Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah pengakuan
Tak lama kemudian Inggris pun di ajak Raja Ornebic beserta tamu kerajaan ke danau suci. Sesampainya di danau pohon suci, raja Hermes dan Igris disambut oleh ribuan penduduk Ornebic yang berhasil dia selamatkan hari itu. Mereka bersujud dan mengucapkan terima kasih yang amat dalam kepada sang Dewi.
Aksi itu tanpa perintah dari raja mereka, rakyat Ornebic melakukannya dengan suka rela karena ketulusan hati tanpa paksaan. Rombongan itu di pimpin oleh pengeran muda mereka yang tak lain adalah Zean Hareman Ornebic. Mereka bersimpuh memegang dada kirinya menunjukkan penghormatan paling tinggi layaknya kepada seorang raja dan mereka mengatakan,
" Kami penduduk dari kerajaan Ornebic, bersumpah setia selamanya kepada Dewi Igrisia Devalona Bharata Hermes. Jiwa dan raga kami adalah milik anda. kapanpun dan di manapun anda memerlukan, kami siap membantu karena anda telah mengembalikan keadaan kerajaan kami seperti sedia kala. Maka kami juga akan memenuhi kewajiban kami untuk bersumpah setia selamanya." ujar penduduk sambil menorehkan telapak tangannya hingga berdarah.
Hal itu di lakukan untuk kepercayaan dan keterikatan yang biasanya terjadi jika seseorang mengakui jiwa kepahlawanan seorang dewa. Rakyat Ornebic yang bersumpah setia menitiskan darah dari telapak tangan mereka ke tanah. Seketika darah itu menyentuh rerumputan di atas tanah, fenomena langka pun terjadi.
Aliran darah itu membentuk sebuah aliran bagai parit kecil dan bergerak menuju akar pohon suci. Cahaya merah dari darah yang menyatu di tanah membuat bunga-bunga bermekaran. Berbagai jenis kupu-kupu dan kumbang pun memenuhi area sekitar.
Aroma harum semerbak menjadi satu-satunya yang tercium pagi itu. Udara sejuk berhembus menggelitik hidung mereka. Pusaran angin membawa lembar daun dari pohon suci tiba-tiba saja berkumpul membentuk bayangan seperti sosok seorang pria. Bayangan itu lalu bersimpuh Di hadapan Igris dan memberikan sebuah cahaya bulat di tangannya.
Igris sedikit bingung, "Apa ini?" Tanya nya.
"Ambillah, tuan putri ! itu adalah inti dari pohon suci, sudah ribuan tahun roh dari pohon suci akhirnya hidup kembali. Dan sekarang jiwa dari pohon ini telah menemukan tuan yang berhak memakan buah nya." sahut raja Ornebic.
"Dalam legenda para dewa, aku pernah mendengar kalau pohon suci adalah tanaman pertama di alam dewa yang di bawa ke dunia manusia. Konon katanya pohon ini tidak akan menghasilkan buah kecuali ada energi kehidupan yang menyatu." balas Igrisia.
"Benar tuan putri, karena pohon peninggalan dewa tanah ini sekarang telah menyatu dengan darah emas anda, jadi pohon ini menghasilkan buah yang mungkin hanya anda yang sanggup memakannya."
"Baik lah, aku akan menerimanya. "
Igris mengambil cahaya bulat yang menyerupai buah delima dari tangan ruh pohon suci tadi. Saat igris menyentuh buah itu, tiba-tiba cahaya kuning menyelimuti dirinya. Gelang akar di tangannya bereaksi. Secepat kilat cahaya kuning dan hijau bercampur menciptakan pemandangan yang sangat indah seperti aurora di langit. Tubuh igris kini di penuhi corak hijau dari akar-akar merambat yang kemudian menyatu dengan tubuhnya dan menyerap energi spiritual yang sangat dasyat.
"Hidup dewi! hidup dewi!" sorak rakyat Ornebic yang takjub melihat fenomena cahaya itu.
Kata-kata itu menggema secara serentak di depan pohon suci. Rupanya ruh dari pohon suci tadi adalah inti dari kekuatan dewa tanah yang menjadi pusat perlindungan bagi rakyat Ornebic. Kristal tanah di dada igris kini berubah menjadi hijau pekat seperti batu zambrut yang berkilau dengan cahaya hijau tua.
Tubuhnya di penuhi aura hijau dan hitam yang menyatu kedalam batu kristal di dadanya. Lambang pohon suci terukir jelas di dahinya lalu di atasnya terdapat lingkaran matahari yang menutupi bagian daun.
