Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Gelisah di Tengah Hujan
Pagi itu langit terlihat bersih setelah hujan semalam, tapi udara masih dingin.
Yue Xin berjalan paling depan dengan tangan di sisi pedangnya. Xiao Feng di tengah, langkahnya tidak selebar biasanya, matanya menatap jalan setapak di bawah kaki. Sementara Mu Ling di paling belakang, sesekali menoleh ke arah utara, ke tempat Huang Shen menghilang di antara pepohonan.
Mereka sudah berjalan cukup lama tanpa ada yang bicara.
Xiao Feng yang biasanya tidak bisa diam akhirnya bersuara lagi. “Dia benar-benar pergi tanpa sekali pun menoleh.”
“Itu memang yang dia inginkan sejak awal,” Balas Yue Xin tanpa memperlambat langkah.
“Aku tahu.” Xiao Feng menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. “Tapi apakah dia tidak pernah merasa kesepian?”
Mu Ling tetap membisu, oleh karenanya Yue Xin-lah yang menjawab, suaranya sedatar permukaan telaga musim dingin. “Mungkin. Tapi itu bukan urusan kita.”
Beberapa saat kemudian sebelum rasa penasaran Xiao Feng kembali terusik. “Yue Xin, kenapa kau memilih tetap ikut,? Bukankah awalnya ini hanya karena perintah gurumu?”
Yue Xin berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkah. “Awalnya iya. Tapi setelah melihatnya bertarung, ada sesuatu yang membuatku penasaran.”
“Penasaran dengan apa?”
“Dia tidak menikmati apa yang dia lakukan.” Yue Xin menatap lurus ke depan. “Kebanyakan pembunuh yang kutemui melakukannya demi emas, atau karena haus akan kuasa. Ada yang mencintai bau darah. Tapi dia… membantai seperti seseorang yang sedang melakukan pekerjaan paksa yang sangat ia benci.”
Xiao Feng pun mengerutkan dahi. “Maksudmu dia tidak suka membunuh?”
“Bukan soal suka atau tidak. Tapi dia butuh melakukannya,” Yue Xin membetulkan letak pedang di pinggangnya. “Meski ia tidak menyesap kesenangan darinya, dan itu adalah hal yang langka di dunia kultivasi.”
Xiao Feng mengangguk seolah mulai mengerti. “Kalau aku, aku ikut karena dia tidak mengusirku. Di sekte lamaku, aku hanyalah bahan tertawaan. Bakatku membaca Qi dianggap sampah karena aku tidak bisa menggenggam pedang dengan benar. Mereka bilang aku tidak pantas menjadi kultivator.” Suaranya datar, menyimpan luka lama yang telah mengeras. “Tapi Huang Shen… dia tidak pernah menertawakanku. Dia tidak pernah menatapku dengan cara yang membuatku merasa seperti pecundang, dan itu sudah lebih dari cukup.”
Mu Ling yang sedari tadi menyimak akhirnya bersuara. “Hanya karena ia tidak mengusirmu?”
Xiao Feng menoleh ke belakang. “Iya.”
Lantas Mu Ling tersenyum tipis, senyum yang tidak sejalan dengan matanya. “Alasan yang jujur.”
Xiao Feng balik bertanya. “Kalau kau sendiri? Kenapa kau ikut? Baru bergabung sebentar, tapi kau langsung setuju ikut ke utara.”
Mu Ling tidak menjawab segera. Dia berjalan beberapa langkah, sementara matanya menatap jalan di depannya. “Aku ikut karena aku ingin mencari tahu.”
“Mengenai apa?”
“Mengapa seseorang yang menyerap darah iblis masih menyisakan ruang untuk peduli pada orang lain.”
Xiao Feng mengernyit. “Maksudmu pil pemulihan itu?”
