Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Jiang Chen benar-benar berkeringat dingin berdiri di lorong itu.
Dia merasa lebih sanggup menghadapi sepuluh orang bersenjata tajam daripada harus memilih satu bungkus pembalut yang benar.
Karena takut salah beli dan Mengqi menolak membayar upahnya, Jiang Chen akhirnya mengambil keputusan yang paling aman.
Dia menyapu bersih semua varian ukuran malam hari bersayap yang ada di rak itu dan menumpuknya di kedua tangannya.
Jiang Chen berjalan menuju meja kasir dengan wajah sedatar mungkin untuk menyembunyikan rasa malunya yang sudah memuncak.
Bruk.
Delapan bungkus besar pembalut berbagai merek diletakkan ke atas meja kasir, membuat kasir berkacamata itu terbangun kaget.
Mata kasir muda itu langsung terbelalak melihat tumpukan barang kewanitaan yang dibeli oleh seorang pria berwajah garang di depannya.
"Eh, selamat malam Kak. Hanya ini saja belanjaannya?" sapa kasir itu dengan nada canggung dan senyum tertahan.
"Cepat hitung semuanya, aku sedang buru-buru menyelamatkan nyawa seseorang," jawab Jiang Chen dengan nada berat dan sok misterius.
Kasir itu mengangguk cepat dan mulai memindai barcode barang-barang tersebut satu per satu.
Tit tit tit.
"Totalnya jadi seratus dua puluh Yuan, Kak," sebut kasir itu sambil menatap Jiang Chen penuh arti.
"Pacar Kakak pasti sedang mengalami hari pertama yang sangat menyakitkan ya sampai dibelikan sebanyak ini?"
Jiang Chen mendengus pelan sambil menyerahkan selembar uang seratus dan selembar uang lima puluh Yuan dari dompetnya.
"Dia bukan pacarku, dia cuma pasien cerewet yang kebetulan menumpang di apartemenku," kilah Jiang Chen cepat.
"Oh, begitu ya Kak. Kakak ini tipe pria idaman atau pahlawan sejati bagi wanita di luar sana," goda kasir itu sambil tersenyum geli.
"Berhentilah banyak bicara dan masukkan barangnya ke dalam kantong plastik hitam yang paling tebal," perintah Jiang Chen jengkel.
Kasir itu mengambil sebuah kantong plastik dari bawah meja, tapi sayangnya kantong hitam sedang habis.
"Maaf Kak, kantong hitamnya kehabisan, hanya tersisa kantong plastik warna merah muda transparan edisi spesial Valentine ini."
Wajah Jiang Chen langsung memucat seolah baru saja divonis menderita penyakit kronis stadium akhir.
"Kau bercanda?! Aku tidak mungkin berjalan menenteng kantong merah muda transparan berisi benda-benda ini di jalanan!" protes Jiang Chen horor.
"Maaf Kak, peraturan minimarket melarang kami memberikan kantong lapis dua," jawab kasir itu menahan tawa.
Jiang Chen meraup wajahnya dengan kasar, merasa harga dirinya benar-benar sudah diinjak-injak malam ini.
Dia menyambar kantong plastik merah muda itu dengan sangat cepat dan langsung berlari keluar dari minimarket.
Lonceng pintu berbunyi lagi mengiringi kepergian Jiang Chen yang sudah setengah berlari menyeberangi jalanan sepi.
Angin malam berhembus cukup dingin, tapi wajah Jiang Chen terasa sangat panas karena menahan rasa malu yang luar biasa.
'Persetan dengan lima ratus Yuan, ini adalah misi rahasia terburuk sepanjang karir medisku,' rutuk Jiang Chen dalam hati.
Dia berjalan setengah menunduk, berharap tidak ada satu pun orang yang mengenalnya berkeliaran di jalanan jam segini.
Sesampainya di apartemen, Jiang Chen langsung menuju kamar Chu Mengqi dan melempar kantong plastik merah muda itu ke atas kasurnya.
"Ini pusaka penolongmu, Nona Barbar. Cepat pakai di kamar mandi dan jangan banyak protes ukurannya," perintah Jiang Chen sambil membuang muka.
Mengqi yang masih kesakitan melihat isi kantong plastik itu dan tidak bisa menahan tawa kecilnya meskipun perutnya kram.
"Kau membeli delapan bungkus ukuran super panjang bersayap ganda? Kau pikir aku ini gajah betina?!" tawa Mengqi pelan di sela isakannya.
"Dari mana aku tahu ukuran pantatmu, Nona?! Aku sudah membelikan semuanya agar kau tidak banyak mengeluh!" bentak Jiang Chen dengan telinga memerah.
