Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panci
"Astaga, Mbok! Kenapa ada tawuran antar setan di depan rumah kita? Mereka pada kenapa sih?" Bagas tampak kebingungan.
Bahkan kebingungannya ditambah lagi dengan rumah Sarinah dan juga Novita yang sedang kebakaran.
Pocong yang baru tiba, dan melihat Ratih bersama Bagas sudah di depan pagar bambu rumah, berteriak keras pada para demit.
"Bubar, bubar, si Ratih datang. Dia bawa ramuan yang bau itu!" teriaknya dengan mengingatkan para setan yang melakukan pengeroyokan terhadap Wewe Gombel.
Karena tak mendengar seruannya, ia terpaksa mendang semua demit dengan bokongnya, hingga membuat mereka terpental satu persatu.
Setelah membereskan kegaduhan yang ada, Pocong menyeret Wewe Gombel untuk pergi, sebelum Ratih menaburkan ramuan ajaib berupa kunyit bangle dan juga jariangau yang menghasilkan bau sangat tak disukai para demit.
Sehingga di percaya sebagai penangkal untuk para wanita hamil dan juga bayi.
Ratih menatap para demit yang sudah kocar-kacir melarikan diri, kecuali Genderuwo yang berdiri di depan rumah Novita, menonton kegaduhan, sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Gas, ayo cepat. Si Mbok takut terjadi sesuatu pada menantuku dan juga cucuku," ucapnya dengan gelisah.
Dimulutnya, ia sedang mengunyah kunyit bangle dan juga jariangau, sepertinya dua benda itu tak pernah ia tinggalkan kemanapun pergi, selalu ia bawa dalam sebuah dompet keramat.
"Iya, Mbok."
Bagas mendobrak pintu, dan sesaat mereka membeku, dimana melihat Bayu sedang menggendong bayinya, dan menghajar Kuntilanak Putih.
"—Bayu." suara Ratih tercekat ditenggorokannya, ia tak tau harus apa dengan situasinya.
Bahagia, tentu saja. Dimana puternya kembali sadar, dan sedang menggendong cucunya.
Tetapi, para iblis sedang menyerang mereka.
Kuntilanak Putih yang melihat kehadiran Ratih dengan mulut penuh ramuan, memilih kabur ke arah dapur, ketimbang harus menanggung rasa panas dan bau yang menyengat.
Ia melesat menuju dapur, dan kembali keluar melewati lubang pada awal mereka masuk.
Sementara itu, Sundel Bolong masih sibuk membuka ember yang ditutup rapat, ia menginginkan placenta tersebut.
Ia tak menyadari jika Kuntilanak Putih sudah meninggalkannya, tanpa memperingatkan adanya bahaya.
Ratih mengejar ke dapur, dan ia melihat Kuntilanak itu melesat dari lubang pembuang asap.
Dan ketika matanya menatap pada Sundel Bolong yang tidak menyadari kehadirannya, dengan diam-diam, ia mengambil panci hangus, lalu menggetok kepala Sundel Bolong dengan sangat keras, tak lupa ia menyemburkan ramuan tersebut ke kepalanya.
"Setan! Sakit tau!" makinya karena terkejut dan juga merasa sakit.
Ia menoleh ke arah sosok yang memukulnya, lalu tersentak kaget, saat melihat Ratih kembali ingin menggetok dan menyemburkan ramuan ajaib tersebut.
Ia nyengir kuda, lalu melesat menghilang melalui lubang yang dilalui sat awal masuk.
Ratih menatap lubang itu. "Dari sini rupanya? Ku pastikan kalian tidak akan dapat melewatinya lagi!" ucap Ratih dengan kesal.
Ia mengambil dau kelor yang masih ada rantingnya, dan belum sempat ia masak bening, lalu menggulungnya menjadi bola, dan menyumpalkannya di lubang tersebut.
Setelah membereskannya, ia menyingkap ember berisi placenta cucunya, membersihkannya, lalu memanggil Bagas.
"Gas, tolong kuburkan ini, didepan rumah, jangan lupa pelitanya." Ratih memberikan semua bahan tersebut, dan ia sudah tak sabar untuk menggendong cucunya.
"Iya, Mbok." Bagas mengambilnya, dan bergegas pergi ke halaman depan.
Sedangkan Ratih menuju Bayu yang masih mengendong bayinya, ia masih dalam mode loading lambat, akibat lama terkurung di alam lain, dan jika saja jiwanya tidak kuat, biasanya kebanyakan korban akan merasa linglung.
"Bayu." Ratih mendekapnya, dan mengusap punggung puteranya. Ia begitu lama dengan pelukannya, mencurahkan rsa bahagia yang tak dapat ia ungkapkan.
