Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Kidung Lirih Sebelum Perpisahan
Sebuah pelita minyak di sudut ruangan terus saja berkedip-kedip gelisah, menyerupai sepasang mata yang enggan terlelap. Huang Shen duduk bersila di atas lantai kayu, sementara gulungan Teknik Kulit Batu Naga terbentang di hadapannya. Lembaran perkamen itu telah menguning dan rapuh dimakan zaman, namun aksara kuno yang terukir di atasnya masih memancarkan aura wibawa yang pekat.
Dua jam telah berlalu sejak ia mengunci diri. Setiap diagram aliran Qi, tahapan kultivasi, hingga catatan kaki yang ditulis oleh pemilik sebelumnya diserap habis oleh nalar dinginnya.
Tahap pertama: Memusatkan Qi ke lapisan epidermis. Bukan ke jaringan otot, bukan pula ke sumsum tulang, melainkan tepat ke permukaan kulit. Ia harus merasakan setiap pori-pori dan ujung saraf, serupa orang buta yang belajar mengeja guratan nasib melalui ujung jari.
Tahap kedua: Resonansi frekuensi. Menggetarkan Qi hingga sel-sel kulit mengeras namun tetap memiliki fleksibilitas, yang berarti pemuda itu harus menjadi seperti air yang membeku layaknya es, namun tetap mampu mengalir, atau serupa pasir yang memadat menjadi batu namun tak remuk diterjang angin.
Huang Shen mulai mempraktikkannya. Perlahan, kulit di lengan bawahnya berubah warna menjadi abu-abu legam, menyerupai cadas yang terpanggang api ribuan tahun. Ia mengambil sebilah jarum dari balik jubah, lalu menghujamkannya dengan bertenaga. Jarum itu bengkok seketika tanpa mampu menggores permukaan kulitnya sedikit pun.
Lalu dalam tiga tarikan napas saja pertahanan itu runtuh. Oleh karena itu Huang Shen mengulanginya lagi. Empat napas. Lima napas. Setiap percobaan menempa ketahanannya menjadi lebih kokoh.
“Masuklah. Tak perlu terus berdiri di balik pintu sampai kakimu mulai kesemutan,” ucap Huang Shen tanpa mengalihkan pandangan. Lengan bawahnya terus berganti rupa, dari abu-abu, lalu kembali normal, begitu terus.
Sementara pintu bergeser terbuka. Yue Xin berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang terjepit di antara rasa sungkan dan harga diri yang terusik. “Aku tidak sedang mengintip. Kebetulan aku lewat dan mendengar desisan napasmu yang berantakan.”
Karena Huang Shen tak bergeming, Yue Xin akhirnya memilih untuk melangkah masuk dan duduk di sudut ruangan, menjaga jarak yang cukup agar tak mengganggu pusaran energi di sekeliling pemuda itu.
“Mengapa kau belum kembali ke sarangmu?” tanya Huang Shen dengan datar. “Pemuda pandai bicara dan wanita tabib itu pasti akan mengira kau sudah diculik siluman hutan jika tak segera muncul.”
Lantas Yue Xin mengerutkan dahi, merasa tersinggung. “Asal kau tahu, mereka punya nama yang bermartabat. Apa kau begitu tinggi hati hingga enggan mengingat nama orang yang telah membantumu?”
Huang Shen hanya mengunci mulut dan pikirannya untuk kesibukannya sendiri.
Yue Xin menarik napas panjang, menahan diri agar tidak meledak. Jemarinya menggenggam ujung kain bajunya dengan erat. “Aku datang untuk berterima kasih. Nyawaku berutang pada pedangmu malam itu.”
Huang Shen tetap membisu. Lengan bawahnya kembali mengeras menjadi batu. Sementara Yue Xin menatap fenomena itu dengan binar pemujaan yang tertahan. “Aku mengikutimu karena aku ingin menjadi sekuat itu.”
“Katakan alasannya.”
“Lantaran aku muak menjadi beban yang selalu menanti uluran tangan,” jawab Yue Xin dengan nada yang bergetar namun jujur.
Huang Shen pun menghentikan latihannya. Untuk pertama kalinya, ia menatap Yue Xin dengan sorot mata yang sedikit lebih lunak, meski tetap dingin. “Aku bukan tipe pria yang bisa dijadikan sandaran, apalagi menjadi guru.”
“Aku tahu itu,” jawab Yue Xin kelewat cepat.
“Bahkan aku sendiri masih meraba-raba batas kekuatanku. Mengikutiku hanya akan membawamu ke gerbang kematian lebih cepat.”
Yue Xin menunduk, menyembunyikan guratan kekecewaan. “Asal kau tahu, aku memang tidak memintamu menjadi guruku. Aku hanya ingin berada di jangkauan pandanganmu… dengan begitu aku bisa belajar dengan caraku sendiri.”
