Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 34. Pembagian Harta
Di taman belakang, Puspa terlihat tengah menikmati teh chamomile yang menjadi favoritnya, di temani dengan cookies cokelat hasil produksi toko kue milik sang menantu seakan menjadi kudapan nikmat yang ia nikmati di pagi hari ini. Di samping kursi yang diduduki oleh Puspa, terlihat Krisna yang juga tengah menikmati secangkir kopi favoritnya.
"Jadi apa yang ingin Mama bicarakan? Sepertinya ada hal penting yang harus segera dibahas?" tanya Krisna membuka pembicaraan.
"Kris, Mama ingin kamu segera membagi harta warisan untuk kedua istrimu. Ini semua demi kebaikan semuanya."
"Memang harta apa sih Ma yang aku punya? Aku hanya punya dua rumah dan perusahaan. Tidak ada hal lain yang aku punya."
Krisna sengaja membohongi sang mama perihal aset yang ia miliki. Karena sejatinya yang Puspa tahu hanya rumah yang ia tempati saat ini dan rumah di Magelang yang menjadi miliknya. Sedangkan tiga bidang tanah yang ada di desa sebelah hanya ia dan Ganis saja yang tahu.
"Justru itu, itu yang Mama maksud. Lebih baik segera kamu balik nama rumah yang ada di Magelang menjadi milik Dinda. Bahkan semua yang kamu miliki Mama rasa juga pantas jika diatas namakan Dinda. Karena Dinda lah yang bisa memberimu keturunan."
"Jika semua aset yang aku miliki aku berikan kepada Dinda semua, lantas Ganis dapat apa Ma?" tanya Krisna penasaran. "Meskipun aku beristri dua tapi aku juga tetap ingin bersikap adil kepada keduanya."
"Hmmmmm.. Kamu ini diarahkan oleh orang tua tapi malah ngeyel. Ya sudah, kalau begitu Mama minta rumah yang ada di Magelang dan semua perusahaan ekspedisi milikmu di atas namakan Dinda. Tidak ada penawaran lagi."
Krisna hanya terdiam tak membantah lagi. Entah mengapa saat ini ia tidak terlalu bertenaga untuk menolak permintaan sang Mama.
Ganis yang tengah melintas tak jauh dari keberadaan ibu dan anak itu hanya bisa berdiri mematung sembari mendengarkan pembicaraan mereka. Senyum seringai muncul di bibir Ganis ketika mendengar bahwa rumah yang ada di Magelang akan diberikan kepada sang madu.
Boleh-boleh saja rumah yang ada di Magelang menjadi milik Dinda. Tapi tunggu dulu sampai aku buat yang lebih pantas untuk dia miliki.
Tak ingin keberadaannya diketahui oleh Puspa maupun Krisna, Ganis bersegera melenggang pergi dari sana. Untuk saat ini setidaknya ia sudah mengetahui jika rumah yang ada di Magelang akan diberikan untuk sang madu.
***
"Jadi seperti itu Din. Krisna sudah menyetujui semua yang menjadi permintaanmu. Besok atau lusa, kalian bisa pergi ke notaris untuk mengurus balik nama rumah dan perusahaan yang dimiliki oleh Krisna."
Di ruang tengah, Puspa sengaja mengumpulkan Ganis, Dinda, Rika dan juga Krisna untuk membicarakan perihal warisan. Puspa merasa semua menantunya harus berkumpul agar bisa sama-sama legowo untuk menerima bagiannya masing-masing.
"Nis, kamu rela kan jika rumah yang ada di Magelang dan perusahaan milik Krisna menjadi atas nama Dinda?" tanya Puspa sembari menautkan pandangannya ke arah Ganis.
Ganis hanya tersenyum tipis. "Jika itu sudah menjadi keputusan Mama, aku bisa apa? Aku terima-terima saja."
"Mbak, kamu tidak protes mendapatkan bagian jauh lebih sedikit dibandingkan aku?" tanya Dinda yang begitu penasaran karena melihat Ganis yang begitu santai menerima keputusan ini. "Aku mendapatkan rumah yang ada di Magelang dan perusahaan Mas Krisna loh."
Kenapa juga aku harus protes? Kamu tidak tahu saja jika tiga bidang tanah seluas tiga hektare yang tersebar di tiga desa akan menjadi milikku. Jadi untuk apa aku harus protes jika bagianku jauh lebih banyak? Lagipula, kamu percaya diri sekali akan mendapatkan rumah yang ada di Magelang. Tunggu dulu... Akan aku buat lebih pantas untuk kamu miliki.
