apotek.
"Ini uangnya pas ya, Mbak. Dua juta lima ratus ribu rupiah," kata petugas apotek setelah menghitung lembaran uang tersebut. "Ini obat neuroprotektif untuk Pak Bagas. Tolong disimpan di tempat yang sejuk dan segera serahkan ke perawat jaga."
Maya memeluk kantong plastik berisi kotak obat mahal itu ke dadanya seperti memeluk benda paling berharga di dunia.
Dengan langkah kaki yang amat berat dan lemas, Maya berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar rawat Bagas. Begitu pintu kamar ditutup, Maya menyerahkan obat itu kepada perawat, lalu berjalan mendekati ranjang suaminya.
Maya meletakkan kepalanya di tepi tempat tidur, di samping lengan Bagas yang tak bergerak. Ia mengambil jemari kaku suaminya dan menempelkannya ke pipinya yang basah oleh air mata kelelahan.
"Mas Bagas..." bisik Maya dengan suara serak dan bergetar. "Hari ini aku berhasil beli obatnya. Obatnya mahal banget, Mas... tapi aku bisa cari uangnya. Tangan aku agak perih dan kaki aku rasanya mau patah, tapi nggak apa-apa... asal Mas Bagas bisa dapat obat yang terbaik."
Suara bip-bip mesin detak jantung menjadi satu-satunya jawaban di ruangan sunyi itu. Maya memejamkan matanya yang berat, membiarkan rasa lelah menenggelamkannya dalam tidur yang singkat di samping pria yang sangat dicintainya—tanpa pernah menduga bahwa seluruh keringat, darah, dan rasa sakit yang ia pertaruhkan hari ini kelak hanya akan dibalas dengan pengkhianatan yang menghancurkan jiwanya.