NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa

Reinkarnasi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Farel Kurniawan, yang dijuluki Dewa Kesenangan — eksistensi di puncak Tujuh Dunia Tanpa Batas — dikhianati muridnya sendiri dan dibunuh dengan cara menghancurkan sebuah Dunia Kecil menggunakan Pagoda Giok yang meledak. Saat kematiannya, ia bertemu Nyai Sekar Lestari, entitas yang jauh melampaui Dewa Sejati, yang memberinya "hadiah": kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuhnya sendiri yang berusia 16 tahun, sebagai murid sampah di sekte kultivasi ganda paling rendah, dengan ingatan utuh dan sebuah segel misterius di jiwanya.

Tujuan Farel bukan hanya menjadi kuat lagi. Ia harus memahami siapa yang membawanya ke sekte ini, siapa Roro Ayu Kinasih sebenarnya, dan siapa Nyai Sekar Lestari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 — NIAT PEDANG YANG MEMBEKU MALAM

Farel Kurniawan berdiri tenang di sana, mengetahui dengan pasti bahwa orang-orang yang tadi berusaha menghalangi jalannya pulang tidak akan membiarkannya pergi begitu saja, seandainya ia mencoba membujuk mereka dengan kata-kata manis. Ia bukan orang yang sabar menunggu diizinkan lewat, dan ia tidak suka membuang napas untuk kalimat yang pada akhirnya tidak akan mengubah apa pun. Tindakannya hanyalah logika sederhana baginya — hambatan harus disingkirkan.

Namun bagi mereka yang menyaksikan, terlepas dari kubu mana mereka berada, ketenangan yang terpancar dari sosok muda itu terasa tidak manusiawi. Dunia kultivasi memang keras dan kejam, tetapi membunuh — apalagi menjatuhkan tiga orang dalam sekejap — biasanya tetap meninggalkan getar di dada siapa pun yang melakukannya. Dari Farel? Tidak ada. Tidak ada amarah, tidak ada kepuasan, tidak ada sedikit pun gejolak batin.

Bahkan Rara Sekar Arum Larasati, yang selama perjalanan ini semakin mengenal sifat tenang Farel, terperangah melihatnya. Anehnya, ia tidak merasa takut. Hanya terkejut menyadari betapa dalamnya kekuatan yang tersembunyi di balik sosok yang selama ini dianggap murid tak berguna. Setiap orang yang tadi ia tumbangkan adalah praktisi Alam Kondensasi Qi — bukan pemula, melainkan pejuang dengan kekuatan tempur yang mumpuni. Namun di tangan Farel, nyawa mereka tercabut selembut memetik rumput. Dan aliran pedang yang ia peragakan... memiliki kedalaman dan keanggunan yang belum pernah Rara lihat sebelumnya, seolah-olah setiap goresan pedangnya adalah bagian dari tarian kuno yang telah hilang dari ingatan dunia ini.

"K-kau kira kau bisa begitu saja melukai orang-orang kami lalu pergi seenaknya?!" seru seseorang dari kelompok penyerang, suaranya bergetar namun berusaha tampil garang.

Meskipun mereka gemetar melihat kecepatan Farel, logika mereka masih berteriak bahwa ia hanya berada di tingkat Alam Transformasi Tubuh. Di antara barisan mereka ada praktisi Alam Manifestasi Qi — bahkan beberapa di antaranya telah mencapai Alam Putaran Qi. Lompatan kekuatan dari Kondensasi Qi ke Manifestasi Qi adalah jurang yang nyaris tak terjangkau; di tingkat itu, Qi Spiritual dapat dipancarkan ke luar tubuh, membalut senjata dan tubuh dengan kekuatan yang seharusnya mustahil dikalahkan oleh siapa pun di bawahnya.

Alam Putaran Qi adalah puncak dari para praktisi di dunia ini — jumlahnya hanya beberapa ribu jiwa di seluruh benua. Di atas mereka hanya ada para tetua tertinggi dari Lima Sekte Besar yang jarang terlihat. Karena penyerang malam ini memiliki beberapa penguasa alam tertinggi di barisan mereka, mereka merasa masih memegang kartu kemenangan. Rasa takut mereka bercampur dengan kepercayaan diri yang berlebihan.

"Apakah kalian yakin ingin membuang waktu untukku?" tanya Farel lembut, menunjuk ke arah belakang mereka di mana suara benturan senjata semakin kacau. "Garis depan kalian di seberang sana sedang runtuh karena perhatian kalian terbagi. Aku tidak bermaksud masuk campur urusan kalian. Aku hanya meloloskan diri dari jalan yang kalian blokir. Tetapi jika kalian memaksakan diri untuk menahan langkahku... aku pastikan misi kalian malam ini berakhir di sini."

Gigi mereka gemeretak menahan amarah dan frustrasi. Mereka tahu benar bahwa jika mereka terlibat perang dengan Farel, rombongan dari sekte di seberang jalan pasti akan memanfaatkan kekacauan itu. Misi utama mereka akan hancur begitu saja.

