"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dicomot Raline
[Dua Minggu Kemudian]
Siang hari...
Kaisar masuk ke dalam rumah, menenteng kantong plastik berisi bahan masakan. Raline berjalan di sampingnya, membawa satu kantong plastik yang lebih kecil.
Keduanya baru saja kembali dari berbelanja di supermarket terdekat. Hari ini, mereka memutuskan untuk membeli bahan-bahan masakan karena kulkas sudah kosong.
Begitu mereka tiba di dapur, kantong plastik yang mereka bawa tadi diletakkan di atas meja. Raline duduk di kursi makan dan terlihat kelelahan, padahal mereka pulang pergi dengan mengendarai motor.
Kaisar membuka kulkas, mengambil sebotol air putih dan memberikannya pada Raline.
"Nih, lo pasti capek, kan?"
Raline menerimanya. Segera saja ia membuka tutup botol dan meminum airnya. Tenggorokannya terasa kering.
Sementara itu, Kaisar mengeluarkan isi plastik lalu memasukkan isinya ke dalam kulkas agar tetap segar dan lebih awet.
"Buat makan siang ini, mau coba bikin apa lagi?" tanya Kaisar, sembari menyusun bahan-bahan masakan yang mereka beli di rak kulkas.
"Mungkin sup ayam bening aja," jawab Raline. "Tadi gue liat resepnya. Kayaknya gampang dibuat, dan kemungkinan besar cocok buat gue."
Kaisar mengangguk, lalu menutup pintu kulkas kembali.
Ia kemudian duduk di sebelah Raline. Mengambil botol air bekas Raline dan meminum airnya tanpa berpikir panjang.
Raline melongo melihat Kaisar meminum air dari bekas minumnya. Seharusnya Kaisar mengambil botol yang lain, bukan?
"Kai... lo minum air bekas gue," ucap Raline, merasa canggung sekaligus heran dengan sikap santai Kaisar yang tidak merasa jijik sama sekali.
Kaisar menurunkan botol dari bibirnya, lalu menoleh ke arah Raline dengan ekspresi datar yang seolah bertanya 'kenapa?'. Ia mengelap sisa air di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan, tampak sama sekali tidak terganggu.
"Ya terus kenapa?" tanya Kaisar balik.
"Gak jijik? Itu kan bekas gue, loh."
"Jijik kenapa?" tanya Kaisar lagi. Meletakkan botol dengan sisa sedikit air di atas meja. "Gue gak perlu jijik. Lo sama gue pernah bertukar liur. Kalo cuma bekas bibir lo, itu bukan masalah besar buat gue."
Wajah Raline seketika memanas. Ucapan Kaisar yang begitu blak-blakan membuatnya kehilangan kata-kata. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Kaisar seolah-olah itu adalah fakta medis biasa, bukan kenangan memalukan yang ingin Raline kubur dalam-dalam.
"Ih, apaan sih lo! Ngasal banget kalo ngomong!" semprot Raline, berusaha menutupi kegugupannya dengan nada galak. Ia memalingkan wajah, berpura-pura sibuk merapikan sisa belanjaan di meja.
Kaisar hanya menaikkan sebelah alisnya, tampak terhibur melihat reaksi Raline. Ia menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di dada sambil terus memperhatikan semburat merah di pipi istrinya itu.
"Itu kan fakta. Kenapa? Baper ya?" goda Kaisar dengan senyum jahil.
"Siapa yang baper?" sahut Raline sewot. "Meskipun itu fakta, tapi minimal kalo ngomong disaring dulu. Biar gak bikin merinding!"
Kaisar terkekeh. Melihat Raline seperti itu justru membuatnya semakin ingin menggodanya.
"Yakin gak baper? Atau mau ulangi lag..."
Huft!
Sebelum Kaisar menyelesaikan kalimatnya, tangan Raline sudah mendarat di mulutnya, mencomot bibir Kaisar hingga terkatup rapat.
"Berisik!" omel Raline, matanya melotot tajam ke mata Kaisar.
"Sekali lagi lo ngomong jorok, gue jahit mulut lo!" ancamnya.
