Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Retakan Pertama pada Singgasana Palsu
Malam di kediaman Duke Killian selalu terasa lebih dingin daripada tempat lain di seluruh kekaisaran. Elena berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman labirin yang gelap, memegangi cangkir teh yang kehangatannya perlahan memudar. Pikirannya melayang pada kehidupan pertamanya—rasa sakit saat api melahap kulitnya dan jeritan putranya yang tak berdosa terus menggema di kepalanya bagai kutukan.
Langkah kaki yang berat dan berirama memecah keheningan ruangan. Tanpa menoleh pun, Elena tahu siapa yang datang. Aura intimidasi yang pekat dan aroma tembakau mahal bercampur kayu cedar yang khas hanya milik satu orang di kekaisaran ini.
"Kau belum tidur, Elena?" Suara berat Duke Killian memecah kesunyian, terdengar sangat dekat di belakangnya.
Elena berbalik perlahan, mempertahankan ketenangan di wajahnya, lalu membungkuk hormat. "Saya sedang memikirkan langkah kita selanjutnya, Duke. Waktu tiga tahun berjalan lebih cepat dari yang kita duga."
Killian berjalan menuju kursi kebesarannya, menatap Elena dengan sepasang mata elang yang dingin. Pria yang dijuluki tirani berdarah dingin itu menyandarkan tubuhnya dengan santai, namun ketajamannya tidak berkurang sedikit pun.
"Mata-mataku melaporkan bahwa Gavin Thorne baru saja mengamankan kesepakatan pasokan besi dari wilayah Barat," ujar Killian, seringai tipis yang mengerikan muncul di sudut bibirnya. "Dia pikir dia bisa mulai membangun kekuatannya sendiri tanpa sepengetahuan keluargamu."
Mendengar nama Gavin, cangkir di tangan Elena sedikit bergetar. Kemarahan yang membakar di dadanya hampir saja meledak, namun ia berhasil menahannya. Kehidupan kedua ini menuntutnya menjadi rubah yang cerdik, bukan domba yang gegabah.
"Gavin selalu menjadi pria yang tidak sabaran," ucap Elena dengan nada datar namun penuh racun. "Di kehidupan... maksud saya, dari apa yang saya pelajari tentang wataknya, dia akan menggunakan pasokan besi itu untuk mendekati para bangsawan militer kelas bawah. Dia ingin meletakkan fondasi sebelum secara resmi melamar saya dan menguasai pengaruh keluarga saya."
Killian menatap Elena dengan minat yang mendalam. Aliansi mereka baru berjalan beberapa bulan, namun wanita di hadapannya ini selalu tahu persis apa yang akan dilakukan oleh Gavin. Kemampuan analisis Elena yang luar biasa dan pengetahuannya tentang masa depan—meski Killian hanya menganggapnya sebagai intuisi politik yang jenius—membuat sang Duke terkesan.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Killian, menantang wanita itu. "Aku bisa saja mengirim ksatria bayanganku untuk memotong jalur pasokan itu malam ini juga jika kau mau."
"Tidak, Duke. Itu terlalu cepat dan terlalu bersih untuknya," tolak Elena dengan tegas. Matanya berkilat penuh dendam. "Biarkan Gavin merasa dia telah menang. Biarkan dia mengeluarkan seluruh tabungan rahasianya untuk membayar deposit besi tersebut. Namun, tepat sebelum kontrak resmi ditandatangani di hadapan Menteri Perdagangan, kita akan merebut tambang besi di Barat itu secara sah."
"Merebutnya secara sah?" Killian menaikkan satu alisnya.
"Benar. Pemilik tambang besi di Barat saat ini sedang terlilit utang besar akibat perjudian di kasino bawah tanah milik Marquis Vance," jelas Elena. Di kehidupan masa lalunya, Gavin memanfaatkan kelemahan ini untuk memeras sang pemilik tambang. Kali ini, Elena akan membalikkan keadaan. "Jika Duke bersedia membeli surat utang pemilik tambang tersebut dari Marquis Vance, kita secara otomatis memegang kendali penuh atas hak milik tambang itu."
Killian terdiam sejenak, menimbang rencana Elena. Itu adalah strategi yang brilian. Gavin akan kehilangan uang depositnya yang berharga, reputasinya di mata para bangsawan Barat akan hancur karena gagal memenuhi janji, dan yang paling penting, Gavin tidak akan pernah tahu siapa yang menusuknya dari belakang.
"Menarik," gumam Killian. Pria itu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Elena. Jarak di antara mereka kini sangat tipis hingga Elena bisa merasakan kehangatan tubuh sang Duke. Killian mengulurkan tangan setianya, menepis seuntai rambut pirang Elena yang menutupi wajahnya dengan gerakan yang mengejutkan lembut, kontras dengan reputasinya yang kejam. "Kau benar-benar wanita yang berbahaya, Elena. Aku bersyukur kita berada di pihak yang sama."
Elena menatap langsung ke dalam mata gelap Killian. Di kehidupan sebelumnya, ia sangat takut pada pria ini. Namun sekarang, ia menyadari bahwa di balik dinding es dan kekejamannya, Killian adalah pria yang memegang janjinya dengan teguh.
"Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup, Duke," jawab Elena dengan nada berbisik.
"Besok pagi, surat utang itu akan berada di meja kerjamu," ucap Killian, matanya mengunci pandangan Elena. "Dan aku ingin melihat bagaimana caramu menghancurkan mangsamu."