"Jangan khawatir, kami akan urus pemuda sombong ini! Kalian lanjutkan, fokus pada target!"

Suara berat bergema dari belakang kerumunan. Tiga sosok melangkah maju, aura mereka menyebar menekan udara dingin Kota Batu. Mereka berada di Alam Manifestasi Qi — dan dari tatapan mata serta cara mereka berdiri, jelas bahwa ini bukan petarung biasa. Mereka adalah pendekar berpengalaman yang terbiasa berjalan di ambang kematian.

Saat mereka maju, penyerang lainnya menarik diri, seolah Farel hanyalah mayat yang belum jatuh. Hanya dua sosok tua berdiri di belakang ketiga pendekar itu — dua tetua di Alam Putaran Qi — yang menatap dingin ke arah gerbang Penginapan Wilis Indah.

"Siapa pun yang ikut campur, akan menemui ajalnya malam ini," ujar salah satu tetua itu dengan suara yang terdengar di telinga setiap orang. "Dia yang terlalu sombong... kematiannya adalah tanggung jawabnya sendiri."

Rara Sekar menggenggam gagang pedangnya erat, siap melompat keluar. Namun Farel mengangkat tangan kanannya — telapak terbuka ke arah Rara, memberi isyarat untuk menahan diri.

"Tiga orang ini belum cukup untuk membuatku repot, Rara. Tetap di sana," katanya tenang.

Tangan kirinya memegang sarung pedang. Dengan gerakan halus, ia menyerahkan sarungnya ke dalam Cincin Penyimpanan di jarinya, lalu menggenggam gagang pedang hitam itu dengan kedua tangan secara bergantian.

Rara Sekar entah mengapa merasa hatinya tenang mendengar kalimat itu. Tidak masuk akal — bagaimana mungkin seseorang di alam bawah menenangkan seseorang yang jauh lebih berpengalaman? Namun ia percaya. Ada sesuatu dalam sorot mata Farel — ketenangan seorang raja yang berdiri di atas gunung mayat — yang membuatnya yakin bahwa langit itu tidak akan runtuh selama ia berdiri di sana.

Berbeda dengan Rara, Tetua Hadi Saputro dan para pelindung sekte di sampingnya menatap dengan napas tertahan. Mereka melihat Farel sebagai orang yang sudah mati. Namun diam-diam mereka bersyukur — lebih baik satu orang tumbang daripada seluruh rombongan hancur malam ini. Setidaknya konflik dapat dihindari.

Farel melangkah maju, menghunus pedangnya sepenuhnya.

"Haa..." ia menghela napas pelan. "Kalian memilih jalan yang salah. Aku berharap kalian lebih bijaksana. Tetapi karena kalian memaksakan diri... maka misi kalian berakhir di sini."

Nada bicaranya terdengar sungguh-sungguh menyesali kebodohan mereka. Padahal ia tidak berniat membantu siapa pun di penginapan seberang sana. Ia hanya ingin pulang. Namun harga diri para penyerang terluka — dan mereka memaksanya masuk ke dalam pertarungan yang seharusnya bukan urusannya.

Mendengar itu, ketiga pendekar merasa dihina. Amarah membakar akal sehat mereka.

"Kau terlalu muluk-muluk! Mati kau!"

Pendekar pertama menerjang maju, pedang besar bermata dua diangkat tinggi, menyambar ke arah kepala Farel dengan kekuatan yang membelah angin.

Farel tidak mundur. Ia melangkah menyamping sedikit, membiarkan bilah pedang besar itu menghantam tanah tepat di samping bahunya. Tanah berbatu pecah berantakan. Di saat yang sama, tombak pendekar kedua melesat menusuk ke arah dadanya dari samping. Farel memutar tubuhnya, ujung tombak itu lewat sejengkal dari punggungnya.

Tanpa jeda, pedang pendekar ketiga menebas mendatar ke pinggangnya. Farel menangkis dengan sisi tumpul pedangnya — dung! — dan membelokkan arah tebasan itu ke atas. Telapak tangan kirinya mendarat tepat di batang tombak, dekat ujung tajamnya. Dengan sentakan halus namun tepat sasaran, ia mengubah keseimbangan tombak itu sehingga ujungnya melesat ke arah pendekar pertama yang baru saja menebas tanah.

Saat ketiganya berusaha menata kembali keseimbangan dan napas, mereka menyadari sesuatu yang membuat darah mereka membeku. Di leher pendekar pertama terbuka luka tipis namun dalam — ujung pedang Farel sempat menyentuh kulitnya saat ia menghindari tusukan tombak. Ia nyaris kehilangan kepalanya.

Pendekar kedua masih memegang tombaknya, tetapi ia tahu senjatanya hampir lepas dari genggamannya — pukulan tadi mendarat tepat di titik keseimbangan senjatanya, menggetarkan seluruh lengannya.