"Silakan kamu nikmati semua. Tapi aku rasa kamu jangan senang terlebih dahulu. Kamu bakal mendapatkan perusahaan milik Mas Krisna, yang itu artinya kamu bertanggungjawab penuh atas kemajuan perusahaan. Apa kamu sanggup menjalankan amanah itu?" tanya Ganis dengan santai.
"Aku...."
"Ingat, basic yang kamu miliki hanya SPG rokok keliling, memang kamu sanggup menjalankan perusahaan milik Mas Krisna yang pasti jauh lebih komplek permasalahannya?" sambung Ganis yang membuat Dinda tersulut emosi sembari terkekeh pelan.
"Mbak, kamu menghinaku?" tanya Dinda dengan amarah yang sudah tercetak jelas di wajahnya. "Ngasih keturunan untuk Mas Krisna saja aku bisa, apalagi hanya menjalankan perusahaan Mas Krisna!! Aku pasti sanggup. Kamu bicara seperti itu pasti karena iri kan?"
"Tentu tidak, aku tidak iri. Aku hanya mengingatkanmu bahwa menjalankan bisnis jasa ekspedisi itu tidak sama dengan menjadi SPG rokok keliling."
"Mbak, kamu..."
"Din sudah! Yang dikatakan oleh Ganis memang banyak benarnya. Mulai sekarang kamu harus banyak-banyak belajar untuk menjalankan bisnis milik Krisna, Din. Sehingga kamu mulai terbiasa," timpal Puspa yang saat ini sependapat dengan ucapan Ganis. Padahal biasanya wanita itu selalu berlawanan pandangan dengan Ganis.
"Jangan sampai perusahaan Mas Krisna kolaps di tanganmu. Ingat, ada kucuran keringat dan untaian doa dariku yang aku keluarkan untuk membuat ekspedisi Mas Krisna sampai di titik ini."
Dinda dibuat kicep setelah mendengar rentetan petuah yang diucapkan oleh sang kakak madu. Terlebih saat ini sang mertua juga berada di pihak Ganis sehingga ia pun tak lagi bisa membantah. Begitu halnya dengan Rika, wanita paruh baya itu juga hanya terdiam dan membisu. Namun, saat ini hatinya begitu lega karena rumah yang ada di Magelang benar-benar akan menjadi milik sang anak yang itu artinya akan menjadi miliknya juga.
Ganis beranjak dari posisi duduknya setelah tak ada hal lain yang harus dibahas.
"Mau kemana Nis?" tanya Puspa penasaran.
"Biasa Ma, rutinitasku setiap pagi. Minum vitamin setelah itu ke toko kue."
"Ohh.. Baiklah..."
Ganis berjalan menuju mini bar. Wanita itu sengaja menceritakan rencananya meminum vitamin untuk melihat respon Dinda dan juga Rika. Ia yakin sekali jika vitamin yang biasa ia minum sudah ditukar dengan obat yang menurut Rika dan Dinda sebagai obat pelancar haid. Padahal sejatinya isi dari obat itu sudah diganti dengan asam folat oleh Maryati.
Rika dan Dinda menatap lekat apa yang dilakukan oleh Ganis. Sepasang bola mata keduanya sama-sama membulat sempurna kala melihat vitamin itu sudah masuk ke dalam kerongkongan dan juga perut Ganis.
Bagus... Obat itu sudah masuk ke perut Ganis. Aku yakin Ganis akan mendapatkan haid bulan depan. Hahaha...
Mampus kamu Mbak. Sampai kapanpun promilmu tidak akan pernah berhasil. Hahaha...
*****
Krisna menghentikan laju mobilnya di depan toko kue milik Ganis. Lelaki itu begitu penasaran karena tiba-tiba sang istri menghubunginya untuk segera datang ke toko kue.
"Sayang, ada apa?" tanya Krisna setelah keberadaan sang istri sudah ia dapati. "Dan ini siapa?" sambungnya pula setelah ia lihat sosok lelaki dengan jas warna hitam duduk di hadapan Ganis.
"Duduk dulu Mas!" ucap Ganis mempersilakan dan diangguki oleh Krisna. "Jadi Bapak ini namanya pak Arif. Pak Arif ini adalah notaris."
"Notaris?" tanya Krisna menegaskan.
"Betul Mas. Aku sengaja mengundang pak Arif datang kemari untuk mengurus semua yang sudah menjadi kesepakatan kita. Aku mau perihal harta gono-gini yang sudah kita sepakati semalam, selesai hari ini juga."
.
.
.