Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Hari Pertama jadi Babu
Hari Senin pagi di SMA Taruna Bakti dimulai dengan bencana berskala nasional bagi seorang Aletha. Jika ada penghargaan untuk remaja paling sial abad ini, Aletha yakin piala berlapis emasnya akan langsung dikirim ke alamat rumahnya tanpa perlu diundi.
Koridor sekolah masih ramai oleh murid-murid yang baru berdatangan. Suara tawa, gosip akhir pekan, dan derap sepatu memenuhi lorong. Aletha berjalan gontai, berniat menuju mading sekolah untuk mengecek jadwal ujian susulan Fisika. Namun, baru saja ia melangkah tiga kali di dekat mading, sebuah bayangan tinggi menjulang tiba-tiba merampas pasokan cahaya matahari di depannya.
Bau parfum maskulin yang kelewat familier, campuran aroma bergamot dan mint yang mahal, langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya. Bulu kuduk Aletha otomatis berdiri tegak bagai mendapat sengatan listrik tegangan tinggi.
"Selamat pagi, Babu," sapa sebuah suara bariton yang terdengar sehalus sutra, tetapi memiliki efek merusak mood setara bom atom.
Aletha mendongak sekuat tenaga hingga lehernya terasa agak pegal. Di depannya, Langit berdiri tegap dengan seragam putih-abu-abu yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Kemeja OSIS-nya disetrika licin tanpa cela, membuat Aletha bertanya-tanya apakah cowok ini tidur sambil berdiri agar bajunya tidak kusut. Wajahnya yang blasteran Jerman-Indonesia memamerkan senyum tipis sarat kemenangan.
'Babu bapak lo peang!' umpat Aletha brutal dalam hati. Ingin rasanya ia mencakar wajah tampan bin sok simetris itu sampai tak berbentuk.
"Langit! Jangan panggil gue pakai sebutan itu di sini! Lo mau bikin gue mati muda karena malu, hah?!" bisik Aletha tajam. Matanya melirik panik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada mata-mata kelas atau akun gosip sekolah yang mendengar obrolan sakral nan hina ini.
Langit sama sekali tidak memedulikan wajah Aletha yang sudah matang seperti kepiting rebus. Wajahnya kembali berubah menjadi tripleks datar, dingin, dan tidak tersentuh. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat dramatis, ia melepaskan tas ransel hitamnya yang tampak sangat padat dan berat, seolah di dalamnya berisi bongkahan batu kali. Ransel itu langsung disodorkan tepat ke depan dada Aletha.
Tak cukup sampai di situ, tangan kiri Langit yang bebas juga menyodorkan tiga buah buku cetak Fisika setebal kamus kedokteran.
"Bawain sampai kelas. Jangan sampai lecet, apalagi ketumpahan air liur lo," perintah Langit dengan nada sedingin es di kutub utara.
"Lo gila, ya?! Ini tas atau dispenser portabel, sih? Berat banget, Tiang Listrik!" Aletha mendesis, merasa urat di dahinya hampir putus.
Langit hanya menaikkan sebelah alis tebalnya. Sebuah gestur minimalis namun mengandung ancaman maksimal. Inget pertunangan bulan depan? Atau mau gue majuin minggu depan? Kurang lebih begitulah terjemahan gratis dari tatapan mata hazel milik Langit.
Aletha menggeram pelan, mirip anak anjing yang kehilangan tulang mainannya. Mau tidak mau, ia menerima beban hidup instan itu. Kedua tangannya langsung memeluk erat tiga buku cetak raksasa, sementara ransel besar Langit terpaksa ia cantolkan di pundak depannya. Tubuh mungil Aletha seketika tenggelam di balik tumpukan barang bawaan.
'Sialan! Kalau begini caranya, tinggi badan gue yang imut cuma sebatas ketiak dia bakal makin menyusut karena ketimpa beban dosa si iblis ini!' batin Aletha menjerit histeris.
Dengan langkah tertatih-tatih mirip penguin lumpuh, Aletha berjalan mengekor di belakang Langit.
Sang "Tuan Besar" melangkah dengan santai, memasukkan kedua tangan ke saku celana, dan sesekali mengangguk sopan saat berpapasan dengan guru. Tak jarang, siswi-siswi dari kelas sebelah berbisik-bisik genit sambil melirik Langit penuh minat. Sementara Aletha di belakangnya hanya bisa mendelik horor pada setiap orang yang berpapasan dengannya.
'Awas lo, Langit! Gue sumpahin kaki lo kesandung tangga, terus nyungsep ke dalam tong sampah komposting di taman belakang!' doa Aletha dengan tulus dalam hati.
"Eh, Tommy! Lihat deh, itu Aletha, kan?"
Sebuah suara serak yang sangat familier dari arah belokan koridor laboratorium mendadak membubarkan lamunan bar-bar Aletha. Langkah kaki Langit dan Aletha terhenti bersamaan. Jantung Aletha serasa merosot sampai ke dengkul saat melihat gerombolan cowok berjaket denim hitam khas geng motor lokal berjalan arogan ke arah mereka.
Itu Reza, dan di paling depan, melangkah Tommy kekasih Aletha. Dahi Tommy berkerut sangat dalam, menciptakan lipatan kemarahan yang kentara. Tatapan matanya yang semula tajam langsung mengunci tumpukan buku dan tas berat yang sedang dipeluk erat oleh Aletha.