"Sana cepat ganti, setelah itu aku akan memberikan terapi pijat meridian agar kau bisa tidur nyenyak."
Mengqi mengangguk pelan dan perlahan bangkit dari kasurnya menuju kamar mandi dalam yang ada di kamarnya.
Hanya butuh waktu lima menit bagi gadis itu untuk menyelesaikan urusan kewanitaannya dan kembali berbaring di kasur.
Wajahnya masih sangat pucat dan keringat dingin belum sepenuhnya mengering dari dahinya.
"Sekarang, apa yang harus kulakukan Dokter Jenius?" tanya Mengqi dengan suara yang jauh lebih patuh dari biasanya.
"Berbaringlah telentang dan lepaskan tanganmu dari perutmu," instruksi Jiang Chen dengan nada yang kini berubah menjadi sangat profesional.
Pemuda yang tadi terlihat konyol membawa kantong merah muda itu kini memancarkan aura seorang tabib dewa yang berwibawa.
Jiang Chen menggosokkan kedua telapak tangannya hingga terasa sangat hangat, mengumpulkan energi Qi murni di sana.
"Aku akan menekan tiga titik meridian utama di perut bagian bawahmu."
"Mungkin akan terasa sedikit panas dan geli, tapi jangan melawan alirannya," peringat Jiang Chen.
Mengqi mengangguk pelan dan menutup matanya, menyerahkan sepenuhnya kepercayaannya pada pemuda tersebut.
Jiang Chen menempelkan kedua telapak tangannya tepat di atas perut Mengqi, hanya terhalang oleh lapisan kaus tipis gadis itu.
Begitu kulit mereka bersentuhan dari balik kain, sebuah gelombang kehangatan yang luar biasa nyaman langsung mengalir masuk ke dalam tubuh Mengqi.
Rasa hangat itu bukan seperti tempelan botol air panas biasa.
Kehangatan itu meresap langsung ke dalam otot, darah, dan rahimnya, menghancurkan gumpalan energi es yang menyiksa sejak tadi.
"Ugh, ini sangat nyaman," desah Mengqi tanpa sadar, suaranya terdengar sangat rileks dan melegakan.
Jiang Chen tidak menjawab, dia memejamkan matanya dan berkonsentrasi penuh mengatur aliran Qi agar tidak merusak organ dalam gadis itu.
Tangan besarnya memijat lembut dengan gerakan melingkar yang sangat presisi dan penuh kehati-hatian.
Rasa sakit yang tadi seolah ingin merobek perut Mengqi perlahan memudar dan menghilang tanpa sisa dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Warna merah muda alami kembali menghiasi pipi gadis itu, dan napasnya menjadi jauh lebih teratur.
Jiang Chen perlahan menarik tangannya dan menyeka sedikit keringat di pelipisnya.
"Nah, terapi darurat selesai. Kram perutmu tidak akan kembali lagi selama sebulan ke depan," lapor Jiang Chen puas.
Mengqi membuka matanya dan menatap wajah Jiang Chen dari jarak sedekat ini.
Rasa hangat yang menjalar di tubuhnya membuat perasaannya menjadi sangat aneh dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Pria yang selalu dia anggap mesum dan bermulut tajam ini ternyata memiliki sentuhan tangan yang paling lembut dan protektif yang pernah dia rasakan.
"Terima kasih banyak, Jiang Chen. Kau benar-benar menyelamatkanku malam ini," ucap Mengqi dengan suara yang sangat tulus dan lembut.
Jiang Chen hanya mengangkat bahunya santai dan berdiri dari pinggir kasur.
"Sama-sama Nona, tapi jangan lupa upah jalan lima ratus Yuanku besok pagi."
"Aku tidak menerima pembayaran dalam bentuk ucapan terima kasih palsu," sindir Jiang Chen sengaja merusak suasana romantis yang hampir tercipta.
Mengqi langsung mendengus kesal dan menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya hingga ke leher.
"Iya, iya dasar pria mata duitan! Besok pagi akan kutransfer uangnya ke rekeningmu!" omel Mengqi dari balik selimut.
Jiang Chen tersenyum penuh kemenangan dan berjalan keluar dari kamar gadis itu.
Dia menutup pintu dari luar dengan sangat pelan agar Mengqi bisa tertidur pulas malam ini.
Misi rahasia membeli pembalut yang sangat memalukan itu akhirnya selesai dengan hasil yang cukup memuaskan bagi saldo tabungan Jiang Chen.