NovelToon NovelToon
Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Bidadari Bar-bar: Pangeran Bisu Ini Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Pendamping Sakti / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama / Fantasi Wanita
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
​Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
​Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
​Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
​Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: MANUSIA TAMPAN YANG IRIT BICARA

​Malam yang tenang di pondok kayu Alurra mendadak kacau. Aroma bunga melati surgawi yang baru saja ia ciptakan tertutup oleh bau amis yang sangat menyengat.

​"Duh, bau apa ini? Apa ada tikus hutan yang mati di depan pintu istanaku?" umpat Alurra sambil berkacak pinggang.

​Ia menyibak tirai akar pohonnya dan melangkah keluar dengan gusar. Namun, langkahnya terhenti. Di atas rumput hijau zamrud buatannya, seorang pria terkapar. Kemeja hitamnya robek, menampakkan luka tembak yang masih mengalirkan darah segar.

​Alurra mendekat, awalnya ingin mengomel, tapi saat melihat wajah pria itu dari dekat, matanya langsung membulat.

​"Hah? Demi seluruh dewa di langit... ini manusia atau lukisan?" bisik Alurra pelan. Ia berjongkok, mengamati rahang tegas dan bulu mata lentik pria itu. "Tampan sekali! Jauh lebih keren daripada Dewa Matahari yang mukanya mirip lampu bohlam itu!"

​Tiba-tiba, pria itu—Nael—membuka matanya. Napasnya tersengal, tangannya yang gemetar langsung mencengkeram pergelangan tangan Alurra dengan kuat. Tatapannya tajam, waspada, sekaligus penuh rasa sakit.

​"Aduh! Sakit, tahu!" seru Alurra, tapi ia tidak menjauh. Ia justru mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Hei, Manusia Tampan. Kau sedang main petak umpet dengan maut, ya? Darahmu banyak sekali, mengotori rumput mahalku saja."

​Nael hanya menatapnya dengan mulut terkatup rapat. Matanya seolah ingin berteriak, namun bibirnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

​"Kenapa diam saja? Kau terpesona melihat kecantikanku?" Alurra tersenyum percaya diri, tangannya yang bebas mulai membelai rambut Nael yang acak-acakan. "Wajar sih. Di langit saja aku paling cantik, apalagi di hutan rongsokan begini."

​Nael berusaha melepaskan pegangannya, ia ingin merangkak menjauh, namun rasa sakit di bahunya membuatnya kembali tersungkur. Ia meringis, keringat dingin bercucuran di dahinya.

​"Heh, jangan banyak tingkah! Kau mau mati kehabisan darah?" Alurra menahan bahu Nael. "Tenang saja. Kau beruntung bertemu denganku. Aku ini dokter paling hebat, paling sakti, dan paling cantik sejagat raya."

​Alurra memejamkan mata sebentar. Cahaya hijau lembut keluar dari telapak tangannya. Ia menempelkan tangan itu tepat di atas luka tembak Nael.

​"Simsalabim! Sembuhlah, Wahai Pangeran Masa Depanku!" serunya dengan nada asal.

​Dalam hitungan detik, peluru di dalam bahu Nael terdorong keluar secara ajaib, dan lubang luka itu menutup sempurna tanpa bekas. Nael terbelalak. Ia meraba bahunya yang tadi hancur, kini kulitnya kembali mulus seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

​Nael menatap Alurra dengan penuh tanya. Mulutnya terbuka sedikit, seolah ingin bertanya 'Siapa kau?' atau 'Bagaimana bisa?', tapi yang terdengar hanyalah embusan napas yang berat.

​"Kok bengong? Bilang terima kasih, dong!" tagih Alurra sambil mencubit pipi Nael dengan gemas. "Ayo, bicara. Namamu siapa? Kamu dari mana? Dan yang paling penting... kamu sudah punya istri belum?"

​Nael terdiam. Ia menatap Alurra dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara bingung, takut, dan frustrasi. Ia mencoba menggerakkan pita suaranya, namun hanya keheningan yang keluar.

​"Lho? Kau tidak bisa bicara?" tanya Alurra, alisnya bertaut. "Masa bidadari sehebat aku gagal menyembuhkanmu? Tunggu, aku coba lagi!"

​Alurra kembali menempelkan tangannya ke leher Nael, menyalurkan energi sihirnya. Namun, ia justru tersentak. Ia merasakan sebuah tembok besar yang dingin dan gelap di dalam batin Nael.

​"Oh..." Alurra menurunkan tangannya. Wajahnya yang bar-bar mendadak melembut sejenak. "Suaramu tidak hilang karena luka, ya? Suaramu terkunci di dalam sini..." Alurra menyentuh dada kiri Nael tepat di bagian jantung.

​Nael terpaku. Belum pernah ada orang yang menatapnya dengan cara seperti itu. Seolah wanita asing yang "agak gila" ini bisa membaca jiwanya yang hancur.

​Namun, momen haru itu hanya bertahan tiga detik. Alurra langsung kembali ke mode agresifnya.

​"Yah, tidak apa-apa kalau tidak bisa bicara! Justru bagus!" Alurra bertepuk tangan riang. "Kalau kau bisu, kau tidak akan bisa protes saat aku jadikan pangeranku! Kau tidak bisa bilang 'tidak' saat aku ajak menikah nanti!"

​Nael: '...???' (Nael hanya bisa melongo kaget).

​"Siapa namamu? Karena kau diam saja, aku panggil 'Sayang' saja ya?" Alurra nyengir lebar.

​Nael dengan cepat mengambil ranting pohon di dekatnya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menuliskan satu kata di atas tanah: NAEL.

​"Nael? Wah, nama yang bagus! Cocok sekali disandingkan dengan namaku, Alurra," Alurra langsung memeluk lengan Nael dengan erat, menempelkan pipinya ke bahu pria itu. "Dengar ya, Nael. Mulai detik ini, kau adalah milikku. Aku yang menyelamatkanmu, jadi kau harus membayarnya dengan tinggal bersamaku selamanya di sini!"

​Nael mencoba melepaskan lengan Alurra, wajahnya yang dingin tampak sangat tertekan. Namun, bidadari di sampingnya ini punya tenaga seperti kuli bangunan meski badannya mungil.

​"Jangan menolak! Kalau kau kabur, aku akan mengubahmu jadi kodok!" ancam Alurra sambil tertawa nakal. "Ayo masuk ke rumah kita, Sayang. Kau pasti lapar, kan?"

​Nael hanya bisa pasrah saat Alurra menariknya paksa masuk ke dalam pondok kayu. Dalam hatinya, Nael bertanya-tanya: Apakah para pembunuh bayaran di luar sana jauh lebih aman daripada wanita bar-bar ini?

...****************...

1
umie chaby_ba
mari kita coba
Ariska Kamisa
semoga kalian bisa menikmati nya juga...
Aldah Karisa
semangat thorr... aku suka gaya bahasamu. 👍
Ariska Kamisa: terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
👍👍👍👍
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak sudah mampir 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aldah Karisa
wow hebat jugaa
Aldah Karisa
termasuk cerita fiksi yang bikin kita membayangkan jauh ga sih... dengan adanya dewa matahari dewa langit... dan ini cinta dua dunia .. berharap happy ending yaaa... suka takut kalo cinta beda dunia... dan semoga Nael ini bisa sembuh dan mau bicara lagi....
aku suka namanya Nael ....
Aldah Karisa
bidadari genit parah
Aldah Karisa
kenapa nael bisa bisu
Aldah Karisa
ini bidadari nya ga pake selendang??? 🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!