Mu Ling mengangguk. “Dia tidak perlu memberikannya. Dia sudah membunuh iblis di sumur, itu sudah cukup untuk membayar utang yang dia minta. Tapi dia tetap memberiku pil pemulihan untuk penduduk desa. Tanpa imbalan. Tanpa diminta.” Dia menghela nafasnya sambil menatap langit. “Aku ingin tahu, apakah dia melakukannya karena kebiasaan, atau karena ada sesuatu yang tersisa di dalam dirinya.”
Keheningan kembali turun. Kali ini Xiao Feng yang bertanya lebih dalam, “Oh iya, ngomong-ngomong… kenapa kau memilih jalan tabib? Kau merawat desa itu tanpa bayaran. Itu juga tidak kalah langka.”
Mu Ling menatap puncak bukit di depan mereka. “Mungkin karena aku tahu bagaimana rasanya tidak memiliki siapa-siapa.”
Suaranya tidak berubah, datar seperti orang yang sudah lama menyimpan cerita ini di tempat yang tidak terlalu sering dibuka.
“Orang tuaku mati karena wabah ketika aku berumur tujuh tahun. Aku tidak ingat wajah mereka. Yang aku ingat hanyalah bau anyir dan orang-orang yang berlarian sambil menutup hidung.” Dia menarik napas. “Setelah itu aku hidup di jalanan. Memungut sisa makanan, tidur di kolong jembatan, kadang di bawah pohon kalau hujan tidak terlalu deras.”
Xiao Feng pun mengepalkan tangan. Adapun Yue Xin tidak menoleh, namun sorot matanya menajam.
“Dan suatu hari, seorang tabib tua menemukanku di pinggir jalan. Aku sudah hampir tidak bisa bergerak waktu itu. Tapi dia malah membawaku ke rumahnya, merawatku, mengajariku membaca Qi dan meracik obat.” Suara Mu Ling mulai bergetar di tepinya. “Dia satu-satunya orang yang tidak memandangku dengan rasa jijik setelah orang tuaku mati.”
“Lalu?” tanya Xiao Feng.
Mu Ling pun menunduk. “Dia mati karena wabah yang sama ketika aku berumur lima belas tahun… dan aku hanya bisa menonton tanpa bisa menyelamatkannya."
Yue Xin yang dari tadi diam akhirnya berhenti berjalan. Dia menoleh ke belakang, menatap Mu Ling karena dia tahu bahwa ada beban tertentu yang tidak bisa diangkat dengan kata-kata.
Mu Ling tersenyum getir setelahnya. “Sejak saat itu, aku bersumpah. Aku tidak mau lagi melihat orang mati karena wabah yang seharusnya bisa dicegah. Aku menolak untuk hanya menjadi penonton.”
Xiao Feng tidak tahu harus berkata apa, begitu pula dengan Yue Xin. Alhasil mereka hanya berdiri di tengah jalan setapak, dengan langit yang mulai terang di atas kepala.
Desa itu tersembunyi di lembah kecil, terlindung dari amukan angin utara oleh bukit-bukit yang menjulang. Namun, tempat itu jauh dari kesan sunyi. Anak-anak berlarian di atas tanah yang masih lembap, para wanita menjemur kain di pagar kayu, sementara kaum lelaki sibuk memperbaiki atap-atap yang bocor akibat hujan semalam.
Mu Ling membawa mereka ke ujung desa, menuju sebuah kuil tua dengan dinding kayu yang mulai melapuk. Sebuah papan usang tergantung di sana, bertuliskan: Rumah Singgah Harapan. Tulisannya telah memudar dimakan usia, namun maknanya masih terasa kuat.
Mu Ling membawa mereka ke ujung desa, menuju sebuah kuil tua dengan dinding kayu yang mulai melapuk. Sebuah papan usang tergantung di sana, bertuliskan: Rumah Singgah Harapan. Tulisannya telah memudar dimakan usia, namun maknanya masih terasa kuat.