Kaisar, bukannya takut pada ancaman Raline, ia justru terpaku karena jarak wajah mereka sangat dekat. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang.
Hal itu juga justru baru dirasakan Raline ketika sepasang mata mereka saling menatap, dan bola mata mereka bergerak mengikuti gerakan mata satu sama lain.
Situasi itu menimbulkan kecanggungan. Raline cepat-cepat melepas kuncian jari-jarinya dari mulut Kaisar dan memalingkan muka.
"Khem!"
Kaisar berdehem pelan, berusaha mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik udara di antara mereka. Ia membuang muka ke arah deretan bumbu dapur, sementara tangannya sibuk mengetuk-ngetuk meja dengan irama tidak beraturan.
"Galak amat. Tangan lo bau bawang, tau," gumam Kaisar, suaranya agak serak. Padahal tadi Raline belum sempat menyentuh bawang sama sekali, itu hanya pembelaan diri yang payah agar debar jantungnya tidak terdengar sampai ke telinga Raline.
Raline mendengus, meski pipinya masih terasa panas seperti baru saja didekatkan ke kompor yang menyala.
"Ngaco! Gue bahkan belum pegang bawang. Dasar payah!" umpatnya pelan.
Ia segera berdiri, menarik napas panjang untuk menetralkan debaran di dadanya. "Udah ah, gue mau masak supnya dulu. Kelamaan kalo nunggu lo waras!"
"Heh, lo kira gue gila?" timpal Kaisar pura-pura tersinggung.
"Belum," jawab Raline datar. "Tapi udah setengahnya."
Kaisar mendengus kesal. Ia ikut bangkit untuk membantu Raline.
Walaupun disebut setengah gila oleh istrinya, tapi ia merasa lega karena topik "tukar liur" itu akhirnya terkubur oleh urusan perut.
"Jadi, bahan-bahannya apa aja nih?" tanya Kaisar.
"Daging ayam, wortel, kentang. Itu aja deh, cukup," jawab Raline sembari melihat resep di ponselnya.
"Oke."
Kaisar berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan bungkusan ayam, wortel, dan kentang, seperti yang Raline katakan.
"Ayamnya biar gue yang urus. Lo duduk aja, kupas sayurannya terus potong-potong. Biar lo bisa lebih rileks sambil duduk," perintah Kaisar sambil menyodorkan talenan dan pisau kecil pada Raline.
Ia meletakkan sayuran yang tadi diambilnya dari kulkas di atas meja makan.
Raline menerima pisau itu dengan ragu. "Lo yakin bisa ngurus ayamnya?"
"Cuma perlu dicuci sama dipotong-potong doang, kan? Itu mah gampang," kata Kaisar enteng. "Gue sering kok bantuin Mama potong daging ayam."
Kaisar berkata seolah-olah dirinya memang sering membantu ibunya, padahal sebenarnya ia sama sekali tak pernah membantu ibunya di dapur karena sang ibu sendiri tak pernah memasak.
Segala kebutuhan rumah tangga diurus oleh asisten rumah tangga, termasuk makanan sehari-hari.
Kaisar mulai menyibukkan diri di depan wastafel dapur. Ia mengeluarkan ayam dari plastik dengan gaya meyakinkan, menyalakan keran, dan membilasnya berkali-kali seolah sedang memandikan bayi. Raline yang duduk di meja makan mulai mengupas wortel, sesekali melirik suaminya yang tampak sangat serius bergulat dengan seekor ayam utuh.
"Ready? Go!" seru Kaisar semangat.
Ia mengambil pisau daging yang paling besar dari rak, lalu..
Plak!
Ia menghantamkan pisau itu ke atas talenan dengan tenaga yang berlebihan.
Raline berjengit kaget. "Pelan-pelan, Kai! Itu ayam, bukan kayu jati. Tanpa lo hantam keras pun dagingnya gampang dipotong!"
"Gapapa lah... Lebih keras hantaman justru lebih bagus," sahut Kaisar tanpa menoleh.
Raline geleng-geleng kepala. Ia tidak berkomentar lagi, memilih melanjutkan tugasnya sendiri.
____
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya