Arga Pratama, seorang mekanik tangguh yang hidupnya sederhana namun penuh prinsip, tak sengaja bertemu dengan Clara, wanita cantik pewaris perusahaan besar yang sedang lari dari perjodohan. Karena suatu keadaan terpaksa, mereka harus terikat perjanjian kontrak palsu. Siapa sangka, dari bau oli dan mesin, tumbuhlah benih cinta yang tak pernah disangka-sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olshop sukses Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran yang Sulit Ditolak
"Menikah secara kontrak?" Arga mengulang kata-kata itu seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia menatap Clara lekat-lekat, mencari tanda-tanda apakah wanita ini sedang bercanda atau tidak.
Namun, tatapan Clara begitu serius. Tidak ada sedikitpun gurauan di sana.
"Ya, Mas Arga. Kontrak Pernikahan," ulang Clara dengan tegas. "Kita akan menikah secara resmi, tapi hanya di atas kertas. Tidak ada ikatan batin, tidak ada kewajiban suami istri yang sesungguhnya. Itu hanya sandiwara."
Arga tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sinis dan tidak percaya. "Kau gila, Nona. Menikah itu urusan besar, bukan mainan anak kecil yang bisa diatur seenaknya pakai kontrak."
"Aku tahu ini terdengar gila dan tidak masuk akal, tapi ini satu-satunya cara agar aku bisa selamat dan bebas dari perjodohan itu," Clara memegang kedua tangan Arga dengan erat. Jemarinya yang halus bersentuhan dengan tangan kasar Arga yang penuh kapalan.
"Dengar baik-baik ya Mas," lanjut Clara cepat, mencoba meyakinkan pria itu. "Selama kontrak berjalan, katakanlah selama satu tahun, aku akan menanggung semua biaya operasional bengkel Mas Arga. Aku akan memodali bengkel ini agar bisa berkembang jadi lebih besar dan modern. Bahkan... aku bisa memberikan sejumlah uang yang cukup buat Mas Arga dan keluarga hidup nyaman."
Mata Arga sedikit membelalak. Ia tahu wanita di hadapannya ini kaya, tapi tawaran ini terlalu besar. Bengkelnya memang sedang berada di titik terendah. Tagihan listrik menumpuk, peralatan sudah banyak yang rusak, dan orderan pun semakin sepi. Jika tidak ada keajaiban, mungkin beberapa bulan lagi bengkel tua peninggalan ayahnya ini harus tutup.
"Dan apa untungnya buat kau?" tanya Arga, suaranya mulai terdengar lebih lembut. Ia tidak lagi menolak sentuhan tangan wanita itu.
"Untungnya buat aku? Aku dapat perlindungan. Aku punya status istri seseorang, jadi ayahku tidak bisa lagi memaksaku menikah dengan orang lain. Dan aku punya tempat tinggal yang aman," Clara tersenyum tipis. "Lagipula... sepertinya Mas Arga orang baik. Aku percaya padamu."
Hening sejenak. Hanya suara tetesan air dari keran yang belum tertutup rapat dan suara kendaraan di luar yang memecah kesunyian pagi itu.
Arga menatap wajah Clara. Wanita ini berani. Sangat berani. Ia menawarkan sebuah kesepakatan yang absurd namun... sangat menggiurkan.
Arga bukan orang yang mudah menerima belas kasihan atau bantuan orang lain. Ia bangga dengan hasil keringatnya sendiri. Tapi kali ini, situasinya berbeda. Ini bukan sekadar bantuan, ini sebuah perjanjian bisnis.
"Kau serius akan memodali bengkelku?" tanya Arga memastikan.
"Sangat serius," jawab Clara mantap. "Bahkan aku bisa membayarnya tunai sekarang juga sebagai tanda jadi."
Arga menghela napas panjang, mengacak rambutnya yang sedikit berantakan karena bingung. Pikirannya berputar kencang. Di satu sisi, harga dirinya memberontak. Di sisi lain, realita hidup dan keinginan menyelamatkan bengkel peninggalan ayahnya sangat kuat.
Dan lagi... ada sesuatu pada wanita ini yang membuatnya tidak tega untuk menolak.
"Baiklah," ucap Arga akhirnya dengan nada berat. "Aku setuju."
Mata Clara langsung berbinar-binar penuh kegembiraan. "Benarkah? Mas Arga benar-benar setuju?"
"Tapi ada syaratnya," potong Arga cepat, menatap Clara tajam. "Aku tidak mau menerima uang cuma-cuma. Uang yang kau berikan itu akan aku anggap sebagai pinjaman modal. Suatu saat nanti, kalau bengkelku sudah sukses, aku akan mengembalikannya sampai sen terakhir. Dan selama kita terikat kontrak, kita harus saling menghormati batasan masing-masing. Tidak boleh ada yang berlebihan."
Clara mengangguk antusias. "Siap! Setuju! Apapun syaratnya aku setuju!"
"Dan satu lagi," tambah Arga. "Kalau sampai ada orang yang tahu soal kontrak ini dan nama baikku atau bengkelku jadi jelek, perjanjian ini batal seketika. Mengerti?"
"Mengerti! Mengerti!" Clara hampir melompat kegirangan. Beban berat di pundaknya seakan hilang seketika.
"Bagus," Arga melepaskan tangan Clara pelan. "Kalau begitu, besok kita urus surat-suratnya. Tapi ingat, ini hanya bisnis. Jangan harap ada cerita cinta di sini, Nona Clara. Dunia kita terlalu berbeda."
Clara tersenyum, namun ada getaran aneh di dadanya. Hanya bisnis ya, Mas Arga? Kita lihat saja nanti... batinnya berkata.
BERSAMBUNG... ➡️