"Anda tidak akan kecewa, Duke," janji Elena dengan senyum dingin.
Keesokan harinya, matahari baru saja terbit ketika Elena kembali ke kediaman keluarganya. Suasana kediaman Count masih tampak tenang, hingga langkahnya terhenti di aula utama. Sosok pria berambut cokelat dengan senyum manis yang dulu sangat ia puja—namun kini paling ia benci—sedang berdiri di sana berbincang dengan ayahnya.
Itu Gavin. Pria itu mengenakan pakaian terbaiknya, tampak seperti seorang bangsawan muda yang jujur dan berdedikasi. Namun di mata Elena, Gavin tidak lebih dari seekor ular berbisa yang bersiap memangsa keluarganya.
"Ah, Elena! Kau dari mana saja pagi-pagi begini?" sapa ayahnya, Count, dengan nada hangat saat melihat putrinya masuk.
Gavin langsung berbalik. Ketika matanya bertemu dengan mata Elena, ia memancarkan tatapan penuh kasih sayang yang palsu. "Elena, senang bisa melihatmu sepagi ini. Aku sengaja datang berkunjung membawa teh bunga langka dari Selatan untukmu."
Elena mengepalkan tangannya di balik gaun panjangnya hingga kuku-kukunya memutih. Rasa mual yang hebat bergejolak di perutnya saat melihat wajah Gavin. Pria ini, di masa depan, akan berselingkuh dengan adik tirinya yang licik, membantai putranya dengan kejam, dan membakarnya hidup-hidup.
‘Tahan dirimu, Elena. Waktunya belum tiba,’ bisik Elena dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri.
Mengambil napas dalam-dalam, Elena memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya. Ia berjalan mendekat dengan keanggunan seorang Nona Muda sejati.
"Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan Gavin," ujar Elena dengan nada yang sengaja dibuat sedikit berjarak. Perubahan panggilan dari "Kak Gavin" menjadi "Tuan Gavin" membuat Gavin sedikit tersentak, walau pria itu dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya.
"Elena, kudengar kau akhir-akhir ini sering keluar rumah. Jika kau butuh pengawalan atau teman jalan, aku selalu siap meluangkan waktu untukmu," ucap Gavin dengan nada lembut, mencoba meraba-raba suasana hati Elena. Ia merasa beberapa minggu terakhir ini Elena menjadi lebih sulit didekati dan dingin.
"Saya hanya mengurus beberapa bisnis kecil untuk membantu Ayah, Tuan Gavin. Anda tidak perlu repot-repot," jawab Elena dengan nada sopan namun tegas.
Count yang berada di sana tertawa kecil melihat interaksi mereka. "Gavin, putriku ini belakangan memang sangat tertarik pada pengelolaan wilayah. Aku senang dia mulai dewasa."
Gavin tersenyum kaku dan mengangguk. "Itu adalah hal yang bagus, Count. Wanita yang cerdas adalah berkah." Namun di dalam hatinya, Gavin merasa cemas. Elena yang naif dan mudah dimanipulasi adalah kunci utamanya untuk naik takhta. Jika Elena berubah menjadi mandiri, rencananya bisa berantakan.
"Oh ya, Tuan Gavin," Elena memotong pemikiran Gavin dengan nada santai. "Kudengar Anda sedang mengusahakan proyek besar di wilayah Barat? Semoga segalanya berjalan lancar sesuai rencana Anda."
Mata Gavin membelalak sesaat karena terkejut. Bagaimana Elena bisa tahu tentang proyek rahasianya di Barat? Pertanyaan itu berputar di kepalanya, namun ia segera menepisnya, mengira Elena mungkin hanya mendengar selentingan dari para bangsawan di pesta teh.
"Ah, itu hanya investasi kecil, Elena. Bukan sesuatu yang besar," jawab Gavin dengan tawa cemas yang tertahan. "Tapi terima kasih atas doamu. Aku yakin proyek ini akan sukses besar dan membawa masa depan yang cerah."
Elena tersenyum misterius. ‘Ya, masa depan yang sangat cerah, Gavin. Karena aku sendiri yang akan membakar seluruh mimpimu hingga menjadi abu.’
Setelah Gavin berpamitan pergi dengan perasaan gelisah yang mulai tumbuh, Elena segera kembali ke kamarnya. Di atas meja riasnya, sebuah surat dengan segel lilin berwarna hitam bergambar lambang keluarga Duke Killian sudah tergeletak dengan manis.
Elena membuka segel tersebut. Di dalamnya terdapat dokumen pengalihan kepemilikan surat utang tambang besi wilayah Barat yang sudah ditandatangani secara sah oleh Marquis Vance dan Duke Killian.
Sebuah kemenangan pertama yang mutlak.
Elena menggenggam dokumen itu erat-erat ke dadanya. Air mata kemarahan yang tertahan sejak tadi akhirnya jatuh, namun kali ini bukan karena kesedihan. Ini adalah air mata kemenangan. Roda balas dendamnya kini telah resmi berputar, dan Gavin Thorne baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan yang akan menghancurkan hidupnya selamanya. Tiga tahun ke depan tidak akan menjadi masa persiapan pernikahan bagi Gavin, melainkan awal dari neraka dunia yang diciptakan khusus oleh Elena untuknya.