Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara dari Masa Lalu
Malam itu, mansion The Void terasa lebih mencekam dari biasanya. Liana duduk di sudut kamar pelayannya yang sempit, menempelkan earphone kecil ke telinganya.
Jantungnya berdebar kencang saat ia memutar frekuensi dari alat penyadap yang ia tempelkan di ruang kerja Arkan.
Awalnya hanya terdengar gesekan kertas dan suara korek api gas yang dinyalakan. Arkan sedang merokok. Lalu, suara pintu terbuka berat terdengar.
"Tuan, sambungan telepon dari 'Orang Tua' sudah terhubung di jalur pribadi," suara itu milik pengawal kepercayaan Arkan, seorang pria bernama Baron.
Liana menahan napas. Orang Tua? Apakah itu kode untuk bos besar lainnya?
"Sambungkan," jawab Arkan singkat. Suaranya terdengar lebih berat, hampir seperti orang yang sedang menahan beban fisik yang nyata.
Hening sejenak, lalu suara statis terdengar sebelum sebuah suara serak dan tua muncul dari seberang sana. Suara itu terdengar berwibawa namun penuh racun.
Arkan, kudengar kau masih menyimpan keraguan soal pengosongan lahan di sektor selatan. Apakah kau lupa siapa yang membesarkanmu dari jalanan setelah rumahmu menjadi abu?"
Liana tersentak. Rumah Arkan juga terbakar?
"Aku tidak lupa, Ayah," jawab Arkan. Nada suaranya berubah drastis—bukan lagi suara penguasa yang sombong, melainkan suara seorang prajurit yang terikat sumpah paksa. "Tapi di sana ada pemukiman warga. Kita bisa mencari jalur lain tanpa harus... melakukan hal yang sama seperti sepuluh tahun lalu."
"Jangan menjadi lemah karena kau sekarang memakai setelan mahal, Nak," suara tua itu tertawa dingin, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Liana berdiri. "Ingat, tanganmu sudah berlumuran darah sejak malam itu. Jika kau tidak menyelesaikannya besok, aku sendiri yang akan turun tangan. Dan kau tahu apa artinya itu bagi orang-orang yang kau coba lindungi."
Klik. Sambungan terputus.
Di seberang penyadap, Liana mendengar suara hantaman keras. Arkan tampaknya baru saja memukul meja kerjanya. "Sialan!" umpat Arkan pelan.
Liana melepas earphone-nya dengan tangan gemetar. Pikirannya kalut. Ayah Arkan masih hidup? Dan Arkan memanggilnya 'Orang Tua'? Selama ini, informasi yang didapat Liana dari Pak Hendra adalah bahwa Arkan adalah pemimpin tunggal yang menghancurkan keluarganya demi ekspansi wilayah. Tapi percakapan tadi menyiratkan sesuatu yang lebih gelap. Arkan tampak seperti dikendalikan.
Namun, Liana segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak. Jangan tertipu lagi, Liana. Arkan ada di sana malam itu. Dia melihat rumahmu terbakar dan dia tidak melakukan apa-apa. Dia tetaplah monster itu.
Keesokan paginya, Liana bertugas mengantarkan kopi ke balkon belakang tempat Arkan biasa membaca laporan pagi. Ia sengaja memakai gaun pelayan yang sedikit longgar di bagian kerah, berpura-pura menjadi gadis ceroboh yang tidak sengaja menjatuhkan nampan.
"Maaf, Tuan! Saya... saya tidak sengaja!" Liana memekik kecil saat cangkir kopi itu terguling, membasahi beberapa lembar kertas di meja Arkan.
Arkan berdiri dengan cepat, matanya menyala kemarahan. "Kau lagi?! Apa kau benar-benar ingin aku membuangmu ke hutan?"
Liana segera berlutut, mencoba menyeka tumpahan kopi dengan sapu tangan, namun tangannya justru menyentuh tangan Arkan. Dingin. Tangan pria itu sedingin es, namun gemetar halus.
"Maafkan saya, Tuan Arkan... saya hanya lelah, saya bermimpi buruk tentang api semalam," ucap Liana sambil menatap mata Arkan dengan tatapan yang sangat dalam, mencari celah di balik topengnya.
Arkan tertegun. Kata 'api' itu seperti mantra yang menghentikan amarahnya seketika. Ia menarik tangannya dengan kasar, lalu memalingkan wajah.
"Pergi dari sini. Sekarang," perintah Arkan, tapi kali ini suaranya tidak setajam biasanya. Ada nada lelah yang luar biasa di sana.
Liana berdiri, namun sebelum ia pergi, ia melihat sebuah foto tua yang terselip di antara tumpukan laporan yang basah. Foto seorang wanita cantik yang menggendong anak kecil di depan sebuah rumah sederhana. Rumah itu... sangat mirip dengan tipe rumah Liana dulu.
"Wanita di foto itu sangat cantik, Tuan. Apa dia ibumu?" tanya Liana dengan nada polos yang mematikan.
Arkan menyambar foto itu dan meremasnya di balik punggungnya. "Jangan pernah lancang menanyakan hal pribadi padaku, Ana. Keluar!"
Liana berbalik dan berjalan pergi dengan senyum tipis yang tersembunyi. Ia baru saja menemukan titik lemah Arkan. Pria itu bukan membenci wanita karena arogan, tapi karena ada luka yang belum sembuh terkait ibunya.
Saat Liana melewati lorong, ia berpapasan dengan Baron yang sedang terburu-buru. "Tuan Arkan, mobil sudah siap. Kita harus ke lokasi sektor selatan sekarang. Ayahanda sudah menunggu laporan eksekusi."
Liana bersembunyi di balik pilar. Sektor selatan? Itu adalah tempat di mana keluarga Liana dulu tinggal, dan sekarang sedang dibangun proyek gudang besar oleh The Void.
"Aku akan ikut," bisik Liana pada dirinya sendiri. "Aku akan melihat dengan mataku sendiri apakah kau benar-benar sanggup membantai orang lagi, Arkan."