Pelita minyak kian meredup, ditelan kegelapan. Sedangkan Huang Shen bangkit berdiri, sebelum tiba-tiba tubuhnya limbung. Efek samping dari penggunaan Gerbang Iblis yang terlalu lama mulai menuntut balas dan akibatnya kelelahan hebat menghantam sukmanya sekaligus.
Tanpa pikir panjang Yue Xin bergerak cepat, mencoba menahan bahu pemuda itu. Namun, bobot tubuh Huang Shen yang dipenuhi energi padat terasa menyerupai pohon raksasa yang hendak tumbang.
“Pergilah,” desis Huang Shen sembari menepis tangan Yue Xin dengan kasar. “Jangan pernah biarkan mataku melihatmu mengekor lagi.”
Yue Xin mundur satu langkah. Matanya berkaca-kaca, namun ia menolak untuk menjatuhkan setetes pun air mata. Sebelum berbalik, ia berbisik di ambang pintu, “Aku tidak akan mati semudah itu. Jadi, simpan saja kekhawatiranmu untuk dirimu sendiri.”
Pintu pun tertutup saat Huang Shen terduduk lesu dengan punggung bersandar pada dinding yang dingin dan pelita itu akhirnya padam sepenuhnya.
Di sisi lain kota, lebih tepatnya di pusat kota. Xin Jielong baru saja menuntaskan transaksi gelapnya. Patung kuda emas itu kini telah berpindah tangan ke seorang kolektor yang tak banyak tanya. Pundi-pundi emas kini memenuhi saku jubahnya, termasuk seperempat bagian telah ia sisihkan untuk Huang Shen, sisanya menjadi milik pribadinya sebagai otak dari rencana tersebut.
Kini, pemburu senior itu melangkah menyusuri jalanan kota yang mulai sepi sembari membawa tumpukan literatur tua untuk kembali ke penginapan kayu sederhana di pinggiran kota.
“Kau takkan percaya berapa banyak toko buku tua yang harus kugeledah demi memuaskan rasa penasaran ini,” keluh Xin Jielong sembari meletakkan buku-buku itu di atas meja kamar Huang Shen.
Huang Shen yang sedang berbaring menatap langit-langit hanya menjawab lirih, “Aku tidak pernah memintamu menjadi pustakawan.”
“Memang tidak, tapi aku tak suka bekerja dengan rekan yang membawa bom waktu di dalam dadanya tanpa tahu cara menjinakkannya,” Xin Jielong duduk dan mulai membalik halaman buku tentang sejarah Dewa Iblis purba. “Bicara soal bom waktu, di mana gadis manis yang tertangkap di pelataran itu?”
“Sudah kuusir.”
Xin Jielong terhenti sesaat. “Diusir? Kau benar-benar tidak punya selera, kawan. Dia punya semangat yang jarang dimiliki wanita biasa.”
“Kau tahu,” lanjut Xin Jielong tanpa menoleh, “jika kau memang sudah benar-benar membuangnya, mungkin aku yang akan mencoba mendekatinya. Wajahnya lumayan, dan dia punya sorot mata yang menantang.”
Segeralah Huang Shen bangkit dan berdiri di hadapan Xin Jielong. Auranya menajam dalam sekejap. “Jangan pernah menyentuhnya.”
Xin Jielong nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Huang Shen dengan seringai geli. “Oh? Jadi batu es ini akhirnya mulai mencair? Aku hanya bercanda, tenanglah.”
Ia melemparkan sekantong berat kepingan emas ke arah Huang Shen. “Ini bagianmu. Seperempat hasil dari rampasan kita semalam.”
Huang Shen pun menangkapnya dengan sigap.
“Aku menemukan sesuatu di buku ini,” lanjut Xin Jielong dengan lebih serius. “Efek samping dari Gerbang Iblis yang kau miliki… itu menciptakan ketidakseimbangan energi yang sangat panas. Salah satu cara kuno untuk menstabilkannya adalah melalui kultivasi ganda. Hubungan fisik dengan lawan jenis.”
Huang Shen terdiam, matanya menyipit.
“Ada sebuah tempat bernama Paviliun Bunga Tidur di ujung timur kota. Jika kau merasa jiwamu mulai terbakar, pergilah ke sana,” Xin Jielong meletakkan sebuah peta kecil di atas meja. “Aku sendiri lebih suka berkencan dengan buku-buku tua ini, tapi kau sepertinya butuh penyaluran.”
Huang Shen menatap kantong emasnya dan melangkah menuju pintu. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak. “Aku sudah tahu semua yang barusan kau katakan. Aku juga tahu karena kau memang sering ke sana.”
“Ya, ya, ya, aku sudah bosan mendengar kalimat itu,” balas Xin Jielong tanpa menoleh dari bukunya. “Aku hanya membantumu dengan selera tinggiku terhadap wanita… dan juga harganya yang murah.”