Seorang anak perempuan berlari menyongsong Mu Ling. “Kakak Ling! Kau pulang!” serunya riang. Tak lama sebelum anak-anak lain mulai berkerumun, memegangi ujung bajunya dengan senyuman yang tulus.
Adapun Mu Ling mengusap rambut mereka satu per satu. “Aku hanya pergi sebentar,” bisiknya lembut.
Sementara di dalam kuil, belasan anak yatim piatu duduk di lantai kayu. Ada yang belajar menulis dengan arang, ada yang bermain bola kain, dan ada yang duduk diam di sudut memeluk boneka kayu usang. Seorang wanita paruh baya keluar dari dapur, matanya yang tajam menatap tamu yang dibawa Mu Ling.
“Kamar di belakang masih kosong. Kalian bisa menggunakannya,” ujar wanita itu setelah Mu Ling memperkenalkan Yue Xin dan Xiao Feng.
Yue Xin berdiri di ambang pintu, tak bergerak. Matanya yang biasanya sedingin es mencair saat melihat tawa anak-anak di sana. Ada sesuatu yang tak terkatakan, sebuah rasa yang asing namun mulai merambat di hatinya.
Sedangkan di sisi lain dunia, hujan turun ketika Huang Shen sudah berjalan cukup jauh ke utara.
Memang hanya gerimis, tapi gerimis saja sudah cukup untuk membuat jalan setapak di hutan menjadi licin, dan cukup untuk membuat pakaiannya basah secara perlahan. Namun dia tetap berjalan, tidak berhenti, tidak pula mempercepat langkah.
Sementara di telapak tangannya, bekas merah Pedang Darah Naga masih terlihat samar, seperti garis yang dilukis dengan ujung pisau dan tidak pernah benar-benar kering.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah rumah kayu tua di pinggir jalan. Tak ada asap dari cerobong, tak ada cahaya di jendela. Rumah yang telah lama ditinggalkan. Huang Shen pun menggeser pintu yang berat dan masuk ke dalam. Di sana hanya ada meja tua, kursi yang pincang, dan sebuah tikar anyaman berdebu di sudut ruangan.
Huang Shen pun duduk di kursi.
Tidak ada yang perlu dilakukan. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Hanya duduk, menatap kegelapan sembari mendengar hujan di luar yang mulai mereda.
Hingga kelelahan datang tanpa dia undang. Kelelahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kelelahan yang dulu dia rawat dengan cara duduk di beranda rumah kayu di pinggir hutan Qingshan, dengan Mu Qingxue di dapur, dengan bocah itu yang berlarian di kebunnya.
Dia tidak menyadari kapan matanya terpejam. Tidak pula menyadari kapan tubuhnya bergeser dari kursi ke tikar di sudut ruangan, dan tidak menyadari kapan kegelapan rumah kosong itu berubah menjadi kegelapan tidur yang tidak membawa mimpi.
Hanya satu hal yang dia sadari. Dalam tidurnya yang tanpa mimpi, tangan kanannya bergerak secara naluriah. Ia menyapu sisi kosong di sebelahnya, seolah mencari kehangatan yang dulu selalu ada di sana, tempat di mana Mu Qingxue biasanya berada. Namun, yang ia temukan hanyalah lantai kayu yang dingin dan debu yang menebal.
Hingga suara gemerincing lonceng kecil memecah keheningan. Suara itu tidak keras namun jelas di telinga yang sudah terbiasa dengan suara langkah dan gesekan pedang.
Huang Shen membuka mata.
Dalam satu detik, kesadarannya kembali penuh. Tubuhnya sudah siap untuk bergerak, sudah siap untuk menyerang.
Tapi dia tidak bergerak.
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Mengenakan jubah hitam bersahaja dan caping bambu lebar. Di tepian caping itu, lonceng-lonceng kecil bergantung, bergemerincing halus setiap kali pria itu bergerak. Adapun pria itu berdiri tenang, membiarkan hujan di belakangnya menjadi latar belakang yang sunyi.