Kini, pengakuan mutlak dari ruh dewa tanah sendiri yang telah menyatu bersama jiwa dewi alam semesta itu. Tak dapat di sangkal, tubuh dewa igris muncul di belakangnya. Sosok wanita dewasa bercahaya matahari dengan bulu-bulu merak hijau yang kini menyatu dengan akar-akar merambat.
Pemandangan indah yang hanya dapat di lihat oleh rakyat Ornebic. Bagai burung merak yang mengalungkan akar pohon.
Guuuungggg ... terdengar suara seperti gong menggema di daratan Lumina. Semua wilayah merasakan kehadiran sosok dewa perkasa yang telah ribuan tahun tak pernah muncul di alam manusia. Guuuungggg .... suara aungan Gung itu kembali menggema.
Sosok dewa itu semakin tinggi, membuat siapapun yang memandang harus mendongak ke atas saat melihatnya. Rakyat Ornebic dan para tamu kerajaan bersujud melihat keajaiban sosok dewa di hadapannya.
Sosok dewa itu merentangkan sayap meraknya lalu membagikan cahaya hijau kepada seluruh penduduk Ornebic. Itu adalah energi spiritual dari elemen tanah yang menyatu dengan darah emas sang dewi. Energi hijau itu menyerap kedalam tubuh dan membuat siapapun yang menerima menjadi raga yang sehat dan bugar.
Raja Hermes turut senang dan bangga kepada putrinya. Dia memegang bahu Igris dan tersenyum lebar.
"Putriku, satu kerajaan sudah di taklukan. Kedepannya kau pasti akan menemukan kerajaan lain, dan pasti akan berbeda pula kisahnya."
Sosok dewi agung itu kemudian masuk kembali kedalam diri Igris.
Perkataan raja Hermes di dengar igris dengan seksama. Dia faham benar, kata-kata itu bukan hanya sekedar pengakuan, tapi juga peringatan. Di masa depan yang akan datang, akan banyak ujian yang menanti Igris.
Mengumpulkan kembali kristal jiwanya bukanlah hal mudah, pasti banyak sekali kesulitan yang akan di hadapi. Namun karena pengakuan sang raja dan kepercayaan penduduk membuatnya takkan gentar.
"Aku pasti akan menepati janjiku, untuk menjadikan Neuzella sebagai satu-satunya negara di daratan Lumina. " tekadnya dalam hati. "Aku pasti akan membawa alam semesta menjadi pusat perdamaian seluruh kehidupan. Tidak akan ada lagi iblis atau dewa yang akan mempermaikan manusia."
Untuk mengenang jasa kepahlawanan Igris, para rakyat Ornebic dan juga prajurit istana berjuang keras selama beberapa hari yang lalu demi membuatkan patung besar berukir dari sulur-sulur akar pohon suci.
Jejeran penduduk kini membentuk sebuah jalan yang membagi dua jejeran manusia, di ujung jalan sana, terdapat sebuah benda tinggi yang tertutup kain hitam.
"Ada apa lagi ini?' Tanya igris sambil mendekat ke arah benda tersebut.
"Tuan putri, terimalah rasa hormat kami." ucap Zean sembari menarik kain penutup dari benda di hadapannya.
Seketika kain itu terbuka tampak sebuah patung pahatan yang indah di kelilingi cahaya terang dan hangat.
Patung itu tak lain menyerupai diri Inggris sendiri. Di pahat dari ranting pohon suci yang paling besar, dan di polesi lapisan emas mengkilap. Percikan cahaya emas menyala terang beriringan dengan suara sorak gembira dari rakyat Ornebic.
Patung itu tergambar seperti saat sang dewi sedang berdiri tegap dengan ciri khas gaun belahan di pahanya sambil memegang sulur-sulur akar pohon. Tampak bagai seseorang yang siap menyerang musuh. Penampakan patung tersebut bagai mendeskripsikan seorang dewi alam yang siap tempur bersama akar-akar merambat bagai memainkan alat musik dan selendang di tangannya.
Tak lupa di atas kepala patung tersebut di pahat mahkota besar menyerupai matahari setengah lingkaran. Wajah yang tegas dan senyum manis tak lupa menggambarkan keramahan dari patung sang dewi itu.
"Wah ... Nona, patung ini benar-benar mirip dirimu," ucap Ana bangga dan takjub.