"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"
"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"
Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
Seorang gadis berdiri begitu lama di depan pintu Keluarga Chandra menggunakan sebuah payung untuk melindungi dirinya dari hujan. Yang mana, saat ia mendatangi keluarga Chandra saat itu sedang turun hujan. Sehingga ia memutuskan untuk mengetuk pintu tersebut.
Payung itu identik dengan warna putih karena itu adalah warna kesukaannya dan juga payung itu merupakan payung yang sangat ajaib sehingga bisa melindungi dirinya dan juga orang yang ingin ia lindungi menggunakan payung tersebut apabila ada arwah yang sangat menyeramkan atau juga bisa menyerupai iblis.
Tokk... Tokk... Tokkk....
Sehingga pintu tersebut dibuka oleh kepala Pelayan Keluarga Chandra.
"Hari ini ada urusan dirumah, nggak leluasa menerima tamu, silahkan kembali." kata Kepala Pelayan.
Saat akan menutup pintunya gadis itu membuka mulutnya sehingga Kepala Pelayan tersebut urung akan menutup pintu tersebut.
"Aku datang mau menemui Arman Chandra." kata gadis tersebut.
"Siapa kau ? Beraninya memanggil nama asli Tuan Besar Kami ?" Seru Si Kepala Pelayan karena Kepala Pelayan tersebut tidak melihat wajah gadis itu dikarenakan dihalangi oleh payungnya.
Sehingga gadis tersebut mengangkat payung itu sedikit demi sedikit, dan terpampanglah wajah cantik dari gadis tersebut, sang pelayan nampak terkejut melihatnya. Sehingga ia pun menjadi gugup dan kemudian bertanya pada gadis tersebut.
"Hemm... Hemm... Mohon tanya, anda adalah .... ?" Tanya Kepala Pelayan itu digantung, dikarenakan dia tidak tahu nama gadis tersebut.
"Aku adalah kenalan lamanya." Jawab gadis itu.
"Heh. Tuan Besar kami sekarang tahun ini berusia 92 tahun. Kau bilang kau adalah kenalan lamanya ?" Sahut Kepala pelayan.
Tanpa menjawab gadis itu ingin masuk, tapi dihalangi oleh kepala pelayan tersebut dengan merentangkan tangannya di depan pintu.
"Aku berkata jujur padamu. Tuan Besar kami telah lama terbaring sakit. Ajalnya sudah dekat, diperkirakan tinggal satu atau dua hari lagi. Kami, keluarga Chandra, sedang berbakti disisi beliau, nggak bisa menerima tamu. Nona, mungkin lebih baik anda datang lain hari saja." Kata si kepala pelayan sambil ingin mengantar tamu tersebut keluar.
"Kau salah. Nggak bertemu denganku, dia nggak akan bisa mengembuskan napas terakhirnya. Kau ingin dia terlepas dari penderitaan, lebih baik menyingkirlah." Sanggah gadis tersebut.
" Tuan besar sakit parah, jelas-jelas hanya sisa hembusan nafas terakhir, tapi sudah tiga bulan belum juga mengembuskan napasnya. Setiap hari disiksa rasa sakit yang luar biasa. Apa orang ini.... ?" Gumam kepala pelayan dalam hati.
Sambil kembali melihat gadis tersebut akhirnya kepala pelayan mengizinkannya masuk kedalam.
"Nona, anda silahkan masuk. Aku akan segera melapor. Silahkan." Ujar kepala pelayan tersebut sambil mengizinkan gadis itu masuk kedalam.
Akhirnya gadis itu masuk kedalam dan sampailah di bawah pohon bambu yang rindang.
kepala pelayan tersebut berbalik dan berkata. "Nona, anda tunggu dulu." Kemudian dia pergi untuk melaporkan jika diluar ada tamu.
Sedangkan gadis itu terdiam di bawah pohon bambu, sambil melihat sesuatu arah dimana disitu juga ada pohon bambu yang lebih rindang lagi, sambil melamun dia berkata dalam hati.
"Dito."
Dito adalah nama lain dari Arman Chandra.
"Kau juga sudah mau pergi." Kata gadis tersebut. Sambil melihat dedaunan pohon bambu berguguran pelan-pelan karena sudah mati.
Sementara itu didalam kamar Arman Chandra, Arman sedang terbaring ditempat tidurnya dengan wajah yang pucat. sedangkan disampingnya ada kedua anaknya.
"Ayah. Sejak kecil, aku bangga padamu, menghormatimu, dan mengagumimu. Aku benar-benar nggak rela melihatmu menderita dan tersiksa seperti ini. Ahli spiritual bilang, anda bertahan selama tiga bulan hanya untuk bertemu seseorang. Selama tiga bulan ini, aku telah mengundang satu persatu orang-orang yang berhubungan dengan anda. Kerabat dan teman lama, bahkan musuh anda, tapi tetap saja nggak ada gunanya." Kata Rendi Chandra bercerita sambil memegang tangan Ayahnya yang pucat itu.
"Ayah. sebenarnya aku harus bagaimana ?" sambung Rendi
Seketika itu, Kepala Pelayan datang ke kamar Tuan Besar dimana didalam tersebut ada kedua anaknya dan Kepala Pelayan juga ingin menyampaikan jika ada Tamu yang sedang menunggu diluar.
"Tuan Rendi, Tuan Rayhan, ada tamu yang datang." Ucap kepala pelayan.
"Bukankah aku sudah bilang, beberapa hari ini nggak terima tamu datang ?" Jawab Rendi.
"Tapi tamu itu bilang.... " kata Kepala Pelayan.
"Bilang apa ?" Tanya Rendi.
"Dia bilang dia adalah kenalan lama Tuan Besar. Dia juga bilang, jika Tuan besar nggak menemuinya, dia nggak akan bisa mengembuskan napas terakhir." Jawab Kepala Pelayan.
Sedangkan Kepala Pelayan tersebut sambil berbicara, ia juga sambil melihat keadaan Tuan Besarnya itu, yang mana keadaannya semakin lemah dan pucat seakan-akan nyawanya sudah tinggal ditarik.