Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membingungkan
Jessy memaksa Ziang untuk duduk sambil menekan luka di perut dan dada nya. Luka tusukan yang dalam di perut kiri, lalu sayatan lebar di dada kanan. Jessy bahkan nyaris mual karena bau anyir darah yang menyengat.
“Tunggu di sini.” Jessy berlari cepat mencari tumbuhan obat, yang ada di pikirannya saat ini adalah daun petai cina.
Melihat kesana kemari, akhirnya Jessy menemukan tumbuhan petai cina. Dia memetik yang muda beberapa tangkai lalu kembali dengan cepat.
Sambil ngos-ngosan Jessy mengunyah daun petai cina itu dengan serius. Setelah itu melepeh nya dan membalur nya pada luka milik Ziang, Ziang hanya diam saja karena tidak memiliki tenaga untuk protes.
“Ini bisa menghentikan pendarahan sementara, tapi tetap saja harus segera di periksa dan diobati dengan benar.” Ucap Jessy sambil fokus mengobati luka.
Jessy merobek jubah nya untuk di jadikan kain perban, setelah luka Ziang tertutup kini Jessy bingung cara membuat Ziang untuk tetap sadar meskipun sudah kehilangan banyak darah.
Jessy terlihat berpikir lalu tiba-tiba berlari pergi, dia akan mencari buah bit dan sayur bayam sebagai suplemen penambah darah. Meskipun sedikit kesulitan mencari, tapi syukurlah Jessy berhasil menemukan buah bit, bayam dan cabai.
“Laper banget gila.” Gumam Jessy sambil terus berjalan.
tap
tap
tap
“Apa yang sedang kau bawa?.” Tanya Ziang saat melihat Jessy kembali membawa tanaman aneh.
“Ini, cepat makan buah ini. Meskipun rasa nya seperti besi tapi telan saja, makan tiga buah untuk menambah darah mu.” Ucap Jessy menyerahkan tiga buah bit.
Ziang tanpa banyak bicara memakan nya, rasa nya benar-benar tidak enak tapi tetap dia kunyah dan telan. Jessy hanya melihat sambil menelan ludah, jujur dia lapar.
“Kau lapar?.” Tanya Ziang.
“Ya, aku ingin merebus bayam lalu memakannya dengan cabai. Tapi sepertinya sulit memasaknya disini.” Jessy menggaruk pipi nya canggung.
Ziang tiba-tiba berdiri, wajahnya sudah tidak sepucat sebelumnya. Tapi luka nya pasti masih sakit, Jessy ingin melarang tapi ucapan Ziang membungkam mulutnya.
“Meskipun aku terluka, aku bisa berburu untuk makan malam. Lebih baik mati terluka daripada mati kelaparan, atau kau bisa berburu? jika bisa pergilah tangkap buruan untuk makan malam ku.” Ucap Ziang.
“Aku akan menunggu di sini dengan patuh.” Jessy duduk patuh sambil tersenyum manis.
Ziang hanya menghela nafas pelan lalu pergi. Jessy celingukan karena langit sudah mulai gelap, suara burung membuat suasana mencekam dan Jessy merasa takut.
Menunggu selama beberapa saat, akhirnya Ziang kembali membawa Kelinci yang cukup gemuk. Dia membuat api unggun dengan cepat, lalu membakar kelinci itu dengan gesit.
gluk
Jessy menelan ludah karena bau kelinci bakar terlalu menggugah selera. Meskipun tanpa bumbu tapi Jessy tau ini pasti lebih enak daripada bayam mentah, Jessy tidak sabar untuk memakannya.
Setelah Kelinci matang, Jessy memakannya dengan lahap. Bayam dan cabai yang dirinya petik tadi di jadikan lalapan dan itu ternyata cukup enak untuk penambah rasa.
“Uwerrghhh… wahh kenyang.” Jessy bersendawa tanpa malu.
“Jika sudah kenyang ayo pergi.” Ucap Ziang memadam kan api unggun.
“Kemana? kita akan lewat hutan malam-malam?.” Jessy was-was.
“Tidak, cepatlah.” Ziang berjalan lebih dulu.
Jessy mengikuti dan keduanya berjalan entah kemana, untuk saat ini Jessy akan percaya pada Ziang. Tapi pria itu sedang terluka, mungkin tinggal menunggu waktu sampai dia benar-benar tumbang.
Whosshh
Brukkkk
“Astaga Ziang!!.” Pekik Jessy saat melihat Ziang jatuh tidak sadarkan diri di depannya.