"Letha? Lo ngapain bawain tasnya Langit?" tanya Tommy. Suaranya berat, meninggi, dan penuh dengan nada menuntut penjelasan yang mutlak.
Aletha mendadak pucat pasi. Oksigen di sekitarnya mendadak raib. Ia melirik punggung tegap Langit, lalu beralih menatap Tommy dengan mata bergetar gugup.
"E-eh, Tom... Ini... ini nggak kayak yang lo lihat. Gue cuma..."
"Gue yang nyuruh," potong Langit cepat tanpa beban.
Cowok dingin itu berbalik badan perlahan, berhadapan langsung dengan Tommy. Perbedaan tinggi badan yang mencolok membuat Langit tampak mendominasi koridor sekolah seketika. Mata hazel-nya menatap Tommy dengan pandangan yang sangat datar, dingin, dan meremehkan. Seolah-olah ketua geng motor di depannya ini hanyalah sebutir debu kosmik yang tidak sengaja lewat.
"Kenapa? Keberatan?" tantang Langit datar.
Tommy menggeram rendah, merasa harga dirinya diinjak-injak di depan anak buahnya. Ia melangkah maju, mengabaikan eksistensi Langit sejenak, lalu langsung menyambar pergelangan tangan Aletha yang bebas dengan kasar.
Set!
Tumpukan buku di pelukan Aletha hampir saja merosot jatuh.
"Maksud lo apa, Letha?! Lo udah punya pacar ketua geng, tapi malah mau-maunya dijadiin babu sama cowok asing? Lo sengaja bikin gue malu di depan anak-anak?!" bentak Tommy langsung di depan wajah Aletha.
Emosinya meluap tak terkendali, mengabaikan fakta bahwa murid-murid lain kini sudah membentuk lingkaran besar untuk menonton drama gratis ini.
"Tom, lepasin! Sakit, tahu!" ringis Aletha. Ia mencoba menyentakkan tangannya, namun cengkeraman Tommy justru semakin mengerat hingga menyisakan pola kemerahan di kulitnya yang putih.
"Gue terpaksa melakukan ini, Tom! Lo nggak tahu masalah yang sebenarnya!"
"Terpaksa apa?! Lo selingkuh, kan? Sengaja mau cari perhatian sama cowok modal tampang doang ini?" tuduh Tommy berapi-api.
Kecurigaan dan rasa insecure-nya meledak jadi satu.
"Hubungan kita emang lagi renggang, tapi bukan berarti lo bisa bertingkah murahan kayak gini di depan umum!"
Kata 'murahan' yang keluar dari mulut Tommy rasanya menghantam dada Aletha seperti hantaman godam besi. Perih, menghina, dan begitu menyesakkan. Air mata kemarahan dan rasa malu mulai menggenang di pelupuk mata Aletha.
'Gila ya lo, Tom! Gue berjuang setengah mati di sini biar rahasia pertunangan sialan ini nggak terbongkar, dan lo malah ngatain gue murahan?! Dasar cowok titisan dajjal!' pekik Aletha dalam hati, menahan tangisnya agar tidak pecah di depan umum.
"Jaga mulut lo, Tommy! Gue nggak semurah itu!" teriak Aletha dengan suara yang bergetar hebat.
Langit yang semula hanya berdiri menonton dengan wajah malas, mendadak mengubah tatapannya menjadi setajam silet. Senyum sinis yang biasanya menghiasi bibirnya lenyap total, digantikan oleh ekspresi gelap yang begitu mengintimidasi. Hawa dingin yang menguar dari tubuhnya mendadak membuat area koridor itu terasa mencekik.
Sebelum Tommy sempat membuka mulut untuk melontarkan makian berikutnya, Langit bergerak secepat kilat. Tangan panjangnya maju, mencengkeram pergelangan tangan Tommy yang tengah mencengkeram Aletha, lalu memelintirnya ke bawah dengan sekali sentakan kuat yang sangat bertenaga.
"Aakh!" Tommy memekik kaget. Cengkeramannya pada tangan Aletha terlepas seketika akibat rasa sakit yang mendadak menyerang sendinya.
Dengan satu gerakan protektif yang tegas, Langit menarik bahu Aletha ke belakang, memblokade tubuh mungil gadis itu sepenuhnya di balik punggung tegapnya yang luas. Langit berdiri kokoh bagai benteng pertahanan yang tak tertembus, mengisolasi Aletha dari tatapan menghakimi orang-back-ground.
Langit menatap Tommy dengan sorot mata membunuh yang teramat dingin, seolah siap meremukkan siapa saja yang berani maju.
"Gue nggak suka barang milik gue disentuh secara kasar oleh orang asing," ucap Langit dengan suara rendah, berat, dan sarat akan ancaman yang mutlak.
Suasana koridor langsung hening seketika, membeku di bawah kuasa kalimat menakutkan yang baru saja diucapkan oleh sang es batu sekolah. Sementara di balik punggung tegap itu, jantung Aletha berdegup liar bukan lagi karena takut pada Tommy, melainkan karena cara Langit menyembunyikannya di balik tubuhnya yang hangat. Dan rahasia mereka yang sewaktu-waktu bisa saja Langit bongkar di depan semua orang.