Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 : Iblis Serigala Primordial
BLAAAMMM!
Tembok batu bata di belakang halaman sekte hancur berkeping-keping. Debu tebal bergulung ke udara menutupi bintang-bintang. Dari balik kabut reruntuhan itu, melangkah sesosok bayangan raksasa. Iblis Serigala Primordial itu memamerkan taringnya yang meneteskan liur beracun, matanya yang semerah darah menyapu seluruh halaman yang kini membeku dalam teror.
"MUNDUR! SEMUANYA MUNDUR!" teriak Shen Yuan dengan suara serak, menarik lengan Lin Yue dan berusaha menggapai jubah adiknya. "Rui! Jangan diam saja! Kita harus lari ke gunung belakang sekarang!"
Gadis-gadis Asrama Selatan menjerit histeris. Mereka berhamburan berlari tak tentu arah, menjatuhkan jagung dan cangkir teh mereka. Namun, Shen Rui justru berdiri mematung di tempatnya. Kakinya tak bergeser satu sentimeter pun.
"Lari? Kau menyuruhku lari, Kak?!" Yui menepis tangan Yuan dengan kasar. Matanya menatap tajam ke arah monster raksasa itu. "Aku adalah kultivator jenius! Tadi pagi aku menghancurkan sepuluh batu purba raksasa menjadi debu! Anjing kurap ini bukan apa-apa bagiku!"
"Jangan gila, Yui!" jerit Lin Yue sambil menangis, menarik-narik lengan baju Yui. "Dia bukan siluman biasa! Hawa bunuhnya terlalu pekat! Tolong, ayo kita lari!"
"Tapi aku harus membunuhnya!"
"Tutup mulutmu, Rui! Kekuatanmu belum stabil!" bentak Yuan, urat lehernya menonjol panik. "Kau bahkan tidak tahu bagaimana memanggil cahaya merah itu lagi! Jangan membuang nyawamu secara konyol!"
Sebelum perdebatan mereka berlanjut, suara raungan pedang membelah udara. Belasan pedang spiritual yang bersinar terang meluncur dari atas atap asrama, menghujani tubuh Iblis Serigala itu.
"FORMASI PEDANG PENGUNCI LANGIT! TAHAN MAKHLUK JAHANAM ITU!"
Tetua Pertama melompat turun dari udara, jubahnya berkibar gagah. Di belakangnya, Guru Wu dan belasan senior divisi dalam mendarat dengan senjata terhunus, membentuk barikade antara monster itu dan para murid junior.
"Tetua!" seru Yuan lega.
"Jangan banyak bicara, Shen Yuan!" raung Tetua Pertama tanpa menoleh ke belakang, tangannya sibuk memutar segel Qi untuk menahan ayunan kapak batu si Iblis Serigala. "Guru Wu! Bawa seluruh murid divisi luar dan anak-anak perempuan itu ke Hutan Terlarang di belakang gunung! Cepat! Kami akan menahannya di sini!"
"Baik, Tetua!" Guru Wu menoleh ke arah kerumunan murid yang ketakutan. "Semuanya, ikuti aku! Jangan ada yang menengok ke belakang!"
Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi yang baru saja keluar dari ruang hukuman langsung lari terbirit-birit mendahului yang lain, berteriak ketakutan mencari selamat. Lin Yue menarik lengan Yuan. "Kak Yuan, ayo! Para guru akan mengurusnya!"
Yuan mengangguk. Ia meraih tangan Yui dengan paksa. "Ayo, Rui! Ini perintah!"
Tapi Yui yang keras kepala justru menanamkan kakinya kuat-kuat ke tanah, menggunakan energi es untuk memaku sepatunya ke lantai batu.
"Tidak mau! Lepaskan aku, Kak!" teriak Yui memberontak. "Tetua Pertama dan Guru Wu tidak akan kuat melawannya! Lihat mereka!"
Benar saja. Baru beberapa detik berlalu, Iblis Serigala itu mengaum keras, mengayunkan kapaknya dan menghancurkan Formasi Pedang Pengunci Langit seolah itu hanya jaring laba-laba. Tetua Pertama memuntahkan darah dan terpental mundur menabrak tiang pendopo.
"TETUA!" Guru Wu berteriak panik, berniat maju membantu.
"Aku bilang lepaskan aku, Kak Yuan! Aku harus menyelamatkan kakek tua menyebalkan itu!" Yui meronta dengan sisa tenaga, melepaskan cengkeraman kakaknya. Ia melangkah maju menantang raksasa itu. "Hei, Anjing Berkutu! Beraninya kau menghancurkan asrama kami! Rasakan pembalasan dari Pangeran Es yang agung ini!"
"SHEN RUI! KEMBALI KAU, ANAK BODOH!" jerit Tetua Pertama yang sedang berusaha bangkit dengan susah payah. "Kau mencari mati?!"