"Mbok. Kemana saja? Mengapa baru kembali?" tanya Bayu.
"Ceritanya cukup panjang. Dimana istrimu?" Ratih mengusap bulir bening yang mengalir disudut matanya.
"Istriku belum sadarkan diri, dia melahirkan tanpa bantuan siapapun, berkat doanya, aku kembali dengan selamat." Bayu mengungkapkan semuanya.
"Astaga, mantuku," ucapnya dengan rasa khawatir, dan ia berlari menuju kamar, melupakan sejenak Bayu dan juga cucunya, sebab kondisi Alawiyah lebih utama.
Ia memasuki kamar, dan melihat menantunya masih dalam kondisi tak sadarkan diri.
Ratih menghampirinya menantunya, meletakkan tangannya diperut yang masih membesar, meski pasca melahirkan.
Dengan gerakan yang sangat profesional, ia mengurutnya, dan ....,
Seeer
Darah beku bercampur lendir sebesar koin, dan biasa disebut lokia, meluncur dari liang rahimnya.
"Uhuuuk ...." Alawiyah terbatuk, dan membuka matanya dengan samar.
Ratih bernafas lega, dan mengusap ujung kepala sang menantu.
"Syukurlah, akhirnya kau sadar juga." ucapnya, sembari mengecup ujung kepalanya.
Tak hanya itu, Ratih membalurkan ramuan ajaibnya yang dicampur dengan parutan jahe dan merica ke seluruh tubuh Alawiyah, agar aliran darahnya kembali lancar.
Sat bersamaan, Bayu berdiri di depannya, dengan menggendong bayi mereka.
Alawiyah terperangah, tiba-tiba saja dadanya berguncang, rasa sedih bercampur bahagia datang bersamaan.
"Mas," suaranya lirih, sembari mengulurkan tangannya.
Bayu menghampirinya, lalu memberikan bayi yang kembali tenang, dan meletakkan tubuh mungil itu didada sang istri.
Sedangkan Dalli sudah kembali tertidur, sepertinya ia kelelahan menangis.
Sedangkan Bayu berulangkali mengecup kening sang istri.
"Makasih, Sayang. Karena kekuatan doa yang kau langitkan, membuat Mas dapat menemukan kembali jalan pulang." ucapnya dengan penuh haru.
Alawiyah sesenggukkan, dan terjawab sudah semua prasangkanya selama ini saat dikampung, ia yang mengira suaminya sudah berselingkuh dikampung halaman, ternyata sedang ditahan jiwanya oleh para demit yang kurang kerjaan.
"Kalian lepaskanlah, masa kangen yang sudah lama terpendam. Dalli biar tidur sama si Mbok." Ratih menggendong keponakannya, lalu membwanya keluar dan menuju kamar.
Bocah itu sedang terlelap, dia masih suka mengigau memanggil ibunya, sedangkann Tejo tak pernah peduli lagi pada keadaannya.
Dalli terbangun, dan menatap Ratih dengan sekilas. Sesaat bibirnya mewek, lalu sesenggukkan, tetapi tak dapat bersyara, ia terlalu lama menangis, hingga matanya sembab.
Ratih mendekapnya, memberikan rasa aman pada bocah itu, dan perhatian yang membuat ia terasa seperti dilindungi.
Sementara itu, Sundel Bolong yanh ke getok panci mengejar Kuntilanak yang sudah lebih dulu menyelamatkan diri dan melesat, lalu nangkring diatas pohon.
"Kun, gak asyik, Lu. Lari gak ngajak-ngajak, liat, nih. Kepalaku ke getok panci!" omelnya, saat ia duduk di sebelah Kungi yang tidak setia kawan.
"Sorry, Sun. Aku juga kaget, jadi gak liat Elu di situ." jawabnya dengan nada yang terdengar stabil.
Sundel Bolong mendengkus, tetapi ya mau gimana lagi, itu adalah resiko yang harus mereka hadapi.
Akan tetapi, Kuntilanak terlihat sedang menatap langit kelam. Pandangannya sangat kosong, entah apa yang sedang pikirkannya.
Hanya saja, bayangan wajah bayi itu tak lepas dari sorot matanya.
Ratih menggetok kepala Sundel Bolong dengan menggunakan panci.
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Yang bikin naik pitan itu mereka gak munafik, terang-terangan mlh pesugihan nya.
Demit kok suka kepo ganjen ngghibah 😄😄
waduhhh gaaas jagan itu istri adik mu lho
Ya allah, kasihan banget keluarganya mbok Ratih.. 😓