Pendekar ketiga meringis, pergelangan tangan kanannya berdarah — luka dalam melingkar di sekitar pergelangan tempat ia memegang gagang pedang.

Mata ketiganya melebar ngeri. Farel tidak lebih cepat. Tidak lebih kuat. Namun ia terampil luar biasa. Setiap gerakannya bukan menahan kekuatan lawan, melainkan meminjamnya, mengalihkannya, memutarbalikkannya. Ia tahu persis di mana kelemahan setiap gerakan, di mana titik keseimbangan tergoyahkan.

Tangannya terasa sedikit kesemutan. Qi Spiritual yang mengalir di senjata para pendekar itu menghantam pedangnya setiap kali bertemu — panas dan menusuk. Farel tahu batas kemampuannya. Tiga orang di Alam Manifestasi Qi sekaligus... itu hampir batas maksimumku, pikirnya dalam hati. Lebih dari itu, aku harus pergi.

Namun ketiga pendekar itu tidak tahu keraguannya. Yang mereka rasakan hanyalah jurang yang tak terlihat di hadapan mereka.

"Hmm..." Farel mengangguk pelan, seolah memastikan perhitungan di dalam kepalanya. "Sudah cukup. Sekarang... biarkan ini selesai."

Saat kalimat itu diucapkan, sesuatu berubah. Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa menipis. Cahaya bulan di atas seolah tertarik ke arah bilah pedang hitam di tangannya. Aura yang lembut namun tajam seperti ribuan jarum halus menyebar, membelenggu setiap orang di jalan itu.

"I-itu... niat pedang?!?!"

"S-seorang penegak Dao Pedang?!?!"

"Impossibel... bagaimana mungkin di tubuh seseorang yang masih di Alam Transformasi Tubuh?!"

Ketiga pendekar mundur terhuyung, wajah mereka pucat pasi. Niat Pedang — pemahaman tertinggi tentang seni pedang yang seharusnya hanya dimiliki oleh tetua-tetua kuno yang telah bertahun-tahun menutup diri di gunung sunyi. Namun di sini, malam ini, dipancarkan oleh seorang pemuda yang baru beberapa bulan lalu dianggap sampah di Pengadilan Luar.

"K-kita mundur! Kita minta maaf! Lupakan saja semua ini!"

"Kau bilang kau tidak ikut campur! Kita bisa selesaikan dengan damai!"

Sebagian besar penyerang mulai gemetar hebat, keringat dingin membasahi pakaian mereka hingga menempel di kulit. Tekanan itu bukanlah niat membunuh — itu adalah kepastian. Seolah kematian itu sendiri berdiri di hadapan mereka, menunggu dipersilakan.

Namun Farel tidak menurunkan pedangnya. Matanya bening — tidak ada amarah, tidak ada dendam, hanya ketenangan yang mengerikan.

"Maafkan aku... tetapi kalian yang memilih jalannya."

Ia mengangkat pedangnya perlahan ke sisi kiri, bilahnya sejajar dengan bahu. Cahaya bulan seakan terserap ke dalam logam hitam itu, lalu meluncur...

"T-tunggu! Ampun—!"

Srat...

Satu suara halus, seperti kain sutra yang terbelah.

Waktu seolah berhenti. Angin berhenti berhembus. Suara jangkrik di semak belukar di pinggir Kota Batu pun lenyap. Malam membeku dalam keheningan yang mutlak.

Detik berikutnya...

Cahaya bulan kembali jatuh ke bumi seperti biasa. Angin malam kembali berhembus dingin menyapu jalanan berbatu. Satu per satu, kepala dari ketiga pendekar itu terlepas dari leher mereka, diikuti dua tetua di belakang mereka, lalu barisan penyerang yang tertekan oleh niat pedang tadi — nyaris serentak, seratus lebih tubuh jatuh berdebam ke tanah, leher terbelah rapi seolah dipotong oleh benang halus yang tak terlihat. Pedang-pedang mereka terbelah dua di tempat yang tepat bertepatan dengan luka di leher tuannya, jatuh berdenting di atas batu jalan.

Farel berdiri sendirian di tengah jalan yang kini sunyi senyap. Ia menghela napas pelan, membersihkan sisa aura yang memancar, lalu memasukkan pedangnya kembali ke dalam sarung yang muncul dari cincin di tangannya. Ia berbalik dan berjalan tenang menuju gerbang penginapan, seolah baru saja selesai menyapu daun kering di halaman rumahnya.

Pintu gerbang Wilis Indah tetap terbuka. Rara Sekar, Tetua Hadi, dan semua orang yang berdiri di sana hanya bisa menatapnya dengan napas tertahan. Tidak ada yang berkata-kata. Malam itu, di kota yang sejuk di kaki Gunung Panderman itu, mereka menyaksikan sesuatu yang akan menghantui mimpi mereka selamanya — keagungan sekaligus kengerian seorang Dewa yang terbangun perlahan dari tidur panjangnya.

 

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!