Hari sudah gelap, suami nya terluka, dia sedang berada di pinggir jalanan sepi yang entah berada di mana. Jessy hanya bisa menangis karena bingung dan takut, dia harus bagaimana? dia harus berlari kemana untuk meminta bantuan?.
“Hiks.. bangun lah Ziang ku mohon.” Jessy terisak sambil memangku kepala Ziang karena bingung.
Kratakk
tap
Deg.
Jessy tersentak dan menoleh ke belakang dengan waspada, suara langkah kaki yang menginjak ranting kering. Apa ada seseorang di sekitar sana? apa itu musuh?.
“Siapa disana?!.” Ucap Jessy dengan was-was.
Krasakkk
“Keluar lah! siapa kau.” Jessy semakin ketakutan.
tap
tap
tap
Akhirnya muncul sebuah lentera dari balik semak-semak. Bayangan seseorang mendekat, Jessy menahan nafas karena bingung harus melakukan apa jika tiba-tiba dia di serang.
Semakin dekat, akhirnya Jessy bisa melihat dengan jelas. Sosok yang datang adalah seorang anak remaja yang sepertinya baru pulang berburu, Jessy menghela nafas lega.
“Apa anda baik-baik saja? saya pikir anda hantu.” Ucap remaja itu.
“Aku manusia, suamiku terluka dan aku tidak tau harus meminta tolong pada siapa. Bisa kah kau menolong ku? aku benar-benar membutuhkan pertolongan.” Ucap Jessy penuh harap.
“Tapi bagaimana anda bisa sampai disini?.” Tanya remaja itu heran.
“Apa maksud mu? memang nya aneh jika ada manusia lewat sini? apa ini daerah khusus hantu?.” Heran Jessy.
“Bukan begitu, tapi lokasi tempat ini sangat terpencil apa anda tersesat? dan bagaimana suami anda bisa sampai terluka.” Ucap remaja itu.
“Aduhh tanya nanti saja, suamiku bisa mati kalau tidak segera di tolong.” Jessy kesal.
Remaja di depannya terlihat diam berpikir, lalu kemudian membantu Jessy memapah Ziang yang tinggi besar menuju rumah nya. Sebenarnya Jessy merasa sedikit curiga karena merasa tidak ada rumah di dekat sini.
Berjalan cukup jauh sambil menyeret Ziang yang berat, akhirnya mereka sampai di sebuh rumah reot di tengah hutan. Jessy jadi teringat film horor, apa remaja yang menolongnya ini hantu atau manusia.
Ziang di rebahkan di sebuah dipan. Karena tubuhnya terlalu tinggi, kaki nya harus di topang kursi. Jessy membuka perban yang darahnya sudah merembes, dia benar-benar bingung harus bagaimana untuk mengobati nya.
“Bagaimana ini? apa di sekitar sini ada tabib?.” Ucap Jessy dengan cemas.
“Luka nya dalam, dia akan mati.” Ucap remaja itu dengan wajah polos.
“Bicara apa kau ini.” Kesal Jessy.
“Kenapa tidak percaya? dia akan mati.” Remaja itu mengulang ucapannya.
“SEBENARNYA KAU MAU MENOLONG ATAU TIDAK!!! KAU HANTU ATAU MANUSIA?!!! APA KAU TIDAK BISA SEDIKIT MEMBERIKAN SARAN!??.” Jessy berteriak karena merasa putus asa.
“Kenapa aku harus membantu? memang nya kalian siapa?.” Remaja itu bicara lirih.
“Apa?.” Jessy langsung terdiam.
“Selama ini aku hidup sendirian tanpa ada yang menolong. Terkadang aku merasa akan mati, tapi ternyata aku berhasil hidup sampai sekarang.” Lirihnya lagi.
“Apa yang kau katakan? apa kau hidup sendirian?.” Jessy terkejut.
“Apa ada orang lain disini?.” Remaja itu balik bertanya.
“Huftthhh… apa yang harus aku lakukan agar kau mau menolong ku?.” Jessy berusaha sabar.
“Dia siapa? dan kenapa dia mendapatkan luka pedang?.” Tanya remaja itu menunjuk Ziang.
“Dia suamiku Mo Ziang. Pangeran ke dua Kekaisaran Mo yang merupakan Paman dari Kaisar saat ini, kami kabur saat hendak diasingkan. Singkatnya seperti itu, apa kau bisa menolongku sakarang?.” Ucap Jessy.
“Ikut.” Ucap remaja itu.
“Hah?.” Jessy frustasi.
“Ibu.” Ucap remaja itu semakin ngawur.
“Sialan, tidak waras ternyata.” Batin Jessy frustasi.