Yui mengabaikan semua teriakan itu. Ia memejamkan mata, mengambil napas panjang seperti yang dilakukannya di Air Terjun Cermin Naga tadi pagi. Ia membayangkan energi merah bulan yang dahsyat itu. Ia memutar pinggangnya, memusatkan seluruh keyakinannya ke kepalan tangannya.
"RASAKAN INI! TINJU PENGHANCUR SURGA!"
Dengan teriakan yang sangat gagah, Yui meninju ke arah Iblis Serigala.
Semua orang menahan napas. Yuan membelalakkan mata, berharap keajaiban tadi pagi benar-benar terulang. Lin Yue menutup matanya dengan kedua tangan.
WUSSS!
Namun... tidak ada badai es. Tidak ada cahaya merah keperakan. Tidak ada ledakan sonik.
Yang keluar dari telapak tangan Yui hanyalah sebuah bongkahan es seukuran buah jeruk nipis, melayang lambat di udara, dan berbunyi TUK saat menabrak kuku jempol kaki Iblis Serigala raksasa itu. Bongkahan es itu langsung hancur menjadi serpihan kecil.
Keheningan yang amat canggung dan mematikan melanda halaman itu.
Yui berkedip-kedip, menatap tangannya sendiri dengan raut wajah paling bodoh yang pernah ada di dunia. "Eh? Lho? Kok... macet?" gumamnya polos.
Iblis Serigala itu berhenti mengamuk. Makhluk raksasa tersebut perlahan menundukkan kepalanya, menatap manusia sekecil semut yang baru saja melempar es batu ke kakinya. Hidung serigala raksasa itu berkedut, mengendus udara di sekitar Yui.
Tiba-tiba, mata merah darah Iblis itu membelalak buas.
"AROMA INI..." Suara guntur makhluk itu menggetarkan tanah. "AROMA DARAH MURNI NAGA SURGAWI... KAU... KAU ADALAH PUTRA MAHKOTA YANG DICARI TUANKU!"
"Hah? Putra Mahkota?" Yui memiringkan kepalanya, masih berusaha mencerna keadaan. "Wah, hidungmu lumayan juga. Tapi aku Pangeran Kedua, bukan Putra Mahkota—"
"RUI, MENGHINDAR!"
Teriakan histeris Shen Yuan membelah udara. Yuan melesat maju dengan kecepatan badai, tubuhnya diselimuti pusaran angin hijau yang sangat kuat. Namun, ia kalah cepat.
Sebuah tangan berbulu sebesar gerobak menyambar turun dan mencengkeram seluruh tubuh Yui.
"Ukh!" Yui tercekat, tulang rusuknya nyaris remuk dalam genggaman raksasa itu. Kakinya memberontak di udara, tapi ia benar-benar tak berdaya.
"AKHIRNYA KUTEMUKAN KAU, PEMBAWA KIAMAT!" raung Iblis Serigala itu dengan tawa menggelegar, mengangkat Yui tinggi-tinggi ke udara.
"LEPASKAN ADIKKU, IBLIS KOTOR!"
Yuan melompat ke udara, mengayunkan pedang kayunya yang kini dilapisi pedang angin tajam, menebas langsung ke arah pergelangan tangan monster itu. Namun, kulit sang Iblis sekeras baja hitam. Pedang Yuan hancur berkeping-keping. Gelombang energi tolakan dari kulit monster itu menghempaskan Yuan kembali ke tanah hingga ia memuntahkan darah segar.
"Kak Yuan!" jerit Lin Yue, berlari menahan tubuh Yuan yang terjatuh.
"TIDAK! RUI!" Yuan memaksa dirinya merangkak maju, matanya membelalak dipenuhi urat merah. Keputusasaan menelan seluruh kewibawaannya.
Di atas sana, Yui menatap kakaknya dengan mata yang mulai berair. Kesombongan dan kejahilannya runtuh tak bersisa, menyisakan ketakutan seorang anak kecil. "Kak Yuan... tolong aku... sakit..." rintih Yui pelan.
"Tugas selesai. Dunia Iblis akan kembali berjaya!"
Makhluk itu mengepakkan sayap bayangan di punggungnya. Dengan satu kepakan dahsyat yang menerbangkan debu dan menumbangkan pepohonan di halaman, Iblis Serigala itu melesat ke langit malam yang gelap, membawa Shen Rui bersamanya.
"TIDAAAAAAK! KEMBALIKAN DIA!"
Shen Yuan bangkit dengan sisa tenaganya, berlari terhuyung-huyung mengejar bayangan raksasa itu, menengadah ke arah langit yang perlahan menelan sosok adiknya.
"RUIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!"
Jeritan putus asa Yuan menggema membelah malam, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Pemuda jenius yang selalu tenang dan dingin itu kini jatuh berlutut di tanah yang hancur. Air mata mengalir deras dari matanya, tangannya mencengkeram lumpur dengan penuh penyesalan dan kebencian pada ketidakberdayaannya sendiri. Adik yang sangat menyebalkan, yang baru sepuluh menit lalu menggodanya soal jagung bakar, kini telah direnggut tepat di depan matanya.
****
Like like ya